PKM-GT 2011

PEMANFAATAN TANAMAN KECIPIR SEBAGAI SUBSTITUSI KACANG KEDELAI

DALAM PEMBUATAN PAKAN IKAN BERBASIS LOKAL UNTUK IKAN HERBIVOR

RINGKASAN
Daerah Garut merupakan daerah yang cocok untuk budidaya. Di daerah ini ada beberapa ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya ikan nilem. Ikan nilem merupakan ikan herbivor yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lingkungan perairan tawar. Selain itu, ikan nilem dapat dipanen pada umur 1-2 bulan untuk dibuat produk baby fish. Sehingga ikan nilem merupakan ikan yang sangat baik untuk dibudidayakan karena sangat menguntungkan bagi para petani. Akan tetapi harga pakan yang tinggi membuat para petani ikan mengalami kesulitan. Bahan baku pakan ikan mayoritas merupakan bahan impor yang menyebabkan harga pakan ikan menjadi tinggi, yaitu tepung ikan dan kacang kedelai. Padahal, pada kenyataanya daerah garut seperti halnya di daerah lainnya, banyak potensi tanaman baik tanaman pangan maupun tanaman makanan ternak antara lain tanaman Leguminosa. Tanaman tersebut merupakan sumber protein nabati diambil baik bijinya maupun keseluruhan tanamannya yang berpotensi sebagai bahan baku dalam formulasi pakan ikan. Sehingga dengan kita membuat formulasi baru untuk pembuatan pakan kita dapat menekan harga produksi pakan sehingga kita dapat meningkatakan pendapatan para pembudidaya.
Salah satu tanaman Leguminosa yang dapat mensubstitusi protein kacang kedelai pada pakan ikan yaitu tanaman kecipir.  Tanaman kecipir memiliki protein yang hampir sama dengan kacang kedelai. Seluruh bagian dari tanaman kecipir yaitu daun, buah, umbi, bijinya memiliki kadar protein yang tinggi, bahkan rata-ratanya melampaui kadar protein biji-bijian lainnya seperti beras, jagung, ubi jalar, ketela pohon, kentang, dan sorghum. Dengan demikian keseluruhan bagian tanaman kecipir dapat dimanfaatkan agar tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah diperoleh, tidak perlu mengimpor, dan belum dimanfaatkan maksimal sebagai pangan apalagi sebagai pakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan eksplorasi potensi fisik dan kimiawi tanaman kecipir dan aplikasinya pada budidaya ikan nilem.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Budidaya perikanan air tawar di Jawa Barat, khususnya daerah Garut memiliki potensi yang besar. Ada beberapa ikan asli Jawa Barat yang memiliki nilai ekonomis penting antara lain, nila, nilem,  dan gurame. Ikan ini merupakan ikan herbivor. Diantara ketiga ikan tersebut ikan nilem merupakan ikan yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lingkungan, karena dapat hidup di kolam, maupun di daerah persawahan.
Dalam usaha budidaya, pakan merupakan komponen terpenting yang menghabiskan dana yang besar, sehingga banyak para pembudidaya ikan yang mengalami kerugian. Tingginya harga pakan diakibatkan oleh tingginya harga bahan baku yang diimpor, seperti  kacang kedelai dan tepung ikan. Untuk itu kita harus mencari bahan baku yang dapat menggantikan bahan baku tersebut.
Ada beberapa bahan baku yang dapat digunakan untuk menggantikan protein kacang kedelai, diantaranya kacang koro, kacang tanah, dan kecipir. Dari ketiga bahan tersebut dapat kita lihat bahwa kecipir mengandung protein paling tinggi yang hampir sama dengan protein kacang kedelai. Kecipir juga banyak tumbuh didaerah garut sehingga dapat menjadi alternatif  untuk bahan baku pakan ikan.
Disisi lain, terutama di Jawa Barat juga banyak terdapat tanaman kecipir dapat dimanfaatkan sebagai bahan subtitusi kedelai yang merupakan bahan baku pembuAtan pakan ikan. Pakan sangat penting bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup karena dibutuhan untuk memperoleh energi. Pakan buatan akan memiliki kualitas baik jika bahan dari pakan  mempunyai mutu baik. Pakan yang baik harus memenuhi nutrisi. Mengenal kebutuhan ikan merupakan landasan dalam pembuatan pakan ikan sendiri, setiap ikan mebutukan gizi yang berbeda, baik kebutuhan protein, lemak, dan serat ikan. Pakan yang memiliki keseimbangan protein, lemak, dan serat untuk kebutuhan ikan tertentu akan memacu pertumbuhan ikan yang cepat besar, akan tetapi bila nutrisi yang dibutuhkan ikan kurang maka pertumbuhan ikan akan lambat berakibat pada biaya dan waktu panen yang cukup lama. Pakan dengan kualitas baik memiliki nilai protein tinggi. Protein nabati dapat diperoleh dari kacang tanah dan kedelai. Selain daripada kedua tanaman ini masih ada satu tanaman lagi yang hingga kini oleh sebagian masyarakat Indonesia belum dikenal, atau diabakan nilainya.

Tujuan
Kecipir sebagai cadangan protein nabati dalam pembuatan pakan ikan dalam skala  mikro adalah hal yang menarik untuk dikembangkan  protein yang dihasilkan kecipir bisa mencapai 78% sebanding dengan protein yang terkandung di dalam kedelai, protein yang lumayan besar itu bias dimanfaatkan dengan cara:
1.    Memberikan gagasan bahwa kecipir bisa dikembangkan menjadi sumber protein nabati terbarukan dalam skala mikro.
2.    Protein nabati yang dihasilkan kecipir, diharapkan bisa memberikan jawaban akan mahalnya harga pakan  bagi pembudidaya perikanan air tawar.
3.    Memberikan gagasan proses pembuatan pakan ikan buatan dari tanaman kecipir.

Manfaat
Manfaat gagasan ini apabila dikembangkan, bisa memberikan sumbangan sebagai jawaban dari permasalahan tingginya harga pakan yang disebabkan oleh tingginya harga bahan baku. Dengan adanya substitusi kacang kedelai oleh kecipir kita dapat menekan biaya pembuatan pakan dan memanfaatkan tanaman yang ada disekitar garut yang belum dimanfaatkan.
Sesuai dengan perkembangan zaman akan ditemukan  pakan dengan protein yang tinggi tetapi dengan harga bahan yang relative nurahmaka pengembangan pemanfaatan protein yang terkandung di dalam kecipir ini bias terealisasi kedepanya. Setelah berkembang diharapkan pemerintah bias lebih memperhatikan dalam kelestarian kecipir dan juga pemanfaatan potensi sumber daya di Indonesi ini. Sehingga kasus harga pakan yang tinggi bagi pembudidaya ikan konsumsi dapat teratasi dengan ditemukannya alternative  pakan buatan ini. Pemanfaatan kecipir juga bias mengeksplor potensi dan melestarikan tanaman  kecipir karena kecipir mempunyai banyak manfaat  sehingga perlu disediakan lahan untuk tempat budidaya tanaman kecipir tersebut.

GAGASAN
Kondisi Pakan di Indonesia Saat Ini
Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mengeluhkan tingginya harga pakan ikan di dalam negeri sehingga membuat sektor perikanan budi daya berdaya saing rendah. Ketua Umum AP51 Thomas Darmawan menyatakan porsi pakan menduduki 65% dari total Komponen biaya produksi. “Jika harga pakan saja sudah sangat tinggi, harga jual dari pembudidaya ke industri akan tinggi,” ujarnya kemarin. Masalah ini, merupakan salah satu alasan mengapa industri perikanan termasuk udang di dalam negeri sulit berkembang. Dewan Pengawas AP5I Harry Lukmito menambahkan jika dibandingkan dengan China, harga pakan ikan di Indonesia dapat mencapai 30%. “Jika harga pakan ikan dapat ditekan, otomatis produk perikanan akan meningkat karena banyak yang berminat berusaha.”
Pemerintah semestinya menetapkan kebijakan untuk mengurangi harga ikan di dalam negeri. Kebijakan tidak hanya berupa penurunan bea masuk tapi juga pengembangan industri dalam negeri. “Penurunan harga pakan menjadi syarat utama jika pemerintah ingin menggenjot produksi perikanan budi daya.” lndonesia perlu memperkuat penelitian dan pengembangan untuk dapat menemukan pakan ikan yang sehat, sesuai, dan berhargamurah. Dengan kata lain perlu ditemukan adanya pakan baru yang memiliki komponen lokal sehingga dapat mengantisipasi tingginya harga bahan baku pakan ikan dari produk impor.
Bisnis mencatat komposisi impor yang besar di Indonesia terdapat pada tepung udang dan tepung ikan. Pada April 2010, impor ikan segar dan beku mencapai 8,2 juta kg. Sementara impor tepung ikan mencapai 5,4 juta kg dan tepung udang 3,4 juta kg. Dirjen Perikanan Budidaya KemenKP Made L. Nurdjana menyatakan pemerintah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku pakan ikan. “Pakan adalah komponen paling mahal dalam biaya produksi. Harga jual produk ikan dalam negeri menjadi kurang berdaya saing akibat mahalnya pakan ikan.”

Solusi yang Pernah Diajukan.
Ada beberapa kebijakan yang dicanangkan pemerintah termasuk didalamnya menyangkut penyediaan pakan melalui beberapa program pembangunan perikanan budidaya yaitu Program Pengembangan Iintensifikasi Pembudidayaan Ikan (INBUDKAN), Program Pengembangan Kawasan Budidaya Terintegrasi (Integreted Aquaculture) dengan pertanian dan peternakan, Program Pengembangan Budidaya di Pedesaan (Rural Aquaculture) dengan pembuatan pakan sendiri berbasis lokal (on farm feed), Program Pengembangan Perikanan Berbasis Budidaya (Culture Based Fisheries) di perairan umum, dan Program Peningkatan Produktivitas Berwawasan Lingkungan ( Green Productivity) yang ramah ingkungan.
Selama ini, Program Pengembangan Budidaya di Pedesaan (Rural Aquaculture) dengan pembuatan pakan sendiri berbasis lokal (on farm feed), dan Produktivitas Berwawasan Lingkungan, baru bisa dilakukan melalui produksi pakan alami oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah, belum ke produksi pakan buatan dengan menggunakan bahan baku berbasis lokal. Jenis-jenis bahan baku pakan lokal masih terbatas pemanfaatannya. Beberapa jenis pakan lokal alternatif yang tergolong leaf protein  yang pernah dijadikan solusi untuk penyusun pakan ikan anatara lain : (a) Azola; (b) Daun Pepaya dan Kangkung (c) Eceng Gondok; (d) Lamtoro; (e) Sesbania; yang proteinnya berkisar antara 20-30% (De Silva, 1988). Namun demikian, jenis makanan tersebut belum dijadikan bahan baku pakan buatan komersial.
Para pembudidaya ikan yang telah melakukan pembuatan pakan buatan, baik skala besar maupun skala kecil, dengan tahapan  yaitu :
•    Pemilihan bahan baku pakan dalam formulasi Contoh : tepung  ikan, dedak, jagung, dan kopra.
•    Penepungan dan penimbangan.
•    Pencampuran setiap bahan yang sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan, yang dibuat. dalam satuan  kilogram.
•    Aduk sampai semua bahan sudah tercampur dengan  merata.
•    Sediakan wadah untuk persiapan pencetakan bahan menjadi berbentuk pellet. Dalam pencetakan pellet menggunakan mesin pencetak pellet.

Solusi yang Diajukan
Ada lima patokan ideal dalam pakan ikan diantaranya  mempunyai nilai gizi (nutrisious), ukuran pakan (pelletable, dan feedable), stabilitas pakan dalam air (water stability), penampakan permukaan, dan aroma. Sedangkan dalam pemilihan bahan baku pakan ikan, selain mengandung gizi/protein cukup tinggi juga harus.dapat ditepungkan.
Kecipir merupan jenis leguminosa yang mengandung protein cukup tinggi ( berkisar 25-37%) baik biji maupun daun dan umbinya. Tanaman ini di Jawa Barat dikenal dengan nama “jaat” merupakan tanaman setahun yang berbentuk perdu dan bersifat membelit ke kiri. Buahnya panjang 20 cm, persegi empat dan bergerigi, warna buahnya hijau dan rasanya enak serta lunak. Bijinya bulat, berwarna kuning pada saat muda, dan berwarna coklat pada saat tua dengan rasanya yang getir. Biji kecipir bisa disebut “botor”. Di luar negeri kecipir ini disebut Wing Bean, mengingat bahwa tanaman ini tidak membutuhkan tempat yang subur dan buahnya (terutama bijinya) merupakan sumber protein dan banyak mengandung vitamin A, vitamin B dan vitamin C, maka dari itu tanaman ini dianjurkan untuk ditanam dipekarangan rumah atau disepanjang pagar-pagar (Sunaryono, 1994:142). Sebagai pengganti singkong, kentang dan ubi jalar, kecipir sudah jelas unggul kadar proteinnya  (20% dari bobot keringnya ).
Hanya cara bercocok tanam komersial dan pengelolaan hasilnya belum dikenal secara besar-besaran. Kecipir juga merupakan tanaman tahunan yang tumbuh cepat dengan batang rambat mencapai penjang  2-4  m. Tanaman ini biasanya ditanam sebagai tanaman setahun. Daun trifoliate berbentuk oval lebar dan akar dangkalnya memiliki cabang lateral panjang.   Sebagai tanaman tropika yang beradaptasi baik pada wilayah subtropika, kecipir cocok untuk kondisi lingkungan lembab suhu siang 30oC dan suhu malam 22oC paling sesuai untuk pembesaran umbi. Tanaman ini memiliki banyak sekali buntil akar, dan cukup produktif jika ditanam ditanah yang kurang subur, tetapi hasilnya meningkat jika dipasok pupuk tambahan. Produksi utama tanaman kecipir adalah polongnya, polong segar muda mengandung sekitar  1-3% protein, kandungan protein biji kering sekitar 33%. Menurut hasil penelitian para pakar, tanaman kecipir mempunyai keunggulan dalam kandungan nutrisi, sehingga amat baik untuk program perbaikan gizi masyarakat. (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998:272).
Jenis kecipir yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah  kecipir yang berbuah pendek, polongnya berukuran  15  –  20 cm dan bunga yang  berwarna biru. Jenis kecipir ini umumnya produktif berbuah dan jumlahnya banyak Rukmana, 2000). Biji kecipir (koro kecipir) dengan berbagai jenisnya merupakan  legume yang memiliki nutrisi lengkap (protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral) dengan jumlah yang memadai. Berikut perbandingan kandungan gizi koro kecipir dengan koro yang lain dan kedelai.

Berikut klasifikasi tanaman Kecipir.

Divisio      : Spermatophyta
Sub divisio      : Angiospermae
Classis      : Dicotyledoneae
Ordo          : Leguminales
Famili      : Papilionaceae
Genus      : Psophocarpus
Spisies      : Psophocarpus tetragonolobus L.

Jarak menanam
Menanam kecipir tidak jauh berbeda dengan menanam kacang panjang. Jarak tanam 100 x 30 cm atau 125 x 35 cm dapat dilaksanakan untuk tanaman tunggal. Untuk dapat menghasilkan umbi, maka jarak antara bedengan berkisar antara 100-125 cm.

Observasi kecipir/meter/segi dalam tanaman.
•    Jarak tanam 30×100 cm.
•    Banyaknya tanaman 1ha rata-rata 30.000 batang.
•    Bila dari tiap-tiap batangdihasilkan 10 buah muda dengan rata-rata timbangan 5 gram, maka hasil per ha adalah : 30.000x10x5 gram = 15.000 kg
•    Tiap ha ada 30.000 batang.
•    Tiap-tiap batang menghasilkan 15-20 buah yang tua.
•    Rata-rata tiap buah menghasilkan 13 butir biji, dengan timbangan tiap 100 butir biji 35 gram.

Dibawah ini merupakan perbandingan kandungan gizi yang terdapat pada beberapa kacang-kacangan

Tabel 1. Perbandingan susunan kimiawi biji kecipir dengan kacang tanah dan kedelai
kadar    kecipir    Kacang tanah    Kedeai
Air     6,7    5    8 %
Protein    29,8 – 37,4    25 – 30    40 %
Lemak    15 – 20,4    43 – 50    18 %
karbohidrat    31,6 – 28    5 – 12    17 %

Tabel 2. Bandingan kadar asam amino essensial (yang penting) biji kecipir dan kedelai.
Nama asam Amino    kecipir    Kedelai
Lysine    7,4 – 8    6,6
Tryptophan    1    1,2
Histidine    2,7    2,5
Phenylalaniene    4,8 – 5,8    4,8
Leucine    8,6 – 9,2    7,6
Isoleucine    4,9 – 5,1    5,8
Threonine     4,3 – 4,5    3,9
Methionine    1,2    1,1
Valine    4,9 – 5,7    5,2
Arginine    6,5 – 6,6    7

Tabel 3. Komposisi pakan ikan yang sebelumnya
Bahan    Lemak    Protein    Bahan/Kg
Ikan    6,0    55,0    100
Dedak    2,4    13,3    100
Jagung    4,5    9,8    100
Kedelai    1,3    46,8    100
Kopra    16,7    79,4    100

Tabel 4. Komposisi pakan ikan yang diajukan
Bahan    Lemak    Protein    Bahan/Kg
Ikan    6,0    55,0    100
Dedak    2,4    13,3    100
Jagung    4,5    9,8    100
Kedelai    1,3    46,8    100
Kopra    16,7    79,4    100

Langkah Strategis yang Dilakukan
•    Langkah awal , studi literatur.
Tahapan awal berupa studi literatur terhadap jenis ikan apa saja yang termasuk kedalam ikan herbivor. Untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan tersebut serta melihat kandungan nutrisi kacang kedelai dan biji kecipir.
•    Tahapan kedua adalah uji labolatorium
Uji labolatorium tentang kebenaran studi literatur, apakah sesuai atau tidak dengan teori yang dikemukakan. Dengan bekerja sama pihak LIPI dan akademisi dari universitas untuk meneliti bagaimana kesesuai kandungan nutrisi kacang kedelai dan kecipir dengan gagasan atau teori tersebut.
•    Tahapan ketiga adalah membuat formulasi Pakan
Perbandingan    formulasi Pakan dengan mengganti protein kacang kedelai oleh protein kecipir.

KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan adalah mengganti protein kacang kedelai pada pakan dengan protein pada kecipir. Penggantian bahan baku pembuatan pakan ini dilakukan agar menekan biaya produksi pakan ikan sehingga meningkatkan pendapatan para petani ikan.Gagasan ini harus dilakukan hipotesis analisis awal.
Adapun teknik yang bisa dilakukan adalah
•    Penelitian dan studi pustaka
•    Uji labolatorium kandungan nutrisi dalam kecipir serta pembuatan segala keperluan yang berkaitan dengan pemanfaatan protein kecipir untuk pakan ikan
•    Pemanfaatan hasil penelitian bekerjasama dengan pihak-pihak terkait

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Pakan Ikan. http:// O-FishPakanIkan.html (diakses 31 Januari 2011).
De Silva. 1988.  Finfish Nutrition in Asia. Heinemann. Singapore.
Herna, Tatang. 2005. Diktat Kuliah Industri Pangan: Kecipir. http://www.wikipedia.com ( di akses 31 Januari 2011).
Rismunandar. 1986. Kecipir Penghasil Protein dan Karbohidrat yang Serba Guna. Sinar Baru. Bandung.
Royan. 2010. Nutrisi Pakan Ikan. http:// nutrisi-pakan-ikan.html (diakses 31 Januari 2011).
Sukadi, M.F. 2003. Strategi Dan Kebijakan Pengembangan Pakan Dalam Budidaya Perikanan. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Bogor.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1.    Ketua Pelaksana
Nama            : Imas Rohimah
NIM            : 230110080069
Tempat/Tanggal lahir : Bandung, 27 Juni 1990
Jenis Kelamin         : Perempuan
Berat/Tinggi Badan     : 48 kg/159 cm
Agama          : Islam
Kewarganegaraan     : Indonesia
Status Pernikahan     : Belum Menikah
Hobi             : Membaca dan Menulis

Riwayat Pendidikan
SD             : SDN Ciporeat 1 Bandung        1996-2002
SMP             : SMPN 50 Bandung            2002-2005
SMA            : SMAN 10 Bandung            2005-2008

Pengalaman organisasi
-    Anggota PMR SMPN 50 Bandung                2002-2003
-    Anggota KASEPUH SMAN 10 Bandung            2005-2008
-    Anggota IRMA SMAN 10 Bandung                2006-2008
-    Anggota KIR Biologi SMAN 10 Bandung            2006-2007
-    Anggota BPM FPIK UNPAD                 2009-2010
-    Anggota SSC UNPAD                     2009-2010
-    Bendahara PERMADANI FPIK UNPAD             2009-2010
-    Ketua Divisi Kewirausahaan PERMADANI FPIK UNPAD 2010-2011
-    Anggota BEM     FPIK UNPAD                2010-2011
-    Bendahara KARAMBA FPIK UNPAD             2010-2011

Imas Rohimah
NIM 230110080069

2.    Anggota Satu

Nama            : Yunitawati
NIM            : 230110080091
Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 24 Juni 1989
Jenis Kelamin        : Perempuan
Berat/Tinggi Badan    : 48 kg/150 cm
Agama         : Islam
Kewarganegaraan    : Indonesia
Status Pernikahan    : Belum Menikah
Hobi            : Membaca

Riwayat Pendidikan
TK            : TK Mini Ria                1994-1995
SD            : SDN Bekasi Timur II        1995-2001
SMP            : SMPN 3 Bekasi            2001-2004
SMA            : SMAN1 Cileungsi Bogor        2004-2007

Pengalaman organisasi
-    Anggota OSIS     SMPN 3 Bekasi                2001-2002
-    Anggota PMR SMPN 3 Bekasi                2001-2002
-    Anggota KARATEKA INKAI Ranting Bekasi        2002-2004
-    Anggota English Club SMAN 83 Jakarta            2004-2005
-    Anggota PMR SMAN1 Cileungsi Bogor            2005-2006
-    Staff BEM DEPLAR UNPAD                 2008-2009
-    Anggota SSC UNPAD                     2008-2009
-    Anggota KARAMBA FPIK UNPAD                2008-2009

Yunitawati
NIM. 230110080091

3.    Anggota Dua

Nama            : Maulana Ridwan
NIM            : 230110090080
Tempat/Tanggal lahir : Bogor, 22 September 1991
Jenis Kelamin        : Laki – laki
Berat/Tinggi Badan    : 60 kg/173 cm
Agama         : Islam
Kewarganegaraan    : Indonesia
Status Pernikahan    : Belum Menikah
Hobi            : Bermain Bola

Riwayat Pendidikan
TK             : TK Islam Karya Mukti Bogor    1996-1997
SD            : SDN Citeureup 6 Bogor        1997-2003
SMP            : SMPN 1 Cibinong Bogor        2003-2006
SMA            : SMAN 1 Cibinong Bogor        2006-2009

Pengalaman organisasi
-    Anggota Futsal SMPN 1 Cibinong Bogor            2003-2004
-    Anggota Basket SMPN 1 Cibinong Bogor            2004-2005
-    Anggota OSIS     SMPN 1 Cibinong Bogor            2004-2006
-    Anggota Futsal SMAN 1 Cibinong Bogor            2006-2007
-    Anggota Basket SMAN 1 Cibinong Bogor            2006-2007
-    Anggota OSIS     SMAN 1 Cibinong Bogor            2007-2009
-    Anggota KIR     SMAN 1 Cibinong Bogor            2008-2009
-    Anggota ROHIS SMAN 1 Cibinong Bogor            2008-2009
-    Anggota KARAMBA FPIK UNPAD                2010-2011
-    Ketua Komisi BPM FPIK UNPAD                2010-2011
-    Staff PERMADANI FPIK UNPAD                2010-2011

 

Maulana Ridwan
NIM. 230110090101
Pembimbing

Nama Lengkap dan Gelar         : Kiki Haetami, SPt.,MP
Pangkat / Golongan / NIP        : Pembina/IV a/ 196902011994032001
Tempat/Tanggal Lahir        : Cianjur, 1 Februari 1969
Alamat Kantor                : Jurusan Perikanan
Fakultas PIK – UNPAD
Jalan Raya Bandung Sumedang KM. 21     Jatinangor
Telepon Kantor            : (022) 798241-798304
Alamat rumah                : Margahayu Raya Blik S2 No. 61
Telepon /HP                : (022)75641780/081221652522
E-mail                    : kiki.haetami@yahoo.co.id
Bidang minat Penelitian        : – Nutrisi Ikan
- Teknologi Pakan
Pendidikan Terakhir            : S2 Ilmu Nutrisi Ternak UNPAD

Pengalaman Penelitian:

- Pengaruh Jenis Bahan Pengikat dan Cara Pembuatan Terhadap Stabilitas Ransum Ikan Mas (1997).
- Pengaruh Tingkat Penggunaan Eceng Gondok Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (1998).
- Pengaruh Imbangan Energi Protein Ransum Mengandung Silase Ikan Terhadap Pertumbuhan dan Konversi Pakan Ikan Jambal Siam (1999).
- Pengaruh Tingkat Pertambahan Hasil Fermentasi Bungkil Biji Jarak dalam Ransum terhadap Efesiensi Pakan Ikan Gurame (Osphoronemos goramy) (2000).
- Pengaruh Tingkat Azola dalam Ransum terhadap Konsumsi dan Pertumbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum, CUVIER) (2000).
- Evaluasi Daya Cerna Pakan Limbah Azola pada Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma   macropomum, CUVIER) (2000).
- Penentuan Kecernaan Ransum yang mengandung Azola dengan Metode Indikator (2000).

(Kiki Haetami, SPt., MP)
NIP. 19690201 199403 2 001

PKM-K 2010

SEAWEED CULTURE SEBAGAI PRODUK ANDALAN OCEANPRENEUR

 

A.    Judul Program
SEAWEED CULTURE SEBAGAI PRODUK ANDALAN OCEANPRENEUR

B.    Latar Belakang
Ekspor rumput laut Indonesia lebih didominasi oleh jenis Eucheuma dari pada jenis lainnya, seperti Gracilaria, Gelidium, dan Hypnea – walaupun dalam data ekspor tidak terlihat kelompok dan kuantitas jenis tersebut. Untuk jenis Eucheuma, Indonesia merupakan pemasok nomor dua terbesar di dunia setelah Filipina. Permintaan untuk ekspor yang tinggi dan terus meningkat mengakibatkan persaingan harga antara eksportir dengan industri pengolahan di dalam negeri. Dari satu sisi, hal ini dapat memberikan keuntungan bagi petani dan pedagang rumput laut, tetapi dari sisi lain dapat pula mengakibatkan tidak sehatnya pengembangan industri rumput laut, tetapi dari sisi lain dapat pula mengakibatkan tidak sehatnya pengembangan industri rumput laut secara nasional. Ekspor rumput laut dalam 5 tahun terakhir (2000-2004) terus meningkat, yaitu pada tahun 2000 sebesar 17.075.739 kg dengan nilai sebesar US $ 10.002.809 dan pada tahun 2004 menjadi sebesar 50.118.374 kg atau setara dengan US $ 24.322.445. Tabel menunjukkan data ekspor impor rumput laut dalam 5 tahun terakhir.
Tabel 1. Ekspor dan Impor Rumput Laut Indonesia
Sumber: BPS dalam Anggadiredja, Jana  et al “rumput laut” 2009
Rumput laut merupakan komoditi yang mendunia baik dalam bentuk bahan baku maupun hasil olahannya. Rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan devisa Negara. Demikian juga dengan produk olahannya, baik dalam bentuk bahan dasar, yaitu karaginan, agar, dan alginate, maupun hasil formulasi dari ketiga hidrokoloid tersebut.
Peluang pasar pengembangan usaha rumput laut sangat menjanjikan seiring dengan tingginya permintaan pasar rumput laut dan hasil olahannya, baik di dalam maupun luar negeri. Permintaan dunia akan ketiga hidrokoloid tersebut setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan ketiga jenis hidrokoloid samping terhadap kesehatan bila dikonsumsi dalam bentuk makanan atau obat-obatan. Demikian juga penggunaaannya dalam industri nonpangan dan berbagai industri lainnya semakin meluas seperti tekstil, cat, keramik, kertas.
Kemudahan budidaya rumput laut yang relatif sangat terjangkau dalam proses pembudidayaannya maupun kontruksinya. Disamping terjangkaunya biaya pembudidayaannya rumput laut juga dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi, jika dilihat dari tingkat permintaan pasar yang tidak pernah turun, bahkan terus meningkat dari tiap tahunnya. (BPS dalam Anggadiredja, Jana et al  “Rumput Laut” 2009).
Hasil olahan rumput laut di Indonesia di antaranya berupa agar, karaginan, dan alginat yang merupakan hidrokoloid. Dengan beberapa sifat yang dimiliki, olahan rumput laut tersebut dapat berfungsi sebagai gelling agent, thickener, viscosifiying, agent, maupun sebagai emulsifiying agent. Produk olahan ini dapat dimanfaatkan pada berbagai industri, antarai lain; Industri Pangan (Makanan dan Minuman), Farmasi, Industri Komestik, Bioteknologi, Industri Nonpangan.
Oceanpreneur adalah istilah yang dipakai untuk wirausaha dibidang kelautan. Sebutan ini masih cukup asing, bahkan mungkin bagi insan kelautan sendiri. Oceanpreneur terdiri dari berbagai subjek, bisa kearah budidaya ataupun pengolahannya, ataupun hal-hal laninnya yang berhubungan dengan kelautan.
Oceanpreneur muncul akibat dari sumberdaya pesisir dan laut yang belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia terkenal dengan potensi sumberdaya pesisir dan laut yang tinggi dan keanekaragaman yang tinggi pula. Dengan potensi yang ada, maka peluang untuk berkembang dalam bidang ini sangat menjanjikan. Setidaknya ada beberapa faktor yang mendukung, diantaranya ketersediaan lahan untuk budidaya, beberapa ikan komersial sudah ada yang telah berhasil dibudidayakan, penguasaan teknologi dan SDM, dan peningkatan permintaan pasar domestik dan internasional terhadap produk perikanan.
Kepulauan Seribu merupakan salah satu wilayah yang sangat menunjang proses pembudidayaan rumput laut, di karenakan struktur topografinya yang mendukung dan keadaan lingkungan, yang dapat dipastikan rumput laut dapat berkembang baik dan dapat tumbuh dengan sempurna.
Harapan dilaksanakan pembudidayaan rumput laut agar mahasiswa dan masyarakat dapat memiliki pengetahuan lebih tentang rumput laut dan memiliki usaha sendiri yang menunjang massa depan baik itu mahasiswa, masyarakat, dan tidak memungkinkan juga dapat memberikan peningkatan bagi devisa Negara.
C.    Perumusan Permasalahan
Komoditas hasil budidaya laut pada umumnya memiliki permasalahan dalam hal pengelolaan saat budidaya dan pasca budidaya. Begitu juga dengan budidaya rumput laut seperti kualitas bahan baku yang sering fluktuatif, teknologi formulasi yang dipakai masih tradisional dan beberapa industri usaha budidaya rumput laut belum mampu memproduksi secara konsisten. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang kualitas bahan baku, penjagaan dalam proses budidaya serta kurangnya akses jaringan pemasaran.
Untuk meminimalisasi hal-hal tersebut, salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan metode rakit apung dengan disertai jaring protektor untuk menghindari rumput laut dari serangan berbagai predator dan juga untuk menghindarkan rumput laut dari gangguan luar, seperti sampah yang terbawa arus. Hal ini juga dapat meningkatkan kualitas rumput laut yang dibudidayakan.
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, nantrium, zat besi dan yodium. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Di bidang pengobatan tradisional, beragam rumput laut telah banyak digunakan untuk pengobatan berbagai jenis penyakit. Sebagai antipiretik, digunakan jenis Sargassum sliquosum, Ulva lactuca, Enteromorpha compressa, dan Codium sp. Untuk pengobatan bronchitis, asma, dan batuk digunakan jenis Porphyra atropurpurae, Eucheuma gelatinae, Eucheuma cottonii, Enteromorpha campressa, dan Enteromorpha prolifera. Selain jenis-jenis rumput laut di atas, tentunya masih banyak lagi jenis lain di beberapa daerah yang digunakan sebagai obat tradisional yang belum tercatat.
Produktivitas budidaya rumput laut belum mampu memenuhi permintaan pasar usaha, sementara keadaan yang terjadi pada saat ini adalah permintaan pasar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut disebabkan oleh produksi yang rendah sehingga tidak mampu mencukupi permintaan, produksi yang tidak terjamin kontinyu, dan masih sedikitnya yang melakukan budidaya rumput laut, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat akan peluang prospek usaha dan minimnya penguasahaan teknologi.
D.    Tujuan Program
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kreativitas wirausaha mahasiswa pembudidaya dan mayarakat setempat dalam bidang budidaya rumput laut sebagai usaha mandiri masyarakat Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

E.    Luaran Yang Diharapkan
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan informasi, memperkenalkan teknologi dan mewujudkan terbentuknya usaha mandiri mahasiswa pembudidaya dan masyarakat setempat di bidang budidaya rumput laut.
F.    Kegunaan Program
Memperkenalkan alternatif teknologi budidaya rumput laut dalam rangka diversivikasi budidaya rumput laut yang menjadi potensi perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi mahasiswa pembudidaya dan masyarakat setempat.
G.    Tinjauan Pustaka
Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu, Propinsi DKI Jakarta. Seperti pulau-pulau yang lainnya di Kepulauan Seribu, Pulau Semak Daun juga memiliki potensi yang belum banyak diberdayakan oleh masyarakat sekitar. Salah satu komoditasnya yaitu rumput laut yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Rumput laut merupakan sumber daya alam/komoditi perikanan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan devisa negara. Demikian juga dengan produk olahannya, baik dalam bentuk bahan dasar, yaitu karaginan, agar, dan alginate, maupun hasil formulasi dari ketiga hidrokoloid tersebut.
Secara geografis Pulau Semak Daun terletak di antara 150 buah pulau-pulau karang dengan luas wilayah daratan sebesar 8.7 km2. Secara geografis posisinya terletak pada 5°24´ – 5°45´ LS dan 106°25´ – 106°40´ BT dengan luas 1.180,8 hektare (11,8 km²). Temperature sepanjang tahun umumnya berkisar antara 21°C-32°C  dengan kelembaban udara rata-rata 80%. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Kepulauan Seribu yang memiliki salinitas berkisar antara 30%-34% pada musim barat maupun pada musim timur dengan kecerahaan 3-5 meter. Pada umumnya keadaan geologi kepulaun seribu terbentuk dari batuan kapur, karang pasir dan sedimen yang berasar dari Pulau Jawa dan Laut Jawa dengan kedalaman antara 0-40 meter. Arus laut dan Pasang Surut pada musim barat berkecepatan maksimum 0.5 m/detik dengan arah ke Timur sampai Tenggara. Pada musim timur kecepatan maksimumnya 0.5 m/detik. Gelombang laut yang terdapat pada musim barat mempunyai ketinggian antara 0.5-1.75 meter dan musim timur 0.5-1.0 meter. Musim hujan di Kepulauan Seribu biasanya terjadi antara bulan Nopember-April dengan hari hujan antara 10-20 hari/bulan. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari. Curah hujan tahunan berjumlah sekitar 1.700 mm. musim kemarau kadang-kadang juga terdapat hujan dengan jumlah hari hujan antar 4-10 hari/bulan. Curah hujan terkecil terjadi pada bulan agustus. Keadaan angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh angin Monsoon yang secara garis besar dapat dibagi menjadi angin musim barat (Desember-Maret) dan angin musim timur (Juni-September). Musim pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Kecepatan angin pada berkisar antara 7-20 knot, biasanya terjadi pada bulan Desember-Pebruari. Pada musim Timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot yang bertiup dari arah Timur Laut sampai Tenggara. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Dari karakteristik Kepulauan Seribu yang telah dijabarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa rumput laut Eucheuma sp, yang pada umumnya memiliki ciri-ciri hidup, yaitu; substrat dasar berupa pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang, kecerahan air antara 2-5 meter, salinitas berkisar 28-33 per mil, suhu air 26-300c, pergerakan air berkisar 0,2-0,4 m/detik, dan bukan merupakan jalur pelayaran (Anggadiredja, Jana et all 2009). Dari cici-ciri tersebut dapat dipastikan bahwa rumput laut jenis Eucheuma sp dapat berkembang dengan baik di daerah perairan Pulau Semak Daun.
Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga, masyarakat Eropa mengenalnya dengan sebutan seaweed. Tanaman ini adalah gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan tanaman sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar, batang dan daun. Jika kita amati jenis rumput laut sangat beragam, mulai dari yang berbentuk bulat, pipih, tabung atau seperti ranting dahan bercabang-cabang. Rumput laut biasanya hidup di dasar samudera yang dapat tertembus cahaya matahari. Seperti layaknya tanaman darat pada umumnya, rumput laut juga memiliki klorofil atau pigmen warna yang lain. Warna inilah yang menggolongkan jenis rumput laut. Secara umum, rumput laut yang dapat dimakan adalah jenis ganggang biru (cyanophyceae), ganggang hijau (chlorophyceae), ganggang merah (rodophyceae) atau ganggang coklat (phaeophyceae).
Manfaat rumput laut berdasarkan penelitian tercatat 22 jenis telah dimanfaatkan sebagai makanan. Diwilayah perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Pulau Seram, Bali, Lombok, Kepulauan Riau dan Kepulauan Seribu. Diketahui 18 jenis dimanfaatkan sebagai makanan dan 56 jenis makanan dan obat tradisional oleh masyarakat pesisir.
Sebagai sumber gizi, rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, nantrium, zat besi dan yodium.
Peluang pasar pengembangan usaha rumput laut sangat menjanjikan seiring dengan tingginya permintaan pasar rumput laut dan hasil olahannya, baik di dalam maupun luar negeri. Permintaan dunia akan ketiga hidrokoloid tersebut setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan ketiga jenis hidrokoloid samping terhadap kesehatan bila dikonsumsi dalam bentuk makanan atau obat-obatan. Demikian juga penggunaaannya dalam industri non pangan dan berbagai industri lainnya semakin meluas seperti tekstil, cat, keramik, kertas.
Budidaya rumput laut pada umumnya menggunakan beberapa metode, salah satunya metode rakit apung. Namun selama ini belum banyak yang menerapkan metode jaring apung disertai dengan jaring protektor. Keunggulan rumput laut dari metode rakit apung yang disertai dengan jaring protektor adalah terlindung dari gelombang yang besar karena kontur dasar laut perairan yang berbentuk gobah. Keuntungan selanjutnya adalah tanaman lebih banyak menerima intensitas cahaya matahari serta gerakan air yang terus memperbaharui kandungan nutrisi pada air laut dan akan mempermudah penyerapan nutrisi oleh rumput laut sehingga pertumbuhan lebih cepat dan berkualitas. Hal ditambah dengan dipasangnya jaring protektor sebagai pelindung rumput laut dari gangguan predator rumput laut dan mengurangi kontak langsung dengan sampah yang terbawa oleh pergerakan air laut.

Adapun analisis usaha dari kegiatan budidaya rumput laut di perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta disajikan sebagai berikut :
A.    B/C Ratio
Perhitungan ini untuk menghitung rasio keuntungan dengan membandingkan pendapatan dengan biaya operasional.
Pendapatan
B/C Ratio = ——————————
Biaya Operasional
Rp. 12.797.000
B/C Ratio = ———————— = 1,32
Rp. 9.703.000
Usaha budidaya rumput laut layak dijalankan karena B/C Ratio > 1, dengan asumsi setiap Rp. 1 modal yang ditanamkan, hasil yang diperoleh sebesar Rp. 1,32.
•    Rencana pemasaran

Grafik 2. Rantai perdagangan antar pulau (Anggadiredja,T et al tahun 2008)
Tabel 2. Daftar lokasi dan perusahaan pengolahan rumput laut (Anggadiredja, T et al 2008)
No.    Nama Perusahaan/industri    Lokasi
1    Karaginan
Sulawesi
PT Bantimurung Indah    Kab. Maros
CV Cahaya Cemerlang    Makasar
PT Giwang Citra Laut    Takalar
Jawa Timur
PT Centram    Surabaya
PT Seamatec    Surabaya
PT Surya Indo Algas    Surabaya
PT Amarta Carrageenan    Surabaya
PT Algalindo    Surabaya
Jawa Tengah
PT Michelindo    Pekalongan
NTB/NTT
PT Phoenix Mas    Lombok Barat
Jawa Barat/Banten
PT Galic Artabahari    Bekasi
PT Gumindo Perkasa Ind.    Banten
2    Agar
Sumatera
PT Indoking Aneka Agar-Agar    Medan
Banten
PT Agarindo Bogatama    Tangerang
Jawa Timur
PT Sriti    Malang
3    Alginat
Jawa Barat
PT Merlindo Rekamatra    Bandung

•    Strategi awal dengan melakukan bulan promosi sebagai upaya branding.
Dilakukan dengan harga promosi selama waktu tertentu untuk menarik minat konsumen, serta periode analisis pola kebutuhan serta feedback terhadap kualitas maupun harga jual.

H.    Metode pelaksanaan program
a.    Waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 (empat) bulan dari Bulan Januari-April 2011 di perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
b.    Prosedur pelaksanaan
-    Sosialisasi program dengan Dinas Kelautan Perikanan Kepulauan Seribu dan masyarakat tentang kegiatan budidaya rumput laut menggunakan metode rakit apung disertai jaring protektor.
-    Pelaksanaan lapangan budidaya rumput laut
•    Penyediaan bahan baku dan alat
Bahan baku utama budidaya rumput laut yaitu thallus rumput laut jenis Euchema cottonii dengan panjang thallus muda 15-25 cm didapat dari pembudidaya rumput laut di Pulau Pari. Alat dan bahan yang lain di dapat dari pasar tradisional setempat. Adapun alat dan bahan terlampir pada lampiran 4.
•    Pembuatan rakit apung dan pemasangan thallus rumput laut.
Tahapan-tahapan pembuatan rakit apung serta jaring protektor dan penanaman thallus rumput laut adalah sebagai berikut :
-    Persiapkan thallus rumput laut yang telah dipotong-potong
-    Ikatkan masing-masing potongan tersebut dengan tali rafia pada tali iris  dengan jarak tanam/jarak antar titik 20-25 cm. Jumlah tali iris adalah 12 dengan panjang masing-masing tali ris ± 10m , jumlah titik untuk 1 tali ris diikatkan ±40 bibit rumput laut. Jarak antara ris yang lain sekitar 60-70 cm
-    Susun dan ikat bambu sebanyak 10 batang menyerupai bentuk persegi dengan menggunakan tali . satu sisi terdiri dari 2 ikatan bambu yang disatukan.
-    Letakkan bambu yang sudah diikatkan tersebut ke perairan yang telah di pilih
-    Kaitkan setiap sisi dengan tambang yang telah diikat dengan jangkar berupa batu/jangkar untuk di kaitkan ke dasar perairan
-    Mulai pemasangan tali yang telah diisi dengan thallus rumput laut.
•    Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi rumput laut serta konstruksi dari rakit apung setelah beberapa pekan dilaksanakannya kegiatan budidaya.
•    Pemanenan rumput laut
Panen Euchema cottonii dengan menggunakan metode rakit apung disertai jaring protektor dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.    Bersihkan rumput laut dari kotoran
b.    Lepaskan tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dari tali utamanya
c.    Letakkan gulungan tali ris yang berisi ikatan rumput laut tersebut ke dalam sampan
d.    Bawa rumput laut ke darat. Lepaskan rumput laut dari tali ris (panen keseluruhan) dan petik thallus muda untuk dijadikan bibit pada penanaman berikutnya, disebut full harvest.
Adapun keterangan lebih lengkap mengenai proses panen dan pascapanen terlampir pada lampiran 6 dan 7

I.    Jadwal Kegiatan Program
No.    Kegiatan    Bulan Ke-
1    2    3    4
1.    Sosialisasi dengan Dinas Kelautan Perikanan dan masyarakat
2.    Penyediaan bahan baku dan alat serta fasilitas penunjang
3.    Pembuatan rakit apung dan pemasangan thallus rumput laut
4.    Pemeliharaan
1.    Penyulaman rumput laut
2.    Monitoring pertumbuhan rumput laut
3.    Perbaikan kerusakan pada konstruksi alat
5    Panen
6    Perlakuan pasca panen
7    Pemasaran Hasil Panen

J.    Rancangan Biaya
No    Rincian Biaya    Harga(Rp)    Jumlah    Total Harga (Rp)

1.    Materi Sosialisasi program PKM-K ke warga masyarakat pulau panggang, Kepulauan Seribu
a.    Proposal Kerja Sama    15.000
(per proposal )    5    75.000
b.    Modul Profil Usaha budidaya rumput laut    15.000
(per profil)    5    75.000
c.    Banner standing    200.000
(per lembar)    1    200.000
d.    Konsumsi Peserta  Sosialisasi    6.000
(per orang)    15     90.000

2.    Pelaksanaan Budidaya Rumput Laut
a.    Biaya Administrasi    1 paket kelengkapan administrasi    63.000
b.     Biaya Tetap    1 paket konstruksi alat budidaya dan bibit rumput laut    6.000.000
c.    Biaya operasional per masa panen    -    3.640.000
4.    Pembuatan Laporan dan Media Presentasi

a.    Pembuatan Laporan    100.000
(per tim)    3    300.000
b.    Pembuatan Poster Presentasi    100.000
(per poster)    1    100.000
c.    Publikasi dan Dokumentasi
(Sosialisasi akhir kegiatan)    100.000    1    100.000
JUMLAH TOTAL    10.643.000

Lampiran 1
KONTRAK PERJANJIAN KERJASAMA
Nomor :
Nomor :
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama            :
Jabatan            :
Perusahaan/Instansi    :
Alamat            :
Telp/Fax        :
Untuk selanjutnya, nama tersebut bertindak atas nama instansi disebut pihak pertama.
Nama             :
Jabatan            :
Nama Instansi        :
Alamat Instansi    :
Untuk selanjutnya, nama tersebut bertindak atas nama organisasi disebut pihak kedua.
Kedua belah pihak sepakat dan mengikat mengadakan perjanjian kerja sama, dalam rangka pelaksanaan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) “Budidaya Rumput Laut Dengan Metode Rakit Apung Disertai Dengan Jaring Protektor Di Perairan Pulau Semak Daun, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.”.

………………………,…………………2010

Pihak Pertama

________________
Pihak Kedua

_________________

Lampiran 2
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1).    Ketua Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Furkon
b).    NPM    :    230210080062
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
2).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Cuncun Hendrayana
b).    NPM    :    230210080070
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
3).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Julius Mathys Sapija
b).    NPM    :    230210080034
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
4).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Asep Supriatna
b).    NPM    :    230110080121
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :

5).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Maulana Ridwan
b).    NPM    :    230110090080
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :

Lampiran 3

Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1.    Nama Lengkap    : Donny Juliandri Prihadi, S.Pi, MSc.
2.    NIP    : 19800712 200801 1012
3.    Golongan Pangkat    : Penata Muda Tk I/ III b,
4.    Jabatan Fungsional    : Asisten Ahli
5.    Jabatan Struktural    : Sekretaris Program Studi Ilmu Kelautan
6.    Fakultas/Program Studi    : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
7.    Perguruan Tinggi    : Universitas Padjadjaran
8.    Bidang keahlian    : Kewirausahaan Kelautan
9.    Waktu Untuk Kegiatan    : 8 jam/minggu
10.    Tanda Tangan    :

Lampiran 4
Alat dan bahan budidaya rumput laut
No    Nama barang    Jumlah     Satuan
1    Bambu    10    Buah
2    Tali ris    18    Gulung
3    Pisau    3    Buah
4    Timbangan  gantung    1    Buah
5    Tali rapia    1    Gulung
6    Tali jangkar    120    Meter
7    Jangkar    12    Buah
8    Karung     100    Buah
9    Bibit rumput laut    200    Kg
10    Sampan     1    Unit
11    Jaring protektor    48    Meter

Laporan Field Trip AKPI 2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LATAR BELAKANG
Yang melatar belakangi kami mahasiswa ilmu perikanan angkatan 2009 melaksanakan praktikum lapangan yaitu:
•    Memenuhi beban 1 SKS  dalam praktikum lapangan tetap yang diterima dalam mata kuliah Alat dan Kapal Penangkap Ikan.
•    Letak kampus yang jauh dari laut mengharuskan praktikum ini perlu dilaksanakan.
•    Belum tersedianya fasilitas yang memadai untuk melakukan praktikum mata kuliah Alat dan Kapal Penangkap Ikan.
Ketiga hal diatas yang melatarbelakangi perlunya melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan.

1.2    TUJUAN PRAKTIKUM
•     Menambah wawasan mahasiswa mengenai kegiatan penangkapan ikan.
•    Mahasiswa secara langsung dan aktif dapat melihat langsung  alat dan kapal penangkap ikan.
•    Sebagai tempat untuk bertukar pikiran dan mengimplementasikan ilmu yang sudah didapat secara teori ke dalam praktikum lapangan.

1.3    MANFAAT PRAKTIKUM
•    Mahasiswa dapat mengetahui dan menanyakan secara langsung mengenai alat dan kapal penangkap ikan.
•    Mahasiswa dapat melihat dan memperagakan serta mengetahui mekanisme kerja dari alat tangkap serta kapal penangkap ikan.

1.4    WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM
Waktu     : 09.00 – 15.00 WIB
Tempat     : Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Tanjung Emas  Semarang.

BAB II
Profil Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang
Berdirinya BPPI diawali sebagai Pangkalan Armada Survei dan Eksplorasi Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian RI bertempat di Semarang tahun 1975 dengan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 190/Kpts/Org/5/1975, tanggal 2 Mei 1975.
Pada perkembangan selanjutnya ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang perikanan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 308/Kpts/Org/1978 Tahun 1978. Pada tahun 1999, dan BPPI berada dibawah naungan Departemen Eksplorasi Laut RI setelah mengalami pemisahan dari Departemen Pertanian RI.
Sesuai dengan beban tugas yang diberikan, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 308/Kpts/Org/1978, tanggal 1 April 1978 maka BPPI Semarang ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang perikanan lingkup Direktorat Jenderal Perikanan.
Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Kep.26G/MEN/2001, tanggal 01 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang. BPPI Semarang mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan penerapan dan pengembangan teknik penangkapan dan pengawasan serta kelestarian sumberdaya hayati perairan.
Setelah berkiprah di dunia perikanan Indonesia hampir selama 28 tahun, BBPPI Semarang menjadi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI). Perubahan tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : Per.03/MEN/2006, tanggal 12 Januari 2006, tentang Susunan Struktur Organisasi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan.
1.1.    Tugas Pokok BBPPI
1.    Menyiapkan data Sarana Penangkapan Ikan, Pengawakan dan Tenaga Kerja Perikanan Tangkap.
2.    Mendukung kegiatan perekayasaan dan pengujian sarana penangkapan ikan.
3.    Menyiapkan pengkajian dan pengujian bahan standar sarana penangkapan ikan.
4.    Menyiapkan pembahasan rancangan bahan standar yang telah disusun oleh Gugus Kerja.
5.    Mensosialisasikan teknologi penangkapan ikan yang telah distandarkan (SNI) sesuai program Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
6.    Menyiapkan BAHAN RSNI sebagai bahan persyaratan teknis dan paket pengujian teknologi penangkapan ikan untuk sertifikasi sarana penangkapan ikan, pengawakan dan tenaga
2.2. Struktur Organisasi BBPPI BERDASARKAN PERMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER.3/MEN/2006 TANGGAL 12 JANUARI 2006

2.3. Fasi2.3 Fasilitas BBPPI
1.    Ruang Simulator Kapal
2.    Wisma Minabahari dan Wisma Purse Seine
3.    Kapal Latih Perikanan
4.    Kapal Riset Perikanan
5.    Laboratorium

2.4. Bidang Kajian Riset BBPPI
1.    Pengkajian Produktifitas Sarana Penangkapan Ikan
2.    Perekayasaan Teknologi Penangkapan Ikan
3.    Standardisasi Sarana Penangkapan Ikan
4.    Akreditasi dan Sertifikasi Sarana Penangkapan Ikan
5.    Pengembangan Jaringan Pengembangan Penangkapan Ikan
6.    Penyebarluasan Teknologi Penangkapan Ikan

BAB III
Ringkasan Materi Indoor

3.1. Materi 1 ( Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan )
3.1.1 pemateri : Bpk. Baitussyarif
3.1.2 ringkasan materi
Terdapat 3 komponen dalam penangkapan ikan :
    Kapal
    Alat tangkap             berkaitan dengan sumber daya perikanan
    ABK
1. Kapal Perikanan
Kapal, perahu atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan dan penelitian/eksplorasi perikanan.
2. Kapal Penangkap Ikan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
3. Perahu Penangkap Ikan
Sarana apung penangkapan yang tidak mempunyai geladak utama dan bangunan atas/rumah geladak dan hanya memiliki bangunan atas/rumah geladak yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
4. Rakit Penangkap Ikan
Sarana apung penangkapan yang terdiri dari susunan batang bambu, kayu, pipa atau bahan lainnya yang berdaya apung secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
5. Kapal Pukat Hela
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat hela yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi pukat, penggantung, tempat peluncur dan batang rentang.
6. Kapal Pukat Cincin
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat cincin yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa blok daya, derek tali kerut, sekoci kerja dan tempat peluncur.
7. Kapal Penggaruk
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap penggaruk yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggaruk dan batang rentang.
8. Kapal Jaring Angkat
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring angkat yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi jaring angkat, batang rentang depan dan belakang serta lampu pengumpul ikan.
9. Kapal Jaring Insang
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring insang yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggulung jaring.
10. Kapal Pemasang Perangkap
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap perangkap yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penarik tali perangkap
11. Kapal Pancing
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk mengoperasikan pancing yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa penarik/penggulung tali (line hauler), pengatur tali, pelempar tali, bangku umpan, ban berjalan, bak umpan hidup atau mati dan alat penyemprot air.
12. Kapal dengan Pompa
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pompa penyedot untuk menangkap ikan
13. Kapal Serba Guna (multi purpose)
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan lebih dari 1 (satu) alat penangkapan ikan yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan yang sesuai dengan jenis alat penangkapan ikan yang digunakan.
14. Kapal Penangkapan Rekreasi
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk rekreasi dan mengoperasikan penangkapan
dengan alat tangkap ikan yang dilengkapi dengan fasilitas tempat memancing.
15. Kapal Bukan Penangkap Ikan
Kapal yang secara khusus tidak dipergunakan untuk menangkap ikan.
16. Kapal Induk Perikanan
Kapal khusus yang memiliki fasilitas untuk pengolahan ikan hasil tangkapan dan siap dipasarkan atau memiliki fasilitas untuk mengangkut atau menarik kapal-kapal penangkap yang berukuran kecil untuk mendukung operasi penangkapan ikan.
17. Kapal Pengangkut Perikanan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk mengangkut ikan, termasuk memuat, menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan kapal pengawas perikanan dan perlindungan kapal yang secara khusus memiliki fasilitas pengawasan dan perlindungan untuk
mendukung kegiatan eksplorasi dan perlindungan terhadap kegiatan perikanan.
19. Kapal Riset Perikanan
Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas laboratorium untuk melakukan riset dan penelitian perikanan.
20. Kapal Latih Perikanan
Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas pendidikan untuk mendukung pelatihan penangkapan ikan

3.2. Materi 2 (Klasifikasi Alat Penangkap Ikan)
3.2.1. Pemateri : Bpk. Agung
3.2.2. Ringkasan Materi :
1. Jaring Lingkar
Jaring Lingkar merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara melingkari gerombolan ikan sasaran tangkap menggunakan jaring yang dioperasikan dengan perahu/kapal serta didukung sarana alat bantu penangkapan untuk mendukung pengoperasiannya. Desain dan konstruksi jaring lingkar berkembang disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran jaring lingkar serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Klasifikasi Jaring Lingkar
Berdasarkan penggolongannya jaring lingkar dibedakan berdasarkan bentuk konstruksi, cara operasi dan dimensi ukurannya.
Penggolongan berdasarkan bentuknya meliputi :
1.    Berbentuk persegi panjang yang dioperasikan dengan satu kapal.
2. Berbentuk satu lengkungan (trapesium terbalik) yang dioperasikan dengan satu kapal.
3. Berbentuk dua lengkungan simetris yang dioperasikan dengan dua kapal.
Berdasarkan dimensinya pukat cincin diklasifikasikan sebagai berikut :
1.    Pukat cincin mini: panjang kurang dari 300 m, berkembang di laut dangkal (Laut Jawa, Selat Malaka, perairan Timur Aceh) atau di sepanjang perairan pantai pada umumnya (coastal fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan pelagis kecil, seperti :ikan layang, ikan tembang, lemuru dan kembung.
2.    Pukat cincin berukuran sedang: panjang dari 300 – 600 m yang dioperasikan di perairan yang lebih jauh atau di perairan lepas pantai (off shore fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan tongkol dan kembung.
3.    Pukat cincin berukuran besar: panjang lebih dari 600 – 1000 m, yang dioperasikan di perairan laut-dalam di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Deep sea fisheries). Sasaran utama : ikan cakalang dan ikan tuna.
4.    Pukat cincin super: panjang lebih dari 1000 m, berkembang di perairan laut bebas (High sea fisheries).
2. Pukat Tarik
Pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa alat pembuka mulut jaring, yang pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
3. Pukat Hela
Pukat hela merupakan alat penangkapan ikan berkantong yang dioperasikan dengan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang dihela di belakang kapal yang sedang berjalan, sehingga ikan target tertangkap dengan cara tersapu di pertengahan atau dasar perairan dan masuk ke dalam kantong (cod end).
Klasifikasi Pukat Hela
Menurut International Standard Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok pukat hela, terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode ISSCFG
TRAWL    -    03.0.0
Bottom trawls         03.1.0
- Beam trawls    TBB    03.1.1
- Otter trawls    OTB    03.1.2
- Pair trawls    PTB    03.1.3
- Nephrops trawls    TBN    03.1.4
- Shrimp trawls    TBS    03.1.5
- Bottom trawls (not specified)    TB    03.1.6
Midwater Trawls         03.2.0
- Otter trawls    OTM    03.2.1
- Pair trawls    PTM    03.2.2
- Shrimp trawls    TMS    03.2.3
- Midwater trawl (not specified)    TM    03.2.4
Otter twin trawls     OTT     03.3.0
Otter trawls (not specified)     OT     03.4.9
Pair trawls (not specified)     PT     03.5.9
Other trawls (not specified)     TX     03.9.0

Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI), kelompok pukat hela, terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode KAPI
PUKAT HELA    PH    03.0.0
Pukat Hela Pertengahan    PHP     03.1.0
- Pukat Hela Pertengahan Berpapan    PHP-Pp    03.1.1
- Pukat Hela Pertengahan Dua Kapal    PHP-2K    03.1.2
- Pukat Hela Pertengahan Lainnya    PHP-L    03.1.9
Pukat Hela Dasar    PHD    03.2.0
- Pukat Hela Dasar Berpalang    PHD-Pi    03.2.1
- Pukat Hela Dasar Berpapan    PHD-Pp    03.2.2
- Pukat Hela Dasar Dua Kapal    PHD-2K    03.2.3
- Pukat Hela Dasar Lainnya    PHD-L    03.2.9
Pukat Hela Lainnya    PHL    03.9.0

4. Pukat Dorong
Pukat dorong merupakan alat penangkapan ikan berkantong yang dioperasikan dengan cara di dorong di depan kapal atau tanpa kapal di lapisan permukaan atau dasar perairan, dimana dalam 1 unitnya bisa terdiri 1 (satu) unit jaring atau lebih yang terdiri dari bagian sayap, badan dan kantong. Untuk membuka bagian mulut kearah horizontal dibentang menggunakan tongkat (batang kayu, bambu) yang dipasang menyudut ke arah laut sehingga posisi pukat berada di depan.
5. Penggaruk
Penggaruk merupakan alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya. Penggaruk dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota lainnya.
6. Jaring Angkat
Jaring Angkat merupakan alat penangkapan ikan terbuat dari bahan jaring yang umumnya berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau bahan lainnya sebagai rangka. Pengoperasiannya dengan menurunkan jaring ke dalam kolom perairan dan mengangkatnya ke atas perairan untuk memperoleh hasil tangkapan
7. Alat yang Dijatuhkan / Ditebarkan
Alat yang dijatuhkan/ditebarkan merupakan alat penangkapan ikan yang pengoperasiannya dilakukan dengan cara ditebarkan / dijatuhkan untuk mengurung ikan dengan atau tanpa kapal.
8. Jaring Insang
Jaring Insang (Gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan, sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring atau terpuntal pada bagian tubuh jaring
Klasifikasi Jaring Insang
Menurut International Standar Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok jaring insang, terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode ISSCFG
GILLNETS AND ENTANGLING NETS    -    07.0.0
Set gillnets (anchored)    GNS    07.1.0
Driiftnets    GND    07.2.0
Encircling gillnets    GNC    07.3.0
Fixed gillnets (on stakes)    GNF    07.4.0
Trammel nets    GTR    07.5.0
Combined gillnets-trammel nets    GTN    07.6.0
Gillnetss and entangling nets (not specified)    GEN    07.9.0
Gillnets (not specified)    GN    07.9.1

Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI) kelompok jaring insang, terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode KAPI
JARING INSANG    JI    08.0.0
Jaring Insang Hanyut    JIH     08.1.0
Jaring Insang Tetap    JIT    08.2.0
Jaring Insang Lingkar    JILR    08.3.0
Jaring Insang Berlapis    JIBL    08.4.0
Jaring Insang Lainnya    JIL    08.9.0

9. Perangkap
Perangkap merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara memperangkap ikan dengan menggunakan jaring dan atau bahan lainnya yang dioperasikan dengan atau tanpa perahu/kapal.
10. Pancing
Pancing merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan memancing ikan sasaran tangkap sehingga tertangkap dengan mata pancing yang dirangkai dengan tali yang menggunakan atau tanpa umpan.
Klasifikasi Pancing
Menurut International Standar Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok Pancing (Hooks and Lines), terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode ISSCFG
HOOKS AND LINES    -    09.0.0
Handlines and pole-lines (hand operated)    LHP     09.1.0
Handlines and pole-lines (mechanized)    LHM    09.2.0
Set longlines    LLS    09.3.0
Drifting longlines    LLD    09.4.0
Longlines (not specified)    LL    09.5.0
Trolling lines    LTL    09.6.0
Hook and lines (not specified)    LX    09.9.0

Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI) kelompok Pancing / Hooks and Lines, terdiri dari :
PENGGOLONGAN    SINGKATAN    Kode KAPI
PANCING    PC    10.0.0
Pancing Ulur    PCU     10.1.0
Pancing Berjoran    PCJo    10.2.0
Rawai Tetap    PCRT    10.3.0
Rawai Hanyut    PCRH    10.4.0
Tonda    PCT    10.5.0
Pancing Lainnya    PCL    10.9.0

11. Alat Penjepit
Alat Penjepit dan Melukai merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan atau membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atas kapal atau tanpa menggunakan kapal.
12. Alat Lainnya ( Muro Ami )
Alat – alat lainnya merupakan alat penangkap ikan yang tidak termasuk dalam penggolongan kelompok sebelumnya, dimana prinsip penangkapan tidak dengan cara menjerat, memancing, memerangkap, mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan atau membunuh sasaran tangkap.

BAB IV
Kunjungan Laboratorium
4.1. Laboratorium Fishing Gear Workshop
Nama alat    : Trawl
Kegunaan    : Alat penangkap ikan.
Prinsip kerja    : Saat masuk kedalam air, trawl ditarik oleh perahu sehingga kantong membuka dan ikan terperangkap.
Spesifikasi    : Terbuat dari bahan PAP
Cara operasional:Trawl digunakan untuk menangkap ikan di perairan dasar, baik perairan dengan dasar pasir maupun Lumpur. Cara penggunaan ditarik dengan menggunakan satu atau dua kapal. Biasanya panjang groundrope 3-4 kali depth. Pada fishing ground depthnya sekitar 9 m (depth minimum).
Nama alat    : Gillnet
Kegunaan    : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja    : menjerat ikan pada bagian insang
Spesifikasi    : terbuat dari bahan PAP
Cara operasional: Jaring diturunkan ke perairan yang merupakan fishing ground. Pada saat ikan berenang dan melewati jaring, bagian insang pada ikan terjerat sehingga ikan tertangkap dan tidak dapat meloloskan diri.
4.2. Laboratorium Miniatur Alat Tangkap
Nama alat    : Bubu
Kegunaan    : Alat tangkap (jebakan) ikan
Prinsip kerja    : Memancing ikan agar masuk dalam perangkap, setelah masuk ikan tidak bias keluar
Spesifikasi    : Terbuat dari bambu
Cara operasional: Cara penangkapan, yaitu bubu diletakan di dasar perairan sehingga ikan yang sudah terperangkap tidak dapat lolos. Biasanya di dalam bubu tersebut diletakan umpan-umpan seperti ikan, bau ikan dan ikan-ikan yang warnanya menarik.
Nama alat    : Set nett
Kegunaan    : Alat penangkap ( menjebak) ikan
Prinsip kerja    : Set nett diletakan diperairan dengan karakteristik tertentu dan potensial terhadap ikan-ikan yang nilai ekonominya tinggi, setelah ikan masuk, ikan akan terjebak dan tidak dapat keluar
Spesifikasi    : Terbuat dari bahan sintetis (tanpa simpul)
Cara operasional: Set nett yang telah dipasang diperairan dipantau secara berkala untuk melihat ikan yang terjebak dalam set nett.
Nama alat    : Pancing rawai
Kegunaan    : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja    : Menggunakan beberapa tali pancing, sehingga ikan yang dipancing dapat lebih dari satu
Spesifikasi    : menggunakan tali pancin dari bahan sintetis serta terdapat joran.
Cara operasional:  a. Rawai menetap, rawai yang dilengkapi dengan pemberat dan atau jangkar, dioperasikan secara menetap.
b.    Rawai hanyut, rawai yang dioperasikan secara hanyut
c.    Rawai senggol, rawai menggunakan mata pancing tanpa kait dan tanpa umpan, dioperasikan secara menetap atau dihanyutkan didasar perairan

Nama alat    : Purse seine
Kegunaan    : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja   :Menangkap ikan dengan melingkari gerombolan (schooling) ikan  sehingga tidak dapat lolos keluar dengan cara menyelam
Spesifikasi    : terbuat dari bahan sintetis
Cara operasional: Menangkap ikan dengan melingkari gerombolan (schooling) ikan  sehingga tidak dapat lolos keluar dengan cara menyelam. Alat ini merupakan  jaring permukaan dimana tali pelampung didukung oleh sejumlah pelampung.
Komponen Utama, Bagian sayap, Bagian badan, bagian kantong, srampat atas, srampat bawah jaring segi tiga, tali ris atas, tali ris bawah, Tali tegak, Tali cincin, Tali Kerut.
Jaring lingkar dengan tali kerut ( Purse Seine ), Jaring lingkar ini ditandai dengan penggunaan tali kerut (Purse Line) dibagian bawah jaring.

4.3. Laboratorium Brigth Simulator
Nama alat    :  Radar, Radio VHF, Echosounder, Sonar, Zero Compass, GPS
Kegunaan    : Untuk membantu saat pelayaran, untuk mengetahui benda diatas permukaan laut, komunikasi antar kapal, mengetahui kedalam dan dasar laut, mengetahui keadaan laut 3600, dan menentukan arah dan posisi kapal.
Prinsip kerja    : Digunakan ketika kapal berlayar atau digunakan ketika simulasi.
Spesifikasi    : secara keseluruhan menggunakan peralatan buatan Jepang.
Cara operasional: Digunakan ketika kapal berlayar atau digunakan ketika simulasi.

4.4. Laboratorium Navigasi
Nama alat    :  Weather facsmile, Fish finder, GPS, Gmoss, ARPA, Sonar, EPIRB, SART dan IMARSAT.
Kegunaan    : Untuk membantu navigasi kapal, (diperuntukan ketika keadaan darurat), untuk mengetahui cuaca lingkungan di sekitar perairan serta pendugaan gerombolan ikan.
Prinsip kerja    : SART (untuk mencari dan rescue melalui radar Transformer), EPIRB (untuk emergency posisi indikasi melalui radio beacon dan alat untuk meminta bantuan secara internasional saat kapal tenggelam maka alat ini akan segera beroperasi)
Spesifikasi    : Furuno, Taiyo Musen, jangkauan radar mencapai 75mill.
Cara operasional: Alat ini bekerja ketika kapal sedang melakukan pelayaran, digunakan ketika akan mengetahui cuaca atau menduga adanya gerombolan ikan.
4.5. Laboratorium Mesin Induk/ Utama Kapal
Nama alat    : Gearbox, Silinder head
Kegunaan    : Dapat menggerakan kapal, menggerakan mesin bantu,
Prinsip kerja    : Menggunakan sistem hidrolisis untuk perputaran mesin
Spesifikasi    : Vanmar GhaFiTE Japan, 270Hp/119 Kw
Cara operasional: Bahan bakar dibuka, control air pedingin, buka oli, buka oli gearbox, baterai dinyalakan, lalu mesin dihidupkan. Bahan bakar yang digunakan HSD (High Speed Diesel)
4.6. Laboratorium Mesin Bantu Kapal
Nama alat    :    Winchdrum, motor penggerak, manometer, palev, pipa serta pompa
Kegunaan    :     Untuk membantu penangkapan ikan, menekan biaya operasional, meringankan/mempercepat pekerjaan penangkapan
Prinsip kerja    : Alat bekerja secara hidrolisasi (sistem hidrolisasi), sentrifugal dan radial.  4x langkah forax, 2x putaran poros engkel, 1x hasil kerja.
Spesifikasi    : Yanmar 3TNE Japan 12KVA
Cara operasional: Mesin dihidupkan, saklar masih off tanpa beban, diikuti pemanasan mesin, baru dimasukkan ke panel listrik dan diberikan beban ke listrik. Arus sekitar 220V, 4tak.
4.7. Kapal KM Trevally
Tahun Pembuatan Kapal: 2001
Tempat Pembuatan Kapal: Jepang
Tonnage Kapal: 40 GT
B/L/D Kapal: 4,48/13,8/1,74 m
Peruntukan Utama Kapal: Untuk penelitian dan riset perikanan, serta penangkapan ikan.
Kemampuan Jelajah: Sejauh 800 mill
Alat Tangkap yang dibawa: Purse seine, gillnet, bottom longline, rawai dasar.
Alat Navigasi yang ada: Fish finder, GPS, Radar, radio VHF
Jumlah ABK: 8 orang
Kapasitas Angkut: 14-15 orang

BAB V
KESIMPULAN SARAN
Kesimpulan
Kegiatan penangkapan ikan merupakan salah satu dari bidang ilmu perikanan, yaitu perikanan tangkap. Kegiatan tersebut tidak lepas dari alat tangkap ikan serta kapal penangkapan ikan. Untuk melakukan suatu kegiatan penangkapan ikan dibutuhkan suatu keahlian agar hasil tangkapan dapat maksimal, serta diharapkan dapat mendeteksi suatu fishing ground lewat sistem penginderaan jauh, misalnya echosounder, fish finder, serta alat pendeteksi lain. Alat tersebut hanya bisa diperoleh oleh nelayan modern, sehingga alat tersebut hanya terbatas dan mahal. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi nelayan tradisional, mereka hanya bisa mendeteksi fishing ground lewat gejala alam, misalnya arah angin, arah burung terbang, dan lain-lain.
Dalam kunjungan ke BBPPI ini, para mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang lebih terkait alat tangkap ikan dan kapal penangkapan ikan. Segala bentuk pengoperasian dan spesifikasi dari alat tangkap dan kapal penangkapan ikan tersebut sangat membantu mahasiswa dalam menentukan alat tangkap yang cocok pada suatu perairan. Selain itu, mahasiswa tahu akan pengoperasian suatu alat penginderaan jauh, misalnya GPS, echosounder fish finder, dan lain-lain

Saran
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang alat dan kapal penangkap ikan serta pengetahuan lainnya, maka praktikum lapangan ini sangat perlu diadakan, hal ini tidak lain dikarenakan letak kampus yang jauh dari laut serta peralatan dan labolatorium yang memadai dikampus FPIK UNPAD, sehingga prktikum lapangan ini perlu dilaksanakan dan dilanjutkan untuk angkatan berikutnya.

Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2011

Usaha Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang

Sebagai Upaya Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa

Dalam Memajukan Potensi Perikanan di Desa Baginda, Sumedang.

RINGKASAN PRA-PROPOSAL

1.    Karakteristik Keunggulan Pembesaran Lele Sangkuriang
Ikan Lele merupakan salah satu yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu terutama benihnya. Hal ini terjadi karena ikan  lele tidak memiliki sisik yang merupakan awal untuk dia mempertahankan hidupnya dari segala gangguan dari luar terutama suhu. Maka dari itu untuk meminimalisir hal tersebut kami membudidayakan ikan lele yang fokusnya pada pembesaran karena cukup tahan terhadap perubahan suhu yang terjadi disebabkan sudah adaptasi dengan lingkungan.
Selain itu juga dengan melakukan pembesaran ini mempercepat penjualan dan mengurangi kerja terutama bagi mahasiswa. Disamping itu, dalam pembesaran lele sangkuriang ini relatif mudah, hal terpenting adalah konversi pakan yang jelas agar keuntungn daat diperoleh secara maksimal.

2.    Analisis dan Peluang Pasar Pembesaran Lele Sangkuriang
Hingga saat  ini kebutuhan ikan lele belum semuanya terpenuhi dengan maksimal. Hal ini terjadi karena permintaan ikan lele banyak akan tetapi pasokan atau asupannya tidak ada. Maka dari itu dengan budidaya ini yang fokus ke pembesaran bisa terpenuhi. Selain itu, sejatinya suatu pasar ikan sangat membutuhkan pasokan ikan lele sangkuriang karena banyak peminat dari ikan lele tersebut. Maka dari itu, diharapkan dari pembesaran lele sangkuriang ini bisa memenuhi permintaan pasar.
Selain itu juga nilai gizi dari ikan lele numayan  tinggi maka dari itu konsumen ikan lele ini semakin meningkat karena cukup cocok untuk kebutuhan gizi yang sebagai lauk keluarga.

3.    Mekanisme Produksi Pembesaran Lele Sangkuriang
Dalam budidaya ini kami hanya fokus kedalam pembesaran, dengan membeli bibit dari pada petani ikan yang ada di sekitar lokasi budidaya.

4.    Rencana Pemasaran / Pasar Produk Pembesaran Lele Sangkuriang
Pemilihan lokasi berjualan yang strategis menjadi faktor penting dalam menjalankan usaha ini. Lokasi-lokasi yang cocok untuk berjualan Lele Sangkuriang ini antara lain di Pasar Sumedang, Pasar Tanjung Sari, dan Pasar Cileunyi. Pedagang ikan dan pembudidaya ikan menjadi konsumen potensial membeli produk ini. Dari data total jumlah penduduk yang ada di Jatinangor dan Sumedang, yaitu sebanyak 121.974 Jiwa. Kami menargetkan 15 % dari jumlah tersebut akan menjadi konsumen kami. Rencananya kami akan menjual ikan lele hasil pembesaran kami seharga Rp. 15.000/ekor

5.    Rencana Anggaran, Prediksi Untung-Rugi (dalam kurun waktu 1 tahun)
a.    Biaya investasi
Lahan 1th@Rp1.000.000,-                                     Rp 1.000.000,-
Jaring 4 unit @ Rp 165.000,-                                 Rp 660.000,-
Scop net 1 unit @ Rp 6.000,-                                  Rp 6.000,-
Total biaya investasi                                                    Rp 1.666.000,-

b.   Biaya operasional per bulan
1. Biaya tetap
Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn                                   Rp1.000.000,-
Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn                        Rp150.000,-
Total biaya tetap                                                                                    Rp1.150.000,-

2. Biaya variable
Pakan 2,5 kwt @ Rp 550.000,/kwt                                                     Rp 1.3750.000,-
Benih ukuran 4-6 cm sebanyak 2500 ekor @ Rp200,-               Rp 500.000,-
Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,-                                                     Rp 300.000,-
Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,-                                           Rp 200.000,-
Tenaga kerja tetap 3 OB @ Rp 250.000,-                                          Rp3.000.000,-
Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,-                                                          Rp 1.200.000,-
Total biaya variabel                                                                                    Rp 16.250.000,-

Total biaya operasional                                                                            Rp.  17.400.000,00,-
(Biaya Tetap + Biaya Variabel)

c. Penerimaan per bulan
(Produksi lele konsumsi 2000 kg x Rp 10.000/kg -,)                  Rp.20.000.000,00

d. Keuntungan per bulan
Keuntungan = Total penerimaan-Total biaya operasional
= Rp. 20.000.000,00 –Rp. 17.400.00,00
= Rp. 2.600.000,00

e. Revenue Cost Ratio (R/C)
R/C= Total penerimaan : Total biaya operasional
= Rp. 20.000.000,00 : Rp. 17.400.000,00
= 1,14

f. Pay Back Period
Pay back period = (Total investasi : keuntungan) x 1 bulan
= (Rp. 1.666.000,00 : Rp. 2.600.000,00) x 1 bulan
= 0,64  bulan

RIWAYAT HIDUP
I.    IDENTITAS

1.    Nama Lengkap                 :   Maulana Ridwan
2.    NPM                                     :   230110090080
3.    Tempat, Tgl Lahir           :   Bogor, 22 September 1991
4.    Jenis Kelamin                   :   Laki-Laki
5.    Fakultas                               :   Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
6.    Jurusan/Prog.Studi        :   Ilmu Perikanan
7.    Semester                              :   4 (empat)
8.    Jumlah SKS ditempuh    :   81 SKS
9.    Alamat Rumah                   :   Perumahan Griya Persada Jln. Cempaka Raya No. 2 Blok K No. 8. RT:005 RW: 004, Bogor 16810

10.    Telpon                                 :   085692721359
11.    Alamat Orang Tua           :   Perumahan Griya Persada Jln. Cempaka Raya No. 2 Blok K No. 8. RT:005 RW: 004, Bogor 16810
12.    Telpon                                  :   081280015344

Lampiran 1
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENGIKUTI PROGRAM
MAHASISWA WIRAUSAHA

Judul Wirausaha    :   Usaha Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang Sebagai Upaya  Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa Dalam Memajukan Potensi Perikanan di Desa Baginda, Sumedang.
Status dalam Program    :   KETUA
NPM                                        :   230110090080
FAKULTAS                           :   FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN                             :   PERIKANAN

Bersama ini saya menyatakan bahwa saya bersedia mengikuti Program Wirausaha Mahasiswa Universitas Padjadjaran sesuai aturan yang berlaku yaitu :
a.    Mengikuti Seleksi
b.    Menyusun Rencana Bisnis
c.    Mengikuti Pembekalan
d.    Mendirikan dan menjalankan usaha
e.    Secara aktif berkonsultasi dengan pembimbing/Pendamping
f.    Mengembalikan peminjaman modal kerja sesuai aturan yang berlaku
g.    Membuat laporan regular mengenai perkembangan usaha dengan tepat waktu.
h.    Tidak sebagai ketua/anggota di kelompok usaha lain yang diajukan dalam PMW 2011, maupun PMW 2009 dan 2010.
i.    Lokasi usaha terletak di Bandung atau Sumedang
j.    Bila dikemudian hari terdapat menyalahi aturan tersebut, bersedia dibatalkan.

Lampiran 2
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN
MENJADI DOSEN PENDAMPING PMW-2011

Bersama ini saya    :
Nama Lengkap    : Dr. Ir. Iwang Gumilar, M.Si.    (L)
NIP                          : 19670209 199403 1003
Fakultas                 : Perikanan dan Ilmu Kelautan
Jabatan                  : Dosen
Menyatakan bahwa saya bersedia untuk menjadi pendamping PMW-Universitas Padjadjaran 2011 sampai dengan selesainya program (Desember 2011) dari :
Nama ketua usaha    : Maulana Ridwan
NPM                                : 230110090080

Surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya lampirkan Curiculum Vitae sesuai dengan format yang ditentukan Pengelola Mahasiswa Wirausaha Universitas Padjadjaran.

Bandung, 10 April 2011

Dr. Ir. Iwang Gumilar, M.Si.
NIP. 19670209 199403 1003

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN (PKM-K) 2011

INOVASI PENGEMBANGAN KUE “SOELE”
SEBAGAI ALTERNATIF CAMILAN BERPROTEIN
DALAM MENINGKATKAN KONSUMSI IKAN MASYARAKAT

A.    Judul Program
Inovasi Pengembangan Kue SoeLe (Soes Lele)
Sebagai Alternatif Camilan Berprotein
Dalam Upaya Meningkatan Konsumsi Ikan

B.    Latar Belakang Masalah
Tingkat konsumsi ikan per kapita Indonesia masih terbilang rendah. Berdasarkan data dari DKP tahun 2006 tingkat konsumsi ikan per kapita masyarakat Indonesia pada tahun 2006 sebesar 24.47 kg, lebih rendah dari Thailand sebesar 35 kg per kapita per tahun, Malaysia 45 kg per kapita per tahun dan bahkan tertinggal jauh oleh Jepang sebesar 120 kg per kapita per tahun. Keadaan ini sangat ironis dengan keadaan potensi perikanan Indonesia yang terbilang memiliki potensi sektor perikanan yang cukup besar, contohnya ikan lele dumbo. lkan lele dumbo (Clarias gariepinus Burch.) adalah jenis ikan yang sedang digalakkan pembudidayaannya oleh pemerintah. karena jenis lele tersebut mempunyai keunggulan dibandingkan jenis lele lokal, diantaranya adalah pemeliharaannya  yang relatif lebih mudah dan pertumbuhannya cepat. Budidaya ikan lele dari tahun ke tahun selalu meningkat, sehingga produksi ikan lele yang ukurannya tidak sesuai dengan kondisi pasar (oversize) akan semakin meningkat karena adanya kompetisi atau kondisi alam yang kurang mendukung. Ikan lele oversize ini jumlahnya mencapai 10% dalam tiap siklus produksinya. Ikan lele yang ukurannya besar atau tidak sesuai dengan kondisi pasar pemanfaatannya masih kurang. Hal ini disebabkan karena masih banyak masyarakat yang kurang menyukai bentuknya yang besar serta baunya yang khas, padahal ikan lele mempunyai kandungan gizi yang paling baik dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya. Ikan lele memiliki kandungan protein tinggi sebesar 17,7% dan lemak 4,8% (Vaas 1985 dalam Astawan 2008), selain itu  juga mengandung asam amino esensial seperti Arginin 6,3%, Leusin 9,5%, dan Lisin 10,5% (Astawan, 2008). Oleh karena itu maka perlu dilakukan suatu upaya pemanfaatan ikan lele seperti pembuatan surimi lele (Ipteknet, 2011).
Pemanfaatan ikan lele tersebut tidak terhenti sampai pada pembuatan surimi. Surimi mempunyai potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai sumber protein yang bermutu dan bergizi dibandingkan dengan makanan dari daging lainnya. Permasalahannya adalah masyarakat Indonesia termasuk bangsa yang sedikit mengkonsumsi ikan atau hasil olahannya. Untuk itu perlu dilakukan penganekaragaman. Penganekaragaman produk sumber protein ini dapat dilakukan dengan mengembangkan sebuah kreasi unik pertama di Indonesia bernama Kue Soele. Kata Soele itu sendiri merupakan kependekan dari kata Soes Lele yaitu modifikasi kue soes basah berbahan dasar ikan lele segar. Kelebihan kue soes ini selain mudah dibuat dan tidak memakan waktu yang lama untuk membuatnya, juga dapat menjadi produk kuliner yang enak, lezat, higienis, bergizi dan pastinya bernilai ekonomis tinggi. Sehingga kami pun optimis bahwa kue soes yang kami beri nama “Kue SoeLe” akan disukai oleh masyarakat.
C.    Perumusan Permasalahan
Kue soele merupakan suatu inovasi kuliner yang baru sehingga banyak masyarakat yang belum mengenali  produk olahan perikanan ini. Kue soes basah yang sering dijual di toko-toko kue biasanya memiliki isi vla yang yang bertekstur lembut dan manis rasanya, namun dalam produk ini kami menampilkan tekstur vla yang masih memiliki serat daging lele dan memiliki rasa gurih yang  lezat, cocok disajikan dengan menggunakan saos sambal.
Mengingat produk ini merupakan suatu inovasi kuliner yang baru maka pesaingnya belum terlalu banyak. Oleh sebab itu untuk memperkenalkan produk ini kepada konsumen dibutuhkan strategi pemasaran jitu berbasis Social Promotion, yaitu memasarkan dengan menggunakan taster yaitu sample yang sengaja digunakan untuk memperkenalkan produk tanpa harus diberikan beban biaya bagi konsumen. Selain itu pula kami pun akan membuka sistem pemesanan baik secara online maupun offline. Target sementara pemasaran produk inipun masih terbatas, yaitu di wilayah kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor, karena di Jatinangor merupakan lokasi strategis yang memiliki potensi konsumen vital dari kalangan mahasiswa dan praktisi pengajar.

D.    Tujuan Program
Tujuan dari kegiatan ini, diantaranya :
•    Mengenalkan cita rasa kue soele kepada masyarakat.
•    Memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
•    Menjadi alternatif cemilan sehat dan bergizi.
•    Membantu pemerintah dalam menggalakan “Gemar Makan Ikan”.
•    Mengembangkan produk olahan perikanan Indonesia.

E.    Luaran Yang Diharapkan
Kegiatan ini diharapkan mampu melatih mahasiswa untuk mengembangkan jiwa wirausahanya. Selain itu, mampu mengembangkan produk kue soele sebagai produk unggulan perikanan, dimana kedepannya diharapkan produk ini dapat diterima sebagai cemilan sehat asli perikanan.

F.    Kegunaan Program
Memperkenalkan kue soele sebagai salah satu inovasi produk olahan perikanan dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein manusia yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi makanan yang sehat, lezat, higienis dan bernilai gizi tinggi.
G.    Gambaran Umum Rencana Usaha
Peluang pasar dari produk kue SoeLe ini sangat baik, karena belum adanya usaha sejenis yang terdapat di kawasan Jatinangor. Kemudian apabila dilihat aspek lokasi daerah Jatinangor sebagai target pemasaran dari produk ini, yang merupakan kawasan pendidikan dan industri, selalu ramai oleh para mahasiswa serta pendatang lainnya. Dimana hal ini dapat menggambarkan target konsumen dari produk usaha kue SoeLe ini. Kami menargetkan 10% dari total jumlah penduduk jatinangor akan menjadi konsumen kami.
Dalam membuat makanan ini, sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang berkualitas dan kondisi yang baik agar produk kue SoeLe yang dihasilkan lezat. Terlebih bahan utama yang digunakan untuk membuat makanan ini adalah fillet ikan lele. Begitu pula dengan proses pembuatannya pun tergolong cukup mudah dilakukan.
Dalam kelompok kami pembagian tugas dalam menjalankan usaha ini akan ditekankan, kami akan membagi dari aspek produksinya dan pemasarannya. Selain itu juga, pemilihan lokasi berjualan yang strategis menjadi faktor penting dalam menjalankan usaha ini. Lokasi-lokasi yang cocok untuk berjualan kue SoeLe ini antara lain di sekitar kampus, sekolah, perumahan, atau perkantoran. Siswa sekolah atau mahasiswa menjadi konsumen potensial membeli makanan ini.
•    Rencana pemasaran

Grafik 2. Rantai perdagangan
Produk Ke SoeLe kami pasarkan dengan berbagai macam cara yaitu ,
•    Pertama dengan melakukan bulan promosi sebagai upaya branding. Dilakukan dengan harga promosi atau jika perlu mempergunakan produk sebagai tester selama waktu tertentu untuk menarik minat konsumen, serta periode analisis pola kebutuhan serta feedback terhadap kualitas maupun harga jual.
•    Kedua, Dengan menitipkannya ke warung-warung, toko-toko kecil kantin kampus dan tempat- tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul.
•    Ketiga, Dengan menjualnya langsung pada masyarakat, karena lokasi yang sangat strategis yaitu di areal kampus maka akan sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan untuk berjualan, sehingga tidak mustahil jika Kue SoeLe buatan kami akan laku terjual.
•    Keempat, mempergunakan akses yang baik untuk memasukkan produk kami sebagai alternatif konsumsi para dosen yang sedang melakukan kegiatan bimbingan, sidang, maupun kolokium.
a.    Analisis Pesaing Usaha Dalam Satu Daerah Pemasaran.
PESAING    KEUNGGULAN    KELEMAHAN
Kue soes basah rasa original

Burger ikan Mc’donald

1.    Harga murah
2.    Sudah dikenal       masyarakat

1.    Tempat strategis
2.    Sudah dikenal masyarakat

1.    Ukuran per porsi kecil
2.    Bukan hasil diversifikasi dari ikan lele

1.    Bukan pesaing produk sejenis kue soes
2.    Kurang diminati daripada beef burger
3.    Harganya cukup mahal
a.    Keunggulan bersaing
Keunggulan  Kue Soele terletak pada:
-    Produknya memiliki nilai gizi yang tinggi karena berbahan dasar ikan lele dumbo.
-    Diversifikasi produk sebagai cemilan sehat, lezat, higienis, dengan bahan baku berkualitas dan terjaga kehalalannya.
-    Konsep promosi dengan menggunakan taster dapat menarik konsumen lebih efektif.
-    Harga per porsi sangat terjangkau.
4. Media Promosi
Promosi Kue Soele dilakukan melalui pamphlet, facebook, twitter, dan blog.
5. Analisis Usaha
Tabel 1. Biaya Pokok Produksi serta Besar Margin Usaha

Komponen    Total
Hasil penjualan 4000 x Rp.3000    12000000
Total biaya yang dikeluarkan    7371133,33
Pendapatan (hasil penjualan-biaya total)    4628866,67
Pendapatan per bulan    1157216,67
Pendapatan 1 tahun    13886600,00

Tabel 2. Analisis kelayakan

Komponen    Nilai    Keterangan
B/C ratio    1,63    Usaha layak untuk dijalankan (Nilai B/C ratio >1)
BEP    596.978,16    Pada penjualan Rp. 596.978,16 pengusaha tidak mendapatkan laba atau rugi
PBP    8,62    Modal akan kembali setelah 8 bulan

H.    Metode pelaksanaan
Metode pelaksanaan program kreatifitas ini melalui beberapa prosedur yang dijabarkan sebagai berikut.
1.    Konsultasi dengan pembimbing mengenai proposal PKMK.
Konsultasi awal mengenai PKMK yang telah disusun. Konsultasi ini mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan program yang akan dilakukan. Konsultasi ini bertujuan untuk meminimalkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
2.    Riset pemasaran.
Hal ini berupa pengamatan pemasaran. Ke mana saja produk Kue Soele  tersebut akan dipasarkan. Pengamatan ini juga meliputi analisis minat pasar terhadap produk dan daya saing dari produk ini. Dari pengamatan ini dapat membantu dalam pemasaran produk dan ketahanan produk dalam persaingan dengan produk lain.
3.    Pembuatan Surimi.

4.

5.

6.

4.    Pembuatan Produk Kue Soele

5.    Pengemasan produk.
Salah satu hal terpenting dalam proses produksi adalah pengemasan. Ketika kemasan itu bagus maka nilai jualnya pun akan tinggi. Karena kebersihan dan kerapian kemasan akan membuat produk semakin menarik. Ketika kemasan belum baik maka keunggulan dari produk itu tidak akan terlihat.
6.    Perintisan jaringan pemasaran.
Setelah melakukan pengamatan pasar, langkah selanjutnya merintis pemasaran. Pada proses ini dilakukan kontrak dengan para distributor dan pengecer. Kontrak itu akan membicarakan tentang negoisasi harga dan kerjasama dalam pembagian laba.
7.    Evaluasi program dengan membuat dan menyusun rencana tindak lanjut.
Setelah berjalan 4 bulan dilakukan evaluasi untuk keberlanjutan usaha ini. Pada proses evaluasi ini juga dilakukan analisis mengenai minat pasar sehingga dapat dilakukan pengembangan mutu produk. Evaluasi ini juga bertujuan untuk menganalisis kelayakan dari keberlanjutan usaha ini.
8.    Membuat laporan dan menyusun rencana ke depan.
Proses terakhir adalah menyusun laporan yang berisi analisis dari usaha kerupuk berbahan dasar aneka buah. Analisis ini berupa analisis pasar, untung dan rugi dari usaha ini. Yang diharapkan dari laporan ini dapat dijadikan bahan evaluasi dalam keberlanjutan usaha ini.
I.    Jadwal Kegiatan Program
KEGIATAN    BULAN
Bulan ke-1    Bulan ke-2    Bulan ke-3    Bulan ke-4
1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4    1    2    3    4
Persiapan :
-Perizinan tempat produksi
-Peyediaan Alat dan bahan
Produksi dan penjualan
Promosi produk
Penyusunan Lap. Pendahuluan
Monitoring dan evaluasi

J.    Rancangan Biaya
1.    Alat-alat Pembuatan Produk
No    Alat    Jumlah    Harga (Rp.)
1    Sewa Oven 4 bulan    1@1 buah=1.000.000    1.000.000
2    Loyang    4 @1 buah=50.000    200.000
3    Mixer    1 @1 buah=250.000    250.000
4    Pisau filet “Solingen“    4 @1 buah = 45.000    180.000
5    Sendok pengaduk    2 @1 buah = 10.000    20.000
6    Talenan    3 @1 buah = 35.000    140.000
7    Sewa Food processor 4 bulan    500.000    500.000
8    Cetakan adonan    15 @1 buah = 4.000    60.000
9    Sewa Timbangan digital ”Tanita”    50.000    50.000
10    Saringan tepung    2 @1 buah = 10.000    20.000
11    Baskom     2 @ 1 buah = 20.000    40.000
12    Baki plastik    3 @ 1 buah = 15.000    60.000
13    Alas plastik adonan    2 @ 1 buah = 15.000    30.000
14    Sarung tangan     1 pack @ 1 pack = 100.000    100.000
Total    Rp. 2.650.000

2.    Bahan-bahan Pembuatan Produk
No    Bahan    Jumlah    Harga (Rp)
1    Ikan lele    75 kg  @ 1 kg = 13.000    975.000
2    Tepung terigu     60 kg @ 1 kg = 14.000    840.000
3    Baking powder    10 kg  @ 1 kg = 18.000    180.000
4    Bawang putih    4 kg   @ 1 kg = 24.000    96.000
5    Bawang bombai    4 kg   @ 1 kg = 35.000    140.000
6    Garam halus    10 kg  @ 1 kg = 5.000    50.000
7    Margarin     40 kg @ 250g = 6.000    960.000
8    Daun seledri    10 kg  @ 10 gr = 500    500.000
9    Kunyit     5 kg   @ 10 gr = 500    250.000
10    Gula pasir    18 kg @ 1 kg = 6000    108.000
11    Kuning telur    2000 butir (140 kg) @ 1 kg = 12.000    1.680.000
12    Es batu    10 kg @ 1kg = 5.000    50.000
13    Tepung maizena    10 kg @1kg =10000    100.000
14    Susu tawar    50 L  @ 1L=10000    500.000
15    Kemasan    800   @ 1 bks = 400    320.000
Total
Perbulan    Rp.  7.028.800
Rp.  1.782.200

3.    Biaya Lain-Lain
No    Keperluan    Harga (Rp)
1    Dokumentasi    50.000
2    Publikasi
-    Poster
-    Pamphlet    100.000
100.000

3    Transportasi                                                                    50.000
Total    Rp. 300.000
Total Keseluruhan    Rp. 9.978.800

3. Analisis Biaya dan Kelayakan Usaha
3.1    Modal dan Biaya
a.    Modal Tetap
Komponen    Jumlah (buah/unit)    Harga (Rp)    Total Biaya (Rp)    Masa Pakai (bulan)    Penyusutan per bulan (Rp)
Sewa Oven    1    1.000.000    1.000.000    48    31.250,00
Loyang    4    50.000    200.000    60    3.333,33
Mixer    1    250.000    250.000    24    10.416,67
Pisau filet “Solingen“    4    45.000    180.000    36    5.000,00
Sendok pengaduk    2    10.000    20.000    36    555,56
Talenan    3    35.000    105.000    48    2.187,50
Sewa Food processor    1    500.000    500.000    60    833,33
Cetakan adonan    15    4.000    60.000    60    1.000,00
Sewa Timbangan digital ”Tanita”    1    50.000    50.000    48    1.041,67
Saringan tepung    2    10.000    20.000    36    555,56
Baskom     2    20.000    40.000    72    555,56
Baki plastic    3    15.000    45.000    48    937,50
Alas plastik adonan    2    15.000    30.000    36    833,33
Sarung tangan     1    100.000    100.000    48    2.083,33
Publikasi              200.000
2.800.000         60.583,33

b. Biaya tetap
Komponen    Bunga    Harga (Rp)    Total Biaya (Rp)
Biaya penyusutan              60.583,33
4 bulan    242.333,33

c. Biaya variabel
Komponen    Jumlah    Satuan    Harga (Rp)    Total Biaya (Rp)
Ikan lele    75    kg    13.000    975.000
Tepung terigu    60    kg    14.000    840.000
Baking powder    10    kg    18.000    180.000
Bawang putih    4    kg    24.000    96.000
Bawang bombai    4    kg    35.000    140.000
Garam halus    10    kg    5.000    50.000
Margarin    40    kg    24.000    960.000
Daun seledri    10    kg    50.000    500.000
Kunyit     5    kg    50.000    250.000
Gula pasir    18    kg    6.000    108.000
Kuning telur    140    kg    12.000    1.680.000
Es batu    10    kg    5.000    50.000
Tepung maizena    10    kg    10.000    100.000
Susu tawar    50    L    10.000    500.000
Kemasan    800    bungkus    400    599.800
Transportasi & Dokumentasi                   100.000
Jumlah
Perbulan         7.128.800
1.782.200

3.2. Penerimaan dan Pendapatan
Komponen    Total (Rp.)
Hasil penjualan 4000 x Rp.3000    12.000.000
Total biaya yang dikeluarkan    7.371.133,33
Keuntungan per 4 bulan (hasil penjualan-biaya total)    4.628.866,67
Keuntungan  per bulan    1.157.216,67
Keuntungan 1 tahun    13886600,00

3.3. Analisis Kelayakan

Komponen    Nilai    Keterangan
B/C ratio    1,63    Usaha layak untuk dijalankan (Nilai B/C ratio >1)
BEP    596.978,16    Pada penjualan Rp. 596.978,16 pengusaha tidak mendapatkan laba atau rugi
PBP    8,62    Modal akan kembali setelah 8 bulan
(2 periode produksi)

3.4. Forecasting
Pendugaan (forecasting) penjualan Kue Soele per bulan
Bulan ke
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12
Penjualan Kue Soele (piece)*    1    1    1    1    1,01    1,02    1,03    1,04    1,05    1,06    1,07    1,08
Pendapatan       x  Rp.3.000*    3.000    3.000    3.000    3.000    3.030    3.060    3.090    3.120    3.150    3.180    3.210    3.240
*Keterangan:  nominal  x 1.000

Lampiran 1 : Gambar Kue SoeLe

Lampiran 2
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1).    Ketua Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Maulana Ridwan
b).    NPM    :    230110090080
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
2).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Fathan Jefriansyah
b).    NPM    :    230110090129
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
3).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Irni Yulia Sriwidyaningsih
b).    NPM    :    230110090127
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :

4).    Anggota Pelaksana Kegiatan
a).    Nama Lengkap    :    Asep Jaenal Abidin
b).    NPM    :    230110097027
c).    Fakultas/Program Studi    :    Perikanan dan Ilmu Kelautan/ Perikanan
d).    Perguruan Tinggi    :    Universitas Padjadjaran
e).    Waktu untuk Kegiatan PKM    :    12 Jam / Minggu
f).    Tanda Tangan    :
Lampiran 3

Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1.    Nama Lengkap    : Ir. Evy Liviawaty, MP.
2.    NIP    : 19630719 198803 2 001
3.    Golongan Pangkat    : Penata Tk 1/III d
4.    Jabatan Fungsional    : Lektor
5.    Jabatan Struktural    : Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
6.    Fakultas/Program Studi    : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
7.    Perguruan Tinggi    : Universitas Padjadjaran
8.    Bidang keahlian    : Teknologi Hasil Perikanan
9.    Waktu Untuk Kegiatan    : 12 Jam / Minggu
10.    Tanda Tangan    :

Penerimaan Proposal PKM-KT (PKM-AI dan PKM-GT) tahun 2012

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi memberi kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Karya Tulis (PKM-KT) yaitu : Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang akan didanai tahun 2012.

Pedoman pengajuan usulan proposal dan tata cara pengiriman proposal ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) dapat di download pada website :  http://dikti.kemdiknas.go.id, dengan headline : Pedoman PKM 2011.

Persyaratan:

  • Setiap usulan proposal dibuat rangkap 2 (dua);
  • Softcopy Proposal dimasukan dalam 1 (satu) CD/DVD dibuat per Perguruan Tinggi
  • Surat pengantar resmi dari perguruan tinggi dengan dilampirkan print out rekap daftar seluruh proposal dari Perguruan Tinggi Saudara sesuai form terlampir, dan dikirimkan ke alamat :

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Gedung Dikti Lt.4, Jl. Jend. Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta.

Sedangkan file rekap daftar seluruh proposal (dalam format file Excel) dari Perguruan Tinggi Saudara tersebut mohon dikirim via email ke alamat : pkm.dp2m@dikti.go.id, cc: usulanpkm@gmail.com

Batas waktu pengajuan usulan selambat-lambatnya tanggal 9 Maret 2012 pukul 16.00 WIB.

Apabila pengiriman proposal dan email rekapitulasi  data proposal lewat dari batas waktu yang telah ditentukan, maka proposal dari perguruan tinggi Saudara tidak akan diproses.

FormatRekapPKM_KT2012_nama_perguruanTinggi Srt pengajuan Usul PKM-AI dan PKM-GT 2012

Sumber:

http://dikti.kemdiknas.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2623:penerimaan-proposal-pkm-kt-pkm-ai-dan-pkm-gt-tahun-2012&catid=68:berita-pengumuman&Itemid=160

Manual On The Production And Use Of Live Food For Aquaculture

LANGKAH PRODUKSI DAN PENGGUNAAN PAKAN UNTUK BUDIDAYA

1. Pengenalan

Budidaya larva umumnya dilakukan dalam kondisi hatchery dikendalikan danbiasanya memerlukan teknik budaya tertentu yang biasanya berbeda dari konvensionalpembibitan dan prosedur tumbuh-keluar, dan terutama berkenaan dengan teknik peternakan, makan strategi, dan kontrol mikroba. Alasan utama untuk ini adalah bahwa pengembangan larva biasanya sangat kecil, sangat rapuh, dan umumnya tidak fisiologis sepenuhnya dikembangkan. Misalnya, mereka ukuran kecil (mis. ukuran mulut kecil), yang belum selesai pengembangan organ persepsi mereka (mis. mata, kemoreseptor) dan sistem pencernaan, adalah faktor pembatas dalam pemilihan pakan yang tepat dan gunakan selama pemberian pertama atau awal-awal menyusui periode. Selain itu, dalam spesies seperti udang, ini bukan masalah hanya sebagai larva berkembang juga harus melewati tahap larva yang berbeda, akhirnya berubah dari filter perilaku makan herbivora dengan perilaku berburu karnivora. Hal ini mungkin tidak Oleh karena itu mengherankan bahwa nutrisi larva, dan khususnya yang dari pemberian pakan sensitif- larva, telah menjadi salah satu hambatan utama mencegah komersialisasi penuh banyak dibudidayakan spesies ikan dan kerang
Ukuran mulut pertama-makan larva biasanya mekanis membatasi ukuran makananpartikel yang dapat dicerna. Secara umum, ukuran mulut berkorelasi dengan ukuran tubuh, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh diameter telur dan periode makan endogen.
Status perkembangan sistem pencernaan larva pertama-makan juga mendiktekemungkinan atau tidak larva mencerna makanan yang tertelan. Misalnya salmon, pertama-makan alevins telah memiliki saluran pencernaan berkembang dengan baik dengan sistem enzim.
Berbeda spesies mikroalga 2-20 μm untuk:

o bivalvia
ο udang penaeid
ο rotifera, copepoda,
o ikan

• Yang μm 50-200 rotifer Brachionus plicatilis untuk:
o krustasea
o ikan laut
• Yang 400-800 μm air garam udang Artemia spp. (Meta-) nauplii untuk:
o krustasea
ο ikan

Selain dari kelompok-kelompok utama, beberapa lainnya feed digunakan pada skala yang lebih terbatas untuk larvikultur praktek spesifik, termasuk Rubens Brachionus, Moina spp., daphnids, dan decapsulated kista udang air garam untuk ikan air tawar dan larva udang, dan biomassa Artemiauntuk larva lobster, postlarvae udang dan induk, dan remaja ikan laut. Dalam baru-baru iniberbagai formulasi tahun suplementasi dan produk substitusi telah ditambahkan kedaftar ini meskipun penggantian diet menjadi lebih dan lebih berhasil dalam udanglarva. Namun, penggunaannya dalam pertama makan ikan laut masih sangat terbatas. Akhirnya, kriteria seleksi yang juga perlu dibenahi, terutama pada kompetitif harga pasar benih hatchery (misalnya, Eropa seabass dan harga seabream gilthead telah menurun lebih dari 50% selama beberapa tahun terakhir) adalah biaya pakan larva, yang, tergantung pada spesies dan teknik budidaya yang diterapkan, mungkin account sampai 15% dari total biaya produksi. Optimasi produksi pangan hidup dan digunakan dalam penetasan telah oleh karena itu menjadi lebih penting.

2. Mikro-alga

Fitoplankton terdiri dari dasar rantai makanan di lingkungan laut.
Oleh karena itu, mikro-alga sangat diperlukan dalam membesarkan komersial dari berbagai jenis hewan laut sebagai sumber makanan bagi semua tahap pertumbuhan kerang moluska, tahap larva beberapa spesies krustasea, dan tahap pertumbuhan yang sangat awal dari beberapa spesies ikan. Algae adalah selanjutnya digunakan untuk menghasilkan jumlah massa zooplankton (rotifera, copepoda, air garam udang) yang berfungsi pada gilirannya sebagai makanan untuk larva dan awal tahap-remaja dari krustasea dan ikan. Selain itu, untuk pemeliharaan larva ikan laut menurut air “hijau teknik ” ganggang digunakan secara langsung di dalam tangki larva, di mana mereka yang diyakini berperan dalam menstabilkan kualitas air, gizi larva, dan kontrol mikroba.
Saat ini, lebih dari 40 spesies yang berbeda-ganggang mikro, terisolasi di berbagai belahan dunia, yang dibudidayakan sebagai strain murni dalam sistem intensif. Tabel 2.1. daftar delapan kelompok utama dan 32 genera alga berbudaya saat ini digunakan untuk pakan berbagai kelompok komersial penting organisme perairan. Daftar ini termasuk jenis diatom, flagellated dan chlorococcalean ganggang hijau, dan ganggang biru-hijau berbentuk benang, mulai ukuran dari beberapa mikrometer lebih dari 100 μm. Yang paling sering digunakan dalam usaha budidaya spesies komersial adalah diatom Skeletonema costatum, pseudonana Thalassiosira, Chaetoceros gracilis, C. calcitrans, yang Flagelata galbana Isochrysis, suecica Tetraselmis, lutheri Monochrysis dan yang Chlorella spp chlorococcalean.
Parameter yang paling penting yang mengatur pertumbuhan alga adalah kuantitas dan kualitas nutrisi, cahaya, pH, turbulensi, salinitas dan suhu. Parameter yang paling optimal serta berkisar ditoleransi adalah spesies spesifik dan generalisasi yang luas bagi yang paling penting parameter. Selain itu, berbagai faktor dapat saling tergantung dan parameter yang optimal untuk satu set kondisi belum tentu optimal bagi lain.
Kondisi fisik dan kimiawi yang memproduksi alga:
- Kultur nutrisi
- Cahaya
- pH
- Pencampuran
- Temperatur
- Salinitas air

Koleksi khusus budaya. Daftar koleksi budaya disediakan oleh Vonshak (1986) dan Smith et al. (1993a). Atau, isolasi strain endemik dapat dianggap karena kemampuan mereka untuk tumbuh dalam kondisi lingkungan setempat. Isolasi alga spesies ini tidak sederhana karena ukuran sel kecil dan hubungan dengan lainnya epifit spesies. Beberapa teknik laboratorium tersedia untuk mengisolasi sel-sel individual, seperti seri pengenceran budaya, plating berturut-turut pada media agar, dan pemisahan menggunakan pipet kapiler. Bakteri dapat dihilangkan dari budaya fitoplankton oleh mencuci atau pelapisan dengan adanya antibiotik.
Sumber umum dari kontaminasi adalah kondensasi di maskapai penerbangan yang siliata pelabuhan. Untuk alasan ini, perusahaan penerbangan harus dijaga kering dan baik udara dan karbon dioksida harus disaring melalui filter in-line sebesar 0,3 atau 0,5 μm sebelum masuk budaya. Untuk lebih besar volume udara, unit filter dapat dibangun dengan menggunakan kapas dan arang aktif.
Alga dapat diproduksi dengan menggunakan berbagai metode, mulai dari dekat-dikendalikan laboratorium metode untuk metode kurang diprediksi di luar tangki. terminologi yang digunakan untuk menjelaskan jenis alga budaya meliputi:
• Indoor / Outdoor. budaya dalam ruangan memungkinkan kontrol atas pencahayaan, suhu, hara tingkat, kontaminasi dengan predator dan bersaing ganggang, sedangkan ganggang luar sistem membuat sangat sulit untuk mengembangkan kultur alga khusus untuk waktu yang lama.
• Buka / Tutup. Buka kebudayaan seperti kolam terbongkar dan tangki (di dalam atau di luar rumah) lebih mudah terkontaminasi dari budaya pembuluh tertutup seperti tabung, termos, Guci, tas, dll
• Axenic (= steril) / Xenic. budaya Axenic bebas dari setiap organisme asing seperti
bakteri dan membutuhkan sterilisasi ketat dari semua gelas, media kultur dan pembuluh
menghindari kontaminasi. Yang terakhir ini membuatnya tidak praktis untuk operasi komersial.

• Batch, terus-menerus, dan Semi-Continuous. Ini adalah tiga jenis dasar
fitoplankton budaya yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya

Batch sistem budidaya yang diterapkan secara luas karena kesederhanaan dan fleksibilitas, memungkinkan untuk perubahan spesies dan untuk memperbaiki cacat dalam sistem dengan cepat. Meskipun sering dianggap sebagai metode yang paling dapat diandalkan, budaya batch belum tentu metode yang paling efisien. Batch budaya yang dipanen hanya sebelum inisiasi dari fase diam dan harus demikian selalu dipertahankan untuk jangka waktu masa lalu substansial laju pertumbuhan maksimum spesifik. Juga, kualitas sel panen diprediksi mungkin kurang dari itu dalam sistem kontinu dan misalnya bervariasi dengan waktu panen (waktu hari, fase pertumbuhan yang tepat). Kerugian lain adalah kebutuhan untuk mencegah kontaminasi selama inokulasi awal dan awal periode pertumbuhan. Karena kerapatan fitoplankton yang diinginkan rendah dan konsentrasi nutrisi yang tinggi, setiap kontaminan dengan laju pertumbuhan yang lebih cepat mampu tumbuh melampaui budaya. Batch budaya juga membutuhkan banyak tenaga kerja untuk panen, bersih, sterilisasi, isi ulang, dan menyuntik wadah.
Teknik semi-kontinu memperpanjang penggunaan budaya tangki besar secara parsial periodik pemanenan langsung diikuti topping sampai volume asli dan melengkapi dengan nutrisi untuk mencapai tingkat asli pengayaan. budaya ini tumbuh lagi, sebagian panen, dll budaya Semi-kontinyu mungkin di dalam atau di luar rumah, tetapi biasanya mereka durasi tidak dapat diprediksi. Pesaing, predator dan / atau kontaminan dan metabolit akhirnya membangun, rendering budaya tidak cocok untuk digunakan lebih lanjut. Karena budaya tersebut tidak dipanen lengkap, hasil metode semi-kontinyu lebih ganggang dibandingkan dengan metode batch untuk ukuran tangki diberikan. Mikro-alga merupakan sumber makanan penting dalam semua tahap pembesaran kerang laut moluska (kerang, tiram, kerang), tahap larva beberapa gastropoda laut (pauhi,Keong), larva beberapa jenis ikan laut dan udang penaeid, dan zooplankton.
Sebuah rezim makan khas alga untuk larva penaeid diberikan. Alga ditambahkan selama nauplius non-makan tahap sehingga ganggang yang tersedia segera setelah menyilih ke tahap protozoea. spesies ganggang paling sering digunakan adalah Tetraselmis Chui, Chaetoceros gracilis, dan costatum Skeletonema. Sebagai perubahan preferensi makan dari terutama herbivora untuk karnivora selama tahap mysis, kuantitas ganggang berkurang.Namun demikian, tingkat latar belakang alga dipertahankan karena hal ini dapat menstabilkan kualitas air.
Tingginya biaya yang terkait dengan produksi alga, risiko untuk kontaminasi, dan temporal variasi dalam nilai makanan alga masih menimbulkan masalah bagi setiap operasi akuakultur tergantung pada budaya massa-algae uniseluler. Untuk mengatasi atau mengurangi masalah dan keterbatasan yang terkait dengan budaya ganggang, berbagai peneliti telah berusaha untuk mengganti alga dengan menggunakan pakan buatan baik sebagai suplemen atau sebagai sumber makanan utama. Berbeda pendekatan yang diterapkan untuk mengurangi kebutuhan untuk produksi alga on-situs, termasuk penggunaan ganggang diawetkan, diet mikro-encapsulated, dan ragi berbasis feed.

3. Rotifera

Meskipun Brachionus plicatilis pertama kali diidentifikasi sebagai hama dalam budaya kolam belut di lima puluhan dan enam puluhan, peneliti Jepang segera menyadari bahwa rotifer ini dapat digunakan sebagai makanan yang cocok organisme hidup untuk tahap awal larva ikan laut. Penggunaan berhasil rotifera dalam operasi komersial pembenihan ikan air tawar laut merah (Pagrus utama) mendorong penyelidikan dalam pengembangan teknik budaya massa rotifera. Duapuluh lima tahun setelah penggunaan pertama makan rotifera di larvikultur teknik beberapa budaya untuk produksi rotifera intensif sedang diterapkan di seluruh dunia. Ketersediaan besar kuantitas sumber makanan hidup ini telah memberikan kontribusi terhadap keberhasilan produksi pembenihan lebih dari 60 spesies finfish laut dan 18 jenis krustasea. Untuk pengetahuan kami, liar populasi rotifera hanya dipanen dalam satu wilayah di China PR, (yaitu Teluk Bohai pegaraman) di mana Brachionus plicatilis digunakan sebagai makanan udang dan kepiting lokal penetasan.
Epidermis ini berisi lapisan padat protein seperti keratin dan disebut
lorica. Bentuk lorica dan profil dari duri dan ornamen memungkinkan penentuan
dari spesies yang berbeda dan morphotypes. Tubuh rotifer adalah dibedakan menjadi tiga bagian yang berbeda yang terdiri dari kepala, badan dan kaki. Itu kepala berputar membawa organ atau korona yang mudah dikenal oleh ciliation annular nya dan yang menjadi asal nama Rotatoria (bantalan roda). Yang ditarik korona menjamin gerak dan gerakan air berputar yang memfasilitasi pengambilan partikel kecil makanan (terutama ganggang dan detritus). bagasi berisi saluran pencernaan, yang ekskretoris sistem dan organ-organ kelamin. Sebuah organ karakteristik untuk rotifera adalah mastax yang (Yaitu alat kaku di daerah mulut), yang sangat efektif dalam penggilingan tertelan partikel. kaki adalah struktur retractable cincin-jenis tanpa segmentasi berakhir dalam satu atau empat jari.
Masa hidup rotifera telah diperkirakan antara 3,4-4,4 hari pada 25̊® C.
Secara umum, larva menjadi dewasa setelah 0,5-1,5 hari dan perempuan kemudian mulai berbaring telur kira-kira setiap empat jam. Hal ini diyakini bahwa perempuan dapat menghasilkan generasi sepuluh keturunan sebelum mereka akhirnya mati. Aktivitas reproduksi Brachionus tergantung pada suhu lingkungan hidup. Siklus hidup Brachionus plicatilis dapat ditutup oleh dua mode reproduksi. Selama partenogenesis betina betina amictic menghasilkan amictic (diploid, 2n kromosom) telur yang mengembangkan dan menetas menjadi betina amictic. Di bawah khusus kondisi lingkungan yang betina beralih ke reproduksi seksual lebih rumit mengakibatkan perempuan mictic dan amictic. Meskipun keduanya tidak dapat dibedakan morfologi, betina mictic menghasilkan haploid (n kromosom) telur. Larva menetas dari telur yang tidak dibuahi ini berkembang menjadi laki-laki mictic haploid.
Hanya beberapa rotifer spesies yang termasuk dalam genus Brachionus digunakan dalam akuakultur. Sebagai diuraikan dalam pengantar spesies yang paling banyak digunakan adalah Brachionus plicatilis, sebuah penghuni pedalaman garam dan pesisir perairan payau kosmopolitan.
Yang berpengaruh pada kehidupan rotifera yang hidp di laut antar lain:
- Salinitas
- Temperatur
- Oksigen terlarut
- pH
- Amonia
- Bakteri
- Cilliata

Salah satu cara termurah untuk memperkaya rotifera adalah dengan menggunakan emulsi minyak. Meskipun buatan sendiri emulsi dapat dipersiapkan dengan lesitin telur dan minyak ikan (Watanabe et al., 1982). emulsi komersial biasanya lebih stabil dan memiliki komposisi yang dipilih HUFA.
Sebagian besar emulsi komersial kaya triacylglycerols dan / atau ester metil dan tidak ada emulsi telah dirumuskan dengan fosfolipid dan / atau ester lilin.
Yang paling sering digunakan emulsi komersial dibandingkan dengan buatan emulsi
diperoleh dari telur ikan halibut dan ekstrak copepoda. Meskipun isi dari DHA dan EPA adalahjauh lebih rendah di emulsi kedua, konsentrasi relatif mereka terhadap total FA jauh lebih tinggi.
Untuk pemeliharaan rotifera massa sebagai makanan larva cara amictic reproduksiharus disukai. Namun, ketika bunga sedang beristirahat produksi telur untuk digunakan sebagailibur storable-rak-mixis produk perlu diinduksi. Ini istirahat telur, juga disebutkista, relatif besar (volume mereka hampir 60% dari yang dari betina dewasa normal). Yang ideal untuk penyimpanan dan transportasi dan dapat digunakan sebagai inokulum untuk budaya massa. Produksi massal rotifera untuk produksi kista dilakukan dalam budaya batch pada beton tangki (Hagiwara et al., 1995; Dhert et al, 1995.) atau beristirahat telur dikumpulkan dari sedimen di kolam tanah. produksi telur Beristirahat bisa diinduksi dengan membatasi makanan pasokan atau mengubah suhu dan / atau salinitas. Istirahat telur akan tenggelam dan perlu dipanen dari bawah.
Dalam hal banyak limbah terjebak di bagian bawah disarankan untukmengganti air dengan air garam sehingga telur beristirahat akan mengapung dan dapat dikumpulkan dari permukaan air. Jika sedimen di bagian bawah terlalu penting, untuk mengumpulkan telur beristirahat air harus diganti dengan air garam dan telur beristirahat akan muncul ke permukaan dari di mana mereka dapat dipanen. istirahat telur kering dapat disimpan selama lebih dari setahun. Ketika ditempatkan di air laut, kista rotifer menetas dalam waktu sekitar 24 jam pada suhu 25 ° C di bawah cahaya kondisi. rotifera yang baru menetas mengalami reproduksi aseksual.
4. Artemia

Artemia kista dipasarkan di seluruh dunia untuk di-situs menetas menjadi 0,4 mm nauplii. Memang, properti unik dari krustasea branchiopod kecil Artemia untuk membentuk embrio dorman, socalled ‘Kista’, mungkin account untuk sebagian besar untuk penunjukan yang nyaman, cocok, atau baik sumber makanan larva yang telah dikreditkan dengan. Mereka kista yang tersedia yearround dalam jumlah besar di sepanjang garis pantai danau hypersaline, laguna pesisir dan solar pegaraman tersebar di lima benua. Setelah panen dan pengolahan, kista dibuat tersedia dalam kaleng sebagai storable ‘sesuai permintaan’ pakan hidup. Setelah beberapa inkubasi 24-jam dalam air laut, kista ini rilis nauplii berenang bebas yang secara langsung dapat diberi makan sebagai makanan bergizi hidup sumber ke larva dari berbagai laut serta organisme air tawar, yang membuat mereka yang paling nyaman, paling tidak padat karya pakan hidup tersedia untuk budidaya.
Meskipun Artemia telah dikenal manusia selama berabad-abad, yang digunakan sebagai makanan untuk kultur larva organisme tampaknya dimulai pada tahun 1930-an, ketika beberapa peneliti menemukan bahwa itu membuat
merupakan makanan yang sangat baik untuk larva ikan yang baru menetas. Selama tahun 1940-an, yang paling komersial kista air garam tersedia udang merupakan koleksi dari danau garam alam dan pesisir pegaraman. Dengan meningkatnya minat untuk hobi ikan tropis di akhir 1940-an, komersial nilai yang melekat pada udang air garam, sehingga mendirikan industri baru. Awal pionir dimanfaatkan pada tahun 1951 produksi dari Artemia kista di Great Salt Lake di Utah, USA. Pertama panen danau yang dihasilkan 16 ton produk jadi. Selama pertengahan 1950-an, komersial perhatian untuk udang air garam adalah beralih ke sumber-sumber dikendalikan untuk produksi di San Francisco Bay wilayah.
Di sini ditemukan bahwa air garam udang dan kista mereka bisa diproduksi sebagai produk sampingan dari pabrik garam surya. Sejak produksi garam memerlukan pengelolaan proses penguapan, kista tahunan dan produksi biomassa dapat diprediksi secara kasar. Dalam 1960-an, ketentuan komersial berasal dari beberapa sumber-sumber di Amerika Utara dan tampaknya menjadi tidak terbatas. Namun, dengan ekspansi produksi perikanan budidaya dalam 1970-an, permintaan segera kista Artemia melebihi penawaran dan harga naik secara eksponensial, Artemia berubah menjadi hambatan bagi perluasan budidaya pembenihan kelautan ikan dan krustasea. Secara khusus, negara-negara berkembang tidak mampu untuk mengimpor karena Artemia sangat mahal.
Asam lemak tak jenuh dalam air garam metanauplii udang, kualitas gizi Artemiadapat lebih disesuaikan dengan kebutuhan predator ‘. Aplikasi metode bioencapsulation,juga disebut Artemia pengayaan atau meningkatkan, telah membawa dampak besar padaditingkatkan larvikultur output, tidak hanya dalam hal survival, pertumbuhan dan keberhasilanmetamorfosis dari banyak spesies ikan dan krustasea, tetapi juga berkaitan dengan kualitas mereka,umpamanya menurunnya insiden malformasi, pigmentasi meningkat dan stres perlawanan. Itumetode bio-enkapsulasi sama sekarang sedang dikembangkan untuk pengiriman oral vitamin,chemotherapeutics dan vaksin.Selain itu, pengetahuan yang lebih baik dari biologi artemia di asalpengembangan produk Artemia lain, seperti kista didesinfeksi dan decapsulated, berbagai preparates biomassa, yang saat ini memiliki aplikasi di pembenihan, pendederan dan indukpemeliharaan. Semua perkembangan ini mengakibatkan dioptimalkan dan hemat biaya aplikasi ini tinggal makanan di produksi hatchery.
Dipupuk telur biasanya berkembang menjadi nauplii berenang bebas (= reproduksi ovoviviparous. Yang dirilis oleh ibu. Dalam kondisi ekstrim (misalnya salinitas tinggi, rendahtingkat oksigen) hanya embrio berkembang sampai gastrula. Pada saat ini mereka mendapatkan dikelilingi oleh shell tebal (disekresikan oleh kelenjar shell cokelat yang terletak di dalam rahim), masukkan keadaan macet metabolik atau dormansi (diapause) dan kemudian dilepaskan oleh perempuan (yg menelur reproduksi). Pada prinsipnya baik oviparity dan ovoviviparity ditemukan di semua jenis Artemia, dan betina dapat beralih di antara dua siklus-reproduksi dari satu Cara reproduksi yang lain. Kista biasanya mengapung di perairan salinitas tinggi dan ditiup darat di mana mereka mengumpulkan dan kering. Sebagai hasil dari proses dehidrasimekanisme diapause umumnya dilemahkan; kista kini dalam keadaan kediaman dan dapat melanjutkan pengembangan lebih lanjut embrio mereka ketika terhidrasi secara optimal menetas kondisi. Dalam kondisi yang optimal udang air garam bisa hidup selama beberapa bulan, tumbuh dari nauplius ke dewasa dalam waktu hanya 8 hari dan memperbanyak dengan kecepatan hingga 300 nauplii atau kista setiap 4 hari.
Genus Artemia merupakan kompleks saudara spesies dan superspecies, yang didefinisikan oleh kriteria isolasi reproduksi. Awal nama spesies taksonomis ditugaskan untuk populasi dengan morfologi yang berbeda, dikumpulkan pada temperatur yang berbeda dan salinitas. Nantinya, nama profesi ditinggalkan dan semua udang air garam disebut sebagai Artemia salina Linnaeus 1 7 58 … Beberapa penulis melanjutkan praktek ini hari ini. Secara umum, nama-nama yang berbeda ditugaskan untuk populasi terisolasi secara reproduktif atau kelompok-kelompok populasi:
• A. salina Linnaeus 1 7 58: Lymington, Inggris (sekarang sudah punah), wilayah Mediterania; • A. tunisiana Bowen dan Sterling 1978 sinonim dari A. salina);
• A. parthenogenetica Barigozzi 1974, Bowen dan Sterling 1978: Eropa, Afrika,
Asia, Australia;
• A. urmiana Gunther 1990: Iran;
• A. Sinica Yaneng 1989: Timur Tengah dan Asia;
• A. persimilis Piccinelli dan Prosdocimi 1968: Argentina;
• superspecies franciscana A.: Amerika, Karibia dan pulau-pulau Pasifik, termasuk populasi yang terisolasi secara reproduktif di alam seperti A. (franciscana) franciscana Kellogg 1906 dan A. (franciscana) monica Verrill 1869 (Mono Lake, California);
• Artemia sp. Pilla dan Beardmore 1994: Kazakhstan
Sejumlah senyawa lain juga tampak variabel dari strain ke strain: gizi
komponen seperti jumlah asam amino bebas, pigmen (canthaxanthin), vitamin C,
mineral dan unsur jejak, serta kontaminasi dengan bahan kimia seperti pestisida dan
logam berat. Dalam kebanyakan kasus variasi ini tidak strain khusus, tetapi hanya sesuai dengankondisi produksi yang berbeda. Meskipun demikian, pengaruh mereka pada kesuksesan larvikultur biasanya jauh lebih signifikan.
Peningkatan tingkat hasil terakhir senyawa higroskopis di serapan air lebih lanjut oleh embrio. Akibatnya, tekanan osmotik di dalam membran luar cuticular membangun terus sampai tingkat kritis tercapai, yang mengakibatkan pecahnya kista
amplop, di mana saat semua gliserol yang dihasilkan dilepaskan dalam media penetasan. Di kata lain, metabolisme di Artemia kista sebelum melanggar adalah trehalose-gliserol hiperosmotik peraturan sistem. Ini berarti bahwa sebagai tingkat salinitas dalam media inkubasi meningkatkan, konsentrasi yang lebih tinggi kebutuhan gliserol akan dibangun untuk mencapai kritis perbedaan tekanan osmotik yang akan menghasilkan kulit meledak, dan lebih sedikit energi cadangan sehingga akan ditinggalkan di nauplius.
Setelah melanggar embrio berada dalam kontak langsung dengan media eksternal melalui menetas membran. Sebuah sistem yang efisien osmoregulatory ion sekarang berlaku, yang dapat mengatasi dengan kisaran besar salinitas, dan embrio membedakan menjadi larva nauplius bergerak. Sebuah menetas enzim, disekresi di wilayah kepala nauplius, melemahkan membran menetas dan memungkinkan nauplius untuk membebaskan dirinya ke dalam media penetasan.
Sebagai Artemia adalah penghuni biotop dicirikan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil, yang bertahan hidup selama periode kondisi ekstrim (yaitu pengeringan, suhu ekstrim, tinggi salinitas) dijamin oleh produksi embrio yang tidak aktif. Artemia perempuan memang bisa dengan mudah beralih dari produksi nauplii hidup (ovoviviparity) untuk pembentukan kista (oviparity) sebagai cepat Menanggapi keadaan berfluktuasi. Meskipun mekanisme dasar yang terlibat dalam switch belum sepenuhnya dimengerti, fluktuasi tiba-tiba tampaknya memicu oviparity (oksigen perubahan stres salinitas, …). Mekanisme memicu untuk induksi negara Namun diapause ini belum diketahui. Pada prinsipnya, dirilis sebagai embrio Artemia kista di menengah berada di diapause dan tidak akan melanjutkan pembangunan mereka, bahkan di bawah menguntungkan kondisi, sampai mereka mengalami diapause menonaktifkan beberapa proses lingkungan; di tahap, yang berhenti metabolisme diatur oleh mekanisme internal dan tidak dapat dibedakan dari embrio non-hidup.
Setelah gangguan diapause, kista masukkan tahap kediaman, yang berarti bahwa aktivitas metabolik dapat dilanjutkan kembali pada saat ini mereka membawa dalam kondisi menetas menguntungkan, akhirnya menghasilkan menetas: dalam fase ini penangkapan metabolik secara unik tergantung dari faktor eksternal. Akibatnya, menetas sinkron terjadi, sehingga cepat memulai dan pengembangan akibat dari populasi lama setelah pembentukan kembali kondisi lingkungan yang menguntungkan.
Ini efektif memungkinkan kolonisasi di biotop temporal. Untuk pengguna Artemia kista beberapa teknik telah terbukti sukses di terminasi diapause. Penting untuk dicatat di sini bahwa kista Artemia sensitivitas teknik tersebut menunjukkan regangan-atau bahkan batch-kekhususan, maka kesulitan untuk memprediksi dampaknya terhadap menetas hasil. Ketika bekerja dengan strain baru atau relatif tidak dikenal, keberhasilan relatif atau kegagalan metode tertentu harus menemukan secara empiris.
Penggunaan langsung dari kista Artemia, dalam bentuk decapsulated, adalah jauh lebih terbatas di larvikultur ikan dan udang, dibandingkan dengan penggunaan nauplii Artemia. Namun demikian, kering decapsulated Artemia kista telah terbukti menjadi pakan yang sesuai untuk pemeliharaan larva berbagai spesies seperti air tawar ikan lele (Clarias gariepinus) dan ikan mas (Cyprinus carpio), udang laut dan larva bandeng. Saat ini, diproduksi secara komersial kista decapsulated sering digunakan dalam Thailand pembenihan udang dari tahap PL4 seterusnya. Penggunaan kista decapsulated di larva pemeliharaan menyajikan beberapa keuntungan yang berbeda, baik dari sudut praktis dan gizi pandang.
Variabilitas dari nilai gizi Artemia nauplii sebagai sumber makanan bagi ikan lautlarva telah didokumentasikan dengan baik. Seperti disebutkan sebelumnya, penerapan HUFApengayaan Artemia diet telah ditemukan memiliki dampak yang signifikan terhadap ikan lautlarva, dan umumnya mengakibatkan peningkatan kelangsungan hidup dan variabilitas berkurang ikan produksi hatchery. Yang terakhir ini sangat penting karena merupakan mata rantai yang hilang di pengembangan produksi komersial. Selanjutnya, kualitas goreng dalam hal stres perlawanan, pigmentasi yang lebih baik, cacat dikurangi, inflasi swimbladder lebih baik, dan semangat meningkat, tampaknya telah secara langsung berhubungan dengan (n-3) HUFA pengayaan makanan larva mereka.
Artemia muda dan orang dewasa yang digunakan sebagai bibit diet tidak hanya bagi mereka yang optimal nutrisi nilai tetapi juga untuk keuntungan enerjik juga. Sebagai contoh, ketika ditawarkan besar Artemia bukannya nauplii baru menetas, larva predator perlu untuk mengejar dan menelan mangsa kurang organisme per unit waktu untuk memenuhi kebutuhna pangan mereka.
Sampai saat ini, aplikasi dengan Artemia ongrown tidak pernah diambil di tingkat industri karena terbatasnya ketersediaan biomassa hidup atau beku, biaya tinggi dan kualitas variabel. Teknologi yang dikembangkan pada tahun delapan puluhan untuk mendirikan tambak intensif dan super intensif tangki sistem produksi udang air asin di dalam atau dekat budidaya pertanian telah mengakibatkan peningkatan bunga untuk biomassa Artemia selama dekade terakhir. Di Cina, beberapa ribu ton biomassa Artemia telah dikumpulkan dari Teluk Bohai
tambak garam dan digunakan dalam hatchery lokal dan fasilitas tumbuh-out untuk udang putih Cina, Penaeus chinensis. Selain itu, akuarium industri toko hewan peliharaan menawarkan pemasaran yang baik peluang untuk biomassa Artemia hidup diproduksi dalam sistem kebudayaan daerah. Hari ini, lebih dari 95% dari lebih dari 3000 ton metrik biomassa Artemia yang dipasarkan di sektor ini dijual beku karena mereka yang dipanen dari sejumlah sumber alam terbatas dan hidup transportasi ke benua lainnya adalah biaya terjangkau. Singapura, misalnya, sudah mengalami kemacetan dimana industri akuarium tropis lokal terancam oleh
kekurangan makanan hidup.

5. Zooplankton

Zooplankton terdiri dari invertebrata air kecil makan di fitoplankton. Meskipun “Plankton” berarti pasif mengambang atau melayang, beberapa perwakilan zooplankton mungkin kuat berenang. Siklus tahunan plankton terdiri dari berbagai spesies fitoplankton berkembang sebagai tanggapan terhadap urutan tertentu, perubahan suhu, salinitas,penyinaran dan intensitas cahaya, ketersediaan hara, dan mekar akibat dari zooplanktonpopulasi. Populasi fitoplankton dan zooplankton karena itu terkait erat dalamterus siklus mekar dan penurunan yang telah berkembang dan bertahan di seluruh jutaantahun evolusi. Studi tentang isi perut larva ikan yang ditangkap dalam lingkungan alam mereka dengan jelas menunjukkan bahwa hampir tidak ada spesies ikan dapat dianggap sebagai sangat stenophagic (khusus dalam makan hanya pada beberapa atau hanya satu spesies zooplankton), meskipun beberapa mungkin spesialisasi terjadi (misalnya karena keterbatasan ukuran untuk konsumsi).
Zooplankton dapat diperoleh dari air laut tubuh serta danau air tawar atau kolam.Untuk tujuan budidaya, sekitar 80% adalah berasal dari laut. Sekitar 25 jenis copepoda, mysids dan euphausids dipanen secara komersial. Memimpin negara dalam menggunakanzooplankton liar dalam budidaya industri Norwegia (penangkapan tahunan berkisar antara 20-50 ton), Kanada dan Jepang. Penangkapan tahunan global krustasea planktonik (dasarnya krill) adalah sekitar 210.000 ton, tetapi hanya sebagian kecil digunakan sebagai sumber makanan langsung di akuakultur (hidup atau dalam beku).
Jika jarak dari baling-baling ke net pendek, pembukaan jaring inlet dapat
berkurang dan panjang bersih meningkat untuk memastikan penyaringan yang memadai dan mencegah kerugian karena sempit dan kuat kembali saat ini. Semakin lama jarak antarabaling-baling dan bersih, lebih luas dan lebih pendek bersih dapat.
Jarak antara baling-baling dan bersih umumnya berkisar 0,3-1,5 m. Ketika peralatan jenis ini digunakan dalam reservoir dangkal (di bawah 1 m), perawatan harus dilakukan untuk tidak mengganggu sedimen dari dasar yang akan tersumbat net. Oleh karena itu, baling-baling harus dipasang dekat ke permukaan air. Sebuah baling-baling berputar di 5.600 rpm ditempatkan pada jarak 1 m dari kecil plankton bersih (inlet 30 x 30 cm, ukuran mesh 200 μm), dapat mengumpulkan hingga 10 kg zooplankton per jam. Kerusakan yang disebabkan oleh baling-baling pada zooplankton relatif rendah, tetapi cukup kerugian yang mungkin disebabkan oleh mesin-mesin pembakaran yang ditiup knalpot di bawah air permukaan. Untuk rotifera khusus mengumpulkan peralatan telah dibangun untuk menghindari clogging cepat kantong akibat akumulasi dari zooplankton berukuran kecil filter (<100 μm). Mengumpulkan aparat disediakan dengan peralatan pembersihan otomatis kantong filter. baling-baling adalah dipasang miring hulu dari sebagian terendam silinder saringan, yang berputar pada 15 rpm. Air melewati silinder dan plankton terakumulasi di dinding filter.
Ketika zooplankton dikumpulkan dari bersih dipindahkan ke angkutan kontainer, bagian dari bahan tetap dalam lapisan hanya di atas bagian bawah. Organisme ini baik secara mekanisrusak atau imobilisasi dan dapat diberikan kepada yang pertama goreng. Namun, saat iniorganisme mati, mereka akan segera mulai membusuk. Hal ini berguna untuk mengelola hewan-hewan mati karena ikan akan menolak dan tubuh mereka akan membusuk merusak kualitas air dari pemeliharaan sistem. Untuk alasan ini, zooplankton mati selalu harus dipisahkan dari hidup zooplankton oleh dekantasi.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa copepoda dapat memiliki nilai gizi tinggidari Artemia, sebagai profil nutrisi copepoda muncul untuk menyesuaikan lebih baik gizipersyaratan larva ikan laut. Selain itu, mereka dapat diberikan di bawah berbedabentuk, baik sebagai nauplii atau copepodites di startfeeding dan sebagai copepoda ongrown sampai menyapih. Selain itu, khas gerakan zigzag mereka, diikuti dengan fase meluncur singkat, adalah penting visual stimulus bagi banyak ikan yang lebih memilih mereka atas rotifera. Keuntungan lain dari penggunaan copepoda, terutama bentos-jenis spesies seperti Tisbe, adalah bahwa non-mendahului copepoda menjaga dinding tangki pemeliharaan larva ikan bersih oleh merumput pada alga dan puing. Beberapa kandidat spesies baik milik calanoid dan kelompok harpacticoid memiliki telah dipelajari untuk produksi massal. Calanoids dapat dengan mudah dikenali oleh mereka yang sangat panjang pertama antena (16-26 segmen), sedangkan harpacticoids hanya memiliki antena pertama pendek (kurang dari 10 segmen).
Meskipun beberapa keberhasilan telah dilaporkan saat menggunakan copepoda dikultur sebagai makanan tinggal di larva ikan, harus ditunjukkan bahwa kelayakan ekonomi (atau tidak) dari copepoda budaya mungkin merupakan hambatan utama untuk aplikasi rutin. Infrastruktur dan biaya tenaga kerja untuk produksi jumlah yang cukup dari copepoda hidup untuk operasi hatchery komersial mungkin memang mahal.
Para Copepoda adalah kelas terbesar krustasea membentuk link penting antara fitoplankton dan tingkat trofik yang lebih tinggi di ekosistem perairan yang paling. Kebanyakan orang dewasa copepoda memiliki panjang antara 1 dan 5 mm. Tubuh copepoda cylindriconical sebagian besar dalam bentuk, dengan bagian depan lebih luas. batang ini terdiri dari dua bagian yang berbeda, cephalothorax (yang kepala yang menyatu dengan yang pertama dari enam segmen toraks) dan perut, yang sempit daripada cephalothorax itu. kepala memiliki mata naupliar pusat dan unirameous pertama antena, yang umumnya sangat panjang. Copepoda planktonik terutama suspensi feeders pada fitoplankton dan / atau bakteri; yang
makanan yang dikumpulkan oleh maxillae kedua. Dengan demikian, karena itu copepoda selektif filter-feeders. air Arus yang dihasilkan oleh appendages atas diam
maxillae kedua, yang secara aktif menangkap partikel-partikel makanan.
Para copepoda laki-laki biasanya lebih kecil daripada betina dan muncul dalam kelimpahan rendah kemudian yang kedua. Selama persetubuhan laki-laki perempuan menggenggam dengan antena pertama, dan deposito spermatophores ke stopkontak bukaan mani, di mana mereka terpaku oleh berarti dari semen khusus. Telur biasanya tertutup oleh ovisac, yang berfungsi sebagai mengeram ruang dan tetap melekat pada segmen pertama perut betina.
Calanoids gudang telur mereka secara tunggal ke dalam air. Telur menetas sebagai nauplii dan setelah 5-6 naupliar tahap (moltings), yang copepodites menjadi larva. Setelah lima moltings copepodite dewasa tahap tercapai dan menyilih adalah berhenti. Pengembangan mungkin memakan waktu dari kurang dari satu minggu untuk selama satu tahun, dan rentang kehidupan seorang copepoda berkisar antara enam bulan sampai satu tahun. Dalam kondisi yang kurang menguntungkan beberapa spesies copepoda dapat menghasilkan tebal dikupas tidak aktif
telur telur atau beristirahat.
Kista semacam itu dapat menahan pengeringan dan juga menyediakan alat untuk penyebaran saat ini dibawa ke tempat lain dengan burung atau hewan lain. Dalam lebih utara daerah tahap diapause hadir dalam perkembangan copepoda sehingga untuk bertahan hidup kondisi lingkungan yang merugikan, seperti pemblokiran; seperti biasanya terjadi diapause antara tahap II copepodite betina dewasa dan diakui oleh pencernaan kosong saluran, keberadaan gelembung-gelembung minyak banyak jeruk di dalam jaringan dan organik, kista seperti meliputi. Diapause habitat utama adalah sedimen, meskipun sebagian kecil dari diapausing individu dapat tinggal dalam plankton fraksi, yang disebut “diapause aktif.

6. Cladocera, Nematoda, Trochophora, Larva

Daphnia merupakan sumber makanan yang sering digunakan dalam larvikultur air tawar (ikan mas yang berbeda yaitu untuk spesies) dan dalam industri ikan hias (guppies yaitu, ekor pedang, mollies hitam dan plattys dll) Daphnia termasuk subordo Cladocera, yang krustasea kecil yang hampir secara eksklusif tinggal di air tawar. karapas yang membungkus seluruh batang, kecuali kepala dan apikal tulang belakang (saat sekarang). Proyek-proyek kepala bagian perut dan agak posterior dalam paruh-seperti moncong. Batang pohon pelengkap (lima atau enam pasang) yang pipih, daun-seperti struktur yang melayani untuk makan suspensi (filter feeders) dan untuk bergerak.
Bagian anterior batang, postabdomen diaktifkan depan dan bagian perut dan cakar beruang khusus dan duri untuk membersihkan karapas (Gambar 6.1.). Spesies dari genus Daphnia ditemukan dari daerah tropis ke Kutub Utara, di habitat ukuran bervariasi dari kolam kecil untuk danau air tawar besar. Kini 50 spesies Daphnia dilaporkan di seluruh dunia, yang hanya enam dari mereka biasanya terjadi di tropis dataran rendah. Ukuran dewasa mengalami variasi yang besar, ketika makanan berlimpah, pertumbuhan terus sepanjang hidup dan orang dewasa besar mungkin memiliki panjang karapas dua kali lipat dari yang baru matang individu. Terlepas dari perbedaan dalam ukuran, ukuran kepala relatif dapat berubah progresif dari bentuk bulat untuk helm-seperti antara musim semi dan musim panas. Dari pertengahan musim panas jatuh perubahan kembali ke bentuk bulat normal. Ini berbeda bentuk adalah cyclomorphs dipanggil dan dapat dirangsang, seperti di rotifera, oleh faktor internal, atau mungkin hasil dari interaksi antara kondisi genetik dan lingkungan.
Faktor-faktor, seperti perubahan suhu air atau depreviation makanan sebagai hasil dari populasi meningkat, dapat menyebabkan produksi laki-laki. Laki-laki ini memiliki satu atau dua gonopores, yang terbuka dekat anus dan dapat diubah menjadi organ sanggama. Kunci jepit laki-laki perempuan dengan antena pertama dan memasukkan proses sanggama ke tunggal, median gonopore perempuan. Telur dibuahi yang besar, dan hanya dua yang diproduksi di kopling tunggal (Satu dari masing-masing ovarium), dan tebal-dikupas: telur ini istirahat atau tidur yang tertutup oleh beberapa pelindung membran, ephippium tersebut. Dalam bentuk ini, mereka yang tahan terhadap dessication, pembekuan dan enzim pencernaan, dan memainkan peran penting dalam kolonisasi baru habitat atau dalam pembentukan-kembali penduduk dipadamkan setelah kurang baik kondisi musiman.
Nilai gizi dari Daphnia sangat bergantung pada komposisi kimia dari makanan mereka sumber. Namun, karena Daphnia adalah spesies air tawar, itu bukan organisme mangsa yang cocok untuk organisme laut, karena kandungan rendah asam lemak esensial, dan khususnya(N-3) HUFA. Selanjutnya, Daphnia berisi spektrum yang luas enzim pencernaan seperti, sebagai
proteinase, peptidases, amilase, lipase dan bahkan selulase, yang dapat berfungsi sebagai exoenzymes dalam usus larva ikan.
Daphnia budaya sering tidak sengaja terkontaminasi dengan rotifera. Dalam Brachionus tertentu, Conochilus dan beberapa bdelloids dapat membahayakan, (yaitu Rubens B. tinggal di daphnids dan menghalangi berenang dan kegiatan pengumpulan makanan). Brachionus hanya dihapus dari budaya dengan pembilasan air dan menggunakan saringan dengan ukuran mesh yang sesuai sebagai Daphnia jauh lebih besar dari Brachionus. Conochilus, di sisi lain, dapat dihilangkan dengan menambahkan sapi kotoran dengan budaya (menurunkan kadar oksigen). Bdelloids lebih sulit untuk menghapus dari budaya karena mereka tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan dan bahkan kekeringan. Namun, eliminasi adalah mungkin dengan menciptakan gerakan air yang kuat, yang membawa yang bdelloids (yang penghuni bawah) pada kolom air, dan kemudian menghapusnya dengan menggunakan saringan.
Moina juga milik Cladocera dan banyak karakteristik biologi dan budaya yang telah dibahas Daphnia dapat diterapkan untuk Moina.
Moina adalah ukuran lebih kecil dari Daphnia, dengan kadar protein yang lebih tinggi, dan sebanding nilai ekonomi. Diproduksi biomassa berhasil digunakan dalam larvikultur trout pelangi, salmon, ikan bass bergaris dan oleh penggemar ikan tropis yang juga menggunakannya dalam bentuk beku untuk pakan lebih dari enam puluh segar dan varietas ikan air asin. Penggantian sebagian Artemia oleh Moina micrura juga dilaporkan memiliki efek positif selama larva ikan air tawar yang udang Macrobrachium rosenbergii (Alam, 1992). Moina pengayaan dapat dilakukan dengan menggunakan metode langsung, dengan mengkultur mereka pada tukang roti ragi dan ikan diemulsi atau Minyak hati cumi-cumi. Percobaan telah menunjukkan bahwa Moina mengambil (N-3) HUFA dengan cara yang sama, meskipun lebih lambat, dari rotifera dan nauplii Artemia, mencapai konsentrasi maksimum sekitar 40% setelah periode 24 jam-makan.
Penggunaan nematoda yang hidup bebas, Panagrellus redivivus sebagai makanan larva telah menunjukkan berhasil untuk beberapa spesies, termasuk crangon Crangon, raja remaja udang (Penaeus blebejus) ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan mas perak (Hypophthalmichthys molitrix).

Live Feeds in Marine Aquaculture

Makanan Hidup Dalam Budaya Laut

BAB 1
Status Budidaya Kelautan Sehubungan untuk mangsa hidup, Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan

• Budidaya Kelautan Hari Ini dan di Masa Depan

Pada saat penulisan, Persatuan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) baru saja merilis perkiraan awal untuk budidaya perikanan dan statistik dari tahun 1999, yang menunjukkan bahwa produksi perikanan budidaya di dunia adalah 32.900.000 ton (19,8 juta ton dari air tawar, 13100000 ton dari laut) (FAO 2000). Jadi, akuakultur meningkatkan dari 35% dari total 92.600.000 ton produk perikanan yang dikonsumsi oleh manusia. Akuakultur kelautan telah berkembang sekitar 0,9 juta ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan pertumbuhan akuakultur air tawar sudah mendekati 1,1 juta ton per tahun. Pada tahun 1998, tahun terakhir dimana dipenuhi dengan data statistik, produksi murni budidaya ikan laut adalah 781.000 ton, yang tertinggal jauh dibelakang Crustasea, yang sebagian besar adalah udang (1.564.000 ton), dan ikan diadromous, sebagian besar salmonids (1.909.000 ton), dan jauh di belakang ikan air tawar, terutama ikan mas (17.355.000 ton) (FAO 2000).
Seperti kita lanjutkan ke masa depan, sebuah pertanyaan besar beberapa mendominasi pemandangan. Yang utama satu adalah “Bagaimana kita membuat perikanan budidaya yang berkelanjutan?” Konsekuensi lingkungan ledakan budidaya laut di kuartal terakhir abad kedua puluh sudah menjadi menjadi perhatian besar internasional dalam satu dekade terakhir. Dari udang di mangrove daerah untuk pengayaan organik dari budaya salmon bersih-pena, penghinaan ekologi membawa tentang oleh budidaya laut melenguh untuk konsumen di dunia pada lingkungan. kelompok. Industri akuakultur global adalah menanggapi (Boyd 1999; SSFA & NAFC 2000) dan ada alasan untuk optimis bahwa praktek baik akan menjadi norma di masa depan.

• Status dan Penggunaan larvikultur Live Feed
Ini mungkin berguna dalam bab pendahuluan untuk menggambarkan status finfish kelautan dan Crustacea larva dan penggunaan mangsa tinggal di berbagai daerah di dunia, sehingga pembaca menerima gambaran yang luas pada skala global. Kajian ini akan disajikan benua oleh benua, dalam urutan abjad, berdasarkan jumlah produksi yang diberikan oleh FAO untuk kalender tahun 1997 (FAO 1999) dan berbagai artikel seperti dikutip.

• Afrika
finfish laut Afrika dan produksi Crustacea sebagian besar berasal dari negara-negara yang berbatasan dengan Mediterania. Mesir adalah produsen terkemuka, dengan lebih dari 16.000 t produksi belanak, butthese tumbuh dari benih liar ditangkap, sehingga tidak ada pakan hidup digunakan (Wassef 2000). Mesir juga menghasilkan lebih dari 2000 masing-masing t bass laut dan seabream; menggoreng sebagian besar dikumpulkan darialam liar, tetapi produksi hatchery berkembang, sehingga membutuhkan penggunaan rotifera dan Artemia (Wassef 2000). Maroko dan Tunisia juga menghasilkan ratusan ton setiap laut bass dan ikan air tawar laut, sehingga jugamemerlukan produksi hatchery menggunakan rotifera dan Artemia (Romdhane 1992). Madagaskar dan Kepulauan Seychelles menghasilkan jumlah yang signifikan udang, udang windu, dan Afrika Selatan memiliki produksi kecil Penaeus indicus dan P. japonicus, semua yang membutuhkan alga dan Artemia sebagai hidup feed dalam hatchery.

• Asia
Pindah keluar dari Afrika dan Asia berjalan melalui dari barat ke timur, orang menemukan bahwa Israel dan Turki, seperti Mesir, menghasilkan jumlah yang signifikan bass laut dan ikan air tawar laut, semua tampaknya dari produksi pembenihan dan membutuhkan rotifera dan Artemia. Iran dan Arab Saudi baik laporan produksi ratusan ton udang penaeid, membutuhkan penggunaan ganggang dan Artemia di pembenihan. Jumlah Asmall budaya finfish laut dilaporkan dari Kuwait dan Qatar.

• Eropa
Meskipun produksi minimal spesies udang penaeid dilaporkan di Albania, Siprus, Prancis, Yunani, Italia dan Spanyol (gunakan membutuhkan dari ganggang dan Artemia), produksi finfish laut yang jauh melampaui dari krustasea laut di Eropa. Di Mediterania negara ditambah Portugal, spesies dominan bass laut, dengan lebih dari 24.000 t, dan laut ikan air tawar, dengan hampir 30.000 t, melaporkan untuk tahun 1997 (FAO 1999). Yunani adalah dengan jauh pemimpin, dengan lebih dari 15.000 t bass laut dan lebih dari 18.000 t laut ikan air tawar. Siprus, Prancis, Yunani, Italia, Portugal dan Spanyol semua menghasilkan kecil untuk jumlah yang signifikan spesies finfish lainnya juga, untuk seluruh tambahan dari t. antara 4500 dan 5000 Semua produksi ini didasarkan pada penetasan-mengangkat goreng. bass laut dapat memakan Artemia sebagai pakan pertama, sedangkan ikan air tawar juga laut memerlukan rotifera sebelum makan pada Artemia.
• Amerika Utara
Budaya relatif kecil finfish laut dan krustasea dilaporkan dari Amerika Utara. Budaya finfish air dingin di Kanada, rotifera dan menggunakan Artemia sebagai pakan untuk larva hidup, masih dalam tahap percobaan. Di Amerika Serikat, produksi komersial dilaporkan untuk drum merah (Sciaenops ocellata) dan musim panas flounder (Paralichthys dentatus), keduanya membutuhkan rotifera dan Artemia sebagai mangsa di pembenihan. Anehnya, FAO termasuk bass bergaris hibrida (Saxatilis Morone _ Morone Chrisops) sebagai spesies ikan laut dalam statistik tersebut, meskipun ikan yang dipelihara di air tawar. Larva bass yang kebanyakan dibesarkan di tanah kolam, yang dibuahi di musim semi untuk menginduksi mekar dari fitoplankton dan zooplankton sebelum pengenalan dari larva ikan (Harrell 1997). Sejak awal 1980-an, hatchery produksi beberapa spesies telah diperlukan untuk peningkatan, restorasi saham atau mitigasi dampak lingkungan; bass bergaris (M. saxatilis), drum merah (S. ocellata) dan trout laut melihat (Cynoscion nebulosus) yang paling penting ini. Selain itu, USA melaporkan produksi 1.200 t Litopenaeus vannamei tahun 1997, yang berasal dari pembenihan intensif dengan penggunaan berat alga dan Artemia.

• Oseania
Mayoritas produksi di sini adalah udang penaeid. Australia melaporkan hampir 1600 t P. monodon produksi pada tahun 1997 dan Kaledonia Baru selama 1100 t Penaeus spp. Semua dari asal pembenihan, membutuhkan alga dan Artemia. Negara pulau lain (Kepulauan Fiji, Polinesia Perancis, Guam dan Kepulauan Solomon) semua laporan produksi kecil (_50 mengajar) dari berbagai penaeids. Australia juga melaporkan lebih dari 500 t produksi bass laut Asia.

• Live Feed Mengapa Diperlukan ?
ahli biologi Ikan mengkategorikan larva dari dua jenis: precocial dan altricial. larva Precocial adalah mereka yang, ketika yolk sac habis, muncul sebagai mini-orang dewasa, menunjukkan sepenuhnya dikembangkan sirip dan sistem pencernaan matang termasuk perut fungsional. ikan tersebut dapat menelan dan diet mencerna dirumuskan sebagai makanan pertama dan paling baik dicontohkan oleh salmon dan trout mengangkat penetasan telur secara luas di seluruh dunia tanpa manfaat makanan hidup. Altricial larva adalah mereka yang, ketika yolk sac habis, tetap dalam keadaan yang relatif belum berkembang. Itu sistem pencernaan masih belum sempurna, kurang perut, dan banyak dari pencernaan protein terjadi dalam sel-sel epitel hindgut (Govoni et al. 1986).

• Masalah dan Prospek dengan
• Alternatif ke Live Feed

Pelet diet menjadi umum dalam industri salmonid selama tengah kedua puluh abad. Sebagai larvikultur laut dikembangkan pada 1960-an dan 1970-an, aquaculturists dirasakan bahwa, meskipun encysted krustasea seperti Artemia memberikan pakan hidup nyaman, mereka masih tidak begitu nyaman sebagai diet akan dirumuskan. Selain itu, tersebut Artemia dari krisis tahun 1970 menyarankan bahwa, jika budidaya laut adalah untuk mencapai nya Potensi laju ekspansi, hal itu harus terlepas dari kekurangan pakan hidup.

Kesimpulan
finfish Kelautan dan perikanan crustacea telah sangat berkembang sejak awal 1980-an, diaktifkan pada sebagian besar oleh perkembangan hatchery cukup protokol standar untuk pakan hidup penggunaan di seluruh dunia. Ketika spesies baru dikembangkan atau wilayah geografis baru dibuka untuk budidaya, ini merupakan keuntungan besar untuk memiliki standar ‘menu’ dengan minimal jumlah entrees mapan ‘untuk digunakan sebagai pakan hidup di hatchery. Kenyataan pembangunan yang pakan baru (s) tidak diperlukan untuk pengembangan masing-masing spesies baru telah sangat memfasilitasi perluasan akuakultur.

BAB 2
Produksi dan Nilai Gizi dari Rotifera

• Pendahuluan
Selama hampir empat dekade, rotifera telah digunakan sebagai makanan untuk organisme budidaya ikan laut larva. Sebuah pasokan, terus stabil dan dapat diandalkan rotifera bergizi yang memadai merupakan kunci dengan budaya berkembang dari finfish laut di berbagai bagian dunia. Mayor spesies ikan diproduksi saat ini menggunakan rotifera selama tahap awal perkembangan termasuk kuning (Seriola quinqueradiata), ikan air tawar laut merah (Pagrus utama), bass laut Asia (Lates calcarifer), Turbot (Scophthalmus maximus), belanak (Mugil cephalus), pufferfish (rubripes Fugo), gilthead laut ikan air tawar (Sparus aurata) dan Eropa bass laut (Dicentrarchus labrax) (FAO 1998). Rotifera juga digunakan sebagai makanan untuk budidaya udang penaeid (Samocha et al. 1989) dan kepiting (Keenan & Blackshaw 1999). Rotifera menjadi ‘kapsul hidup’, memberikan
nutrien yang dibutuhkan oleh larva ikan piaraan laut untuk pengembangan yang tepat. The insidentil pilihan rotifera (Ito 1960; lihat tinjauan oleh Hirata 1980; Nagata & Hirata 1986; Hagiwara et al. 2001) sebagai makanan untuk tahap perkembangan awal larva kecil-bermulut memiliki Oleh karena itu, telah terbukti sukses.
• Biologi dan Karakteristik morfologi dari rotifera

 Umum biologi
filum The Rotifera (sebelumnya dikenal sebagai Rotatoria; lihat Ricci 1983) terdiri dari yang relatif kelompok kecil menit, unsegmented, pseudocoelomate, invertebrata air dengan simetri bilateral. Kebanyakan rotifera bebas-merangkak atau berenang, tapi berpindah-pindah dan kolonial bentuk juga dikenal (Ruttner-Kolisko 1974; Pontin 1978; Wallace & Snell 1991; Nogrady et al. 1993). Sekitar 2000 spesies mengisi danau air tawar dan kolam, tapi beberapa spesies yang diketahui dari air payau atau laut dan dari lumut dan lumut lichen dalam kondisi lembab habitat darat. Meskipun Rotifera adalah sebuah divisi dari kecil, rotifera sangat penting di lingkungan air tawar, memberikan kontribusi hingga 30% dari total biomassa plankton. Beberapa daerah dengan lapisan tipis intracytoplasmic memberikan fleksibilitas dalam bentuk loricated. Wilayah ini termasuk korona, kaki dan artikulasi antara duri bergerak dan tubuh.

Gambar. 2,2 Morfologi dan organisasi batin dari Brachionus sp. perempuan (kiri) dan laki-laki (kanan). antena, dorsal; b, kandung kemih; bt tube, bukal, c, korona; mail, mata, misalnya, telur, f, kaki, fg, kaki kelenjar, g, ganglion sentral; la, antena lateral; m, mastax; mu, otot, o, oesophagous; ov, ovarium; p, prostat, pe, penis; s, cirri sensorik; sg, kelenjar perut; September perut; t, jari kaki; te, testis; tr, piala, v, vas deferens. (Dari Koste & Shiel 1987. Direproduksi dari Avertebrata Taksonomi, Volume 7 dengan seizin CSIRO Publishing.)

 Taksonomi
klasifikasi Taksonomi dari rotifera sedang dikaji konstan (Garey et al 1998;. Melone et al. 1998; Segers 1998). Secara tradisional, filum dibagi menjadi dua superclasses: yang Seisona dan Eurotatoria, yang kedua terdiri dari dua kelas: yang Bdelloidea dengan dua gonad, dan Monogononta dengan satu gonad (Melone et al 1998).. The Monogononta mengandung lebih dari 90% dari semua spesies rotifer, dengan lebih dari 1600 spesies, di sekitar 95 genera benthik, bebas berenang dan bentuk Sessile. Semua diasumsikan dioecious dengan satu gonad.
Wanita memiliki satu ovarium dengan vitellarium dan laki-laki, jika mereka terjadi, secara struktural dikurangi dengan sisa usus. Pria yang hadir untuk waktu singkat (beberapa hari atau minggu). Itu Brachionidae keluarga terdiri dari enam genera rotifera umum, termasuk Brachionus dengan sekitar 25 spesies rotifera litoral dan plankton.

 Morfologi dan fisiologi
Ujung anterior, atau ‘kepala’, membawa korona, yang terdiri pada perempuan Brachionus dua mahkota silia konsentris; yang luar adalah cingulum, yang bertanggung jawab atas renang dan yang batin, yang pseudotrochus, terdiri dari silia diatur dalam membranelles atau cirri (Clément & Wurdak 1991). Pseudotrochus menyapu partikel makanan ke mulut. kepala juga membawa perut dan membuka mulut beberapa indera organ, termasuk antena, cirri dan sensitif terhadap cahaya ocelli.

 Reproduksi
Organ reproduksi wanita Monogononts, seperti namanya, terdiri dari tunggal gonad. gonad ini terdiri dari ovarium syncytial yang berisi ovocytes, yang yolkproducing syncytial vitellarium dan lapisan yang mengelilingi folikel ovarium dan vitellarium dan membentuk saluran telur menuju kloaka. Jumlah ovocytes hadir pada saat lahir. Rotifera umumnya yg menelur, dengan embrio berkembang di luar tubuh ibu.

 budidaya rotifera
Keberhasilan budidaya rotifer tergantung pada memilih rotifer spesies yang paling sesuai atau regangan untuk kondisi budaya lokal, mempertahankan kualitas air dalam tangki budaya dan memilih teknik yang paling tepat budaya.

 Pemilihan jenis dan / atau regangan
Pemilihan strain adalah langkah yang paling penting dalam memulai budaya massa. Ukuran, jenis reproduksi (aseksual versus seksual) dan tingkat reproduksi spesies atau strain tertentu. Praktek rutin adalah untuk membuat hitungan harian jumlah rotifera dan jumlah telur yang mereka bawa dalam 1 ml sampel, menghitung selisih harian meningkat. Tingkat reproduksi budaya ditentukan sebagai r (kadang-kadang disebut sebagai G):

r = 1 / 1N t (Nt-n0)
dimana :
T = durasi budaya dalam hari,
N0 = awal jumlah rotifera dan telur mereka,
Nt = total jumlah rotifera dan telur mereka setelah hari T budaya.

 Memelihara kualitas air dalam budaya tangki
Kisaran pH yang optimal untuk budidaya rotifera adalah 7,5-8,5 (Hirano, 1987; dibahas di Fulks & Utama 1991) dan pH mempengaruhi persentase amonia un-terionisasi (NH3-N) di dalam air. PH budaya memainkan peran penting karena toksisitas NH3-N dibebaskan dari amonium (NH4 _-N) adalah fungsi dari pH, suhu dan salinitas. Karena pentingnya ekstrim parameter ini, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi di tabel relevan dalam Bower dan Bidwell (1978). Tingkat optimal untuk amonia adalah _1mg l_1 dan kisaran diterima untuk amonia dan tingkat nitrat adalah 6 10mgl_1. rotifer budaya memerlukan aerasi dan tingkat oksigen terlarut harus dipertahankan diatas 4 ppm (Fulks & Utama 1991). aerasi yang memadai harus disediakan menggunakan polyvinyl chloride berlubang (PVC) tabung, udara atau batu kecil diameter tabung terbuka.

 Memilih budaya yang paling sesuai teknik
Rotifera dengan mudah dapat dipertahankan dalam semua skala budaya. Dua jenis budaya dapat dibedakan, yang pertama adalah budaya laboratorium skala kecil untuk mempelajari rotifer biologi dan fisiologi, atau untuk mempertahankan spesies dan strain genetik. Budaya ini adalah dipertahankan sebagai ‘perpustakaan hidup’ dalam volume kecil dan melayani untuk melakukan budaya massa dengan sifat-sifat penting yang spesifik, seperti ukuran, adaptasi terhadap suhu budaya tinggi atau rendah, dan salinitas. Tipe kedua terdiri dari budaya massa untuk memasok rotifera dalam jumlah yang dibutuhkan untuk produksi larva ikan intensif.

 Advanced Peringatan pada Negara Budaya
Mengevaluasi keadaan fisiologis budaya rotifer sangat penting dalam pembenihan sejak produksi larva tergantung pada pasokan harian dapat diprediksi dan dapat diandalkan rotifera. Enam parameter telah digunakan sebagai sinyal peringatan dini untuk negara dari budaya dan ini mungkin strain spesifik.

 rasio Telur
Jumlah telur memprediksi keadaan budaya untuk 24 mendatang h. Oleh karena itu, telur ratio (E / N), ditentukan sebagai jumlah telur (E) dibagi dengan jumlah total betina (N) dalam sampel, merupakan indikator penting dari status budaya. Biasanya, sampel dari 30-40 ml atau bahkan lebih besar akan dihapus setiap hari dari setiap budaya untuk menentukan keadaan budaya (lihat Lampiran I) dan untuk mengevaluasi jumlah makanan yang harus diberikan kepada bahwa budaya tertentu. Jumlah betina dan jumlah telur dalam 1 subsamples ml (dari sampel 30-40 ml) dihitung dan rasio E / N dihitung untuk setiap sampel.

 Kolam kecepatan
Kolam kecepatan adalah indikator cepat dari negara saat ini budaya (Snell & Hoff 1988; Korstad et al. 1995). Hal ini mengurangi konsentrasi amonia tinggi un-terionisasi dan di kelaparan. nilai-nilai yang sangat rendah atau tinggi suhu dan pH memiliki efek yang sama.

 Tingkat Penelanan
Menelan manik-manik berlabel neon oleh neonatus menetas dari telur dilaporkan terkait dengan parameter kualitas air (Juchelka & Snell 1994). Sebuah adaptasi dari uji untuk pengujian air dari budaya massa rotifer harus dipertimbangkan di masa depan.

 Viskositas
Telah terbukti bahwa budaya viskositas relatif meningkat sedang dengan usia budaya, sehingga kecepatan renang, mengurangi tingkat konsumsi, berarti berarti umur panjang dan jumlah keturunan dari rotifera. Oleh karena itu, pengukuran langsung viskositas bisa menjadi indikator mendekati masalah dalam menjaga stabilitas budaya. Fenomena ini sangat penting dalam kepadatan-tinggi budaya terus menerus, dimana media kultur mengandung konsentrasi tinggi dari ganggang terkonsentrasi dan ekskretoris produk (Hagiwara et al 1998)

 Aktivitas Enzim
Perubahan aktivitas esterases endogen, phospholipases dan glucosidases, telah diajukan sebagai alat pemantauan kualitas air di tangki kultur rotifer (de Araujo et al. 2000, 2001; Hagiwara et al. 2001). Tes-tes tersebut didasarkan pada aktivitas enzim berkurang rotifera terkena racun (Burbank & Snell 1994; Snell & Janssen 1995, 1998). Dalam tes, rotifera usia yang sama, ukuran dan kondisi fisiologis disediakan dari hatched telur beristirahat. Masih belum diketahui apakah rotifera dihapus dari budaya massa cocok kandidat untuk tes ini.

 Penyakit
Kejadian penyakit akhirnya akan menyebabkan runtuhnya budaya dan, oleh karena itu, deteksi dini adalah penting untuk mengambil tindakan yang tepat. Rotifera dalam budaya massa telah diketahui dapat terinfeksi oleh 1991 jamur, virus dan jamur seperti organisme (Colorni et al.; Comps et al 1991a,. B, 1993; comps & Menu 1997; Zmora 1991). Seperti yang dijelaskan sebelumnya, suhu budaya dapat mempengaruhi jenis bakteri atau organisme oportunistik lain dan tingkat proliferasi mereka. Oleh karena itu, kejadian infeksi tertentu, jenis dan tingkat infeksi dapat bervariasi antara plicatilis B. dan B. rotundiformis, karena mereka yang dibudidayakan di relatif rendah atau suhu tinggi, masing-masing.

 gizi rotifera Kualitas
Setelah mendirikan teknik budaya massa, perlu untuk memastikan bahwa rotifera adalahbergizi yang memadai untuk larva ikan. Hal ini biasanya dilakukan oleh sebuah langkah yang dikenalsebagai’Pengayaan’, di mana rotifera dikumpulkan atau diambil dari tangki-tangki budaya ke dalam wadahtempat mereka disimpan pada kepadatan sangat tinggi (biasanya lebih dari 100.000 ml_1), dandiinkubasi selama 80-20 jam dengan diet pengayaan komponen yang secara khusus diperlukan olehlarva ikan. Selain pengayaan dengan protein, lipid atau karbohidrat, yang rotifera dapat diperkaya dengan antibiotik (Verpraet et al 1992). atau dengan bakteri probiotik (Markridiset al. 1999, 2000).

 Jumlah rotifera dikonsumsi oleh larva
Nilai gizi rotifera tergantung pada berat kering mereka, nilai kalori dan kimiakomposisi (review di Lubzens et al 1989).. Amictic rotifer telur dan loricae dari rotiferatidak dicerna oleh larva ikan dalam tahap awal perkembangan mereka (Lubzens et al 1989)..Dinamis, proses fisiologis seperti kekenyangan, kelaparan dan reproduksi juga mempengaruhikomposisi kimia rotifera.

Gambar. 2,10 Jumlah rotifera dikonsumsi setiap hari oleh larva ikan: ikan air tawar laut merah, bergaris-garis hitam knifejaw dan laut ikan air tawar. (Diadaptasi dari Fukusho 1989b.)

 berat kering dan nilai kalori
Berat kering rotifera tergantung pada ukuran dan gizi negara (Lubzens et al 1989).. Pada sekitar 600-800 ng, B. plicatilis rotifera tiga sampai empat kali lebih berat daripada B. rotundiformis (sekitar 200 ng) dan ini perubahan dengan tingkat reproduksi mereka (Yufera et al 1997).. Nilai kalori ditemukan tergantung pada diet dan berkisar antara 10_3 kal per rotifer setelah 6 jam  10_3 kal per rotifer yang diberi ragi roti untuk 2,00  1,34 pengayaan dengan diet pengayaan dirumuskan (Fernandez-Reiriz et al 1993)..

 diawetkan rotifera
Memenuhi tuntutan larva ikan merupakan upaya terus menerus dari hari pertama menyusui sampai ke waktu bahwa larva yang diberi sumber makanan lainnya (misalnya Artemia). Sementara praktek yang biasa adalah bergantung pada harian pemanenan rotifera dari budaya hidup, berbagai metode penyimpanan rotifera telah dieksplorasi. 2.6.1 Perlindungan pada temperatur rendah rotifera beku biasanya tidak memadai sebagai makanan akibat pencucian hara setelah thawing, kurangnya mereka apung dan motilitas, dan mereka juga dapat menyebabkan kerusakan di kualitas air jika diperkenalkan ke dalam tangki budaya. Live B. plicatilis dapat disimpan pada 4 ° C kepadatan relatif tinggi, selama paling sedikit 1 bulan (Lubzens et al 1990)., tetapi periode ini adalah lebih pendek untuk B. termofilik strain rotundiformis

 kriopreservasi
pelestarian jangka panjang strain genetik penting dapat dicapai dengan kriopreservasi. telur Amictic (tapi tidak dewasa) yang diawetkan dalam nitrogen cair setelah mereka telah diresapi dengan agen cryoprotective seperti sulfoxide dimetil (DMSO) atau propanadiol (Toledo & Kurokura 1990; Toledo et al. 1991; Hadani et al 1992).. Metode ini memastikan pelestarian penuh dengan sifat-sifat genetik yang penting bagi akuakultur dan terutama penting bagi mereka strain yang tidak menghasilkan telur beristirahat. Kumpulan kecil cryopreserved B. plicatilis dan rotundiformis B. strain disimpan di laboratorium penulis ‘dan berfungsi sebagai sumber alternatif untuk budaya hidup. Karena ini adalah metode yang relatif mahal, tidak cocok untuk pelestarian rotifera sejumlah besar untuk digunakan langsung sebagai makanan setelah pencairan.

 Istirahat telur
Artifisial telur yang dihasilkan rotifer istirahat telah ditawarkan sebagai rute alternatif untuk memasok rotifera tanpa bergantung pada siklus produksi harian yang digunakan dalam pembenihan laut. Istirahat produksi telur secara genetis ditentukan (Hino & Hirano 1976, 1977), dengan besar variasi antara rotifera berasal dari telur yang dihasilkan oleh satu klon (Lubzens 1989). Produksi telur ini dapat dimanipulasi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti salinitas, kuantitas dan kualitas makanan, kepadatan rotifer budaya, pertukaran budaya media dan suhu, dan bervariasi antara plicatilis B. dan B. rotundiformis spesies.

 Arah Masa Depan
Prospek menggantikan rotifera hidup sebagai makanan untuk tahap perkembangan awal larva ikan jauh dari layak, meskipun upaya yang cukup besar dalam arah ini (Tandler 1984, 1985; Lubzens 1987; Kolkovsky & Tandler 1995). Secara umum, saat ini metodologi memproduksi dan memperkaya rotifera telah berhasil dalam memenuhi tuntutan industri. Namun, kebutuhan mendesak saat ini untuk makanan hidup sangat kecil sulit untuk memenuhi, meskipun beberapa super ‘kecil’ strain genetik telah ditemukan dan berbudaya (Hagiwara et al 2001).. Peningkatan metode untuk memprediksi keadaan fisiologis rotifera dalam budaya massa bisa akan membantu dalam menghindari runtuhnya budaya.

BAB 3
Biologi, Tank Produksi dan Nilai gizi Artemia

 Pendahuluan
Artemia mungkin telah dikenal dan digunakan dalam daerah distribusi alaminya selama berabad-abad. Namun, ketenaran yang lain hanya mulai berkembang di tahun 1930-an ketika beberapa peneliti menggunakannya sebagai pengganti nyaman untuk diet alami larva ikan, sehingga mewujudkan pertama terobosan dalam budaya komersial spesies ikan penting (Sorgeloos 1980). Dalam 1950-an, kista Artemia masih dominan dipasarkan untuk akuarium dan perdagangan hewan peliharaan di biaya terendah US $ 10 kg.

 Biologi Artemia
 Morfologi dan siklus hidup
Dalam lingkungan alam di bawah kondisi tertentu, menghasilkan Artemia kista yang mengapung di permukaan air dan darat didorong oleh angin dan ombak. Kista ini adalah metabolik tidak aktif dan tidak mengembangkan lebih lanjut selama mereka tetap kering. Setelah pencelupan dalam air laut, kista cekung dua hidrat dan menjadi bola, dan dalam shell, embrio resume metabolisme sela nya.

 Ekologi dan alam distribusi
seluruh, zona iklim tropis subtropis dan sedang, di sepanjang garis pantai sebagai maupun pedalaman. Distribusi dari situs-situs di atas benua sangat tidak merata, terutama mencerminkan sampling dan kegiatan eksplorasi (Gbr. 3.14). Karena itu, tidak memberikan tepat gambar terjadinya global sebenarnya Artemia.

 Taksonomi
air garam itu udang Artemia terdiri dari sekelompok zygogenetic dan partenogenesis, morfologis kemungkinan besar menyimpang dari bentuk leluhur tinggal di spesies yang serupa Mediterania beberapa daerah 5,5 juta tahun yang lalu (Abreu-Grobois & Beardmore 1982; Abreu-Grobois 1987; Badaracco et al. 1987). Spesiasi dalam genus harus dianggap sebagai proses, kompleks multidimensi yang melibatkan berbagai lingkungan dan genom faktor. Identifikasi spesies Artemia zygogenetic telah ditetapkan oleh multidisiplin pendekatan, termasuk tes silang, diferensiasi morfologi, Sitogenetika, allozyme studi, dan sekuensing DNA nuklir dan mitokondria. Dengan pengecualian kawin silang, semua teknik ini juga memberikan kontribusi untuk mengidentifikasi partenogenesis digambarkan sebagai jenis parthenogenetica A. oleh Barigozzi (1974), serta untuk mendapatkan wawasan tentang struktur penduduk, asal-usul dan jumlah keanekaragaman klonal.

 Regangan karakteristik khusus
Distribusi di seluruh dunia dari udang air garam Artemia di habitat terisolasi (sekitar 500 garam danau alam dan buatan salterns) dengan kondisi ekologi tertentu telah menyebabkan banyak strain geografis, atau populasi genetik berbeda dalam saudara yang sama spesies. The Artemiapartenogenesis dengan keragaman klonal mereka, sebagaimana tercermin dari morfologi (Hontoria & Amat 1992; Triantaphyllidis et al 1997a)., dan sitologi dan allozyme studi (Abreu-Grobois & Beardmore 1982; Abreu-Grobois 1987; Abatzopoulos et al. 1993) dan tingkat ploidy berbeda (diploid, triploid, tetraploid, pentaploid), menampilkan genotipe lebar variasi.

 Aplikasi Artemia
 Masa depan penggunaan Artemia dalam budidaya
Meskipun tidak ada keraguan bahwa Artemia secara bertahap akan digantikan oleh diet dirumuskan, yang penggunaan nauplii akan terus didorong untuk pasar setidaknya beberapa tahun lagi (lihat juga Bagian 3.1). Peningkatan panen di GSL dan lokasi baru dapat meringankan tekanan atau bahkan membalikkan tren saat ini, tetapi tampaknya jauh dari berlebihan untuk meningkatkan dan mempromosikan ada aplikasi Artemia dalam produksi pangan hidup.

 Penetasan
Meskipun kista Artemia menetas tampak sederhana, ada beberapa faktor yang penting untuk menetas dari jumlah besar diperlukan dalam produksi larva ikan sukses. Optimal menetas kondisi (Lavens & Sorgeloos 1996):
 suhu konstan 25-28 ° C
 15-35 g l_1 salinitas
 pH sekitar 8,0
 tingkat oksigen minimum 2mgl_1, sebaiknya 5mgl_1 (lihat di bawah)
 kerapatan kista maksimum 2 g l_1
 kuat pencahayaan 2000 lux.

 Pemanenan menetas nauplii
Setelah menetas dan sebelum makan untuk ikan / larva Crustacea, nauplii harus dipisahkan dari limbah penetasan (cangkang kista kosong, unhatched kista, puing, dan mikro-organisme menetas metabolit). Lima sampai sepuluh menit setelah mematikan aerasi, kista kerang akan mengambang dan dapat dihapus dari permukaan, sementara nauplii dan kista unhatched akan berkonsentrasi di bagian bawah (Gbr. 3.21). Sejak nauplii positif phototactic, konsentrasi mereka dapat ditingkatkan dengan shading bagian atas tangki penetasan (selubung) dan dengan memfokuskan cahaya pada bagian bawah tangki kerucut. Nauplii seharusnya tidak diperbolehkan untuk menetap terlalu lama di bagian bawah wadah berbentuk kerucut, karena mereka dengan cepat akan mengalami deplesi oksigen.

BAB 4
Produksi, Panen dan Pengolahan Artemia dari Alam Lakes

• Pendahuluan
Sangat garam danau dengan populasi alami Artemia dapat bervariasi dalam ukuran dari beberapa hektar pedalaman danau besar seperti Great Salt Lake (GSL, Utah, USA; Gambar. 4.1) dan Danau Urmiah (Iran), kedua 4000-6000km2 dalam ukuran. Dalam pedalaman danau, kepadatan penduduk biasanya rendah dan berfluktuasi terutama sebagai fungsi dari ketersediaan pangan, suhu dan salinitas. Ukuran dan kurangnya infrastruktur sesuai membuat pengelolaan danau tersebut sangat sulit, membatasi utama kegiatan pemanenan biomassa Artemia ekstensif dan / atau kista. Sampai saat ini, panen dilakukan di sebagian besar situs tanpa memperhatikan terlalu banyak untuk eksploitasi berkelanjutan atau daya dukung populasi Artemia tersedia. Hanya penurunan tajam dalam panen di GSL pada akhir tahun 1990-an telah mendesak baik industri Artemia dan otoritas satwa liar, di GSL dan situs lainnya, untuk melakukan studi populasi penilaian.

Gambar. 4,1 Pemanenan Artemia kista dari Great Salt Lake, Utah, USA.

• Pond Produksi Kista Artemia dan Biomass
 Tetap operasi garam surya
operasi produksi garam Mechanised terdiri dari beberapa kolam penguapan interkoneksi dan crystallisers. Dalam operasi ini garam, ukuran kolam dapat bervariasi dari beberapa untuk beberapa ratus hektar, masing-masing dengan kedalaman 0,5-1,5 m (Gambar 4.2). Air laut dipompa ke dalam kolam pertama dan mengalir secara gravitasi melalui penguapan kolam berturut-turut. Sementara melewati sistem kolam, salinitas secara bertahap meningkat sebagai akibat dari penguapan, dan garam dengan rendah kelarutan endapan sebagai karbonat dan sulfat.

 unit Musiman
Di daerah tropis dan subtropis, pegaraman artisanal skala kecil (saltstreets) beroperasi selama musim kering, saat penguapan air dari kolam melebihi curah hujan. Tambak adalah hanya beberapa ratus meter persegi dalam ukuran dan dalam 0,1-0,6 m (Gambar 4.3). Produksi garam ditinggalkan selama musim hujan, ketika kolam penguapan sering berubah menjadi ikan / tambak udang.

 seleksi Situs
Mengintegrasikan produksi Artemia dalam saltwork surya operasional atau udang / ikan pertanian meningkatkan efektivitas biaya. Kolam dapat dibangun dekat dengan kolam penguapan dengan salinitas yang diperlukan, atau rendah-salinitas kolam sudah ada di operasi garam dapat dimodifikasi (Tackaert & Sorgeloos 1993). Beberapa kriteria harus dipertimbangkan ketika memilih situs untuk produksi Artemia.

 Pond adaptasi
Dalam operasi garam besar, adaptasi dari kolam yang ada biasanya tidak mungkin dan umumnya tidak diperlukan. Adaptasi hanya dibutuhkan adalah instalasi layar untuk mengurangi jumlah pemangsa memasuki evaporator (lihat di bawah). Ini terutama penting di daerah mana predator ditemukan pada salinitas tinggi (misalnya ikan Cyprinodont Aphanius).

 Persiapan kolam untuk budidaya Artemia
• Pengapuran
• Predator kontrol
• Fertilisasi
• Pupuk Organik
• Kombinasi pupuk organik dan anorganik

 Pemantauan dan mengelola sistem budaya
Sangat pemantauan berkala dari kolam perlu untuk memungkinkan manajemen yang benar. Tipe program sampling tergantung pada tujuan. Jika produksi adalah tujuan utama, hanya variabel yang diperlukan untuk memberikan informasi pengambilan keputusan penting harus dimonitor (suhu, salinitas, kekeruhan, jumlah dan ukuran anak-anak perempuan). Lebih luas program sampling yang dibutuhkan ketika program penelitian dilakukan di budaya kolam, yang memungkinkan untuk perkiraan jumlah penduduk relatif.

 Artemia Teknik Pemanenan dan Pengolahan
 Pemanenan teknik

Dewasa biomassa Artemia dapat dikumpulkan dari besar, kolam dangkal dengan jaring berbentuk kerucut dipasang di depan perahu bermotor atau ditarik oleh orang-orang (Gambar 4.6, 4.7). Di kolam kecil,

Gambar. 4,6 Rakit dengan jaring berbentuk kerucut yang digunakan untuk pemanenan biomassa Artemia.

 Pengolahan teknik
biomassa Artemia harus digunakan segera setelah panen sebagai makanan hidup, atau harusbeku atau kering. Panen biomassa dapat disimpan sementara di jaring dipasang di kolam (Gbr. 4.9). Live transportasi untuk pemasaran sebagai produk hidup (survival _90% setelah 24 jam) adalahdilakukan dengan menggunakan teknik yang mirip dengan yang untuk transportasi ikan hidup dan udang.

Gambar. 4,8 Pemasangan jaring filter di gerbang pintu air untuk pemanenan biomassa Artemia dalam pegaraman surya.

Gambar. 4,9 Penyimpanan bersih biomassa Artemia dipanen dari kolam garam musiman terpadu untuk produksi Artemia

 Cyst Artemia Teknik Pemanenan dan Pengolahan
Setelah kista telah dipanen, beberapa langkah pengolahan harus dilakukan untuk memperoleh produk, bersih berharga dengan sifat menetas diterima dan rak-hidup. Itu pengolahan dapat digolongkan menjadi beberapa tahapan proses yang berurutan (Gambar 4.10): pemanenan,pengolahan air garam, pengolahan air tawar, pengeringan, prepackaging, kemasan dan penyimpanan kering. Kegiatan pengolahan dalam tahap pemrosesan dapat bervariasi, atau mereka dapat diterapkan secara bersamaan. Menurut persyaratan tertentu, beberapa kegiatan pengolahan dapat diabaikan.

 Pemanenan teknik
Setelah dibebaskan, kista mengapung di permukaan air dan terdampar oleh angin dan gelombang. Di tempat-tempat dengan mengubah arah angin, kista dapat dilakukan sekitar untuk waktu yang lama periode sebelum mereka dilemparkan ke darat. Jika kista ini diproduksi di kolam salinitas rendah (_100 Ppt) atau ketika stratifikasi salinitas terjadi setelah hujan, diam mungkin kista menetas. Ketika air sangat gelisah dan busa berkembang, kista bisa menjadi terperangkap di udara busa.

 Pengolahan Air Tawar
Selama tahap pengolahan air tawar, yang kista selanjutnya dibersihkan dengan kepadatan pemisahan dan siap untuk pengeringan berikutnya. Di air tawar, itu kista sebagian akan hidrat dan, jika mereka tetap terhidrasi terlalu lama waktu dalam kondisi soda, embrio akan akhirnya mencapai tahap inisiasi dari proses penetasan yang tidak dapat diubah dan mereka tidak dapat kemudian dehidrasi tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio (Clegg & Cavagnaro 1976). Selain itu, cadangan energi mereka mungkin telah habis untuk tingkat bahwa hasil dalam penurunan daya tetas. Oleh karena itu, pengolahan air tawar harus dibatasi maksimum dari 30 menit. Sebelum pemisahan kepadatan di air tawar, air garam berlebih harus dibuang untuk mencegah peningkatan salinitas dalam air dan, akibatnya, pemisahan suboptimal.

 Pengeringan
Pengeringan jenis prosedur yang digunakan dapat mempengaruhi kualitas kista dalam hal menetas persentase dan tingkat. Pengeringan prosedur berbeda dalam sejumlah faktor. Setelah air tawar di perawatan, kadar air dari kista harus dikurangi secepat mungkin di bawah tingkat kritis sebesar 10% untuk menangkap aktivitas metabolik dan, akibatnya, untuk memastikan umur simpan jagung panjang. Di bawah kadar air 10%, sedikit yang diketahui tentang hubungan yang sebenarnya antara air konten dan selanjutnya kualitas dan rak-kehidupan (Clegg & Cavagnaro 1976). Biasanya, sebuah akhir kadar air antara 3 dan 8% adalah tujuan.

 Prepackaging, pengemasan dan penyimpanan
Selama pengeringan (terutama lapisan pengeringan), agregasi kecil kista terbentuk, yang dapat dihapus oleh kering analisa saringan untuk meningkatkan tampilan visual dari produk akhir. Air pemisahan kista sering digunakan untuk memisahkan yang tersisa kosong dan cangkang yang retak tidak dihapus selama pemisahan air tawar. Hal ini dapat dilakukan dalam sebuah aliran udara horizontal di partikel berat yang cenderung jatuh lebih cepat dari partikel cahaya, namun sering dikombinasikan dengan proses pengeringan fluidised tempat tidur sendiri: jika mesh adalah dipasang di outlet atas dari ruang udara yang masuk udara dapat diatur untuk memungkinkan kista kosong untuk ditiup melalui mesh.

BAB 5
Produksi dan Nilai Gizi copepoda

 Pendahuluan
Di alam, copepoda merupakan link penting pertama dalam rantai makanan laut terkemuka dari SD produsen untuk ikan. Dalam air terbuka lingkungan laut, calanoids mendominasi herbivora zooplankton dan memberikan dasar rantai makanan untuk hampir semua larva ikan laut dan planktivorous ikan (Pauly & Christensen 1995). Di muara sungai dan daerah pesisir, harpacticoids merupakan konstituen penting dalam makanan larva ikan dan juvenil, flatfish dan salmonids (Hicks & Coull 1983; Huys & Boxhall 1991). Jadi, copepoda memainkan peran sentral dalam produksi global ikan, yang pada tahun 1999 didukung sebuah perikanan tangkap total diperkirakan produksi sekitar 92 juta ton (FAO 2000).

 Biologi
 Karakteristik umum
Copepoda adalah hewan air, terutama laut, meskipun banyak spesies menempati air tawar atau muara habitat. The copepoda namanya berasal dari bahasa Yunani yang berarti kope ‘dayung’ dan podos artinya ‘kaki’, dan mengacu pada, kaki renang datar seperti dayung. Sekitar 200 keluarga dengan beberapa 1.650 genera dan 11.500 spesies yang diklasifikasikan oleh 1993 (Humes 1994). Freeliving copepoda mendiami berbagai habitat, mulai dari plankton yang copepoda mendiami lautan di dunia, melalui spesies benthik yang hidup di permukaan makroalga atau mendiami ruang mikroskopis di sedimen laut, untuk spesies hidup di bawah tanah air tanah atau di dalam-lautan hidrotermal ventilasi. Hampir sepertiga dari spesies copepoda laut parasit atau tinggal dalam hubungan simbiotik dengan organisme lain. Aquaculturists mungkin tanpa sengaja lebih baik berkenalan dengan parasit ikan daripada dengan lebih banyak, terlalu berbahaya, hidup bebas spesies copepoda. Bab ini berhubungan dengan biologi, budaya dan penggunaan hidup bebas sebagai pakan copepoda spesies hidup di akuakultur.

 copepoda morfologi
Free-hidup copepoda memiliki tubuh umumnya berbentuk silinder dengan perut sempit (plankton bentuk) atau, dalam kasus bentuk bentos atau permukaan-hidup, tubuh lebih luas dan / atau dorsoventrally bentuk terkompresi. Batang pohon terdiri dari dada (metasome) dan sebuah perut (Urosome) (Gbr. 5.2). Kepala (cephalosome) adalah melebur dengan dada dan dikenakan anterior sebuah mata khas naupliar median, satu set mencolok antena dan berbagai pelengkap yang digunakan untuk makan dan berenang. Bagian anterior telah ditunjuk sebagai prosome. Itu perut umumnya lebih sempit daripada dada, tanpa pelengkap kecuali untuk ekor rami. Pembukaan genital biasanya terletak di segmen abdomen pertama, sedangkan segmen terakhir beruang pembukaan dubur (somite dubur). The urosome berakhir dengan furca terbentuk dari dua simetris rami dihiasi dengan setae.

 Reproduksi
Kebanyakan copepoda mereproduksi seksual. Laki-laki deposito kantung sperma mengandung layak disebut sebuah spermatofora dekat lubang kelamin betina. Dalam cyclopoids, laki-laki transfer dipasangkan spermatophores dari genital aperture untuk permukaan ventral kelamin perempuan somite. calanoids Kebanyakan penyiar, melepaskan telur secara tunggal ke dalam air. Nomor telur melahirkan dalam satu aktivitas mungkin bervariasi dari beberapa butir telur untuk 50 atau lebih telur, dan masing-masing acara pemijahan dapat terjadi kira-kira sekali setiap jam 24 untuk periode yang diperpanjang.

 Istirahat atau diapause telur
Istirahat telur yang dihasilkan oleh beberapa spesies copepoda dan modus utama tidak aktif negara di calanoids. Copepoda telur ini diletakkan dalam pengembangan, dimana pengembangan ditangkap, dan memiliki amplop eksternal tambahan ketebalan variabel. Istirahat adalah telur mampu menahan jangka waktu yang lama pengeringan, panas atau dingin (Dussart & Defaye 2001). Mereka mungkin terjadi dalam jumlah tinggi dalam sedimen sampai menjadi 3,2 juta telur m_2 di Laut Pedalaman Jepang (Kasahara et al 1975). Dan sampai menjadi 5,5 juta telur m_2 dalam sistem kolam tertutup Norwegia (Næss 1996). Sebagian besar telur beristirahat di atas 8 cm sedimen tetap layak untuk beberapa tahun (Katajisto 1996).

 Makanan, kualitas makanan dan ketersediaan pangan
• Calanoids
• Harpacticoids
• Cyclopoids Metode Produksi 5,3
• ekstensif dan budaya luar
• Intensif budaya copepoda

 Komposisi Biokimia
Båmstedt (1986) menyediakan review komprehensif tentang kimia dan kandungan energi dalam pelagis copepoda. Air merupakan sekitar 82-84% (nilai modal; kisaran 67-92%) dari copepoda berat basah, dan total bahan organic 70-98% atau lebih dari berat kering (Båmstedt 1986). Kandungan energi yang berkisar 9-31 Jmg_1 berat kering, secara umum terendah pada spesies dari lintang rendah dan menengah, dan tinggi pada mereka dari lintang tinggi.

 Karbon
kandungan karbon di calanoids bervariasi dari sekitar 28 menjadi 68%, dengan nilai modal dari 40-46% berat kering (Båmstedt 1986). Spesies dari daerah dingin umumnya mengandung karbon lebih tinggi dari tingkat sedang, spesies subtropis dan tropis (Ikeda 1973). Carbon: Nitrogen (C: N) rasio umumnya antara 3 dan 4, terutama di lintang rendah dan menengah. Hidrogen konten rendah, antara 3 sampai dengan 10% dari bobot badan kering, sebagian besar berhubungan dengan lipid konten.

 Lipid
konten lipid di laut pelagis copepoda bervariasi dengan garis lintang, musim dan ketersediaan makanan, dengan kisaran 2-61% pada spesies rendah dan menengah-lintang, dan 8-73% pada lintang tinggi spesies (Båmstedt 1986). Sebagian besar rendah dan menengah-lintang spesies memiliki kandungan lemak dari 8-12%. atribut penulis ini kebutuhan untuk menyimpan lemak untuk menjaga kesuburan di kali kekurangan makanan di spesies tinggi-lintang sebagai penjelasan mengapa umumnya copepoda energi lebih kaya daripada yang di lintang rendah.

 Protein
isi Protein dalam copepoda pelagis laut berkisar dari 24 sampai 82% berat kering dan tertinggi di spesies dari lintang menengah (Båmstedt 1986). Dalam holothuriae T.
 asam amino Gratis : asam amino Gratis, terutama digunakan dalam peraturan osmotik, pada umumnya meningkat di tingkat dengan peningkatan salinitas lingkungan (Båmstedt 1986). Glisin, alanin,arginin, lisin, prolin dan taurin yang kuantitatif yang paling penting.

 Vitamin C
Copepoda, dalam spesies omnivora dan herbivora tertentu, mengandung tingkat tinggi vitamin C, dan tingkat mulai dari 201 sampai 235_gg_1 dilaporkan dalam nauplii dari Acartia clausi dan Temora longicornis (Hapette & Poulet 1990). Vitamin C dikenal untuk merangsang reproduksi krustasea dan disarankan untuk mendorong reproduksi copepoda (Hapette & Poulet 1990). Jadi, copepoda dapat menjadi sumber penting vitamin C dalam ikan.

 Karotenoid
Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 80 jenis calanoid al, et Fisher. (1964)menemukan dominan dan mungkin satu-satunya karotenoid di sebagian besar spesies menjadi astaxanthin atau esternya, dengan konsentrasi mulai dari melacak tingkat untuk 1133_gg_1 berat basah. Dalam sebuah penelitian yang lebih baru pada longicornis T., dua karotenoid yang jelas dalam jumlah tinggi, dengan lutein hadir di hampir empat kali tingkat astaxanthin (Rønnestad et al 1998).. Karotenoid ini tidak terdeteksi di Artemia, yang berisi terutama cryptoxanthin / canthaxanthin dan komponen retinoid diketahui.

 kitin
Kitin konten dalam laut copepoda berkisar 2,1-9,3% berat kering (Båmstedt 1986). Ada kepentingan peningkatan produksi kitin, sejalan dengan meningkatnya industri penggunaan kitin dan turunannya, kitosan.

 Enzim
Tingkat endoproteases, exoproteases, amilase, esterase dan phosphodiesterase tinggi di copepoda (dewasa Eurytemora hirundoides) al (et Munilla-Moran 1990)..

 Nilai Gizi untuk Larva Ikan
Peningkatan pertumbuhan, kelangsungan hidup dan / atau tingkat pigmentasi normal telah didokumentasikan untuk beberapa spesies ikan laut makan copepoda sendiri atau sebagai suplemen diet tradisional rotifera atau nauplii Artemia dibandingkan dengan diet tradisional saja (Kraul 1983; Heath & Moore 1997; McEvoy et al. 1998; Næss & Lie 1998; Nanton & Castell 1999).

 Aplikasi dalam Budidaya Kelautan
Ketersediaan siap nauplii Artemia, melalui pembelian kista dan selanjutnya tetas nauplii mereka (lihat Bab 3), dan waktu generasi pendek dan relatif budaya rumit dari rotifera (lihat Bab 2) membuat hidup ini lebih mudah diakses untuk feed laut pembenihan. Memang, kultur dari organisme ini telah bertanggung jawab atas cepat kemajuan selama beberapa dekade terakhir di sektor budidaya laut. Karena ekspansi cepat dan meningkatnya permintaan untuk produksi besar-besaran yang dapat diandalkan feed, penelitian dan pengembangan telah difokuskan pada peningkatan teknik kultur metode pengayaan atau untuk meningkatkan ketersediaan dan nilai gizi rotifera dan nauplii Artemia, masing-masing. Little upaya telah diarahkan pada pengembangan suatu yang memadai, skala besar sederhana dan dapat diandalkan budaya teknik untuk copepoda, meskipun nilai gizi terbukti mereka unggul.

BAB 6
The Mikroalga Budidaya Perairan

 Pendahuluan

Ocean fitoplankton, dengan produksi beberapa ratus miliar ton berat kering per tahun (Pauly & Christensen 1995), membentuk dasar dari rantai makanan air, memberikan kontribusi untuk produksi sekitar 100 juta ton sumber daya terbarukan per tahun dari memancing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa mikroalga penyusunan fitoplankton memainkan peran penting gizi dalam budidaya hewan laut, khususnya untuk moluska, udang dan ikan. Budidaya penetasan sering perlu untuk menyertakan sistem produksi Mikroalga dan, dalam kasus larva ikan laut, sistem mangsa hidup produksi.

 Biologi Mikroalga
 Karakteristik umum dari mikroalga
Karena ukurannya yang kecil dan keberadaan air, mikroalga tidak memerlukan kerangka kaku untuk melawan gaya gravitasi dengan cara tanaman yang lebih tinggi. Namun demikian, beberapa kelas, seperti peridinians dan diatom, pameran eksternal teka.

 Pertumbuhan
Pertumbuhan populasi mikro-organisme, yang hasil dari kedua kenaikan ukuran dan pembagian sel menyusun itu, saat ini ditandai dengan pertumbuhan spesifik Tingkat _, didefinisikan sebagai dx / (Xdt), di mana X adalah konsentrasi biomassa alga dan t waktu. Itu Tingkat pertumbuhan ini umumnya disajikan dalam h_1 untuk heterotrophs, sementara day_1 lebih cocok untuk photoautotrophs, dengan hubungan _ (day_1) 24_ (h_1). Amore praktis ekspresi _ selama jangka waktu tertentu (t _ t0) hasil dari integrasi: _ [log (C) _ log (C0)] / (t _ t0), mana C0 adalah konsentrasi awal pada waktu t0, dan C konsentrasi akhir pada waktu t. Itu _ penggandaan saat biomassa populasi juga digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan mikroorganisme dan dapat dinyatakan sebagai _ log (2) /.

 Mikroalga
The zoologi kelompok utama yang dihasilkan oleh budidaya, ikan laut, udang dan moluska, menunjukkan penurunan kemampuan untuk mensintesis asam lemak tak jenuh tinggi (HUFA, dengan 20-22 karbon atom dan lebih dari tiga ikatan rangkap) dengan desaturation dan perpanjangan rantai, rendah sintesis sterol dan kemampuan biokonversi miskin (Teshima & Kanazawa 1974; Trider & Castell 1980; Kanazawa et al. 1985; Enright et al. 1986; Watanabe et al. 1989; Soudant et al. 2000). HUFA dan kolesterol dengan demikian zat penting yang harus disediakan oleh sumber makanan. Zat tersebut melimpah di mikroalga (Lin et al. 1982; Volkman et al. 1989), yang memiliki 4, 5 dan 6 desaturases, memungkinkan sintesis PUFA penting (dengan lebih dari satu ikatan ganda) serta berbagai macam pitosterol, termasuk kolesterol.

 Kotor komposisi biokimia
Brown et al. (1997) melaporkan komposisi biokimia secara keseluruhan dari 40 spesies alga tumbuh di bawah kondisi standar (Gambar 6.4). Protein merupakan komponen organik utama (15-52% dari berat kering), diikuti oleh lipid (5-20%) dan karbohidrat (5-12%). Lipid konten yang lebih tinggi untuk diatom, karena rata-rata 18%.

 Vitamin
Sebagian besar vitamin ditemukan dalam alga yang digunakan dalam budidaya (Bayanova & Trubachev 1981; De Roeck-Holtzhauer et al. 1991; Brown & Miller 1992; Brown & Farmer 1994; Seguineau et al. 1996; Brown et al. 1999). Perbedaan terbesar antara keprihatinan spesies retinol dan pyridoxine dalam kaitannya dengan fase pertumbuhan. Dengan terjadinya fase diam, riboflavin, thiamine dan meningkatkan vitamin E, vitamin C dapat menurunkan atau menaikkan tergantung pada spesies (Brown & Miller 1992; Brown & Farmer 1994; Brown et al 1999).; dan vitamin Adecreases (Seguineau et al 1993).. vitamin isi utama adalah serupa untuk semua jenis, menunjukkan tingkat tinggi vitamin C, vitamin E, _-tokoferol dan niacin (vitamin PP = pellagra mencegah faktor.

 Sterols
Tidak seperti sterol manusia, yang secara eksklusif terdiri dari kolesterol, sterol alga sangat kompleks dan menunjukkan jenis kekhususan. Fitoplankton sterol ditemukan dalam bentuk bebas di netral lipid (Ballantine et al 1979;. Volkman et al 1981).. Polar sterol juga telah dilaporkan, yang mungkin sebenarnya glikosilasi bentuk sterol (Veron et al 1998).. Variasi kadar sterol dapat bergantung pada fase pertumbuhan, nutrisi dan cahaya kondisi budaya (Ballantine et al 1979;. Gordillo et al. 1998). Ke-14 sterol tercantum di bawah ini dapat mudah diakui dalam kromatografi gas.

 Asam lemak
Asam lemak yang disebut di sini sebagai berikut C: Xn-Y formula, di mana C adalah jumlah karbon atom, X jumlah ikatan ganda, dan Y posisi ikatan rangkap pertama dihitung dari terminal-CH3. Komposisi asam lemak dari mikroalga umumnya menunjukkan pola yang sangat konsisten dalam setiap grup (Napolitano et al 1990).. Asam lemak ini didistribusikan antara tiga kelas lipid, netral, glycolipids dan fosfolipid. Glycolipids, utama al konstituen (Berge et 1995)., yang diwakili oleh glycerides monogalactosyl dan digalactosyl, yang khas tanaman dan terletak di thylakoids. Polar lipid (glycolipid dan fosfolipid), yang merupakan membran, menunjukkan tingkat tertinggi jenuh.

Metode Produksi
 Mikroalga akuakultur
Bioteknologi dari mikroalga dan cyanobacteria telah dikembangkan secara terus menerus sejak 1960-an, tapi lebih lambat dibandingkan dengan bakteri dan jamur. lag ini dapat disebabkan oleh khusus sifat dari sumber energi, karena attenuates cahaya sementara penetrasi media reaksi. Pelemahan ini progresif dari rekening ringan untuk sebagian besar kesulitan yang ditemui selama perkembangan bioteknologi photoautotrophic. Studi penelitian pertama pada Mikroalga produksi pada tahun 1960 menyebabkan perkembangan sebagian besar media budaya dan model pertumbuhan masih digunakan sampai sekarang.

 Negara seni teknik produksi di tempat penetasan Mikroalga
Biasanya (Gbr. 6,15), unit budaya terdiri dari tangki silinder vertikal (100-500 liter) terbuat dari plastik transparan (akrilik, fiberglass polyester, polyethylene), yang datar atau berbentuk kerucut di bagian bawah dan terbuka di bagian atas atau ditutup oleh sebuah topi disegel. Fluorescent tabung ditempatkan di sekitar tangki dalam kekuatan: rasio volume 1Wl_1 budaya memberikan pencahayaan buatan. Alam cahaya adalah digunakan sedapat mungkin, namun lintang tinggi dari situs yang paling membutuhkan penggunaan tambahan cahaya buatan.

 Metode perbaikan
Produktivitas sering digunakan untuk membandingkan berbagai sistem produksi atau untuk menentukan optimal kondisi untuk operasi sistem tertentu. Kriteria ini terdiri dari biomass kering yang dihasilkan per unit ruang budaya dan waktu.
 heterotrofik produksi
Beberapa mikroalga dapat menggunakan substrat organik efisien dalam kegelapan dan dengan demikian berpotensi cocok untuk produksi dengan fermentasi. Pendekatan ini menawarkan banyak teknis keuntungan dibandingkan dengan metode photoautotrophic, terutama karena konsentrasi substrat organik dan oksigen dapat sebagai tinggi sebagai kelarutan mereka memungkinkan dan juga homogen di seluruh reaksi volume. Teknologi fermentasi yang luas dalam makanan dan industri farmasi, menyediakan produk-produk berkualitas tinggi. budaya tersebut tentu monoseptic.

BAB 7
Penggunaan Mikroalga dalam Akuakultur

 Pendahuluan

Tidak seperti mereka setara darat, hewan air digunakan sebagai makanan oleh manusia jarang herbivora pada tahap dewasa. Hanya moluska penyaringan dan beberapa hewan lainnya adalah benar plankton feeders sepanjang masa hidupnya. Sebagian besar hewan air dibudidayakan adalah karnivora dari mereka postlarval panggung dan kadang-kadang omnivora. Namun, mikroalga diperlukan untuk larva gizi selama awal periode singkat, baik untuk konsumsi langsung (moluska dan penaeid udang) atau tidak langsung sebagai makanan untuk hidup mangsa untuk makanan larva ikan laut kecil. Bahkan bila perlu untuk jangka waktu singkat saja, mikroalga sangat penting karena mereka menentukan (untuk berbagai luasan) yang penyediaan juvenil tersedia untuk produksi. Air Tawar spesies seperti salmonids tidak tergantung pada produksi Mikroalga untuk budaya mereka. telur mereka memiliki cadangan cukup untuk menetas mampu makan langsung pada partikel kering besar larva. Beberapa spesies laut seperti bass laut Eropa telah larva yang cukup besar untuk memberi makan langsung pada nauplii Artemia.

 Mikroalga sebagai Makanan untuk Moluska
Budaya mikroalga adalah sangat penting bagi pemeliharaan tempat penetasan komersial moluska laut, karena mereka adalah sumber makanan saat ini hanya cocok. Moluska, tidak seperti ikan dan krustasea, diberi makan mikroalga langsung. Akibatnya, pengembangan moluska adalah erat kaitannya dengan kuantitas dan kualitas yang dihasilkan fitoplankton. Mikroalga budaya diperlukan karena konsentrasi fitoplankton alam di air laut yang digunakan dalam hatchery umumnya tidak cukup untuk pertumbuhan optimal dalam kepadatan tinggi larva dan muda dibesarkan. Selain itu, untuk menghindari penyakit bakteri, air laut yang digunakan untuk pemeliharaan adalah murni, biasanya dengan filtrasi baik (0,2-1.0_m) dan / atau ultraviolet (UV) pengobatan (Robert & Gérard 1999). Ini menghilangkan hampir semua fitoplankton alam, yang kemudian harus digantikan oleh budaya buatan padat.

 Mikroalga sebagai sumber makanan potensial di pembenihan moluska
Empat kriteria yang diperlukan untuk mikroalga untuk memenuhi syarat sebagai sumber makanan potensial untuk bivalvia di hatchery yang: ukuran, kecernaan, nilai gizi yang baik dan kemudahan produksi massal.

 Mikroalga persyaratan di tempat penetasan moluska
Mikroalga digunakan dalam pembenihan moluska untuk memberi makan induk, larva danpostlarvae. Itu fitoplankton persyaratan gigas tiram Jepang C. dan kerang raja Pecten maximus pada tahap kehidupan yang berbeda ditunjukkan pada Tabel 7.2.

 Mikroalga pengganti untuk makan kerang
Sebagaimana ditunjukkan dalam Bab 6, produksi skala besar mikroalga dipilih oleh konvensional berarti photoautotrophic mahal. Ini merupakan hampir 50% dari biaya operasi di pembenihan moluska. Sebuah usaha telah dilakukan untuk mencari alternatif bergizi yang memadai yang lebih hemat biaya daripada ganggang diproduksi di tempat. Alternatif diuji termasuk bakteri, ragi, mikrokapsul, liposom, emulsi lipid dan kering mikroalga (untuk tinjauan, lihat Coutteau & Sorgeloos 1992; Robert & Trintignac 1997b; Knauer & Southgate 1999). Secara umum, nilai gizi yang lebih rendah dari produk ini membuat mereka tidak cocok sebagai lengkap feed, meskipun beberapa telah terbukti berguna dalam diet dicampur dengan mikroalga hidup.

 Mikroalga sebagai Makanan untuk Udang
udang Penaeid adalah omnivora selama remaja dan dewasa hidup dan menunjukkan perilaku filter-makan selama tahap larva. Mikroalga merupakan sumber makanan yang paling penting selama larva tahap di alam bebas dan memberikan kontribusi pada pasokan gizi untuk postlarvae dan remaja di muara. Meskipun menangkap udang total dunia tetap pada tingkat yang konstan, udang penaeid pertanian telah terus meningkat sejak awal 1980-an dan sekarang menjadi bagian penting dari dunia produksi perikanan budidaya. Pasokan postlarval untuk budidaya sebagian berasal dari alam, tetapi semakin dari kecil atau hatchery skala besar. Meskipun perkembangan yang berbeda lembam microparticulate diet, mikroalga masih dibudidayakan di hatchery untuk pakan larva udang tahapan dan sebagai sumber makanan tambahan untuk pertumbuhan udang di kolam yang luas dan intensif.

 Pengembangan udang penaeid
Dua hari yang diperlukan untuk pengembangan udang penaeid embrio pada telur. Larva hidup kemudian terdiri dari serangkaian moults dan metamorfosis. Fase pertama meliputi lima atau enam naupliar tahap, tergantung pada spesies, dan melibatkan makan endogen. Setelah metamorfosis pertama, larva melalui tiga tahap Zoea, selama filter perilaku makan adalah dominan dan produksi penetasan didasarkan pada pasokan dari mikroalga. Durasi total fase Zoea adalah sekitar 5 hari pada 28 ° C. Setelah metamorfosis kedua, larva berada dalam fase mysis selama 3 hari.

 Pemilihan jenis alga yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang
larva Udang, tidak seperti beberapa filter-feeders krustasea lainnya, tidak muncul untuk memilih ganggang menurut menurut ukuran atau ‘rasa’. Preston et al. (1992), yang mempelajari isi perut di Zoea Penaeus esculentus dipelihara di kolam tumbuh-out, menyimpulkan bahwa Zoea penaeid tidak memilih jenis ganggang tertentu, tapi menelan berbagai dalam rasio sama dengan yang di plankton.Tingkat kelangsungan hidup yang paling dalam studi dikaitkan dengan tingkat tinggi flora diatom, dan yang terendah dengan cyanobacterial flora. Oleh karena itu, jenis alga digunakan untuk pakan udang di pembenihan umumnya dipilih berdasarkan untuk ukuran dan kemampuan mereka untuk tumbuh dalam kondisi budaya.

 Penelanan dan tingkat filtrasi untuk udang larva yang diberi mikroalga
Tidak seperti Zoea, yang memiliki kemampuan berenang, mobilitas nauplii miskin, dan ketersediaan pangan secara langsung berkaitan dengan konsentrasi. Adapun lain-penyaring makanan, sebuah ambang batas alga konsentrasi dapat ditentukan, yang di bawah pertumbuhan berkurang. Di atas konsentrasi ini, larva udang dapat makan yang cukup makanan per waktu unit untuk mempertahankan mereka pembangunan. Konsentrasi ambang diperkirakan 20.000 sel ml_1 untuk alga Tetraselmis. Pada konsentrasi rendah, larva penaeid tampaknya kurang efisien filter-feeders dari copepoda (Cahu 1979). Sebaliknya, konsentrasi sangat tinggi (lebih dari 75.000 sel ml_1) dapat stres larva dan menyebabkan kematian.

 Gizi pasokan dari alga dalam hubungannya dengan larva udang
persyaratan Meskipun studi yang ekstensif nutrisi udang remaja, persyaratan khusus untuk larva yang kurang dikenal. Efek global spesies alga dapat dinilai, tetapi sulit untuk memahami mana dari unsur nutrisi alga yang penting untuk larva. Hanya penggunaan baru-baru ini dimurnikan microparticulate diet telah memungkinkan hubungan yang lebih baik untuk dibentuk antara pertumbuhan larva dan komponen biokimia beberapa alga.

 Substitusi spray-kering ganggang atau microparticulate
senyawa diet untuk hidup alga Upaya-upaya telah dilakukan untuk menggantikan mikroalga hidup dengan alga kering semprot untuk produksi pembenihan biaya yang lebih rendah. Biedenbach et al. (1990) menunjukkan bahwa total penggantian alga hidup dengan semprot kering ganggang menyebabkan penurunan pertumbuhan, metamorfosis dan kelangsungan hidup. Hasil mengecewakan ini disebabkan perubahan pada integritas fisik alga sel dan cepat hilangnya nutrisi larut pada penempatan dalam air. Namun demikian, tampak bahwa 60% dari alga hidup dapat diganti dengan semprot kering suecica T.. ganggang kering adalah sering digunakan dalam pembenihan sebagai suplemen hidup ganggang atau microparticulate diet.

 Peran
 lainnya alga dalam pertumbuhan larva udang
Pengaruh manfaat dari keberadaan ganggang pada pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva telah lama dikenal. Kumlu dan Jones (1995) menunjukkan bahwa jumlah kecil dari ganggang, selain senyawa makan diet, meningkatkan pertumbuhan larva penaeid. Konsentrasi alga sangat rendah dalam percobaan ini (15000 sel ml_1), sehingga efek gizi dari ganggang tidak dapat terlibat. Penulis menyarankan bahwa efek positif disebabkan oleh ganggang-induced rangsangan enzim pencernaan larva (terutama tripsin).

 Makanan mikroalga untuk remaja dan orang dewasa udang
Remaja dan udang dewasa omnivora, dan mikroalga merupakan bagian dari diet udang tumbuh dalam kondisi alamiah. Moss dan Pruder (1995) menunjukkan bahwa kehadiran diatom pennate dan sentris diinduksi pertumbuhan membaik di Penaeus vannamei dibesarkan di tambak intensif. Ganggang ini memberikan kontribusi terutama partikulat karbon organik di tambak intensif, dan hubungan linear yang sangat signifikan diamati antara udang pertumbuhan dan konsentrasi partikulat bahan organik.

• Mikroalga sebagai Makanan untuk Live Prey
Bagian pertama pada budidaya mangsa hidup untuk akuakultur menirukan rantai makanan laut, menggunakan fitoplankton untuk pakan zooplankton, yang pada gilirannya diberi makan untuk ikan atau udang larva. Sebuah metode dasar dalam penelitian awal adalah untuk menutupi dan memperkaya massa air alami, sehingga mendorong pertumbuhan organisme mangsa untuk mendukung budidaya ikan dan spesies kerang. Mikroalga dan hewan berpotensi berguna sebagai mangsa hidup diidentifikasi dengan eksperimen tersebut. Di antara mereka, rotifer Brachionus plicatilis adalah organisme yang paling umum dibudidayakan dan dipelajari hari ini. Beberapa data untuk B. plicatilis mungkin dalam kenyataannya rotondiformis perhatian B., sebagai dua orang sebelumnya dianggap sebagai suatu spesies tunggal.

 Makanan mangsa hidup dengan hidup mikroalga
Berbagai penulis telah mempelajari Pakan optimal mangsa tinggal di tes-tabung berisi hewan kepadatan rendah. Untuk rotifer itu, Hirayama et al. (1973) menemukan makan yang optimal Dalam kondisi yang optimal, populasi rotifer dapat dua atau tiga hari, cepat melelahkan populasi alga. Dengan tingkat filtrasi hingga 10_4 ml individual_1 min_1, total penyaringan kapasitas 200 rotifera ml_1 adalah sama dengan volume seluruh pembesaran dalam waktu kurang dari 1 h. Dengan demikian, pertumbuhan yang optimal hanya dapat bersifat sementara, dan underfeeding akan menurunkan pertumbuhan tingkat dan status gizi hewan.

 Nilai gizi alga untuk hidup mangsa
Berbagai spesies alga telah dibandingkan untuk efisiensi mereka sebagai makanan untuk mangsa hidup. Itu hasil yang diperoleh untuk perbandingan ini hanya nilai relatif karena mereka bergantung pada budaya kondisi. Bagian ini akan mempertimbangkan nilai gizi spesies alga untuk mangsa hidup dan, akibatnya, untuk larva ikan.

 Mineral
Air laut umumnya dianggap sebagai sumber mineral yang cukup untuk sebagian besar laut organisme. Namun, dalam sistem produksi yang intensif, tingkat biomassa yang tinggi dapat menyebabkan penipisan mineral penting. Watanabe et al. (1983), dalam analisis berbagai komponen pakan larva, dianggap bahwa mineral tidak satu faktor penentu nilai makanan. Namun, Robin (1989) memperoleh peningkatan yang signifikan dalam pertumbuhan Turbot menggunakan rotifera diperkaya dengan mineral sebelum pencampuran. Ada sedikit informasi dalam literatur tentang mineral dan trace elemen persyaratan, dan bahkan kurang tentang pengaruh kandungan mineral alga pada hidup mangsa (Lie et al 1997).. Media mineral digunakan untuk tumbuh algae harus reappraised untuk mengoptimalkan nilai gizi melalui rantai makanan.

 Pengaruh dari ganggang pada pakan hidup dan larva mikrobiologi
Banyak zat dirilis oleh pengaruh ganggang laut hubungan antara ganggang dan zooplankton. Van Alstyne (1986) menemukan bahwa eksudat dari beberapa spesies alga meningkatkan dan lain-lain menghambat aktivitas makan copepoda dalam budaya. Zat ini juga terlibat dalam penyelesaian mikroflora bakteri dalam populasi alga. Seperti disebutkan di atas, bakteri berkembang dalam budaya masyarakat mangsanya hidup dapat memberikan mikro. Douillet (2000) menunjukkan bahwa pengenalan jenis bakteri menjadi budaya axenic dari ganggang dan rotifera dapat mempengaruhi produksi rotifer positif atau negatif.

 Substitusi untuk hidup mikroalga
Sebagai kekurangan utama dalam menggunakan mikroalga hidup biaya produksi, penggantian mereka dengan sumber makanan lain adalah penting ekonomi yang cukup besar untuk pembenihan. Sebagai ganggang budaya kebutuhan volume adalah dua sampai tiga kali bahwa volume rotifer pembesaran, sebagian besar area pada fasilitas produksi larva digunakan untuk produksi pakan hidup, ketika ganggang adalah hanya sumber makanan.

• Pentingnya Mikroalga di larvikultur Finfish Kelautan
Tidak seperti kerang dan larva Crustacea, feeders Mikroalga yang biasa atau transient, larva ikan laut paling tidak pakan langsung pada mikroalga dan tidak dapat bertahan dalam murni Mikroalga budaya atau pada diet fitoplankton eksklusif. Namun, ketika fitoplankton yang termasuk dalam tangki pemeliharaan larva, kelangsungan hidup, pertumbuhan dan makanan indeks konversi lebih dari 40 spesies lebih baik daripada di kondisi yang jelas-air.

 Rentang tindakan Mikroalga
Hasil positif telah diperoleh dengan berbagai spesifik besar hidup matang (tapi tidak tua) budaya Mikroalga digunakan pada konsentrasi rendah atau menengah (Divanach & Kentouri 2000), sebagai juga dengan beku atau lyophilised ekstrak dari mikroalga (Scott & Baynes 1978; Papandroulakis et al. 1996a, b; Navarro & Sarasquete 1998). Dampak yang paling spektakuler adalah diamati selama masa transisi dari endotrophic ke fase exotrophic (Tabel 7.6), khususnya selama dua ‘campuran’ (yaitu endo-eksogen) dan pertama (zooplankton besar yaitu pertama mangsa) makan proses. Namun, endotrophic tahap (telur dan prelarvae) dan awal tahap exotrophic juga terpengaruh.

 Efek pada tahap larva endotrophic
Account dampak positif dari mikroalga di tahap larva endotrophic kadang-kadang dilaporkan, namun umumnya tidak terbukti. latar belakang turun Mikroalga meningkatkan daya apung yang telur setelah penanganan dan / atau pengalihan, serta penyebaran dan kelangsungan hidup selanjutnya dari prelarvae laut ikan air tawar yang baru menetas. Mikroalga juga mengurangi hari ketiga pasca-menetas (DPH) tenggelam sindrom untuk ikan air tawar laut dan konsekuensi mematikan efek cermin dinding memantulkan cahaya pada akhir tahap prelarval untuk bass laut dan ikan air tawar laut.

 Efek pada minum kuning-kantung tahap
Pada pembukaan mulut, prelarvae ikan memulai hubungan gizi baru dengan lingkungan yang lebih efisien daripada interaksi yg menutupi sebelumnya. Aktivitas Minum (dgn kata lain oral penyerapan air) tidak hanya memberikan kontribusi untuk osmoregulasi, tapi juga memungkinkan usus penyerapan organik terlarut dan menelan partikel. Setelah membuka mulut, cadangan glikogen hati sangat bervariasi menurut status gizi (Guyot et al. 1993) dan perubahan lingkungan.

 Resistensi terhadap keterlambatan dalam pemberian pakan zooplankton pertama
Mikroalga kompensasi untuk keterlambatan berhasil inisiasi menyusui pertama di laut ikan air tawar, aurata Sparus (Maurizi 2000). Larva dalam air jelas menunjukkan cholestase tinggi, hepatocytic degenerasi, patologi pankreas dan depresi cadangan glycogenic setelah penundaan di makan dari 8 atau 16 jam setelah membuka mulut dan dibutuhkan 16 atau 40 jam, masing-masing, lebih mulai makan yang sukses dan induksi penyerapan lipid normal usus. Ketika pertama kali makan tertunda selama 32 jam, cacat menjadi begitu besar sehingga larva tidak bisa mulai makan di semua (‘titik of no return’) dan meninggal pada 7-8 DPF, saat yang sama sebagai kontrol kelaparan. Sebaliknya, bahkan setelah tertunda selama 32 jam untuk makanan pertama di air hijau, larva tidak berkembang seperti gejala stres metabolik. Mereka tertelan rotifera segera setelah distribusi (8 jam delay maksimum), dan bisa memulai penyerapan lipid sukses usus dalam waktu 40 jam setelah membuka mulut dan kemudian tetap hidup, tanpa makan lebih lanjut sampai 9-10 hari (Maurizi 2000). Sebuah sedikit peningkatan serupa dalam bertahan hidup tanpa makan diamati dengan ikan dalam air hijau (Lein & Holmefjord 1992).

 Proses dan efisiensi pemberian pakan
Mikroalga memiliki latar belakang yang penting, namun secara khusus yang berbeda, efek pada waktu dan intensitas makan zooplankton pertama. Dalam Pemeliharaan percobaan, pertama (zooplankton) makan waktu sparids Sebelumnya dalam warna hijau daripada di air yang jernih, dan lebih cocok saat ini yang sesuai untuk membuka mulut (Kentouri 1985). Dengan laut ikan air tawar, 50% dari larva dalam air hijau versus 0% di air yang jernih mengkonsumsi rotifer B. plicatilis pada 5 DPH, dan 100% versus 50% 7 DPH. Dalam air yang jernih, hingga 10 hari itu diperlukan setelah membuka mulut untuk semua larva untuk terlibat dalam konsumsi. Akibatnya, ada frekuensi tinggi puasa gejala (Hepatosit degenerasi, cholestase) dan miskin (sering ireversibel) keadaan kesehatan antara penduduk (Maurizi 2000). larva Halibut menunjukkan perilaku serupa. Pada 3 DPF, 50% rotifera dikonsumsi dalam air hijau dibandingkan dengan 0% pada air yang jernih, dan 14 DPF itu perlu untuk semua batch untuk menunjukkan insiden makan tinggi pada mangsa ini.

 Efek pada kelangsungan hidup dan efisiensi pertumbuhan pada pemberian pakan
Peningkatan hidup di makan pertama adalah hasil utama larvikultur dengan mikroalga. Untuk spesies dianggap sulit ke belakang di air yang jernih, seperti halibut, Turbot atau ikan air tawar laut, mendapatkan umumnya lebih besar dari 100-500% (Pontianak et al 1992;. Reitan et al. 1993; Papandroulakis et al. 2002a) dan mungkin melebihi satu urutan besarnya (Scott & Baynes 1979). Untuk spesies dianggap mudah ke belakang di air yang jernih, seperti bass laut atau belanak, mikroalga meningkatkan survival dari 18-113% yang cukup untuk meningkatkan efektivitas biaya produksi . Perbedaan angka kematian itu jelas kurang dari 10 DPF dan sering di 2-5 DPF untuk spesies sulit.

 Stimulasi fungsi pencernaan dan flora usus
Awal peningkatan fungsi pencernaan dan asimilasi meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan dan bantuan transisi ke exotrophy. Penggunaan mikroalga dalam tank meningkatkan produksi enzim pencernaan pankreas dan usus, dan meningkatkan kualitas flora usus.

 mikroalga efek tidak langsung pada larva
Efek tidak langsung dari mikroalga pada larva terutama berkaitan dengan tiga penyebab: kualitas air dan luminositas, yang bakteriologi air dan rotifera, dan kualitas dan aksesibilitas dari rotifera. Peningkatan efisiensi pemeliharaan larva dalam tangki dengan mikroalga pada awalnya dianggap sebagai pengaruh kualitas air yang lebih baik karena mengimbangi respirasi larva (penyerapan oksigen dan produksi karbondioksida, amonia dan fosfat) dengan fotosintesis (serapan karbondioksida, nitrogen dan fosfor, bersama dengan produksi oksigen) dan stabilisasi fluktuasi pH dan karbonat- bikarbonat ekuilibrium.

 Masa Depan perkembangan
menggunakan Strategis mikroalga dalam penetasan telur selama awal kehidupan ikan laut meningkatkan keberhasilan menyusui pertama, sebuah prasyarat untuk bertahan hidup efisien, pertumbuhan dan kualitas ikan larva. Fenomena ini telah menyebabkan peninjauan kembali dari tiga mekanisme terlibat dalam memberi makan larva awal:
• peran minum dan filter-makan selama transisi dari endotrophy untuk exotrophy;
• efek langsung potensi organik terlarut dari mikroalga sebagai kontributor (mungkin neoglucogenic) untuk makan otonomi dan anti-stres tanggapan;
• yang (mungkin pretrophic oligotrophic atau non-tropik) pentingnya mikroalga sebagai memicu untuk proses baik fisiologis dan perilaku dan pengkondisian probiotik bakteri air, rotifera dan larva usus.
bidang penelitian baru telah dibuka yang menciptakan hubungan yang lebih erat antara ilmu pengetahuan dan produksi, dan akuakultur dan biologi kelautan eksperimental. Namun,fundamental masih dibutuhkan pengetahuan tentang mekanisme interaksi alga-ikan di berbagai transisi poin antara endotrophy dan exotrophy.

Handbook of Microalgal Culture

Teknik Budidaya Ganggang
Bab 1
Tinjauan Sejarah

Teknik budidaya ganggang (Hans R. Preisig) Institute of Botany Sistematik, University of Zurich Robert A. Andersen Provasoli-Guillard Pusat Kebudayaan Nasional Kelautan Fitoplankton, Laboratorium Ilmu Bigelow untuk Samudera.Banyak metode dan budaya dasar konsep media yang digunakan saat ini dikembangkan pada akhir 1800-an dan awal 1900-an. teknik budidaya ganggang memiliki telah dijelaskan dalam beberapa buku dan artikel sebelumnya (Moore 1903, Küster 1907, Chodat 1913, Richter 1913, Pringsheim 1924, 1928-1929 Kufferath, Lwoff 1932, Meier 1932, Vischer 1937, 1942 Tebal, Chu 1942, Pringsheim 1946, Brunel et al. 1950, Lewin 1959, Fogg 1965, Venkataraman 1969, Stein 1973, Guillard 1975, Richmond 1986), dan informasi historis dimasukkan dalam banyak ini. Dalam bab ini, meninjau utama perkembangan budidaya alga, dari asal-usulnya mulai tahun 1950-an.
Mikroalga Massa budidaya. Perintis bekerja untuk tumbuh mikroalga (terutama Chlorella) di laboratorium padat budaya dicapai oleh Warburg (1919) di Berlin, Jerman (lihat teks sebelumnya). Pada Woods Hole Oceanographic Lembaga di Amerika Serikat, dan Ketchum Redfield (1938) dijelaskan metode untuk mempertahankan terus menerus budaya diatom laut dalam pasokan besar untuk analisis kimia. Prosedur termasuk periodik pemanenan sebagian tetap (yaitu, sampai kilogram atau lebih dari bahan kering) pada titik penting dalam batch kurva pertumbuhan, sedangkan penduduk yang tersisa lanjutan untuk meniru dan tumbuh sampai populasi yang diinginkan kembali mencapai dan dipanen. Dengan teknik ini Ketchum et al. (1949) juga berhasil tumbuh dan optimal panen sel ganggang beberapa uniseluler lainnya. Metode batch semikontinu budaya masih digunakan dalam budidaya sebagai sarana produksi fitoplankton cepat untuk memberi makan binatang laut.
Di Göttingen (Jerman), Harder dan Witsch (1942) juga mulai percobaan di massa budidaya diatom untuk menentukan jika produksi lemak dari budaya itu mungkin. Sebuah alat yang lebih besar untuk tumbuh Chlorella secara kontinyu budaya dibangun oleh Myers dan Clark (1944) di University of Texas di Austin. Mereka diciptakan untuk terus budaya mereka di beberapa titik yang dipilih pada pertumbuhannya kurva oleh dilusi pada suspensi dikontrol oleh fotometrik sistem. Sel-sel yang dipanen secara manual pada interval, meninggalkan sebuah buku kecil dari suspensi sebagai inokulum. Mikroalga seperti Chlorella yang disarankan sebagai sumber aplikasi komersial potensial (misalnya, produksi pangan) oleh Spoehr dan Milner (1947, 1949) dari Lembaga Carnegie Washington Divisi Tanaman Biologi di Universitas Stanford, di California. Lebih lanjut metode penelitian untuk menerjemahkan ke dalam laboratorium teknik spesifikasi untuk budidaya skala besar terus-menerus dari Chlorella dibuat oleh Cook (1950, 1951) di Stanford esearch Institute, yang membangun sebuah percontohan kecil tanaman.
Minat budidaya alga massa dilanjutkan dengan Lembaga yang Carnegie melalui kontrak dengan Arthur D. Little, Inc, Cambridge, Massachusetts, yang dibangun dan berlari unit pabrik percontohan beberapa budaya atap bangunan industri (lihat Burlew 1953). Hasil jangka pendek dari Chlorella adalah sebagai tinggi sebanyak 11 g kering berat • m-2 • hari-1, meskipun hasil rata-rata selama 52 hari operasi itu hanya 2 g / m-2 • hari-1. Namun, yang menghasilkan sampai 20-25 g / m-2 • hari-1 teknologi budidaya itu mungkin sekali meningkat dan budidaya yang dilakukan di lebih sesuai geografis lokasi. Juga pada akhir 1940-an dan awal 1950-an, penting bekerja pada produksi besar-besaran dari Chlorella dibuat di Jerman oleh Witsch (1948). Gummert et al. (1953) memulai sebuah program penelitian dan pengembangan di Essen, Jerman, untuk produksi berskala besar di rumah kaca dan budaya udara terbuka (lihat juga Meffert dan Stratmann 1954).
Pada saat yang sama, serangkaian laboratorium dan studi pabrik percontohan untuk pertumbuhan Chlorella diikuti dalam Jepang di bawah bimbingan Tamiya (Gambar 1.2F) di Tokugawa di Tokyo Institute (Mituya et al. 1953, Tamiya 1956, 1957). Kelompok yang sama ilmuwan itu juga berhasil dalam memperkenalkan teknik sinkron budaya (Tamiya et al 1953).. Sinkronisasi, eksperimen koordinasi yang diperoleh individu siklus hidup dalam populasi sel, adalah sebuah kemajuan besar untuk bekerja eksperimental dalam fisiologi ganggang dan kemudian telah banyak diikuti oleh orang lain menggunakan diubah teknik dan jenis ganggang yang berbeda (lihat Tamiya 1966, Pirson dan Lorenzen 1966).

Bab 2
Budaya Air Tawar

Bab ini memberikan ringkasan air tawar medium kultur metode yang telah digunakan selama dari 30 tahun terakhir (lihat Nichols 1973). Media dijelaskan di sini (lihat Lampiran A) yang tidak lengkap media mungkin, tetapi mereka dipilih untuk mewakili berbagai kebutuhan. Menurut Katalog Dunia Algae diterbitkan oleh Komagata et al. (1989), ada sekitar 11.000 jenis, diklasifikasikan menjadi 3.000 spesies, yang dipelihara dalam 40 koleksi budaya mewakili 16 negara. Itu Jumlah spesies alga berbudaya kurang dari 10% dari orang-orang yang dijelaskan jenis alga (sekitar 40.000). Berbagai permutasi, atau seluruhnya usaha baru, mungkin diperlukan untuk mendirikan media cocok untuk berbudaya alga
spesies, dan ini sering didasarkan pada habitat kimia atau persyaratan gizi khusus pada alga. 2.0. Material 2.1. Bahan kimia Unsur kimia yang diperlukan untuk persiapan media umumnya harus dari kualitas tertinggi tersedia kepada penyidik. Kualitas ditentukan oleh produsen, dan masing-masing produsen menggunakan sendiri kode untuk penunjukan kelas.
Dalam kasus, perlu untuk menghilangkan kotoran dari reagen kimia dengan berlalunya macronutrients dan beberapa mikro melalui resin Chelex 100 kolom (Bio-Rad Laboratories) (Morel et al 1975).. Metode ini sepenuhnya diuraikan dalam Bab 4. 2.2. Peralatan Peralatan minimal tertentu (misalnya, gelas, plasticware, analisis keseimbangan dengan sensitivitas 1 mg, pH meter, dan pengaduk magnetik) diperlukan untuk mempersiapkan saham solusi dan media kultur. Sebuah otoklaf biasanya penting untuk sterilisasi (lihat Bab 5). Penyaringan peralatan (misalnya, sumber vakum atau filter jarum suntik, filter holder, filter membran) juga diperlukan untuk zat sterilisasi panas-sensitif. Disposable filter membran, misalnya Millex-GV selama 1 – untuk 100-mL filtrasi dan GV Sterivex untuk 100 – untuk 3.000 mL filtrasi (Millipore Corp), sekarang tersedia dan sangat berguna untuk sterilisasi heatsensitive zat. Air steril harus digunakan ketika filter-disterilkan mempersiapkan solusi, karena filter dari 0,22 mm ukuran pori-pori tidak cukup untuk menghilangkan virus dan beberapa bakteri berukuran kecil. Sebuah mesin cuci ultrasonik berguna untuk membersihkan gelas dan plasticware dilapisi dengan kotoran keras kepala. pendingin dengan kompartemen freezer yang diperlukan untuk mempertahankan saham solusi dan media kultur. 2.3.
Polietilena, polikarbonat, atau plastik berlapis Teflon kapal harus digunakan di tempat kapal kaca untuk menyimpan saham solusi dari jejak individu logam, digabungkan jejak solusi logam, dan solusi saham silikat. Kecil jumlah logam akan menyerap ke dinding gelas botol dan asam silisik akan bermoral dari botol kaca. Tindakan ini akan mengubah konsentrasi larutan, efektif membuat konsentrasi tidak diketahui. Oncedistilled air dan air deionized juga digunakan. Itu tingkat kualitas didikte oleh sensitivitas baik alga dan aplikasi, yaitu, lebih kritis eksperimental studi biasanya membutuhkan kualitas air lebih kritis. 2.5. Agar agars Biasa terdiri dari agarose dan agaropectin bahwa terkontaminasi dengan berbagai kotoran (Krieg dan Gerhardt 1981), dan beberapa agars berisi air-larut agen litik terhadap cyanobacteria (Allen dan Gorham 1981)..

Tanah
Sebuah tanah ekstrak cair atau padat partikel tanah digunakan untuk spesies budidaya alga saat yang tepat pengetahuan tentang gizi persyaratan tidak perlu dan kapan menjaga morfologi normal sangat penting. Sukses dengan ekstrak tanah larutan atau media air tanah ergantung pada pemilihan tanah yang cocok. Namun, menemukan tanah yang baik tidak sederhana. Sebagai contoh, lebih dari 40 tanah yang berbeda jenis mencoba untuk tumbuh chrysophytes, hanya dua yang ditemukan dapat diandalkan untuk penggunaan umum (Robert Andersen, komunikasi pribadi). Fitur sumber tanah yang baik kebun atau rumah kaca dimana tanah memiliki tidak pernah terkena bahan kimia (misalnya, pupuk, pestisida), terganggu daun hutan, dan padang rumput yang belum digarap atau menyerempet (Starr dan Zeikus 1993, Tompkins et al. 1995).
Tanah seharusnya dalam jenis tanah liat, tanah dengan jumlah besar tanah liat yang tidak cocok. Untuk ganggang langka atau sensitif tertentu, kadang-kadang mungkin untuk mendapatkan tanah yang subur dekat danau atau kolam mereka tumbuh secara alami, namun tanah harus diambil dari atas permukaan air, karena air danau dan sedimen tambak sering anoksik dan berisi akumulasi bahan beracun. Setelah penghapusan bahan-bahan asing jelas (Misalnya, batu, daun, akar, cacing), tanah harus kering, baik pada suhu kamar atau dalam oven pengeringan pada suhu rendah (<60 ° C). Setelah kering, tanah harus mudah hancur menjadi debu halus. Seorang yang bersih, bebas kimia mortar dan alu dapat digunakan untuk menggiling tanah. Itu halus tanah dasar harus melalui saringan untuk menghilangkan partikel yang lebih besar atau sisa asing bahan, dan kemudian tanah harus disimpan dalam kering lingkungan. Untuk mempersiapkan tanah ekstrak, tambahkan 1 bagian tanah untuk 2 bagian dH2O dan mempastir atau autoclave selama 2 jam (Tompkins et al 1995).. Biarkan untuk partikulat menyelesaikan, dan kemudian saring (misalnya, Whatman # 1 filter) yang cair. Ekstrak harus dipasteurisasi atau diautoklaf lagi untuk membangun solusi steril.

Bab 3
Budaya Kelautan

Alam air laut (NW) adalah medium kompleks yang mengandung dikenal lebih dari 50 elemen dan besar dan variabel jumlah senyawa organik. Untuk budaya ganggang, pemanfaatan langsung NW jarang diterima. Tanpa penambahan nutrisi lebih lanjut dan jejak logam, menghasilkan algae biasanya terlalu rendah untuk pemeliharaan budaya atau laboratorium percobaan, dan dengan demikian pengayaan biasanya diperlukan. Selain itu, variasi alam kualitas NW sepanjang tahun, kebutuhan untuk kontrol gizi dan konsentrasi unsur jejak, dan ketersediaan terbatas air laut di lokasi pedalaman membuat pilihan air laut buatan (AW) menarik (lihat Bagian 4.2). Penyusunan NW dengan solusi pengayaan nutrisi, jejak logam, dan vitamin dan persiapan AW dijelaskan dalam bab ini. Untuk kejelasan, kita menggunakan air laut alami istilah untuk merujuk unenriched NW, dan air laut buatan untuk AW unenriched. Itu solusi pengayaan merujuk pada macronutrients, unsur jejak, dan vitamin yang harus ditambahkan ke NW dan AW untuk menghasilkan hasil yang besar alga.
Itu bahan yang dibutuhkan untuk persiapan media air laut dan resep utama solusi saham macronutrients, unsur jejak, dan vitamin dijelaskan. Metode dan tindakan pencegahan yang diperlukan dalam media persiapan dilindungi. Resep untuk tertentu alga kelompok dan air laut alami dan sintetis berbagai resep.

Bab 4
Trace Metal
Ion Buffer

Banyak jejak penting logam, seperti tembaga, seng, dan kobalt, bersifat racun pada konsentrasi tinggi, dan satu, besi bentuk oksida besi larut hydrous presipitat yang sebagian besar tidak tersedia untuk alga akuatik (Kaya dan Morel 1990). Selain itu, presipitat besi penting menyerap logam lainnya dan menurunkan ketersediaan mereka. Karena kesulitan ini, menyediakan memadai, pasokan beracun dari logam untuk melacak penting ganggang dalam budaya batch fitoplankton historis disajikan sebuah tantangan besar untuk culturists alga. Awalnya, masalah ini dipecahkan melalui penambahan ekstrak air tanah, yang memberikan suite unsur mikro bersama dengan campuran yang kompleks asam organik tinggi-molekul-massa, yang biasa disebut sebagai Senyawa humat.
Senyawa humat besi chelated, sangat meningkatkan kelarutan, dan membentuk senyawa kompleks organik (Chelates) dengan reaktif mikronutrien logam seperti tembaga, sehingga mengurangi mereka keracunan. Namun, tidak diketahui komposisi dan bervariasi tanah ekstrak berbagai persiapan sering menyebabkan miskin reproduktibilitas dalam tingkat pertumbuhan dan hasil dari alga budaya dan mencegah berbagai studi yang serius dari mikronutrien persyaratan pertumbuhan alga akuatik.
Bab ini terutama ditujukan untuk membantu merancang percobaan untuk studi semacam jejak logam-fitoplankton interaksi. Karena sebagian besar pekerjaan dalam field telah difokuskan pada spesies laut, bab ini menekankan penggunaan buffer jejak ion logam dalam air laut budaya. Para pembaca yang terutama tertarik hanya dalam mempersiapkan media budaya didefinisikan kimia untuk budidaya rutin atau non-jejak logam studi eksperimental akan menemukan protokol yang diperlukan, perhitungan, dan pertimbangan praktis dalam Bagian 4.0

Bab 5
Sterilisasi dan
Teknik steril

Ada berbagai metode sterilisasi, yang dapat kasar diklasifikasikan ke dalam empat kategori: sterilisasi panas, gelombang elektromagnetik sterilisasi, sterilisasi menggunakan filtrasi, dan sterilisasi kimia . Panas sterilisasi adalah yang paling umum dari kategori umum dan biasanya membutuhkan temperatur tinggi (≥ 100 ° C), menyiratkan bahwa material yang akan disterilkan dapat menolak suhu tinggi (misalnya, gelas, instrumen logam, dan aluminium foil). Cairan adalah filter-disterilkan ketika cairan tersebut berisi komponen yang rapuh hancur oleh suhu tinggi. Gelombang elektromagnetik (Misalnya, ultraviolet [UV ray], sinar gamma, x-ray, dan gelombang mikro) digunakan sebagai alternatif untuk material yang tidak dapat terkena suhu tinggi (umpamanya, banyak produk plastik atau cairan dengan komponen labil). Saat ini, persediaan plastik disterilkan dengan gamma sinar yang tersedia.
Akhirnya, banyak yang berbeda jenis bahan kimia telah digunakan untuk tujuan sterilisasi, namun, jejak kimia mungkin tetap setelah perawatan sterilisasi, dan bahan kimia yang mungkin membahayakan hidup alga dan kepada penyidik. Oleh karena itu, prosedur sterilisasi kimia memiliki jatuh ke tidak digunakan di laboratorium. 2.0. Presterilization Membersihkan Prosedur 2.1. Budaya Kapal Baru kaca Baru dan pembuluh plastik, kecuali siap digunakan disterilkan produk, harus dibersihkan sebelum penggunaan pertama, karena bahan kimia atau jejak lainnya dari produk manufaktur dapat tetap berada di kapal dan mungkin berbahaya untuk sel-sel hidup. Prosedur ini terdiri dari merendam kontainer dalam cairan asam klorida mandi (biasanya 1 M HCl) selama 1 minggu, beberapa kali membilasnya dengan keran air yang mengalir, dan membilasnya dengan suling atau deionized air sebelum pengeringan. Untuk metode yang kurang ketat, baru kaca dan kapal plastik bisa dicuci dengan deterjen netral diperdagangkan untuk digunakan laboratorium (misalnya, M-251L tanpa Fosfor, Shapu Sistem Manufaktur; Neodisher FT dengan penawar, Dr Weigert GmbH & Co), diikuti oleh menyeluruh pembilasan dan pengeringan. Beberapa jenis topi untuk kapal yang tersedia pada pasar: topi plastik tahan panas, topi logam, dan sumbat karet silikon luas. Dianjurkan untuk memeriksa keamanan bahan sebelum digunakan, karena beberapa produk dapat melepaskan zat beracun yang selama autoclaving proses. Misalnya, hitam bakelite harus tutup akan diautoklaf dalam air beberapa kali sebelum digunakan dengan medium kultur. Baru topi warna hitam air dengan senyawa fenolik yang dilepaskan ketika tutup adalah diautoklaf pertama. Penampilan polietilen Baru mungkin juga rilis zat berbahaya ketika mereka terlebih diautoklaf.
Budaya kapal yang digunakan untuk menumbuhkan sel harus diautoklaf untuk membunuh semua sel. Sel-sel hidup, terutama sebagai kista, dapat menyebabkan pencemaran perairan lokal jika dibuang benar. Setelah autoclaving, cairan didinginkan dan dibuang, ketika agar-agar digunakan, harus didinginkan untuk dekat titik gelling dan kemudian dibuang. Itu singkat kapal harus dibilas dengan air mengalir dan kemudian dibersihkan. Metode pembersihan standar terdiri dari merendam semalam di kapal mandi deterjen netral (komersial deterjen digunakan untuk laboratorium), diikuti dengan menggosok dengan sikat dan spons.

Bab 6
Tradisional
Mikroalga Isolasi
Teknik

Provasoli-Guillard Pusat Kebudayaan Nasional Kelautan Fitoplankton, Laboratorium Ilmu Bigelow untuk Samudera Masanobu Kawachi Institut Nasional untuk Studi Lingkungan
Venkataraman (1969), Stein (1973), dan Guillard (1995). Untuk metode otomatis mengisolasi ganggang. Isolasi Mempengaruhi Sering kali, langkah pertama menuju sukses adalah pemahaman isolasi dan meniru lingkungan alami kondisi. Untuk ganggang laut pesisir, suhu dan salinitas yang penting, dan untuk kelautan (Laut terbuka) phytoplankters, kualitas air dan keracunan logam keprihatinan tambahan. Ganggang Air Tawar dikumpulkan dalam bulan nonwinter sering kurang sensitif untuk suhu, tetapi pH atau alkalinitas mungkin
penting. Polar dan ganggang salju sangat sensitif terhadap suhu hangat, seperti protista dari mata air panas atau ventilasi hidrotermal sensitif terhadap suhu dingin.
Algae dari lingkungan asam atau hypersaline membutuhkan lingkungan khusus budaya media, tetapi untuk ganggang terestrial atau tanah, faktor lingkungan kurang penting. Taksonomi pengetahuan dari spesies target mungkin penting. Diatom membutuhkan silika, sering euglenoids membutuhkan amonia, dan beberapa genera (misalnya, Chrysochromulina) membutuhkan selenium. Mixotrophic spesies (misalnya, dinoflagellates tertentu dan chrysophytes) sering memerlukan bakteri sumber makanan, dan tidak berwarna phagotrophic spesies (misalnya, Pfiesteria) mungkin memerlukan makanan eukariotik
sumber. Langkah kedua menuju sukses melibatkan isolasi penghapusan kontaminan, terutama yang dapat outcompete spesies target. Teknik pengenceran, tunggal-sel isolasi oleh micropipette, dan agar melesat banyak digunakan, antara metode lain. Langkah terakhir memerlukan pertumbuhan lanjutan pada subkultur. Hal ini tidak biasa untuk target spesies untuk tumbuh dalam tahap awal isolasi tapi kemudian mati setelah satu atau lebih transfer ke medium segar.
Hal ini sering menunjukkan bahwa medium yang kurang elemen tertentu atau senyawa organik, yang tidak segera terwujud. Sayangnya, saat ini ditemukan, kadang-kadang terlambat, karena asli sampel hilang dan isolat asli sudah mati. Atau, organisme dapat mengumpulkan limbah yang racun lingkungan, menyebabkan kematian. Di alam, ini limbah yang diencerkan atau dimetabolisme oleh organisme lain (Misalnya, bakteri). 3.0. Contoh Koleksi Metode pengumpulan kadang-kadang penting untuk keberhasilan, karena sel-sel rusak atau mati menyebabkan kegagalan. Jika spesies target dikenal dan jika sudah dikumpulkan dan dipelajari sebelumnya, maka isolator telah substansial pengalaman untuk membimbing proses pengumpulan. Sebagai contoh, Synura petersenii Korsh. secara rutin terkonsentrasi dengan plankton net; sampel ditempatkan di atas es atau dingin kontainer, dan organisme bertahan selama 24 jam atau lebih. Namun, dengan menggunakan metode ini dengan Gonyostomum air mani (Ehr.) Diesing sulit, karena sebagai terkonsentrasi sel-sel mulai menyentuh partikel satu sama lain atau lainnya, mucocysts debit dan banyak sel mati. Demikian pula, untuk sampel plankton laut, Skeletonema costatum (Greville) Cleve adalah kuat sedangkan Akashiwo sanguinea (Hirasaka) Hansen et Moestrup tidak. Spesies Kelautan sangat sensitif terhadap koleksi dan konsentrasi, dan botol air khusus digunakan, seperti Tefloncoated Go-Flow Niskin botol (Umum Oceanics Inc). Sampel dikumpulkan pada kedalaman bisa sensitif terhadap tekanan, cahaya, atau perubahan suhu. Jadi, terlepas dari
koleksi situs, seluruh air (tidak pekat) sampel, dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan disimpan pada suhu yang stabil,sering memberikan sel-sel sehat saat terkonsentrasi sampel gagal. isolator harus menghabiskan lebih banyak waktu mencoba untuk menemukan spesies target di encer sampel, tetapi sekali terletak, sel biasanya layak.
Akhirnya, jika sampling yang lingkungan yang kurang pengetahuan sebelumnya, atau jika organisme target tidak diketahui dengan ilmu (dan ada banyak), maka kolektor adalah bijaksana untuk berhati-hati dan beberapa metode. sampel Alam sering mengandung zooplankters bahwa pakan atas ganggang. Setelah terkonsentrasi, hewan-hewan ini dapat makan cepat atau membunuh alga.Hewan besar (misalnya, copepoda, rotifera, siliata) dan tidak diinginkan ganggang kolonial dapat dihilangkan dengan lembut penyaringan (lihat bagian berikutnya). Filter, layar, atau bersih dipilih sehingga alga melewati melalui perangkat penyaringan tetapi hewan atau koloni tidak (Gambar 6.1a). Prefiltering sampel segera pada saat penerimaan biasanya efektif untuk menghapus ini organisme yang tidak diinginkan. Demikian pula, jika sampel memiliki
kelimpahan organisme kecil yang tidak diinginkan, seperti lainnya ganggang dan bakteri, maka filtrasi lembut dapat mengumpulkan yang lebih besar, ditargetkan spesies sedangkan organisme yang lebih kecil lulus melalui filter. Namun, perawatan harus dilakukan untuk menghindari kerusakan atau pengeringan dengan spesies target dan metode ini biasanya diterapkan hanya ketika kecil organisme menimbulkan masalah (misalnya, pengenceran teknik, sebagai kemudian dibahas dalam teks).

Bab 7
Isolasi otomatis
Teknik untuk
Mikroalga

Teknologi otomatis, seperti aliran cytometric sortasi sel, sangat cocok untuk sel-sel ini lebih kecil, dan potensi instrumen ini hanya mulai dieksploitasi. Arus cytometry sangat ideal untuk mengisolasi awalnya Mikroalga sel terkecil, dan sel-sel tunggal dapat cepat disortir ke piring multiwell untuk mendirikan baru alga budaya. Pemisahan sel alga dari cooccurring mencemari sel (misalnya, bakteri) adalah keuntungan penting. Tujuan bab ini adalah untuk mempertimbangkan beberapa isu kritis tentang mengisolasi mikroalga oleh metode otomatis. Fokusnya adalah pada menyortir satu-sel, karena teknologi ini telah maju cukup jauh untuk diterapkan untuk isolasi rutin. Optical menjebak, atau “Optik penjepit,” adalah teknologi berkembang dan sebentar dipertimbangkan.

1.1. Arus cytometry dengan Cell Sorting
Arus cytometry dikembangkan pada 1960-an dan 1970-an sebagai cara untuk menghitung dan menganalisis sifat optik sel tunggal tersuspensi dalam fluida. Rincian prinsip-prinsip dan operasi dari aliran cytometer diberikan tempat lain (Melamed et al 1994,. Shapiro 2003). Sebuah tinjauan aspek dasar flow cytometry diberikan di Bab 17, dalam konteks sel menghitung dengan aliran cytometry. Reckermann (2000) telah menulis sebuah umum review memilah aplikasi dalam ekologi air, dan kami hanya menjelaskan secara singkat prinsip-prinsip dasar; rincian spesifik isolasi mikroalga disediakan. Ketika sampel dianalisis dengan cytometry aliran, berbeda populasi dapat muncul sebagai kelompok dalam twodimensional cytograms dari menyebarkan dan / atau fluoresensi parameter. Dengan logika pemilahan cepat elektronik, itu mungkin untuk mengidentifikasi sel tunggal dalam populasi ini dan membuat keputusan penyortiran sebagai sel meninggalkan optik interogasi titik. Ada dua jenis utama sekarang sortasi mekanisme yang umum tersedia: Aliran pemilahan dan penyortiran tetesan. Dalam pemilahan aliran fluida, aliran sungai secara fisik dialihkan untuk mengumpulkan bagian sungai yang berisi sel target. Sebuah variasi dari gagasan ini adalah untuk memindahkan koleksi sampel perangkat ke dalam aliran sampel di tepat saat sel sasaran adalah sekarang. Satu komersial penerapan teknologi ini telah diterapkan Becton Dickinson-oleh (BD Biosciences), mulai dengan instrumen FACSort, diikuti oleh berikutnya model (misalnya, FACSCalibur).
Sistem ini biasanya semacam di tingkat ratusan sel per detik. Mereka sarung mengumpulkan fluida ketika mereka tidak menyortir, jadi umumnya contoh semacam ini sangat diencerkan dengan cairan selubung. Mereka dapat dikombinasikan dengan sistem penyaringan untuk sarung menghapus cairan dan hasil lebih terkonsentrasi semacam sampel. Keuntungan dari alat ini adalah kemudahan gunakan relatif terhadap tetesan penyortir (Shapiro 2003). Dalam pemilahan gelembung (Gbr. 7.1) aliran aliran berosilasi sehingga undulates, membobol tetes kecil di cara dikendalikan. Biasanya dalam “-udara jet-” sistem aliran aliran fluida meninggalkan sel mengalir melalui lubang diameter didefinisikan. Titik interogasi, mana laser memotong aliran sungai, terletak hanya di bawah sel aliran. Perangkat piezoelektrik pada aliran sel biasanya menghasilkan kekuatan osilasi. Sungai dapat diisi (positif atau negatif) sebelum tetesan pembentukan, dan drop mempertahankan biaya yang diberikan. Jika tetesan lulus dekat piring pengisian, maka mereka dapat tertarik ke arah atau menjauh dari piring, mengarahkan mengumpulkan tetesan ke perangkat. Logika semacam sehingga dapat biaya tetesan mengandung sel-sel sasaran sehingga mereka akan dibelokkan ke arah yang tepat untuk koleksi.
Tujuan metode pemurnian adalah untuk mendapatkan yang layakbudaya spesies tunggal, bebas dari semua spesies lain(“Kontaminan”) apakah eukariota, prokariota, atauvirus. Gagasan tentang kultur murni tidak diragukan lagi mulaipada saat Koch dan Pasteur mengacu pada bakteri.Extended sebelah eukariota, pertama kali menghasilkanistilah unialgal untuk budaya tunggal-jenis ganggang, dan jikabudaya tidak memiliki kontaminan terdeteksi, maka merekadipanggil murni atau axenic. Istilah ini biasanya gnotobioticdigunakan untuk individu dari spesies yang lebih besar dibesarkan bebas
mikroorganisme atau parasit. Karena beberapa gangganggizi sebagian atau seluruhnya organo-heterotrofik,bactivorous, planktivorous, atau bahkan karnivora, mungkindiperlukan untuk memasok makanan sebagai budaya hidup atau terbunuh daribakteri, ganggang lainnya, atau protista. budaya makan tersebutkadang-kadang disebut bixenic. Budaya lain berada di luar sebuahdefinisi sederhana. Sebagai contoh, bagaimana budayaPinnularia dengan bakter

Bab 9
Isolasi dan
Pemurnian
Teknik untuk
Makroalga

Graduate School of Science Kuroshio, Fakultas Ilmu, Kochi University peningkatan media kebudayaan dan penggunaan dikendalikan-suhu ruang inkubasi, unialgal teknik kultur menjadi mapan, dan oleh
studi budaya 1960-an dari makroalga menjadi populer (1942 Tebal, Tatewaki 1966). Selain penggunaannya dalam studi awal pembangunan dan kehidupan sejarah, unialgal, klon, dan budaya axenic dari makroalga telah menjadi penting bagi banyak fisiologi gizi, respons terhadap berbagai bahan kimia, persimpangan percobaan, penggalian berbagai senyawa tanpa kontaminasi (termasuk untuk biologi molekular seperti DNA genomik, perpustakaan cDNA, Northern blotting, dll), jangka panjang strain pelestarian, pertukaran bahan penelitian, budaya massa dan penyusunan budidaya benih-saham, dan seterusnya.
Dalam bab ini, budaya unialgal adalah budaya yang sekarang). Budaya axenic adalah unialgal dan bebas dari bakteri. Budaya klonal adalah budaya dari genom satu set(Misalnya, budaya berasal dari sel vegetatif tunggal atau jaringan atau dari sel reproduksi) dan isebarkan vegetatif. Bab ini memperkenalkan teknik untuk membangun dan mempertahankan unialgal dan axenic budaya makroalga.
Dikumpulkan spesimen diangkut dalam kantong plastik, botol, atau kontainer yang sesuai dengan ukuran mereka, menghindari iradiasi kelebihan dan guncangan suhu relatif terhadap kondisi habitat yang berlaku. Secara umum, suhu kondisi 50-10 ° C lebih dingin dibandingkan dengan suhu air habitat (° C 50-10 untuk air dingin taksa dan 20-25 ° C untuk taksa tropis) yang lebih baik untuk transportasi.
Paling makroalga intertidal (rumput laut) yang toleran terhadap tekanan seperti pengeringan dan perubahan suhu yang cepat, dibandingkan dengan makroalga subtidal. Subur spesimen dikumpulkan dalam desiccating kondisi (misalnya, intertidal taksa yang dikumpulkan selama pasang rendah) rilis reproduksi sel (zooids, telur, spora, dll) segera setelah mereka eimmersed dalam air laut, seperti dalam wadah yang digunakan untuk transportasi. Oleh karena itu, mereka lebih mungkin basah diangkut dalam kantong plastik (mungkin spesimen longgar dibungkus dengan handuk kertas atau koran) atau Sebaliknya makroalga, subtidal, terutama yang tumbuh di habitat dalam (di bawah 50-10 m) lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti pengeringan dan suhu shock, jadi mereka harus segera ditransfer untuk wadah diisi dengan air laut, mengurangi eksposur untuk udara atau fluktuasi suhu. Disposable pipet, baik dengan bola dan pipet dituangkan dalam satu potong tipis polietilen (pastette), dapat digunakan untuk sampling spesimen yang sangat kecil di lapangan (lihat Bab 10). Mereka yang murah, bisa dipecahkan, dan steril ketika dikemas secara individual (bulk-pipet dikemas hampir steril dan yang cocok untuk lapangan mengumpulkan). Satu menarik sampel ke dalam pipet oleh hisap.
Untuk transportasi yang terbaik adalah mengisi pipet hampir sepenuhnya dengan air laut, memeras cairan ke bola lampu, dan kemudian panas-segel dengan hati-hati meleleh membuka di tepi dari sebuah api kecil, dan meremas akhir bersama-sama cair dengan gunting tang. Untuk membuka, hanya snip off the tip.
Beberapa makroalga asam (misalnya, beberapa spp Desmarestia., spp Dictyopteris, Plocamium spp.., dan sebagainya) kebutuhan khusus perawatan, mirip dengan taksa subtidal sensitif. Hal ini juga penting untuk melindungi spesimen lain dari yang taksa asam pada saat pengumpulan dan transportasi (yaitu, menghindari meletakkan kedua jenis dalam wadah yang sama, karena meskipun sejumlah kecil asam alga yang rusak dapat merusak lain spesimen). Pematangan beberapa taksa (misalnya, Dictyota) dilaporkan akan disinkronisasi dengan bulan ritme (Phillips et al 1990)., perhatian begitu istimewa harus dibayar dalam penjadwalan koleksi taksa ini. Entah jaringan vegetatif atau dibebaskan dari sel struktur reproduksi dapat digunakan untuk membangun budaya (Lihat Bagian 4.0). Dalam kedua kasus, bersih tanaman dengan beberapa epifit dan epizoa, dan tanaman subur di kasus terakhir, harus dipilih di lapangan. Subur bagian (Bagian dari tanaman bantalan struktur reproduksi) sering bisa dideteksi dari penampilan kotor; hanya bagian-bagian harus dipotong dan diangkut ke laboratorium.

Bab 10
Abadi
Pemeliharaan
Metabolisme aktif
Mikroalga Budaya

Cara paling umum untuk melestarikan budaya Mikroalga adalah pemeliharaan terus-menerus di awah dikendalikan lingkungan kondisi. Subkultur dilakukan rutin serial menggunakan teknik aseptik dan mikrobiologi melibatkan mentransfer inokulum dari akhir log / stasioner budaya fase ke segar, steril menengah. Hal ini menyebabkan metabolisme budaya aktif yang dapat
digunakan dalam waktu singkat. Tujuannya adalah untuk mempertahankan yang sehat, fisiologis, morfologis, dan genetis perwakilan populasi. Faktor kunci untuk dipertimbangkan adalah bahwa berbeda usia subkultur dapat memberikan tahapan yang berbeda siklus hidup (misalnya, oranye / merah aplanospores di samping untuk membagi hijau dan motil sel pada awal stasioner
fase budaya Haematococcus pluvialis Flowtow).
Keterbatasan utama transfer abadi adalah selektif dan buatan sifat media dan inkubasi regimen sehubungan dengan kondisi ekologi asli. Kondisi Laboratorium dapat, dalam kasus-kasus ekstrim, memimpin hilangnya fitur morfologi penting dan fisiologis sifat. Contoh ketidakstabilan meliputi pengurangan ukuran frustules diatom (Jaworski et al 1988)., retensi / hilangnya duri dalam pusillum Micractinium Fresenius, dan hilangnya komposisi pigmen normal pada berbagai alga (Warren et al 2002).. Selanjutnya keterbatasan termasuk kemungkinan kontaminasi axenic budaya dan kemungkinan mislabeling atau penanganan lainnya kesalahan. Subkultur rutin serial adalah sebuah laborand habis-intensif proses dan tentu saja batas kapasitas pekerja untuk mempertahankan jumlah besar strain. Untuk menghindari kerugian dari subkultur rutin, pendekatan alternatif telah dikembangkan untuk konservasi ex situ dari alga dan cyanobacterial budaya, terutama kriopreservasi (lihat Bab 12). Bagian berikut membahas pertimbangan utama pemeliharaan yang diperlukan untuk sukses jangka panjang, termasuk teknik transfer, kondisi pemeliharaan, dan pengendalian mutu kebijakan jaminan / dan prosedur. Itu bagian berfokus pada berbagai aspek Subkultur rutin strain dan menganggap bahwa pasti tidak ada
tunggal, cara terbaik untuk tumbuh atau mempertahankan budaya alga.

Bab 11
Jangka panjang
Macroalgal Budaya
Pemeliharaan

Bab ini sebagian besar didasarkan pada perspektif pribadi saya dan 44 tahun pengalaman dalam memelihara laboratorium budaya makroalga dan mikroalga. Saya telah mengamatifasilitas budaya di lembaga-lembaga akademis lainnya dan beberapa belum memadai untuk studi memuaskan pada ganggang biologi dan budaya pemeliharaan jangka panjang. Dalam berikut
bagian, saya menunjukkan aspek-aspek yang dapat manfaat bagi orang lain yang ingin empertahankan budaya sebagai saham gen kolam renang untuk berbagai macam phycological penelitian. 2.0. Metode 2.1. Air laut Untuk pemeliharaan rutin makroalga laut, saya lebih memilih alam laut berbasis medium kultur bukannya buatan medium kultur. Cara terbaik untuk mendapatkan air laut untuk budaya dari daerah pesisir terbuka jauh dari industri dan perumahan daerah. air laut yang diperoleh dengan ember plastik 10 liter dan kemudian dituangkan melalui corong plastik dilengkapi dengan filter jaring Nitex (100 mm sampai Teknik budidaya alga 157.

Bab 12
Kriopreservasi
Metode
untuk Mempertahankan
Mikroalga Budaya

Kriopreservasi dapat didefinisikan sebagai penyimpanan dari organisme hidup, atau bagiannya, di sebuah ultralow suhu (biasanya lebih dingin dari -130 ° C) seperti yang tetap mampu bertahan hidup setelah thawing. Kriopreservasi masih sebagian besar ilmu empiris karena yang mendasari mekanisme biologis sel cedera selama pembekuan dan thawing tidak sepenuhnya dipahami (Baust 2002). Meskipun pembatasan ini, ratusan spesies cyanobacteria dan mikroalga eukariotik memiliki cryopreserved berhasil. Dalam bab ini istilah “ganggang” akan merujuk pada cyanobacteria dan Ganggang eukariotik. Istilah “Unit alga” akan merujuk ke organisme tunggal. Setelah pengenalan beberapa prinsip-prinsip dasar kriopreservasi, protokol akan dijelaskan yang memiliki potensi untuk kriopreservasi sukses dari berbagai alga. Metode yang dapat diadaptasi untuk berbagai laboratorium di biaya sederhana akan ditekankan. Alasan dan Persyaratan Minimum Pemeliharaan terus-menerus aktif tumbuh alga strain selama jangka waktu yang lama sering mahal dan memakan waktu. Sebaliknya, budaya tetap hidup dalam ditangkap atau negara terbelakang umumnya metabolisme memerlukan minimal perhatian.
Spora istirahat atau tidur tahapan beberapa spesies dapat dipertahankan pada suhu kamar atau suhu dingin selama bertahun-tahun tanpa perhatian. Misalnya, hidup pluvialis Haematococcus Flotow aplanospores telah pulih dari udara-tanah kering setelah 27 tahun (Leeson et al 1984)., Dan cyanobacterium yang Nostoc Vaucher komune dihidupkan kembali dari herbarium spesimen setelah 107 tahun penyimpanan (Cameron 1962). Namun, viabilitas yang beristirahat tahap umum penurunan dengan waktu, dan ganggang laut banyak yang tidak menunjukkan setiap tahap tidak aktif persisten. Kriopreservasi memungkinkan ganggang yang hidup yang tidak memiliki istirahat yang normal
tahap untuk dipertahankan selamanya dalam keadaan ditangkap. Keuntungan dan kerugian dari kriopreservasi.

Bab 13
Photobioreactors
dan Fermentors:
Terang dan
Sisi Gelap
Growing Algae

Teknologi fermentasi telah sangat mapan pengetahuan dasar (Bailey dan Ollis 1977, Wang et al.1979, Moo-Young dan Blanch 1987, Blanch dan Clark 1997, Hilton 1999). The fotobioreaktor dan ermentor teknologi yang dikembangkan dan digunakan selama dua terakhir dekade oleh Martek Biosciences Corporation digunakan sebagai contoh. Penekanan ditempatkan pada photobioreactors karena lebih banyak ganggang phototrophs dari heterotrophs. fotobioreaktor desain berbeda, tergantung pada akhir tujuan. Secara umum, photobioreactors canggih lebih fleksibel tetapi lebih mahal untuk membangun dan lebih rumit untuk beroperasi. Martek mulai merancang photobioreactors dua dekade yang lalu untuk memproduksi stabil isotopically senyawa berlabel (13Carbon, 2Hydrogen, 15Nitrogen) (Behrens et al 1989,. 1994, 1996). Kami memiliki kapal ini juga digunakan untuk memproduksi pigmen, asam lemak, dan molekul bioaktif (Kyle et al. 1989, Behrens 1992, Radmer dan Parker 1994, dan Kyle Behrens 1996, Apt dan Behrens 1999).
Selain menghasilkan biomassa untuk produk ganggang, photobioreactors telah dirancang untuk mendukung kehidupan di luar angkasa (Radmer et al. 1987, Godia et al. 2002), penghapusan berbagai senyawa dari air (An dan Kim 2000, Gaffney et al. 2001), produksi vesikel gas di cyanobacteria (Kashyap et al. 1998, Sundararajan dan Ju 2000), CO2 removal (Keffer dan Kleinheinz 2002), produksi hidrogen (Kosourov et al. 2002, Tsygankov et al. 2002), dan produksi macroalgal (Huang dan Rorrer 2002, Polzin dan Rorrer 2002, Barahona dan Rorrer 2003). Namun, ini mungkin palsu karena ditemukan Martek banyak spesies dari semua kelompok alga yang mampu pertumbuhan heterotrofik.
Penting untuk dicatat bahwa Martek’s pendekatan photobioreactors dan fermentors dipengaruhi dalam arah yang berbeda berdasarkan status teknologi individu. Strategi untuk Pertumbuhan Skala Besar-Algae Beberapa pendekatan umum telah digunakan untuk tumbuh jumlah besar alga phototrophic. Pendekatan-pendekatan mencakup sistem outdoor seperti kolam dan tank tempat cahaya diberikan sebagai sinar matahari (lihat Bab 14), dan sistem dalam ruangan seperti photobioreactors tempat cahaya diberikan oleh lampu listrik
(Oswald 1988, Chaumont 1993, Hu dan Richmond
1994, Grima Molina et al. 1995, Pushparaj)

Bab 14
Budidaya
Mikroalga dalam
Outdoor Kolam

Komersial budaya mikroalga umumnya membutuhkan kemampuan untuk secara ekonomis menghasilkan jumlah tonbiomassa alga. Hal ini memerlukan volume budaya10.000 untuk lebih dari 1.000.000 liter, dan oleh karena ituhampir semua budaya skala komersial saat ini sedang dalam terbukakolam luar ruangan. Chlorella spp., Spirulina platensis Geitler,S. maxima Geitler (= Arthrospira [lihat Castenholz 1989],tapi di sini disebut Spirulina untuk mencerminkan penggunaan umum),Dunaliella salina (Dunal) Teodoresco, Haematococcus pluvialis Flotow, dan spesies Nannochloropsis ditanamluar di kolam terbuka, yang terakhir untuk digunakan dalam akuakultur.Beberapa spesies lain juga telah berkembang dengan suksesdi kolam outdoor pada skala kecil:Porphyridium spesies, spesies Monodus, Phaeodactylumtricornutum Bohlin, dan obliquus Scenedesmus (Turpin)Kützing. Bab ini menjelaskan fitur kuncikolam desain, operasi, dan manajemen untukbudaya luar mikroalga, dengan penekanan khusus

Bab 15
Budidaya dari
Rumput laut

Ganggang laut makroskopik bentuk sebuah hidup penting sumber daya dari lautan. Rumput laut adalah makanan penting bagi manusia dan hewan, serta pupuk untuk tanaman dan sumber berbagai bahan kimia (Lembi dan Waaland 1988, Sahoo 2000). Rumput laut telah momentum sebagai sistem percobaan baru untuk biologi al penelitian (Sahoo et. 2002) dan sebagai bagian integral dari budidaya sistem terpadu (Chopin et al. 2001, Troell et al. 2003, Neori et al. 2004). Kita semua menggunakan rumput produk dalam kehidupan kita Sebagai contoh, beberapa polisakarida rumput laut digunakan dalam pasta gigi, sabun, shampoo, kosmetik, susu, es krim, daging, makanan olahan, penyegar udara, dan banyak lainnya item. Di negara-negara oriental banyak seperti Jepang, Cina, Korea, dan lain-lain, rumput laut adalah makanan pokok.

Bab 16
Menghitung Sel di
Budaya dengan
Mikroskop Cahaya

Menghitung sel dalam kebudayaan-dengan segala cara-memiliki duaaplikasi prinsip. Yang pertama adalah untuk memperkirakan ukuranpenduduk berbudaya, dinyatakan sebagai total jumlah sel (koloni, kadang-kadang) dalam budaya sebagaisebagai keseluruhan atau, lebih biasanya, individu per satuan volumebudaya. Meskipun ada perkiraan banyak penggantiukuran populasi-biomassa atau basah atau berat kering,klorofil konten, isi nitrogen organik, fosfor,atau besi-ada aspek yang lebih mendasar untukjumlah sel; populasi di alam bertahan atau tidakdalam bentuk individu, tidak biomassa, dan predatormakan sel atau koloni.Lebih lanjut, konsep penting dari kuota sel,artinya konten seluler rata-rata tunggal dari beberapakonstituen (misalnya, nitrogen, fosfor, besi, vitaminB12), membutuhkan baik sel hitungan dan kimia (seringradiokimia) penentuan konstituen.
Aplikasi kedua adalah penghitungan sel dalam memperkirakandari tingkat augmentasi budaya, setara denganlaju peningkatan populasi; sering ini diungkapkansebagai tingkat pembelahan sel, karena fundamentalmeningkatkan proses adalah dengan pembagian satu individusel menjadi dua (kadang-kadang lebih) dengan cara biasa (lihatBab 18). 2.0. Menghitung oleh Light Menular Tujuan praktisnya adalah untuk menghitung semua sel di dikenal volume bahan berbudaya ketika mereka semua diselesaikan ke dalam satu pesawat, atau hampir satu pesawat, dalam kedalaman Fokus dari sistem tujuan-mata mikroskop.
Mungkin perlu untuk melumpuhkan atau noda sel untuk memfasilitasi pengamatan atau untuk mempertahankan mereka untuk menghitung pada lebih nyaman kemudian waktu.
Hal ini dapat diilustrasikan dengan metode yang sederhana dan waktu-dihormati, satu juga digunakan untuk pendahuluan survei sampel fitoplankton (Throndsen 1995, Andersen dan Throndsen 2003). Dari bahan berbudaya, tempat 0,05 mL (= 0,05 cm3 = 50 mm3) ke slide. (Catatan dari 0,05 mL = 1 / 20 mL, yang sekitar 1 drop dari pipet banyak atau droppers.) Tutup drop dengan coverslip 20 ¥ 20-mm-persegi (400 mm2 area); cair harus mengisi ruang di bawah yang coverslip tanpa overflow serius. Oleh karena itu, masing-masing 1 mm2 daerah coverslip memegang sel dari 1 / 400 ¥ 1 / 20 mL = 1 / 8, 000 mL = 1,25 mL ¥ 10-4 budaya. Jika sel n (rata-rata) dihitung dari 1 mm2 coverslip itu, maka budaya telah n ¥ 8.000 sel per mL.

Selain itu, kedalaman cairan (d) di bawah coverslip adalah 0,125 mm karena area (400 mm2) kali kedalaman (D) sama dengan total volume, 50 sel/mm3; yaitu, 50/400 = 0,125 mm = 125 mm. Catatan bahwa ini mendalam, 0,125 mm, dekat (0,1 mm). Untuk hemacytometers tepatnya 0,1 mm dalam, faktor dimana n (cells/mm2) dikalikan tepat 10.000 (104). Untuk hemacytometers 0,2 mm dalam, faktornya adalah setengah itu, 5000 (104 / 2), karena persegi 1-mm
sel yang dikumpulkan dari kolom air dua kali dalam (lihat detail Guillard 1973).
Daerah penelitian harus diidentifikasi di bidang melihat dan diukur dengan mikrometer panggung, sehingga bahwa jumlah sel per mm2 dapat dihitung untuk selanjutnya perhitungan jumlah sel per unit volume.
Meskipun ini mungkin, dengan beberapa kombinasi lensa mata dan obyektif, untuk menggunakan seluruh bidang mata pandang untuk menghitung-hitung, jauh lebih nyamandan biasa untuk membatasi daerah penelitian (Menghitung-hitung sel) ke tengah bidang pandang dengan Whipple disk, sebuah persegi dibagi dimasukkan ke dalam mata. Wilayahnya juga harus diukur dengan tahap mikrometer. Ini adalah teknik yang digunakan untuk semua menghitung ruang yang terkesan kurangnya peraturan pada permukaan observasi. Hemacytometers memiliki putusan dari ukuran dikenal terkesan pada area tampilan dan menentukan kedalaman ruang, sehingga konversi dari menghitung luas untuk konsentrasi volume dapat dengan mudah ibuat. Umum Metode Sampling
Di hampir semua studi budaya, sampling diselesaikan dengan
prosedural daripada pertimbangan statistik. Itu budaya harus baik dicampur (diberikan homogen untuk tingkat dianggap perlu) dan dikumpulkan dalam cukup pipet akurat atau pengukuran volumetrik perangkat. Sampling dan subsampling ketidakpastian adalah dari sangat penting dalam studi populasi alami organisme plankton (Venrick 1978a, 1978b), dan statistik penelitian telah banyak dan komputasi intens, tetapi dalam studi budaya hanya ada tiga utama kesempatan di mana masalah timbul.

Bab 17
Fitoplankton Cell
Menghitung oleh Arus
Cytometry

Dalam berbagai kesempatan, budaya dapat dengan mudah dipantau dan dihitung dengan mikroskop optik (lihat Bab 16). Namun, peneliti mengakui awal pada kebutuhan untuk mengotomatisasi penghitungan sel. otomatis menghitung sel biasanya lebih cepat daripada penghitungan mikroskop optik, dan meminimalkan kesalahan yang terkait dengan menghitung manusia. Karena banyak sel dapat dihitung, statistik signifikansi data yang jauh meningkat.
Selain itu, parameter selular lain juga dapat ditentukan, misalnya, volume atau isi sel DNA. Akhirnya, fitoplankton terkecil (picoplankton, <2 untuk 3 mm) tidak dapat dibedakan dari bakteri ketika diteliti dengan menggunakan mikroskop cahaya (misalnya, Prochlorococcus), tetapi mereka dapat dihitung dengan menggunakan teknik otomatis.
Namun, sel otomatis menghitung juga memiliki masalah dan keterbatasan. Instrumen relatif mahal, mulai dari US $ 20.000 untuk counter sederhana dan mencapai sampai dengan US $ 300.000 untuk aliran yang paling canggih cytometers. Beberapa cytometers aliran high-end dapat hanya bisa digunakan oleh personil yang sangat terlatih. Akhirnya, karena sel-sel diukur secara membabi buta, kontrol yang tepat adalah diperlukan untuk memastikan bahwa sinyal tidak diukur hasil dari partikel nontarget (detritus, kontaminan). Pada 1970-an, pengenalan Coulter Counter (Sekarang dipasarkan oleh Beckman Coulter) untuk fitoplankton menghitung (Sheldon dan Parsons 1967, Sheldon 1978) merupakan kemajuan besar pertama menuju otomatis fitoplankton menghitung. Partikel dalam larutan digambar melalui lubang kecil, memisahkan dua elektroda antara yang arus listrik.
Sebagai partikel masing-masing melewati lubang tersebut, yang dipindahkan sendiri volume melakukan cair, sebentar meningkatkan impedansi bukaan tersebut. Sinyal ini dikonversi menjadi sebuah pulsa tegangan. Dengan menghitung jumlah pulsa untuk diberikan volume melewati lubang, satu memperoleh perkiraan konsentrasi partikel. Itu volume bola sama dengan setiap sel juga dapat diperkirakan dari amplitudo nadi. Meskipun banyak digunakan untuk menghitung sel fitoplankton yang besar dalam budaya,
Counter Coulter memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, bahkan dengan kecepatan rana terkecil yang tersedia, maka teknis sangat menantang untuk menghitung sel kecil dari 1 sd 2 mm, membuat teknik ini tidak berlaku untuk picoplankton. Kedua, karena satu parameter sel (Volume sel) yang ditentukan, sulit untuk membedakan fitoplankton sel dari partikel lain seperti
seperti bakteri, detritus, dan bahkan gelembung udara atau untuk bekerja
dengan kultur campuran yang mengandung, misalnya, beberapa fitoplankton dengan ukuran yang tumpang tindih. Lain instrumen yang menggunakan sinar untuk mengukur partikel ukuran konter HIAC (Pasifik Ilmiah Instrumen). Hal ini kurang luas daripada Coulter Counter tetapi sangat baik disesuaikan dengan pemantauan terus menerus budaya (Malara dan Sciandra 1991, Sciandra et al. 2000). Karena satu parameter diukur, itu menderita dari jenis yang sama pembatasan sebagai Coulter Counter.

Bab 18
Mengukur Pertumbuhan
Harga di Mikroalga
Budaya

Dasar Pendataan Setiap perkiraan tingkat pertumbuhan memerlukan deret waktu pengukuran yang memungkinkan perkiraan tingkat perubahan biomassa. Jika tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan tingkat pertumbuhan populasi, maka jumlah sel harus dihitung menggunakan salah satu metode yang dijelaskan di sebelumnya ab. Atau, parameter lain dapat diukur sebagai proxy untuk jumlah sel jika dapat dibuktikan linier dengan jumlah sel. Khas tindakan proxy berada di fluoresensi vivo, biomassa (seperti berat kering, partikulat bahan organik), dan densitas optik. Itu konsentrasi klorofil, protein, karbohidrat,
dan lemak dalam budaya juga digunakan sebagai tindakan proxy, tapi hanya jika mereka dapat terbukti linier dengan baik jumlah sel (untuk perhitungan populasi
tingkat pertumbuhan) atau biomassa (untuk perhitungan tingkat pertumbuhan, dalam arti sederhana pertambahan bahan).
Untuk menggunakan mengukur proxy adalah penting untuk mengetahui kondisi pertumbuhan dimana proxy dan mengukur jumlah sel atau biomassa linier dan konsentrasi rentang di mana ini dapat terdeteksi. Bagi banyak parameter (misalnya, pigmen per sel, protein per sel, karbon per sel), ada periode aklimatisasi ke kondisi pertumbuhan baru, di mana hubungan antara nilai per-sel parameter dan sel jumlah cukup bervariasi. Periode ini bisa berlangsung selama 20 atau generasi lebih (Merek 1981, Kana dan Glibert 1987). Secara umum, parameter seperti fluoresensi klorofil, partikulat karbon organik (POC), partikulat organik nitrogen (PON), protein, atau karbohidrat tidak dapat digunakan untuk mengikuti perubahan ukuran populasi sampai fisiologis steady state tercapai. Beberapa komponen, terutama lemak atau konten karbohidrat, terus meningkat setelah memasuki fase budaya diam dan mungkin akan sangat menyesatkan bila digunakan incautiously (Fisher dan Schwarzenbach 1978; Shifrin dan Chisholm
1981; Reitan et al. 1994; Zhekisheva et al. 2002).

Bab 19
Menggunakan Budaya untuk
Menyelidiki
yang Fisiologis
Ekologi
Mikroalga

Cyanobacteria dan eukariotik keturunan mereka, ganggang bersel satu (yang kita lihat bersama sebagai mikroalga), memainkan peran penting dalam ekologi planet, yang bertanggung jawab untuk sekitar 45% dari global produktivitas (Field et al 1998). dan mendukung jaring makanan di perairan dari kolam ke lautan. Namun, mencoba untuk mengukur kontribusi mereka terhadap ekologi dinamika dan siklus biogeochemical tetap menakutkan proses karena berbagai alasan. Berdiri tanaman dari mikroalga (dinyatakan sebagai konsentrasi
pigmen klorofil sebuah [Chla] per satuan volume) bervariasi atas lebih dari enam perintah besarnya (Gbr. 19,1). Teknik budidaya alga 287 Ketidakpastian dalam mendefinisikan peran ekologi melampaui menemukan parameter yang nyaman bagimenggambarkan biomassa.
Mikroalga biomas khusus fisiologis tanggapan juga bervariasi dengan perubahan di lingkungan karakteristik seperti radiasi, suhu, dan ketersediaan hara (Gambar 19.3). Meskipun mendefinisikan biomassa mikroalga dalam tubuh air sulit, memprediksi tingkat mereka biomas-spesifik fotosintesis, yang merupakan deskripsi yang sangat diinginkan dari kontribusi mereka dengan siklus karbon global, bahkan lebih. Pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan, komposisi kimia, dan fisiologis tanggapan dari mikroalga, meskipun kompleks dan timedependent, ditentukan semata-mata oleh biokimia proses di bawah kendali genetik.
Peran fisiologi Mikroalga adalah untuk menjelaskan pengaruh-pengaruh dan menentukan peran lingkungan dalam mengatur organisme ‘pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Namun, tidak ada parameterisasi tetap sebab dan efek yang berlaku di semua kelompok: Ada taksonomi perbedaan dalam struktur dan integrasi seperti komponen sebagai pigmen fotosintesis, elektron pembawa, dan enzim. Sedangkan mikroalga sebagai group bervariasi dalam hal komposisi biokimia mereka dan tanggapan fisiologis, variabilitas adalah memerintahkan, mencerminkan reaksi ditentukan secara genetis karakteristik lingkungan di mana mereka tumbuh. Sebagai contoh, mikroalga sangat berbeda dalam ukuran dan bentuk, dan dalam taksa yang beragam, mereka pigmentasi dan tanggapan fotosintesis akan untuk beberapa hal skala menurut undang-undang allometris (Finkel dan Irwin 2000, Finkel 2001, Raven dan Kübler 2002). Percobaan dengan kultur dan akan tetap menjadi pusat untuk pemahaman kita tentang tanggapan Mikroalga untuk lingkungan variabilitas. Kami jelaskan di sini jenis tanggapan yang dapat dipelajari, sistem untuk menggunakan, dan beberapa isu yang harus diatasi untuk menghubungkan Hasil dari percobaan laboratorium untuk pertumbuhan mikroalga luas.
Banyak informasi yang bersifat umum di alam dan dimaksudkan untuk menggambarkan prinsip-prinsip bukan spesifik dari budidaya. Sebagai contoh, kita tidak memberikan petunjuk rinci langkah-demi-langkah untuk penggunaan teknik seperti spektrometri fluoresensi atau dan tak terhitung kemungkinan untuk eksperimental desain. Kami merujuk Anda ke bagian lain dari buku ini untuk informasi rinci tentang persiapan media (Bab 2-5), pemeliharaan budaya (Bab 10),
dan penghitungan sel dan penentuan pertumbuhan rate (Bab 16-18).

Bab 20
Analisis ganggang
Pigmen oleh High-
Kinerja Cair
Kromatografi

Pigmen senyawa (misalnya, Chls b dan c, karoten, dan phycobiliproteins) juga memainkan peran penting baik dalam fotosintesis, dengan memperluas koleksi optik organisme jendela, atau di photoprotection, dengan mencegah selular irradiances kerusakan padap ertumbuhan yang tinggi. Penting produk degradasi klorofil juga ditemukan di air lingkungan, termasuk chlorophyllides, phaeophorbides, phaeophytins, dan steryl chlorin ester. The optik sifat unik dari sebuah Chl telah digunakan untuk mengembangkan spektrofotometri Jeffrey dan Humphrey 1975) dan fluorometric (Holm-Hansen et al. 1965) pengukuran teknik. Dengan omersial ketersediaan fluorometers untuk pengukuran rutin dari sebuah Chl, pigmen ini telah menjadi universal parameter untuk estimasi biomassa fitoplankton dan produktivitas.
Metode ini memiliki potensi optik secara signifikan meremehkan atau melebih-lebihkan sebuah Chl Konsentrasi, karena tumpang tindih penyerapan dan fluoresensi band co-terjadi b Chls dan c, produk degradasi klorofil, dan aksesori pigmen (Pohon et al 1985,. Smith et al. 1987, Hoepffner dan Sathyendranath 1992, Bianchi et al. 1995, Tester et al. 1995). Spektrofotometri dan fluorometric namun metode yang umum digunakan untuk banyak analisis aplikasi karena murah, sederhana, dan cepat. Kinerja tinggi kromatografi cair (HPLC) telah memungkinkan untuk secara bersamaan menentukan konsentrasi berbagai karotenoid dan klorofil dan produk degradasi mereka. Akibatnya, HPLC telah memberikan peneliti dengan kuat alat untuk mempelajari proses yang pigmen fitoplankton kolam.
HPLC analisis pigmen dapat digunakan untuk membantu dalam penentuan fitoplankton tingkat pertumbuhan (lihat Bab 18), penggembalaan zooplankton aktivitas, dan proses fisiologis fitoplankton (Lihat Bab 19). Ada atau tidak adanya individu pigmen membantu membedakan grup alga utama di perairan alami. Pigmen yang unik untuk satu alga kelas atau yang hadir hanya dua atau tiga kelas (Jeffrey dan Vesk 1997) dapat digunakan untuk penilaian kuantitatif komposisi komunitas fitoplankton. Banyak teknik HPLC telah dipublikasikan ke tanggal, dan memutuskan metode pilihan dapat besar. Tidak ada metode tunggal HPLC cocok untuk semua aplikasi, dan metode masing-masing memiliki keunggulan tersendiri dan keterbatasan. Metode HPLC sembilan belas dipublikasikan antara 1983 dan 1998 ditinjau Jeffrey et al. (1999), sedangkan metode lain (Zapata et al. 2000, Van Heukelem dan Thomas 2001) telah sejak diterbitkan. Sebelum mencoba untuk memilih metode, analis harus mengidentifikasi pigmen sasaran untuk memilih teknik yang memberikan pemisahan terbaik. Karena banyak faktor yang mempengaruhi sensitivitas metode ini, jaminan harus dilakukan bahwa metode untuk pengumpulan sampel, ekstraksi, dan HPLC analisis dalam kombinasi hasil yang memadai deteksi untuk pigmen hadir pada konsentrasi rendah. Bab ini berisi informasi metodologis diterbitkan dalam sebuah memorandum NASA teknis, Samudera Pengesahan Protokol optik satelit Samudra Sensor Warna (Bidigare et al 2003).,
Yang menggambarkan Global Bersama Ocean Flux Study (JGOFS) berbasis protokol HPLC (UNESCO 1994). Protokol ini berasal dari reverse-fase C18 metode KCKT Wright et al. (1991) yang direkomendasikan oleh Komite Keilmuan pada Penelitian Oseanografi (SCOR) untuk analisis pigmen fitoplankton. Meskipun ini Metode diakui karena kemampuannya untuk menyelesaikan chemotaxonomically pigmen penting, itu dibatasi oleh ketidakmampuan untuk memisahkan normal (monovinyl) klorofil a (MV Chl a) dari divinyl klorofil a (DV Chl a), unsur utama dari total Chl
(TChl seorang, yang didefinisikan sebagai MV Chl a + DV Chl a + chlorophyllide a).
Karena sebuah TChl merupakan pengukuran yang paling penting dalam aplikasi pigmen HPLC banyak hal, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi yang unik kuantifikasi akurat. Divinyl Chl, maka besar fotosintesis pigmen yang ditemukan Prochlorococcus, rekening selama 10 sampai 60% dari TChl di subtropis dan tropis kelautan perairan (Goericke dan Repeta 1993, Letelier et al. 1993, Andersen et al. 1996, Bidigare dan Ondrusek 1996, Gibb et al. 2000). Penggunaan metode HPLC yang tidak terpisah DV chromatographically Chl dan MV Chl dapat mengakibatkan harga yg terlalu tinggi 15-25% dari TChl
konsentrasi (Latasa et al 1996).. Total Chl dapat diukur dengan HPLC dalam beberapa cara. MV Chl dan DV Chl dapat dipisahkan C8 berbasis teknik HPLC. Pemisahan kromatografi dari MV Chl dan DV Chl adalah biasanya miskin untuk C18-berdasarkan metode HPLC. Pada yang terakhir, yang HPLC detektor dapat diatur untuk mengumpulkan data pada dua panjang gelombang yang berbeda (436 dan 450 nm) dan persamaan dwiwarna dapat digunakan untuk menyelesaikan MV Chl spektral dan DV Chl a (Latasa et al. 1996). Atau, TChl dapat secara akurat diukur, bahkan jika DV Chl dan MV Chl sebuah adalah
baik sekarang dan tidak chromatographically dipisahkan, dengan mengoptimalkan parameter detektor seperti yang kedua klorofil menunjukkan respons detektor yang sama (Van Heukelem et al. 2002). Pendekatan sederhana ini berguna jika proporsi relatif dari setiap jenis klorofil adalah penting untuk tujuan analisis.

Bab 21
Endogen Rhythms
dan Daylength
Efek di
Macroalgal
Pengembangan

Pigmen senyawa (misalnya, Chls b dan c, karoten, dan phycobiliproteins) juga memainkan peran penting baik dalam fotosintesis, dengan memperluas koleksi optik organisme jendela, atau di photoprotection, dengan mencegah selular irradiances kerusakan pada pertumbuhan yang tinggi. Penting produk degradasi klorofil juga ditemukan di air lingkungan, termasuk chlorophyllides, phaeophorbides, phaeophytins, dan steryl chlorin ester. The optik sifat unik dari sebuah Chl telah digunakan untuk mengembangkan spektrofotometri (Jeffrey dan Humphrey 1975) dan fluorometric (Holm-Hansen et al. 1965) pengukuran teknik. Dengan komersial ketersediaan fluorometers untuk pengukuran rutin
dari sebuah Chl, pigmen ini telah menjadi universal parameter untuk estimasi biomassa fitoplankton dan produktivitas.
Metode ini memiliki potensi optik secara signifikan meremehkan atau melebih-lebihkan sebuah Chl Konsentrasi, karena tumpang tindih penyerapan dan fluoresensi band co-terjadi b Chls dan c, produk degradasi klorofil, dan aksesori pigmen (Pohon et al 1985,. Smith et al. 1987, Hoepffner dan Sathyendranath 1992, Bianchi et al. 1995, Tester et al. 1995). Spektrofotometri dan fluorometric namun metode yang umum digunakan untuk banyak analisis aplikasi karena murah, sederhana, dan cepat. Kinerja tinggi kromatografi cair (HPLC) telah memungkinkan untuk secara bersamaan menentukan konsentrasi berbagai karotenoid dan klorofil dan produk degradasi mereka.
Akibatnya, HPLC telah memberikan peneliti dengan kuat alat untuk mempelajari proses yang mempengaruhi pigmen fitoplankton kolam. HPLC analisis pigmen dapat digunakan untuk membantu dalam penentuan fitoplankton tingkat pertumbuhan (lihat Bab 18), penggembalaan zooplankton aktivitas, dan proses fisiologis fitoplankton (Lihat Bab 19). Ada atau tidak adanya individu pigmen membantu membedakan grup alga utama di perairan alami. Pigmen yang unik untuk satu alga kelas atau yang hadir hanya dua atau tiga kelas Jeffrey dan Vesk 1997) dapat digunakan untuk penilaian kuantitatif komposisi komunitas fitoplankton. Banyak teknik HPLC telah dipublikasikan ke tanggal, dan memutuskan metode pilihan dapat besar. Tidak ada metode tunggal HPLC cocok untuk semua aplikasi, dan metode masing-masing memiliki keunggulan tersendiri dan keterbatasan. Metode HPLC sembilan belas dipublikasikan antara 1983 dan 1998 ditinjau Jeffrey et al. (1999), sedangkan metode lain (Zapata et al. 2000, Van Heukelem dan Thomas 2001) telah sejak diterbitkan.
Total Chl dapat diukur dengan HPLC dalam beberapa cara. MV Chl dan DV Chl dapat dipisahkan chromatographically dan individual dihitung dengan C8 berbasis teknik HPLC. Pemisahan kromatografi dari MV Chl dan DV Chl adalah biasanya miskin untuk C18-berdasarkan metode HPLC. Pada yang terakhir, yang HPLC detektor dapat diatur untuk mengumpulkan data pada dua panjang gelombang yang berbeda (436 dan 450 nm) dan persamaan dwiwarna dapat digunakan untuk menyelesaikan MV Chl spektral dan DV Chl a (Latasa et al. 1996). Atau, TChl dapat secara akurat diukur, bahkan jika DV Chl dan MV Chl sebuah adalahbaik sekarang dan tidak chromatographically dipisahkan, dengan mengoptimalkan parameter detektor seperti yang kedua klorofil menunjukkan respons detektor yang sama (Van Heukelem et al. 2002). Pendekatan sederhana ini berguna jika proporsi relatif dari setiap jenis klorofil adalah penting untuk tujuan analisis.
Fotosintesis sirkadian Rhythmsritme sirkadian fotosintesis dalam alga adalahterutama terdeteksi pada irradiances lebih tinggi. Hal ini kontras
dengan pengalaman umum bahwa banyak sirkadianritme pada hewan dan tumbuhan cenderung menghilang dicahaya terang dan berubah menjadi kegiatan yang berkesinambungan arrhythmic(Aschoff 1981). Rhythms kapasitas fotosintetikditemukan, misalnya, dalam cahaya putih di uniseluleralga seperti polyedrum Lingulodinium (Stein) Dodge(Sebelumnya disebut Stein polyedra Gonyaulax) (Hastingset al. 1961) atau sp Euglena viridis. (Walther dan Edmunds 1973)atau di lampu merah dalam alga coklat Ectocarpus berserabutsp. (Schmid et al. 1992). Contoh yang lebih baru adalahtropis macroalga merah Kappaphycus carrageenophyticalvarezii, dengan ritme sirkadian dari fotosintesisoksigen produksi dalam cahaya kontinyu putih (LL)seluruh rentang 100 sampai 1.000 foton mmol •m-2 • s-1, tetapi tidak pada 40 mmol foton • m-2 • s-1 (Granbomet al. 2001).2.2.1.

Bab 22
Viral Kontaminasi
Budaya ganggang

Selama bertahun-tahun, para peneliti telah menyadari adanya virus dalam alga. Dalam kebanyakan kasus ini berasal dari pengamatan partikel viruslike
(VLPs) ketika sel-sel atau jaringan yang diperiksa oleh elektron mikroskop (misalnya, Lee 1971, Dalam review komprehensif tentang virus dari ganggang, Van Etten et al. (1991) melaporkan bahwa virus atau VLPs dari setidaknya 44 taksa alga eukariotik telah dilaporkan. Karena ini laporan, jumlah taksa telah berkembang cukup. Sebagai kesadaran terjadinya virus dalam prokariotik Teknik budidaya alga 365 Bab ini memberikan phycologists dengan beberapa alat
untuk menilai budaya alga untuk infeksi virus; itu menguraikan kekuatan dan kelemahan dari beberapa pendekatan dan persediaan metode yang disederhanakan diadaptasi dari mereka dikembangkan dan digunakan oleh virologists alga.
Ada yang lain ulasan metode untuk pencacahan an mendeteksi virus dalam budaya dan sampel lingkungan (misalnya, Suttle 1993), tetapi tak ada satupun yang secara khusus difokuskan pada virus menginfeksi ganggang. Metode yang dijelaskan dalam bab tidak menggantikan mereka yang sudah tersedia untuk belajar virus tetapi dimaksudkan untuk memperkenalkan phycologists terhadap peralatan yang diperlukan untuk melakukan diagnosis sederhana. Bab ini pertama memberikan ikhtisar tentang virus biologi dan sejarah singkat dari penelitian virus alga. pemeriksaan menyeluruh Lebih virus alga yang tersedia di tempat lain, seperti tinjauan ekstensif oleh Van Etten et al. (1991, 2002) dan Suttle (2000a, 2000b).
Sebagai bidang virologi alga masih dalam tahap awal, akan ada diragukan lagi akan perkembangan lebih lanjut dan penemuan terkemuka untuk lebih memahami hubungan antara ganggang dan mereka virus yang menginfeksi. Saya harap bab ini akan melayani untuk menerangi mereka yang ingin tahu tentang
hubungan ini menarik dan menyediakan mereka dengan alat untuk mengambil bagian dalam penemuan-penemuan. Biologi Umum Virus Virus merupakan entitas ultramicroscopic mengukur hanya 20 sampai 400 nm. Mereka terdiri dari inti asam nukleat dikelilingi oleh mantel protein (kapsid) dan kadang-kadang lipid luar amplop. partikel virus dapat Individu ikosahedral (poligonal), helical, atau kompleks dalam struktur, dan hanya berisi satu jenis asam nukleat, RNA baik atau DNA, dalam beruntai tunggal (ss) atau double-stranded (ds) formulir. Seperti virus tidak dapat mereproduksi secara independen dari sel inang, mereka dianggap obligat intraselular parasit dan, dengan demikian, yang diturunkan ke mereka sendiri taksonomi kelompok. Sistem klasifikasi Komite Internasional Taksonomi Virus (ICTV) digunakan untuk menentukan keluarga virus, dan merupakan sebagian besar didasarkan pada jenis asam nukleat dan kehadiran atau tidak adanya amplop. berdasarkan klasifikasi lebih lanjut pada simetri kapsid, host, patologi dari penyakit, situs replikasi virus, dan properti lainnya.
Alga virus Istilah ini sering digunakan untuk kelompok bersama virus yang menginfeksi semua jenis alga.
Ada dua utama virus jenis alga: cyanophage dan alga eukariotik virus. Cyanophage adalah virus yang menginfeksi ganggang prokariotik, atau cyanobacteria. Mereka dibagi di antara tiga keluarga fag ekor: Myoviridae, yang memiliki ekor kontraktil yang terpisah dari yang kapsid oleh leher; Podoviridae, yang pendek, noncontractile ekor, dan Siphoviridae, yang sudah lama, noncontractile ekor. Semua fag dalam keluarga mengandung dsDNA dan bakteri menginfeksi dan archaea (Ackermann dan DuBow 1987, Murphy et al. 1995). Tidak seperti cyanophage, ada saat ini hanya satu keluarga alga eukariotik virus, yang Phycodnaviridae, yang Saat ini dibagi menjadi empat genera-Chlorovirus, Prasinovirus, Prymnesiovirus, dan Phaeovirus-menurut untuk ganggang yang mereka menginfeksi.
Para anggota keluarga ini berekor dan berisi dsDNA. Ada, bagaimanapun, jumlah virus yang menginfeksi alga eukariotik yang
tidak cocok ke dalam marga atau keluarga Phycodnaviridae, seperti sebuah virus yang menginfeksi eterosigma ssRNA akashiwo (Tai et al 2003)., Sebuah virus yang menginfeksi Micromona dsRNA pusilla (Brussaard et al 2004)., sebuah virus yang menginfeksi ssRNA Rhizosolenia setigera Brightwell (Nagasaki et al. 2004) dan novel virus sistem yang menghasilkan dua virus yang berbeda
partikel di akashiwo Heterosigma (Lawrence dan Suttle, tidak diterbitkan).
Kehidupan strategi-dasar dari virus adalah sebagai wajib parasit intraseluler. Tiga komponen utama strategi ini adalah untuk menemukan host yang cocok (adsorpsi, penetrasi, dan uncoating), untuk memanfaatkan inang reproduksi mesin untuk berkembang biak reproduksi (transkripsi, terjemahan, dan replikasi), dan untuk pelet itu host untuk melepaskan progeni kembali ke lingkungan (Perakitan dan rilis).
Perairan virus ganggang cenderung ditransmisikan antara host oleh difusi pasif, meskipun vektor lainnya, seperti invertebrata, belum belum diperiksa. Kemungkinan kontak antara menilai, secara langsung proporsional terhadap produk dari virus dan host kelimpahan (Murray dan Jackson 1992). Adsorpsi virus untuk tuan rumah hanya akan kemudian terjadi jika ada kontak antara struktur molekul pada keduanya. protein individu atau sekelompok protein dapat bertindak sebagai pengakuan struktur pada virus. Struktur adsorpsi
mungkin protein, karbohidrat, atau glycolipid, dan sering memiliki fungsi lain yang dikenal dalam host-selular metab 366 Viral Kontaminasi ganggang Budaya
Viral Kontaminasi ganggang Budaya 367 olism. Sebagai contoh, T5 menggunakan siderophore untuk menjadi tuan rumah, virus vaccinia menggunakan pertumbuhan epidermis faktor reseptor, dan virus rabies menggunakan sebuah asetilkolin reseptor. Meskipun struktur tama tersebut sering disebut sebagai reseptor virus, ini mungkin menyesatkan, sebagai Fungsi utama dari komponen ini bukan untuk virus lampiran. Ada kebutuhan energi tidak untuk lampiran, tapi mungkin dsorpsi pH-dependent atau memerlukan kofaktor tambahan. Sebagai contoh, Ca2 + dan + Mg2 sering dibutuhkan dalam konsentrasi millimolar untuk adsorpsi cyanophage (Ackerman dan
DuBow 1987). Proses adsorpsi terjadi dengan cepat relatif terhadap tingkat tabrakan. Sekali virus telah terpasang ke host, DNA virus memasuki tuan rumah baik dengan permukaan fusi dan injeksi atau endositosis.

Bab 23
Kontrol
Reproduksi Seksual
di dalam Budaya Algae

Kemampuan untuk memanipulasi reproduksi seksual pada alga budaya yang berharga tidak hanya untuk menerangi siklus hidup, tetapi juga untuk memeriksa keterkaitan dari isolat, untuk emanipulasi mereka genom, dan untuk mengevaluasi fisiologi dan genetika dari proses itu sendiri. Namun, hanya beberapa jenis alga memiliki kondisi perkawinan telah ditetapkan cukup untuk
menghasilkan zigot dengan percaya diri di setiap usaha. Reproduksi seksual jelas memerlukan membuka baru set jalur perkembangan pada siklus hidup dan sering membutuhkan pengaruh simultan dari yang kompatibel kawin strain dari tahap awal, tetapi di samping itu, banyak “lingkungan” faktor yang mempengaruhi keberhasilan.
Ini termasuk faktor fisik seperti suhu, kimia faktor-faktor seperti komposisi medium, dan bahkan seperti biasa faktor biologis sebagai syarat untuk kehadiran sebuah Simbion. Secara umum, kondisi untuk sukses gametogenesis yang sempit daripada mengizinkan pertumbuhan vegetatif. Kami telah mencoba untuk memasukkan di sini semua berhubungan pungutan tambahan dari literatur, termasuk pengamatan yang mungkin terlihat cukup organisme spesifik tapi tetap sugestif dari fenomena yang terjadi di alam. Satu-satunya ganggang kelompok yang kita sengaja menghilangkan pengamatan adalah dinoflagellates, yang seksualitas diperlakukan di Bab 24. Siklus seksual di euglenophytes dan cryptophytes belum ditunjukkan dengan jelas. 1.2. Dasar Seksualitas di Eukariota Di sini, reproduksi seksual mengacu pada penemuan unik dari eukariota di mana dua khusus dibedakan

Bab 23
Kontrol
Reproduksi Seksual
di dalam Budaya Algae

Sel haploid (gamet) sekering, sekering inti mereka, dan baik cepat atau lambat, peristiwa kompleks meiosis menghasilkan haploid progeni yang mengandung kromosom reassorted set. Ganggang ini adalah luar biasa untuk kemampuan mereka untuk menghindari proses dengan menggunakan pembelahan sel mitosis untuk lama periode, dan ini bisa menjadi karakteristik baik
generasi haploid, diploid generasi, atau keduanya. Dengan demikian, manipulasi reproduksi seksual memerlukan Metode kedua untuk mendapatkan gamet aktif dan untuk mendorong generasi diploid untuk menjalani meiosis. Banyak baik umum tinjauan seksualitas dalam alga (Dring 1974, Gantt 1980) disebutkan dalam program ini bab.
Mereka sering memasukkan deskripsi dari pengamatan dari alam, bukan manipulasi budaya di laboratorium, informasi nilai potensial. 1.3. Definisi Istilah: Isogamy vs Oogami Sebuah istilah teknis banyak besar telah dilahirkan oleh studi tentang reproduksi seksual, sebagian dipengaruhi oleh kesejajaran dengan biologi tanaman darat dan lain dengan kesejajaran bersama protozoa. Sebagian besar diabaikan di sini, tetapi dapat diperiksa di Coleman (1979). Untuk keahlian khusus istilah dalam diatom, lihat Geitler (1932) dan von Stosch
(1950), serta penelaahan terhadap seksualitas diatom oleh Drebes (1977). Istilah yang kita gunakan, isogamy mengacu kesamaan morfologi dari dua gamet yang sekering, mengabaikan perbedaan fisiologis yang mungkin hadir tapi tanpa diketahui. Oogami, sebaliknya, tradisional menggambarkan situasi di mana suatu besar sel telur immotile dibuahi oleh sebuah mobil dan banyak sel sperma lebih kecil. Di antara semuanya terletak derajat Anisogami, di mana kedua gamet flagellated tetapi berbeda dalam ukuran (setidaknya pada rata-rata)

Bab 24
Mikroalga Life
Siklus: Encystment
dan Excystment

Mikroalga paling sering mereproduksi vegetatif atau aseksual (pembelahan sel vegetatif atau reproduksi vegetatif). Satu sel membentuk dua putri identik vegetatif sel, dua sel bentuk empat sel, dan seterusnya, terkemuka untuk pertumbuhan dan proliferasi khas dari Mikroalga populasi. Banyak mikroalga juga dapat mereproduksi seksual, yang memungkinkan pertukaran genetik dan menjaga variasi genetik dalam populasi. Reproduksi seksual melibatkan beberapa tahap kehidupan yang berbeda yang membentuk siklus seksual hidup atau sejarah kehidupan. Hal ini dapat meningkatkan Oleh karena itu kelangsungan hidup dan keberhasilan evolusi dari spesies (Maynard Smith 1976). Istirahat tahap apat terbentuk oleh sel vegetatif atau sebagai bagian dari siklus kehidupan seksual. Mereka datang dalam varietas bentuk, dengan derajat resistensi yang berbeda lingkungan, Aktivitas metabolik, dan karakteristik genetik, tergantung pada kelas Mikroalga dan apakah mereka diproduksi secara seksual atau vegetatif.
The cyst Istilah telah digunakan untuk menggambarkan beberapa beristirahat Mikroalga tahap dengan lapisan luar tahan lingkungan.
Tahap istirahat, termasuk kista, sangat penting untuk ketekunan dan kelangsungan hidup, dalam beberapa kasus dari waktu ke waktu lama periode (tahun) dan dalam kondisi lingkungan ekstrem (Fryxell 1983), dan mereka dapat signifikan transportasi vektor dalam dan di antara geografis

Bab 25
Budaya sebagai Alat
dari Melindungi
Biologis

Pengalaman Jepang Badan Lingkungan Jepang diterbitkan Terancam
Satwa Liar Jepang-Red Data Book, edisi kedua, volume 9, pada tahun 2000. Volume ini adalah ertama Red List nonvascular tanaman (lumut, jamur, alga, dan lumut lichen) disusun menurut IUCN Red List Kategori dan Kriteria (1994), tetapi sering didasarkan pada tidak mencukupi informasi dan data. Red Daftar ganggang di Jepang mencakup 5 spesies punah, 1 jenis punah di alam liar, 35 kritis spesies terancam atau hampir punah, 6 rentan spesies, dan 24 spesies hampir terancam (Tabel 25,2). Beberapa jenis Jepang terancam punah dan terancam alga juga terjadi pada Red Daftar untuk Jerman. 2.1. Menentukan Kategori dari Ancaman
Empat marga dan tujuh puluh empat spesies dan varietas Charales telah dilaporkan dari danau-danau, waduk, dan tambak di Jepang (Hirose dan Yamagishi 1977). Dari jumlah tersebut, 35 taksa endemik ke Jepang. Namun, survei terbaru adalah kurang, dan sedikit informasi yang ersedia di sebagian besar danau sebelumnya diduduki, waduk, dan kolam.
Untuk ganggang air tawar lainnya, ganggang yang ditargetkan taksa dipilih dalam cara yang sama. Hal ini biasanya sulit untuk survei semua habitat dari Charales dalam waktu singkat karena mereka hidup di berbagai habitat di danau, waduk, dan kolam. Oleh karena itu, pertama-tama perlu untuk memilih yang sesuai habitat untuk survei untuk spesies dengan risiko tinggi kepunahan. Kasaki (1964) mengamati distribusi Charales di 46 danau di Jepang dan ditemukan 31 taksa. Sejak 1995, eksplorasi lapangan telah dilaksanakan untuk 46 Charales di danau (Watanabe et al 2005)..
Tinggi tanaman telah diteliti, sehingga terjadinya dan kelimpahan pada grid geografis sering tersedia. Namun, tidak ada penelitian kuantitatif distribusi Charales dan ganggang air tawar lainnya; hanya nama danau dan sungai yang ganggang dikumpulkan diketahui. Oleh karena itu, kategori terancam ditentukan dengan menghitung rasio menggunakan 422 EX SITU Konservasi Spesies jumlah danau atau sungai di mana alga bertahan dan mereka di mana mereka sebelumnya selamat.

Practical Genetics for Aquaculture

BAB 1
Praktis Genetika Perikanan Budidaya

Ikhtisar

Meskipun budidaya dipraktekkan secara global, berbagai tingkat teknologi yang luar biasa dapat ditemukan di seluruh spesies, daerah, negara dan operasi pertanian. Tingkat kapitalisasi dan akses ke bantuan teknis dan informasi yang berbeda, dan terbaik. Banyak peneliti dan perusahaan swasta mengejar potensi keuntungan genetika molekuler dan pendekatan yang sangat teknis lainnya untuk perbaikan spesies akuakultur, sebagian besar produsen akuakultur di seluruh dunia memiliki sedikit akses atau kepentingan dalam pendekatan.
Kebanyakan petani ikan, moluska dan krustasea mewakili dalam tidak terseleksi, saham semi-alami dan populasi terisolasi yang menderita akibat keturunannya, tidak langsungnya seleksi dan inferioritas umum secara potensial tersedia dalam bentuk alternatif. Kemajuan nyata dapat dicapai, sementara ini dalam masa berkembang ini lebih dari diterapkannya metode praktis dalam perbaikan genetik. Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa aplikasi praktis hewan tradisional dan metodologi pemuliaan tanaman dapat menghasilkan keuntungan besar dalam produktivitas dalam banyak spesies akuatik. Spesies tersebut sering menguntungkan, sehingga dapat diperoleh melalui teknik manipulasi kromosom tetapi seluruhnya tidak tersedia untuk peternak tradisional.
Havenstein et al. (1994) menyajikan data menarik dan menyarankan bahwa hampir semua peningkatan hingga 300-400% pada tingkat pertumbuhan ayam modern selama empat dekade terakhir dapat dikaitkan dengan pemilihan respon. Sejauh mana keuntungan ini telah menemukan cara mereka untuk produsen dan konsumen di daerah yang kurang maju di dunia secara variabel. Sebaliknya, hampir setiap industri akuakultur di berbagai wilayah di dunia, termasuk artisan skala kecil banyak beroperasi, sehingga dapat menghasilkan keuntungan positif dalam meningkatkan produktivitas yang relatif kecil dalam jangka waktu, melalui prinsip-prinsip seleksi aplikasi sederhana dan pemuliaan.

BAB 2
Aksi gen I ( Sifat Kualitatif )

PENDAHULUAN

Sifat kualitatif karakteristik yang dapat didefinisikan secara sederhana, dalam kategori berkelanjutan. Contohnya termasuk variasi warna yang berbeda, variasi dalam ukuran dan bentuk sirip, karakteristik atau pola skala warna daging yang berbeda. Karena karakter ini biasanya dikontrol oleh satu atau dua lokus, mereka meminjamkan diri mudah sebagai ilustrasi dari prinsip-prinsip dasar pewarisan serta hubungan antara genotipe dan fenotipe.

TEORI

Kromosom, lokus, dan alel adalah sebagian besar organisme yang menyangkut produsen atau peneliti akuakultur, kromosom terjadi di setiap saat dan secara bersamaan berpasangan. Sebuah organisme yang khas memiliki dua set lengkap kromosom lokus dalam inti setiap sel di dalam tubuhnya (kecuali dalam gamet-daerah penghasil dari indung telur dan testis, seperti akan menjadi jelas di bawah). Kondisi ini disebut sebagai 2N atau diploid. Satu set kromosom adalah hasil gamet berasal dari induk. Kecuali kromosom seks struktural-berbeda, seperti X atau Y kromosom dalam spesies tertentu, kedua set lokus dianggap homolog, masing-masing dengan kode genetik yang relatif berbeda tetapi sama dalam ukuran dan bentuk kromosom. Dengan demikian, jumlah pasangan kromosom adalah sama tetapi jumlah jenis kromosom yang berbeda.
Kromosom sendiri terdiri dari asosiasi molekul kompleks tetapi panjang rantai pasangan basa didukung oleh gula dan fosfor. Akibatnya molekul panjang. Jenis molekul tertentu adalah tentu saja yang dikenal sebagai DNA yang pendek untuk deoxyribonucleic acid. Dalam molekul DNA pasangan dasar bentuk rantai berpasangan yang dikenal sebagai heliks ganda. Helix ganda DNA pada gilirannya dapat memutar dirinya sendiri untuk menempati daerah relatif kecil. Untuk tujuan praktis kita tidak memerlukan secara rinci tentang struktur DNA selain untuk fokus pada urutan pasangan basa linier dan hubungannya dengan ekspresi fenotipe dalam organisme akuatik yang ingin kita budaya atau ditingkatkan.
Hanya empat senyawa yang ditemukan dalam rangkaian pasangan basa di jantung heliks ganda DNA: adenin, sitosin, guanin, dan timin. Ketika peneliti mencoba untuk memastikan agar mereka dalam kromosom tertentu atau bagian dari kromosom.Senyawa yang ditemukan dalam rangkaian basa disebut hanya sebagai A, C, G dan T. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya basa-basa dipasangkan, pada dasarnya masing-masing dari pasangan basa dapat dipasangkan dengan satu dengan lainnya. Hasilnya adalah A-T pasangan atau pasangan G-C, dan oleh karena itu salah satu untaian dari helix ganda dapat diinterpretasikan (atau dibangun) berdasarkan urutan basis yang ditemukan di sebuah untaian komplementer.
Ketika kromosom direplikasi dalam pembelahan sel normal, enzim dikenal sebagai DNA polimerase memisahkan kedua untaian ganda heliks dan menggunakan setiap untaian sebagai template untuk pembangunan sebuah molekul baru. Hal ini merupakan dasar untuk penerjemahan kode genetik yang terkandung dalam DNA dalam suatu proses kehidupan melalui sebuah molekul yang disebut sebagai RNA. untaian DNA berfungsi sebagai template untuk konstruksi molekul RNA yang lebih pendek, yang berisi keterkaitan urutan basa. Melalui RNA, petunjuk ini ditranskripsi dan dipindahkan dari DNA dalam inti sel ke dalam sel
Ada ribuan reaksi kimia yang terjadi pada setiap titik di dalam sel dari organisme yang lebih tinggi. Secara spesifik, urutan pasangan basa cytosin pada kromosom memberikan petunjuk melalui molekul RNA untuk produksi asam amino dalam sel. Hasil dari kombinasi asam amino membutuhkan protein kompleks dan pemeliharaan sel (organisme) kelangsungan hidup dan fungsi. Masing-masing asam amino yang dikaitkan dengan satu atau lebih unik urutan basa 3. Karena hanya ada empat pusat terlibat, ini memungkinkan untuk total 64 (43) urutan untuk kode untuk 20 asam amino. Dengan cara ini, instruksi genetik dalam segmen kromosom ditranskripsi, ditafsirkan dan disajikan. Seiring dengan bagian yang berbeda dari kromosom yang spesifik, pasangan kode dasar untuk produk gen yang unik. Lokasi fisik instruksi pada kromosom disebut lokus.
Produk gen (s) dikodekan untuk setiap lokus tertentu, sehingga memungkinkan untuk berhubungan dengan satu atau banyak proses kimia dalam sel-sel di mana mereka disajikan. Sejumlah perbedaan bentuk instruksi dapat ditemukan pada setiap lokus tertentu. Namun, bentuk bentuk instruksi yang dikenal sebagai alel,ketika dua alel berbeda ada pada lokus tertentu (satu urutan pada satu kromosom dan pada homolog yang lain), salah satu atau keduanya dapat diungkapkan.
Dominasi ini mengarah pada konsep dominasi alelik, baik dominasi lengkap atau dominasi parsial. Jika kedua set instruksi identik untuk suatu lokus, organisme tersebut dapat dikatakan sebagai homozigot tertentu dalam alel pada lokus. Hal ini sering terjadi jika pemilihan atau penangkaran keturunan harus terhapus semua, tetapi ada kemungkinan pada satu alel pada lokus tertentu.

BAB 3
Aksi gen II Warisan Sifat kuantitatif

PENDAHULUAN

Banyak ciri-ciri yang berkaitan dengan kinerja komersial akuakultur spesies yang digambarkan sebagai karakter metrik, terus menerus, atau kuantitatif. Metrik melibatkan karakter hasil akhir dari fungsi fisiologis kompleks yang tetap diukur sebagai sederhana, variabel yang berbeda. Itu sifat terus menerus karakter metrik sering dimanifestasikan dalam frekuensi mendekati distribusi normal. Khas akuakultur terkait contoh meliputi laju pertumbuhan, konversi pakan ciency efisiensi, dan toleransi ekstrem dari suhu, salinitas atau oksigen terlarut. Kuantitatif karakter dapat mencakup sifat-sifat yang diukur dalam bentuk dimensi atau menghitung, seperti fekunditas, persentase dressout, atau berbagai morphometric dimensi. Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, mekanisme non-menerus mengatur pola banyak warisan diamati dalam spesies air, terutama karakter kualitatif seperti warna.
Meskipun demikian, tampaknya sifat kualitatif sering secara terus-menerus mendasari. Keterbatasan dalam cara sifat-sifat ini disajikan dapat meminta pembagian penduduk menjadi berbeda, kelas kontinu. Dalam kasus reproduksi keberhasilan, misalnya, meskipun data untuk setiap individu tertentu dapat ditafsirkan sebagai “ya itu melahirkan” atau “tidak” selama diberikan variasi musim pemijahan, mendasari dalam populasi benar-benar dapat memiliki distribusi normal dengan beberapa titik istirahat, atau “ambang batas,” memisahkan dua hasil. Efek genetik dan variasi fenotipik kontrol genetik sifatmetrik terutama memanifestasikan dirinya dalam dua akrab hewan dan tanaman-pemuliaan fenomena: (1) kemiripan antara kerabat dan (2) heterosis (sering disebut sebagai kekuatan hibrida) atau alternatif, dikenal sebagai depresi silang. Fenomena ini didasarkan mengenai pengaruh genetik aditif dan dominasi efek genetik, masing-masing. Ketika merumuskan pendekatan yang paling menjanjikan untuk perbaikan genetik dari setiap ciri yang dinyatakan oleh suatu spesies tertentu, infl uences aditif dan efek dominasi akan menentukan pentingnya seleksi, pembastaran, atau kombinasi dari praktek-praktek di sebuah peternakan program.
Aditif efek secara langsung berkaitan dengan berbagai heritabilitas ciri-ciri dan dengan demikian merupakan dasar untuk seleksi, di mana menggunakan berperforma terbaik individu-individu sebagai hasil induk dalam peningkatan secara keseluruhan dalam kinerja rata-rata keturunan. Aditif adalah efek dasar nilai pemuliaan individu, yang dapat diartikan sebagai kinerja yang diharapkan keturunannya bila dikawinkan secara acak dalam populasi. Di sini kita menyentuh pada aspek yang paling penting dari aditif efek genetik: manifestasi mereka di seluruh generasi. Yang diamati variasi, atau variansi, nilai-nilai pemuliaan adalah, sesuai, varians genetik disebut aditif. Dominasi efek, sebaliknya, adalah hasil dari kombinasi yang spesifik, alel dan karenanya, kombinasi individu, galur atau spesies yang memberikan kontribusi yang alel. Uence ini infl fundamental orangtua kombinasi berhubungan langsung dengan manifestasi dari dominasi efek melalui heterosis dan / atau depresi silang.
Perhatikan bahwa kombinasi alel, yang paling mendasar dari efek dominasi, adalah terlarut antara generasi hanya untuk reformasi secara acak di setiap generasi baru.
Dua tambahan sumber variasi yang sesekali ikut bermain dalam genetika akuakultur adalah epistasis dan efek ibu. Epistasis mengacu untuk interaksi antara efek genetik. Pada kenyataannya, desain yang paling berkembang biak dan fasilitas tersedia untuk aquaculturists tidak memadai untuk mengevaluasi epistasis dengan presisi banyak. Untungnya, jarang infl uences variasi fenotipik sedemikian rupa untuk memerlukan kation quantifi nya. efek Ibu, berbeda dengan epistasis, sering berkontribusi kongkrit dengan variasi fenotipik yang kita amati pada spesies budidaya.

TEORI

Mungkin bentuk yang paling sederhana seleksi bergantung pada berbagai membandingkan galur dalam suatu spesies dan memanfaatkan yang terbaik (s) untuk tujuan budaya. Sebagian besar, praktek ini bergantung pada identifikasi Selisih dari efek genetik aditif, namun tidak ada upaya segera dibuat untuk mengubah susunan genetik dari strain yang bersangkutan. Dalam sebagian besar keadaan, Namun, kami mengakui seleksi sebagai proses mengubah, generasi oleh generasi, susunan genetik suatu populasi untuk menghasilkan fenotipe lebih diinginkan. Dalam hal ini, yang agak rendah strain yang memiliki signifikan cant varians aditif mungkin merupakan awal yang lebih baik poin untuk seleksi dan domestikasi dari cukup unggul populasi dengan varians aditif sedikit untuk mengeksploitasi.

BAB 4
Seleksi dan Realisasi
Heritabilitas

PENDAHULUAN

Memperkirakan dan memprediksi heritabilitas berbeda dengan prosedur partisi tunggal-generasi varians ditinjau dalam bab sebelumnya, salah satu pendekatan sederhana untuk memperkirakan heritabilitas dan respons seleksi diperkirakan bergantung pada bentuk analisis di mana kinerja keturunan dievaluasi sehubungan statistik terhadap kinerja orangtua. Jelas, kemampuan untuk memproduksi, budaya dan melacak kinerja penuh sejumlah besar keluarga-setengah-sib kelompok berada di luar cara yang paling komersial peternakan sh fi, dan banyak sarana penelitian serta. Jika progeni hanya dapat identifi ed sebagai pemusatan kelompok keturunan dari kelompok mengumpulkan induk, analisis respon seleksi biasanya tidak terlalu kuat, tetapi jika individu keturunan dapat diidentifikasi sebagai progeni induk yang spesifik, yang perkiraan yang dihasilkan bisa menjadi jauh lebih tepat, dan individu nilai pemuliaan bahkan dapat diperkirakan.
Untuk hampir semua sifat metrik, khususnya dalam budidaya di mana budaya lingkungan dapat sangat bervariasi di berbagai tahapan kehidupan siklus, hanya sebagian dari keunggulan fenotipik individu atau inferioritas akan jatuh tempo untuk efek genetik aditif, atau efek genetik dalam hal ini. Analisis kecenderungan untuk kinerja untuk “mundur” terhadap rata-rata populasi dengan generasi merupakan dasar untuk jangka regresi statistik. Dalam persidangan banyak pilihan di aquaculturists fasilitas komersial dan negara-lari telah keliru dibandingkan dengan kinerja keturunan dari keturunan yang dipilih orang tua, bukan dengan keseluruhan populasi mean untuk sebelumnya generasi, dan keliru menyimpulkan seleksi yang tidak layak mengejar.
Dalam teori, h2 hanyalah atribut deskriptif dari populasidari yang diperkirakan. Sebagai tambahan, reflek yang tertentu mengangkat populasi yang spesifik, di bawah kondisi lingkungan yangmenang selama periode waktu di mana pengukuran dicatat.

BAB 5
Perkawinan Sedarah, Perkawinan Silang, dan Hibridisasi

PENDAHULUAN

Sebagian besar variasi genetik yang tersedia untuk peningkatan akuakultur saham dapat ditemukan dalam dua bentuk yang berbeda: varians aditif, yang kami telah dibahas secara rinci, dan varians dominasi, yang kita akan bahas dalam bab ini. Dominasi efek dan varians genetik mereka memproduksi dalam ciri metrik yang diwujudkan dalam fenomena akrab semangat hibrida (juga disebut sebagai heterosis) dan penangkaran sanak depresi. Praktek pembastaran, atau kawin relatif garis yang tidak terkait dalam suatu spesies, juga didirikan di dominasi efek dan manifestasi mereka melalui heterosis. Meskipun Analisis yang digunakan untuk estimasi heritabilitas kadang-kadang dapat juga menyediakan beberapa indikasi sejauh mana dominasi dalam varians populasi dan potensi untuk perbaikan melalui pengembangan silang, yang sifat sangat efek dominasi sering memerlukan-coba-dan-melihat pendekatan ketika program penangkaran berkembang.
Perbaikan dalam ciri produksi akibat heterosis tidak terbatas di dalam spesies, tetapi sering kali dapat dicapai melalui hibridisasi, persimpangan yang berbeda (meskipun terkait erat) spesies. Selain menangkap dan menguntungkan dari heterosis, hibridisasi adalah kadang-kadang dilakukan hanya untuk menggabungkan atribut yang spesifik yang diinginkan jenis lagi. Tujuan lain upaya tersebut sering adalah produksi saham fungsional steril, baik untuk budaya komersial atau langsung dimasukkan kedalam lingkungan alami. Sejumlah penelitian praktis telah dilakukan dengan spesies air dalam mengejar masing-masing tujuan.

TEORI

Dominasi efek dan multi-lokus sifat Jika kita menganggap dasar varians genetik aditif sebagai arah “Nilai” dari alel hadir pada setiap infl uencing lokus sifat kita tertarik, efek dominasi mungkin dikonseptualisasikan sebagai aksesori kode untuk setiap lokus, sehingga kombinasi kode tertentu meningkatkan atau penurunan nilai genetik dari jumlah sederhana dari nilai-nilai alelik. Seperti yang digambarkan sebelumnya, efek dominasi merupakan interaksi antara pasang alel pada lokus yang sama. Karena interaksi tergantung pada alel yang spesifik, yang terlibat pada lokus tertentu, mereka berhenti ada selama pembentukan gamet melalui meiosis dan dibangun kembali baru dalam setiap generasi sebagai gamet menggabungkan dan alel kembali pasangan secara acak. Dalam kuantitatif diukur sifat, uences infl penyimpangan dominasi di semua lokus yang terlibat adalah refl ected di dominasi varians genetik. Selain varians sederhana, penyimpangan ini juga dapat infl uence keseluruhan berarti berbagai sifat mereka memanifestasikan dirinya baik melalui heterosis dan depresi penangkaran sanak.
Ekspresi heterosis, di mana keturunan dari individu yang relatif tidak terkait pameran meningkat tness fi, adalah dasar yang paling hibridisasi dan pembastaran usaha. Depresi penangkaran sanak Sebaliknya, penurunan umum menggambarkan di tness fi dihasilkan dari persimpangan individu terkait erat. Sejak heterosis dan depresi penangkaran sanak keduanya manifestasi dari dominasi efek genetik, setiap diskusi tentang seseorang biasanya harus mengacu pada lain juga. Mungkin kekhawatiran paling mendesak yang berhubungan dengan dominasi genetik efek bahwa produsen akuakultur di seluruh dunia adalah saham yg ada di mana-mana kecurigaan bahwa persediaan hasil produksi mereka, atau mungkin menjadi, “bawaan.” Seringkali, ini adalah kekhawatiran yang wajar memang.

BAB 6
Kromosom Genetika I : Ginogenesis dan Androgenesis

PENDAHULUAN

Meskipun judul bab ini mengacu pada manipulasi kromosom, konsep kunci dalam pembahasan ini adalah seluruh manipulasi set, atau melengkapi, bukan kromosom individu untai DNA. Ginogenesis dan androgenesis didasarkan pada warisan untuk membatasi orang tua ibu atau ayah, masing-masing, terutama dengan mengubah normal proses dalam pembuatan dan replikasi diploid (2N) genom dalam mengembangkan zigot. Kunci kedua pendekatan terletak menghilangkan kontribusi genetik dari satu orangtua atau yang lain dan kemudian mengganggu normal peristiwa dalam yang baru-dibuahi atau diaktifkan telur sedemikian rupa (atau cara) untuk menghasilkan restorasi sebuah negara 2N, sehingga perkembangan normal untuk melanjutkan. Meskipun pendekatan semacam itu tidak layak dengan vertebrata yang lebih tinggi, keturunan layak telah diproduksi melalui gynogenesis dan androgenesis di sh fi banyak dan invertebrata.
Ginogenesis dan androgenesis punya aplikasi kecil langsung dalam produksi komersial saham, tetapi mereka dapat dimanfaatkan untuk memastikan mekanisme penentuan seks serta untuk menghasilkan monosex populasi, sejumlah besar genetis identik klon, dan novel populasi dengan tingkat yang jauh lebih besar homozigositas dari sebelumnya bisa ditemukan di alam. Fakta bahwa banyak spesies air dapat bertahan gynogenesis juga terbukti menjadi alat yang berharga untuk studi tentang keterkaitan gen, sumber fenotipik variasi dan perbaikan keseluruhan dari sifat-sifat produksi melalui pemuliaan diarahkan.

TEORI

Kromosom biasanya terjadi pada pasangan dalam inti sel; nomor pasangan adalah sama dengan jumlah kromosom yang berbeda di setiap 1N kromosom biasanya defi ning karakteristik suatu spesies. Pada manusia, pelengkap normal (2N) terdiri dari 23 pasang kromosom; di sh goldfi, 47 pasang; di aligator, 16 pasang. Biasanya, salah satu homolog kromosom set adalah berasal dari ibu, dan yang lainnya dari ayah asal. Sebagai organisme yang bersangkutan mencapai kematangan dan menghasilkan yang gamet sendiri, dua (1N) set kromosom harus dipisahkan lagi untuk tiba di satu (1N) ditetapkan dalam setiap gamet.
Dalam sepasang, kromosom Asal ayah dan ibu asal ditakdirkan untuk menempati gamet yang berbeda. Setiap pasangan, bagaimanapun, memisahkan secara independen dan akhirnya, dua salinan bahan genetik pada setiap asli kromosom fi nd cara mereka ke dalam gamet (atau badan kutub, sebagaimana akan dibahas di bawah). Selain itu, selamaproses meiosis bahan dari satu untai DNA dapat ditukar dengan wilayah yang sesuai dari homolog untai. Proses ini secara kolektif menghasilkan (1N) gamet dengan berbagai kombinasi bahan genetik dari aslinya ayah dan ibu (1N) set kromosom. Dalam produksi sperma, isi sel asli dalam spermatosit primer biasanya dibagi lebih-atau-kurang merata antara sekunder spermatosit dan kemudian di antara empat resultan sel sperma. Dalam kasus pembentukan telur, Namun, isi sel lebih-atau-kurang dilestarikan sepanjang proses oogenesis dan digunakan oleh hanya salah satu dariempat set kromosom haploid.
Sementara ini genom (1N) soliter akhirnya berlanjut untuk bergabung dengan sperma sel dalam pembentukan organisme baru, kromosom tiga lainnya set hilang, dalam apa yang disebut sebagai fi rst dan badan polar kedua. Hal ini tentu masuk akal dari sudut pandang evolusi, meskipun dalam kerangka sejarah hidup spesies dan fekunditas, karena dalam sebagian besar spesies akuatik mengakibatkan telur yang lebih besar dalam keturunan lebih layak. The terlebih dulu kutub tubuh terlebih dulu merupakan dua “kelebihan” (1N) genom dibuang sebagai oosit primer 4N berubah menjadi 2N sekunder oosit. The terlebih dulu badan kutub umumnya hilang pada awal proses telur pembangunan di kebanyakan sh fi, tetapi dalam moluska biasanya tetap dalam oosit berkembang. Badan kutub kedua mencakup “kelebihan ketiga” haploid genom. Hal ini umumnya disimpan dalam oosit sampai pembuahan terjadi. Pada titik ini, mekanisme yang dipicu oleh penetrasi hasil sperma dalam “aktivasi” dari oosit dan pengusiran badan kutub kedua dan (1N) set kromosomnya, meninggalkan fi nal (1N) kromosom siap memadukan dengan bahan (1N) genetik diperkenalkan melalui. Pengusiran dari badan polar kedua dapat dianggap sebagai langkah Nal fi meiosis. Penyimpanan badan kutub kedua dan bahan genetik mengandung sampai setelah telur telah dibuahi adalah proses

BAB 7
Kromosom Genetika II : Poliploidi

PENDAHULUAN

Reproduksi seksual adalah norma untuk hampir segala jenis aquaculturists menangani. Pendekatan biologis untuk reproduksi memiliki nomor keuntungan dari sudut pandang evolusi, terutama di kemudahan pembentukan genotipe baru dari generasi ke generasi, terutama melalui proses meiosis. Sebagaimana telah kita sudah ditinjau, sedangkan sebagian besar organisme biasanya memiliki dua set kromosom di setiap sel, ditetapkan sebagai negara 2N atau diploid, mereka menghasilkan haploid gamet yang mengandung hanya 1N. Dengan cara ini, sebagai gamet menggabungkan untuk membentuk individu baru yang dihasilkan memiliki organisme yang sama jumlah dan jenis kromosom sebagai orang tua mereka.
Inilah syarat untuk membagi merata set kromosom selama pembentukan telur dan sperma yang mengarah ke penunjukan 2N (dua set kromosom) dan istilah yang terkait “diploid” sebagai normal negara untuk sebagian besar spesies aquaculturists bekerja dengan. Namun, hal ini sistem membagi dan mengkombinasikan pasang kromosom dapat berpotensi terganggu atau seluruhnya dinonaktifkan jika binatang memiliki suatu ganjil set kromosom, mengatakan 3N, yang tidak dapat sama dibelah dua. Selain itu, jika organisme dapat diproduksi dengan kelipatan kariotipe normal 2N, mengatakan 4N misalnya, mereka mungkin gamet juga menjadi kepentingan tertentu dalam produksi keturunan baru. Itu produksi organisme dengan lebih besar dari jumlah normal kromosom melengkapi umumnya disebut sebagai induksi Poliploidi.
Alam Poliploidi adalah terlibat dalam evolusi banyak kelompok spesies akuatik, namun untuk tujuan penelitian akuakultur yang paling difokuskan pada pengembangan teknik untuk menghasilkan triploid (3N) produksi saham. Ultimate tujuan pengembangan meliputi saham triploid produksi organisme yang fungsi biologis dalam semua hal selain pembentukan gamet dan terkait fisiologis dan perilaku proses. Dalam spesies air komersial penting, seperti fungsional saham steril dapat nilai untuk meningkatkan tingkat pertumbuhan dan pakan efisiensi konversi ciencies atau hanya untuk meminimalkan potensi risiko ekologi mana spesies eksotik, hibrida atau transgenik saham sedang berbudaya.

TEORI

Potensi menguntungkan triploidi termasuk lebih baik konversi pakan, kelangsungan hidup yang tinggi (karena agresi dikurangi)dan lebih tinggi omset dalam sistem produksi.

BAB 8
Sex Penentuan dan Kontrol

PENDAHULUAN

Dalam banyak spesies air budidaya, produksi ciri-ciri seperti pertumbuhan bunga, waktu atau umur dalam pematangan, dressout persentase atau pewarnaan dan nnage fi cantly signifikan berbeda antara jenis kelamin. Akibatnya, seringkali lebih ProFI meja dengan budaya dan pasar hanya lebih produktif atau menarik seks. Bahkan ketika kinerja komersial tidak signifikan cantly infl uenced berdasarkan gender mungkin menguntungkan untuk saham monosex budaya di Untuk menghindari reproduksi yang tidak diinginkan atau tidak terkontrol. Beberapa metode budaya monosex dipraktekkan secara luas, mulai dari manual penyortiran ngerlings fi terhadap pengobatan hormonal benih.
Bermunculan praktek di banyak spesies melibatkan pembalikan seks fenotipik melalui administrasi hormon dan kawin berikutnya fenotipik induk terbalik dan normal untuk menghasilkan populasi monosex atau individu novel sendiri mampu menghasilkan monosex keturunan. Dua pertimbangan penting dalam penentuan seks dan kontrol dari banyak spesies air berbagai sistem penentuan dan adanya beberapa infl uences dalam beberapa sistem. Sana
kecenderungan antara genetika akuakultur untuk menjelaskan mekanisme penentuan seks dengan merumuskan sistem sederhana denganhanya 1, 2 atau beberapa faktor untuk t fi hasil uji kawin. Sayangnya, potret sederhana ini warisan Mendellian-jenis kelamin penentuan sering tidak memadai dan tidak realistis di mana spesies akuatik prihatin. Ini sudah jelas jelas dalam spesies-spesies yang perubahan gender sebagai bagian normal dari strategi sejarah mereka hidup. Bahkan, upaya untuk memisahkan sh fi oleh seks yang sia-sia di banyak spesies ini, sejak peristiwa yang satu gender mendorong konversi, atau kadang-kadang reversi, untuk yang lain.

TEORI

Lokus yang terlibat dalam penentuan seks boleh berlokasi pada kromosom seks yang spesifik,sepertikromosom X dan Y pada manusia atau hanya padakromosom disebut autosom, yang berisi berbagai terkaitlokus gen coding untuk produk banyak. Dalam paling umum konseptualSistem penentuan seks, seks terutama dikendalikan olehkondisi homozigot atau heterozigot pada satu atau dua lokus utama. Digilirannya, satu jenis kelamin ini disebut sebagai homogamet (memproduksi hanya satu jenis gamet, seperti telur X-bearing) dan lainnya heterogametic (memproduksidua jenis gamet, seperti sperma X atau Y-bearing). Meskipundasar genetik untuk jenis kelamin, banyak spesies air dapat fungsionaldiarahkan untuk berkembang menjadi salah satu seks fenotipik atau lain selama merekatahap awal kehidupan melalui pemberian hormon sebelum fisiologisdiferensiasi. Dengan cara ini, suatu organisme yang secara genetik satugender dapat dibuat untuk fungsi fisiologis yang lain.

TEORI

Peran stimulus eksternal Kebanyakan organisme air telah berevolusi untuk bertelur dalam kondisi yangmemaksimalkan probabilitas kelangsungan hidup bagi keturunan mereka. Indra merekafisiologi dan reproduksi dapat disetel fi nely terhadap rangsangan yang spesifik, ataukombinasi rangsangan, yang pada akhirnya menjadi penting untuk pematangan dan kehendak pemijahan. Proses yang khas yang mengarah ke pemijahanmelibatkan persepsi dan interpretasi yang spesifik, lingkungankondisi yang, pada gilirannya, memicu jalur kompleks internal perkembangan fisiologis. Sayangnya, tidak pantas atau rangsangan stres fisiologis dengan mudah dapat mengganggu atau menghentikan sama sekali rantai ini peristiwa. Beberapa spesies meminjamkan diri siap untuk produksi bibit di penangkaran, sementara yang lain hampir tidak mungkin untuk membujuk untuk mereproduksi. Seringkali, karakteristik ini refl ect rentang (baik luas atau sempit)

BAB 10
Aquatic Organisme transgenik

PENDAHULUAN

Salah satu pendekatan untuk perbaikan genetik organisme perairan yang muncul sebagai sebuah disiplin yang berdiri sendiri dalam beberapa tahun terakhir adalah transgenesis, transfer gen asing ke host baru. Transgenik fi sh (atau moluska atau krustasea) dapat defi ned sebagai memiliki kromosom dalam mereka DNA, baik secara langsung atau melalui warisan, genetik konstruksi yang berasal cial artifi. Kata kunci bagi para peneliti di sini adalah dalam DNA kromosom: memperkenalkan konstruksi harus dimasukkan ke dalam organisme sasaran sedemikian rupa untuk diungkapkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Masalah potensial, namun juga impresif:-tenaga kerja dan metodologi padat modal dan konsumen kendala utama untuk adopsi saham transgenik dalam budidaya melibatkan batasan peraturan di kaus kaki dan budaya genetis modifi ed organisme.
Karena kurangnya data kinerja, maka kultus diffi untuk menilai (atau bahkan berspekulasi pada) dampak potensi genetik organisme perairan modifi ed pada sistem alam. Akibatnya, manajer sumber daya bahkan enggan untuk mencoba mengembangkan protokol untuk penggunaan organisme dalam situasi di mana sengaja rilis dapat terjadi. saham transgenik akan segera tersedia untuk aquaculturists di beberapa wilayah dunia. Karena itu, diskusi tentang asal-usulnya dan karakteristik mungkin dalam rangka. Untuk mengatasi masalah yang berkaitan terhadap dampak lingkungan yang potensial organisme transgenik yang mungkin melarikan diri dari fasilitas budidaya, banyak peneliti sedang menyelidiki penggunaan Poliploidi atau pengendalian seks untuk mencegah reproduksi saham transgenik. Ini juga masuk akal dari sebuah iklan sudut pandang. Sementara kami pemahaman tentang kinerja transgenik organisme akuatik meningkatkan dengan setiap studi dipublikasikan, teknik digunakan juga berkembang.

TEORI

Sebuah memperkenalkan membangun genetik biasanya mencakup gen struktural,petunjuk DNA dikodekan untuk produksi protein yang spesifik,atau produk sejenis gen. Ingat, bagaimanapun, bahwa DNA tersebut tidak lebih dari petunjuk, melayani sebagai template dari yang protein berkumpul. Untuk gen-gen asing yang akan berhasil dinyatakan dalam organisme penerima, memperkenalkan konstruksi tidak hanya menjadi fisik didirikan pada kromosom target, mereka juga harus berisi genetik urutan yang berfungsi sebagai promotor dan terminator untuk mereka transkripsi. Dalam dekade belakangan ini, peneliti telah memperkenalkan banyak struktural “gen” dalam organisme perairan.

BAB 11
Ancaman genetik Saham Wild dan Ekosistem

PENDAHULUAN

Sebuah kritik sesekali akuakultur di banyak bagian dunia potensi saham produksi melarikan diri untuk memaksakan negatif genetik dan ekologis dampak pada populasi liar, baik di dalam dan di antara spesies. Jelas, budidaya ikan harus menjadi lebih sadar akan isu-isu genetik terlibat dengan saham melarikan diri. Di seluruh dunia, keprihatinan berkembang selama konservasi genetik populasi liar spesies akuatik – tidak hanya dalam hal variasi genetik dalam populasi terisolasi, namun juga antara populasi spesies tertentu. Masalah kemudian lebih prihatin dengan potensi evolusi masa depan dari upaya saat ini untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesies, tetapi telah mulai memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan konservasi genetika bagi banyak spesies air.

TEORI

Sebuah review singkat mungkin dalam rangka mengenai jenis risiko genetik menghadapi populasi liar ketika mereka dihadapkan ke pelarian dari budidaya operasi. Mungkin ancaman yang paling sering dikutip adalah hilangnya identitas penduduk. Memang, sejumlah efek langsung dari aquacultured saham pada akhirnya dapat menyebabkan perubahan struktur genetik dari penduduk liar. Mungkin yang paling dramatis kadang-kadang disebut sebagai “swamping,” ketika populasi terisolasi dihadapkan dengan luar biasa jumlah individu diperkenalkan. Ada kecenderungan umum untuk melihat make-up genetik populasi dalam hal frekuensi gen, dan ini cukup masuk akal dalam populasi yang relatif konstan ukuran. Tapi nomor baku ikut bermain saat memeriksa frekuensi gen untuk populasi campuran diperkenalkan dan sh fi asli. Meskipun kurang dramatis, mungkin ancaman yang lebih nyata daripada swamping adalah pengenalan terus-menerus sejumlah kecil peternakan bertani saham ke dalam populasi liar.
Pengenalan bahan genetik di cara ini kadang-kadang disebut “introgression” Hayes et al.. (1996) meneliti asli, stok dan populasi hibrida trout sungai di selatan pegunungan Appalachian di Amerika Utara dan ditentukan bahwa introgression dari perkenalan lanjutan dari strain non-pribumi akhirnya bisa menghilangkan genotipe yang unik dalam spesies. Introgression juga menjadi keprihatinan bagi banyak saham di Utara Amerika Morone kompleks, di mana pemerintah-hibrida dapat terisi kadang-kadang kembali-silang dengan spesies orangtua dan memperkenalkan sebelumnya bahan genetik asing ke dalam populasi didirikan. Lolos dan perkenalan sh fi berbudaya dalam jumlah rendah mungkin dianggap sebagai suatu gejala yang mirip dengan “sesat” pada populasi salmonid – Di mana beberapa individu fi nd cara mereka untuk bertelur selain yang berasal dari mereka. Hal ini jelas diakui sebagai cara bagi banyak penduduk yang relatif terisolasi untuk mempertahankan keragaman genetik dalam menghadapi ukuran populasi terbatas, pergeseran genetik, dan silang. Di sisi lain, terlalu banyak dari jenis pertukaran dapat merusak variasi genetik diantara populasi, spesies penting atribut yang menghormati adalah genetika konservasi produktif di bawah inisiatif di dunia. Sebuah argumen sering dilakukan, namun, bahwa ketika populasi penduduk telah menurun karena eksploitasi dan / atau perubahan habitat, diperkenalkan sh fi dapat bertahan janji meningkat keragaman genetik untuk memungkinkan untukre-adaptasi dari sisa populasi. Meskipun hal ini kadang-kadang dapat terjadi, variasi baru dihasilkan akan hampir pasti termasuk alel yang sebelumnya tidak hadir, dan dalam situasi seperti itu harus diterima bahwa mantan liar penduduk sudah tidak ada lagi. Bahkan jika populasi alam reproduktif terisolasi dari akuakultur pelarian, kebutuhan untuk mengakomodasi kehadiran baru spesies Mei pasti memaksa perubahan pada populasi asli melalui seleksi. perubahan tersebut karena tekanan kompetitif dari diperkenalkan fi sh dan / atau keturunan mereka. Dampak sering-berkorelasi berkurang dalam-populasi variasi. Kehadiran bersaing aquacultured pelarian juga dapat mengakibatkan pengurangan efektif dalam ukuran penduduk liar, bahkan jika itu mempertahankan integritas genetik dengan reproduksi isolasi. Pengurangan ini pada gilirannya akan meningkatkan peluang penangkaran sanak dan pergeseran.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.