Monthly Archives: January 2012
PKM-GT 2011
PEMANFAATAN TANAMAN KECIPIR SEBAGAI SUBSTITUSI KACANG KEDELAI
DALAM PEMBUATAN PAKAN IKAN BERBASIS LOKAL UNTUK IKAN HERBIVOR
RINGKASAN
Daerah Garut merupakan daerah yang cocok untuk budidaya. Di daerah ini ada beberapa ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi diantaranya ikan nilem. Ikan nilem merupakan ikan herbivor yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lingkungan perairan tawar. Selain itu, ikan nilem dapat dipanen pada umur 1-2 bulan untuk dibuat produk baby fish. Sehingga ikan nilem merupakan ikan yang sangat baik untuk dibudidayakan karena sangat menguntungkan bagi para petani. Akan tetapi harga pakan yang tinggi membuat para petani ikan mengalami kesulitan. Bahan baku pakan ikan mayoritas merupakan bahan impor yang menyebabkan harga pakan ikan menjadi tinggi, yaitu tepung ikan dan kacang kedelai. Padahal, pada kenyataanya daerah garut seperti halnya di daerah lainnya, banyak potensi tanaman baik tanaman pangan maupun tanaman makanan ternak antara lain tanaman Leguminosa. Tanaman tersebut merupakan sumber protein nabati diambil baik bijinya maupun keseluruhan tanamannya yang berpotensi sebagai bahan baku dalam formulasi pakan ikan. Sehingga dengan kita membuat formulasi baru untuk pembuatan pakan kita dapat menekan harga produksi pakan sehingga kita dapat meningkatakan pendapatan para pembudidaya.
Salah satu tanaman Leguminosa yang dapat mensubstitusi protein kacang kedelai pada pakan ikan yaitu tanaman kecipir. Tanaman kecipir memiliki protein yang hampir sama dengan kacang kedelai. Seluruh bagian dari tanaman kecipir yaitu daun, buah, umbi, bijinya memiliki kadar protein yang tinggi, bahkan rata-ratanya melampaui kadar protein biji-bijian lainnya seperti beras, jagung, ubi jalar, ketela pohon, kentang, dan sorghum. Dengan demikian keseluruhan bagian tanaman kecipir dapat dimanfaatkan agar tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah diperoleh, tidak perlu mengimpor, dan belum dimanfaatkan maksimal sebagai pangan apalagi sebagai pakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan eksplorasi potensi fisik dan kimiawi tanaman kecipir dan aplikasinya pada budidaya ikan nilem.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Budidaya perikanan air tawar di Jawa Barat, khususnya daerah Garut memiliki potensi yang besar. Ada beberapa ikan asli Jawa Barat yang memiliki nilai ekonomis penting antara lain, nila, nilem, dan gurame. Ikan ini merupakan ikan herbivor. Diantara ketiga ikan tersebut ikan nilem merupakan ikan yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lingkungan, karena dapat hidup di kolam, maupun di daerah persawahan.
Dalam usaha budidaya, pakan merupakan komponen terpenting yang menghabiskan dana yang besar, sehingga banyak para pembudidaya ikan yang mengalami kerugian. Tingginya harga pakan diakibatkan oleh tingginya harga bahan baku yang diimpor, seperti kacang kedelai dan tepung ikan. Untuk itu kita harus mencari bahan baku yang dapat menggantikan bahan baku tersebut.
Ada beberapa bahan baku yang dapat digunakan untuk menggantikan protein kacang kedelai, diantaranya kacang koro, kacang tanah, dan kecipir. Dari ketiga bahan tersebut dapat kita lihat bahwa kecipir mengandung protein paling tinggi yang hampir sama dengan protein kacang kedelai. Kecipir juga banyak tumbuh didaerah garut sehingga dapat menjadi alternatif untuk bahan baku pakan ikan.
Disisi lain, terutama di Jawa Barat juga banyak terdapat tanaman kecipir dapat dimanfaatkan sebagai bahan subtitusi kedelai yang merupakan bahan baku pembuAtan pakan ikan. Pakan sangat penting bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup karena dibutuhan untuk memperoleh energi. Pakan buatan akan memiliki kualitas baik jika bahan dari pakan mempunyai mutu baik. Pakan yang baik harus memenuhi nutrisi. Mengenal kebutuhan ikan merupakan landasan dalam pembuatan pakan ikan sendiri, setiap ikan mebutukan gizi yang berbeda, baik kebutuhan protein, lemak, dan serat ikan. Pakan yang memiliki keseimbangan protein, lemak, dan serat untuk kebutuhan ikan tertentu akan memacu pertumbuhan ikan yang cepat besar, akan tetapi bila nutrisi yang dibutuhkan ikan kurang maka pertumbuhan ikan akan lambat berakibat pada biaya dan waktu panen yang cukup lama. Pakan dengan kualitas baik memiliki nilai protein tinggi. Protein nabati dapat diperoleh dari kacang tanah dan kedelai. Selain daripada kedua tanaman ini masih ada satu tanaman lagi yang hingga kini oleh sebagian masyarakat Indonesia belum dikenal, atau diabakan nilainya.
Tujuan
Kecipir sebagai cadangan protein nabati dalam pembuatan pakan ikan dalam skala mikro adalah hal yang menarik untuk dikembangkan protein yang dihasilkan kecipir bisa mencapai 78% sebanding dengan protein yang terkandung di dalam kedelai, protein yang lumayan besar itu bias dimanfaatkan dengan cara:
1. Memberikan gagasan bahwa kecipir bisa dikembangkan menjadi sumber protein nabati terbarukan dalam skala mikro.
2. Protein nabati yang dihasilkan kecipir, diharapkan bisa memberikan jawaban akan mahalnya harga pakan bagi pembudidaya perikanan air tawar.
3. Memberikan gagasan proses pembuatan pakan ikan buatan dari tanaman kecipir.
Manfaat
Manfaat gagasan ini apabila dikembangkan, bisa memberikan sumbangan sebagai jawaban dari permasalahan tingginya harga pakan yang disebabkan oleh tingginya harga bahan baku. Dengan adanya substitusi kacang kedelai oleh kecipir kita dapat menekan biaya pembuatan pakan dan memanfaatkan tanaman yang ada disekitar garut yang belum dimanfaatkan.
Sesuai dengan perkembangan zaman akan ditemukan pakan dengan protein yang tinggi tetapi dengan harga bahan yang relative nurahmaka pengembangan pemanfaatan protein yang terkandung di dalam kecipir ini bias terealisasi kedepanya. Setelah berkembang diharapkan pemerintah bias lebih memperhatikan dalam kelestarian kecipir dan juga pemanfaatan potensi sumber daya di Indonesi ini. Sehingga kasus harga pakan yang tinggi bagi pembudidaya ikan konsumsi dapat teratasi dengan ditemukannya alternative pakan buatan ini. Pemanfaatan kecipir juga bias mengeksplor potensi dan melestarikan tanaman kecipir karena kecipir mempunyai banyak manfaat sehingga perlu disediakan lahan untuk tempat budidaya tanaman kecipir tersebut.
GAGASAN
Kondisi Pakan di Indonesia Saat Ini
Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mengeluhkan tingginya harga pakan ikan di dalam negeri sehingga membuat sektor perikanan budi daya berdaya saing rendah. Ketua Umum AP51 Thomas Darmawan menyatakan porsi pakan menduduki 65% dari total Komponen biaya produksi. “Jika harga pakan saja sudah sangat tinggi, harga jual dari pembudidaya ke industri akan tinggi,” ujarnya kemarin. Masalah ini, merupakan salah satu alasan mengapa industri perikanan termasuk udang di dalam negeri sulit berkembang. Dewan Pengawas AP5I Harry Lukmito menambahkan jika dibandingkan dengan China, harga pakan ikan di Indonesia dapat mencapai 30%. “Jika harga pakan ikan dapat ditekan, otomatis produk perikanan akan meningkat karena banyak yang berminat berusaha.”
Pemerintah semestinya menetapkan kebijakan untuk mengurangi harga ikan di dalam negeri. Kebijakan tidak hanya berupa penurunan bea masuk tapi juga pengembangan industri dalam negeri. “Penurunan harga pakan menjadi syarat utama jika pemerintah ingin menggenjot produksi perikanan budi daya.” lndonesia perlu memperkuat penelitian dan pengembangan untuk dapat menemukan pakan ikan yang sehat, sesuai, dan berhargamurah. Dengan kata lain perlu ditemukan adanya pakan baru yang memiliki komponen lokal sehingga dapat mengantisipasi tingginya harga bahan baku pakan ikan dari produk impor.
Bisnis mencatat komposisi impor yang besar di Indonesia terdapat pada tepung udang dan tepung ikan. Pada April 2010, impor ikan segar dan beku mencapai 8,2 juta kg. Sementara impor tepung ikan mencapai 5,4 juta kg dan tepung udang 3,4 juta kg. Dirjen Perikanan Budidaya KemenKP Made L. Nurdjana menyatakan pemerintah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku pakan ikan. “Pakan adalah komponen paling mahal dalam biaya produksi. Harga jual produk ikan dalam negeri menjadi kurang berdaya saing akibat mahalnya pakan ikan.”
Solusi yang Pernah Diajukan.
Ada beberapa kebijakan yang dicanangkan pemerintah termasuk didalamnya menyangkut penyediaan pakan melalui beberapa program pembangunan perikanan budidaya yaitu Program Pengembangan Iintensifikasi Pembudidayaan Ikan (INBUDKAN), Program Pengembangan Kawasan Budidaya Terintegrasi (Integreted Aquaculture) dengan pertanian dan peternakan, Program Pengembangan Budidaya di Pedesaan (Rural Aquaculture) dengan pembuatan pakan sendiri berbasis lokal (on farm feed), Program Pengembangan Perikanan Berbasis Budidaya (Culture Based Fisheries) di perairan umum, dan Program Peningkatan Produktivitas Berwawasan Lingkungan ( Green Productivity) yang ramah ingkungan.
Selama ini, Program Pengembangan Budidaya di Pedesaan (Rural Aquaculture) dengan pembuatan pakan sendiri berbasis lokal (on farm feed), dan Produktivitas Berwawasan Lingkungan, baru bisa dilakukan melalui produksi pakan alami oleh pengusaha pembenihan ikan/udang dalam satu unit pembenihan, atau oleh Balai Budidaya milik Pemerintah, belum ke produksi pakan buatan dengan menggunakan bahan baku berbasis lokal. Jenis-jenis bahan baku pakan lokal masih terbatas pemanfaatannya. Beberapa jenis pakan lokal alternatif yang tergolong leaf protein yang pernah dijadikan solusi untuk penyusun pakan ikan anatara lain : (a) Azola; (b) Daun Pepaya dan Kangkung (c) Eceng Gondok; (d) Lamtoro; (e) Sesbania; yang proteinnya berkisar antara 20-30% (De Silva, 1988). Namun demikian, jenis makanan tersebut belum dijadikan bahan baku pakan buatan komersial.
Para pembudidaya ikan yang telah melakukan pembuatan pakan buatan, baik skala besar maupun skala kecil, dengan tahapan yaitu :
• Pemilihan bahan baku pakan dalam formulasi Contoh : tepung ikan, dedak, jagung, dan kopra.
• Penepungan dan penimbangan.
• Pencampuran setiap bahan yang sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan, yang dibuat. dalam satuan kilogram.
• Aduk sampai semua bahan sudah tercampur dengan merata.
• Sediakan wadah untuk persiapan pencetakan bahan menjadi berbentuk pellet. Dalam pencetakan pellet menggunakan mesin pencetak pellet.
Solusi yang Diajukan
Ada lima patokan ideal dalam pakan ikan diantaranya mempunyai nilai gizi (nutrisious), ukuran pakan (pelletable, dan feedable), stabilitas pakan dalam air (water stability), penampakan permukaan, dan aroma. Sedangkan dalam pemilihan bahan baku pakan ikan, selain mengandung gizi/protein cukup tinggi juga harus.dapat ditepungkan.
Kecipir merupan jenis leguminosa yang mengandung protein cukup tinggi ( berkisar 25-37%) baik biji maupun daun dan umbinya. Tanaman ini di Jawa Barat dikenal dengan nama “jaat” merupakan tanaman setahun yang berbentuk perdu dan bersifat membelit ke kiri. Buahnya panjang 20 cm, persegi empat dan bergerigi, warna buahnya hijau dan rasanya enak serta lunak. Bijinya bulat, berwarna kuning pada saat muda, dan berwarna coklat pada saat tua dengan rasanya yang getir. Biji kecipir bisa disebut “botor”. Di luar negeri kecipir ini disebut Wing Bean, mengingat bahwa tanaman ini tidak membutuhkan tempat yang subur dan buahnya (terutama bijinya) merupakan sumber protein dan banyak mengandung vitamin A, vitamin B dan vitamin C, maka dari itu tanaman ini dianjurkan untuk ditanam dipekarangan rumah atau disepanjang pagar-pagar (Sunaryono, 1994:142). Sebagai pengganti singkong, kentang dan ubi jalar, kecipir sudah jelas unggul kadar proteinnya (20% dari bobot keringnya ).
Hanya cara bercocok tanam komersial dan pengelolaan hasilnya belum dikenal secara besar-besaran. Kecipir juga merupakan tanaman tahunan yang tumbuh cepat dengan batang rambat mencapai penjang 2-4 m. Tanaman ini biasanya ditanam sebagai tanaman setahun. Daun trifoliate berbentuk oval lebar dan akar dangkalnya memiliki cabang lateral panjang. Sebagai tanaman tropika yang beradaptasi baik pada wilayah subtropika, kecipir cocok untuk kondisi lingkungan lembab suhu siang 30oC dan suhu malam 22oC paling sesuai untuk pembesaran umbi. Tanaman ini memiliki banyak sekali buntil akar, dan cukup produktif jika ditanam ditanah yang kurang subur, tetapi hasilnya meningkat jika dipasok pupuk tambahan. Produksi utama tanaman kecipir adalah polongnya, polong segar muda mengandung sekitar 1-3% protein, kandungan protein biji kering sekitar 33%. Menurut hasil penelitian para pakar, tanaman kecipir mempunyai keunggulan dalam kandungan nutrisi, sehingga amat baik untuk program perbaikan gizi masyarakat. (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998:272).
Jenis kecipir yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah kecipir yang berbuah pendek, polongnya berukuran 15 – 20 cm dan bunga yang berwarna biru. Jenis kecipir ini umumnya produktif berbuah dan jumlahnya banyak Rukmana, 2000). Biji kecipir (koro kecipir) dengan berbagai jenisnya merupakan legume yang memiliki nutrisi lengkap (protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral) dengan jumlah yang memadai. Berikut perbandingan kandungan gizi koro kecipir dengan koro yang lain dan kedelai.
Berikut klasifikasi tanaman Kecipir.
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Psophocarpus
Spisies : Psophocarpus tetragonolobus L.
Jarak menanam
Menanam kecipir tidak jauh berbeda dengan menanam kacang panjang. Jarak tanam 100 x 30 cm atau 125 x 35 cm dapat dilaksanakan untuk tanaman tunggal. Untuk dapat menghasilkan umbi, maka jarak antara bedengan berkisar antara 100-125 cm.
Observasi kecipir/meter/segi dalam tanaman.
• Jarak tanam 30×100 cm.
• Banyaknya tanaman 1ha rata-rata 30.000 batang.
• Bila dari tiap-tiap batangdihasilkan 10 buah muda dengan rata-rata timbangan 5 gram, maka hasil per ha adalah : 30.000x10x5 gram = 15.000 kg
• Tiap ha ada 30.000 batang.
• Tiap-tiap batang menghasilkan 15-20 buah yang tua.
• Rata-rata tiap buah menghasilkan 13 butir biji, dengan timbangan tiap 100 butir biji 35 gram.
Dibawah ini merupakan perbandingan kandungan gizi yang terdapat pada beberapa kacang-kacangan
Tabel 1. Perbandingan susunan kimiawi biji kecipir dengan kacang tanah dan kedelai
kadar kecipir Kacang tanah Kedeai
Air 6,7 5 8 %
Protein 29,8 – 37,4 25 – 30 40 %
Lemak 15 – 20,4 43 – 50 18 %
karbohidrat 31,6 – 28 5 – 12 17 %
Tabel 2. Bandingan kadar asam amino essensial (yang penting) biji kecipir dan kedelai.
Nama asam Amino kecipir Kedelai
Lysine 7,4 – 8 6,6
Tryptophan 1 1,2
Histidine 2,7 2,5
Phenylalaniene 4,8 – 5,8 4,8
Leucine 8,6 – 9,2 7,6
Isoleucine 4,9 – 5,1 5,8
Threonine 4,3 – 4,5 3,9
Methionine 1,2 1,1
Valine 4,9 – 5,7 5,2
Arginine 6,5 – 6,6 7
Tabel 3. Komposisi pakan ikan yang sebelumnya
Bahan Lemak Protein Bahan/Kg
Ikan 6,0 55,0 100
Dedak 2,4 13,3 100
Jagung 4,5 9,8 100
Kedelai 1,3 46,8 100
Kopra 16,7 79,4 100
Tabel 4. Komposisi pakan ikan yang diajukan
Bahan Lemak Protein Bahan/Kg
Ikan 6,0 55,0 100
Dedak 2,4 13,3 100
Jagung 4,5 9,8 100
Kedelai 1,3 46,8 100
Kopra 16,7 79,4 100
Langkah Strategis yang Dilakukan
• Langkah awal , studi literatur.
Tahapan awal berupa studi literatur terhadap jenis ikan apa saja yang termasuk kedalam ikan herbivor. Untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan tersebut serta melihat kandungan nutrisi kacang kedelai dan biji kecipir.
• Tahapan kedua adalah uji labolatorium
Uji labolatorium tentang kebenaran studi literatur, apakah sesuai atau tidak dengan teori yang dikemukakan. Dengan bekerja sama pihak LIPI dan akademisi dari universitas untuk meneliti bagaimana kesesuai kandungan nutrisi kacang kedelai dan kecipir dengan gagasan atau teori tersebut.
• Tahapan ketiga adalah membuat formulasi Pakan
Perbandingan formulasi Pakan dengan mengganti protein kacang kedelai oleh protein kecipir.
KESIMPULAN
Gagasan yang diajukan adalah mengganti protein kacang kedelai pada pakan dengan protein pada kecipir. Penggantian bahan baku pembuatan pakan ini dilakukan agar menekan biaya produksi pakan ikan sehingga meningkatkan pendapatan para petani ikan.Gagasan ini harus dilakukan hipotesis analisis awal.
Adapun teknik yang bisa dilakukan adalah
• Penelitian dan studi pustaka
• Uji labolatorium kandungan nutrisi dalam kecipir serta pembuatan segala keperluan yang berkaitan dengan pemanfaatan protein kecipir untuk pakan ikan
• Pemanfaatan hasil penelitian bekerjasama dengan pihak-pihak terkait
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. Pakan Ikan. http:// O-FishPakanIkan.html (diakses 31 Januari 2011).
De Silva. 1988. Finfish Nutrition in Asia. Heinemann. Singapore.
Herna, Tatang. 2005. Diktat Kuliah Industri Pangan: Kecipir. http://www.wikipedia.com ( di akses 31 Januari 2011).
Rismunandar. 1986. Kecipir Penghasil Protein dan Karbohidrat yang Serba Guna. Sinar Baru. Bandung.
Royan. 2010. Nutrisi Pakan Ikan. http:// nutrisi-pakan-ikan.html (diakses 31 Januari 2011).
Sukadi, M.F. 2003. Strategi Dan Kebijakan Pengembangan Pakan Dalam Budidaya Perikanan. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Bogor.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Ketua Pelaksana
Nama : Imas Rohimah
NIM : 230110080069
Tempat/Tanggal lahir : Bandung, 27 Juni 1990
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat/Tinggi Badan : 48 kg/159 cm
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status Pernikahan : Belum Menikah
Hobi : Membaca dan Menulis
Riwayat Pendidikan
SD : SDN Ciporeat 1 Bandung 1996-2002
SMP : SMPN 50 Bandung 2002-2005
SMA : SMAN 10 Bandung 2005-2008
Pengalaman organisasi
- Anggota PMR SMPN 50 Bandung 2002-2003
- Anggota KASEPUH SMAN 10 Bandung 2005-2008
- Anggota IRMA SMAN 10 Bandung 2006-2008
- Anggota KIR Biologi SMAN 10 Bandung 2006-2007
- Anggota BPM FPIK UNPAD 2009-2010
- Anggota SSC UNPAD 2009-2010
- Bendahara PERMADANI FPIK UNPAD 2009-2010
- Ketua Divisi Kewirausahaan PERMADANI FPIK UNPAD 2010-2011
- Anggota BEM FPIK UNPAD 2010-2011
- Bendahara KARAMBA FPIK UNPAD 2010-2011
Imas Rohimah
NIM 230110080069
2. Anggota Satu
Nama : Yunitawati
NIM : 230110080091
Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 24 Juni 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat/Tinggi Badan : 48 kg/150 cm
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status Pernikahan : Belum Menikah
Hobi : Membaca
Riwayat Pendidikan
TK : TK Mini Ria 1994-1995
SD : SDN Bekasi Timur II 1995-2001
SMP : SMPN 3 Bekasi 2001-2004
SMA : SMAN1 Cileungsi Bogor 2004-2007
Pengalaman organisasi
- Anggota OSIS SMPN 3 Bekasi 2001-2002
- Anggota PMR SMPN 3 Bekasi 2001-2002
- Anggota KARATEKA INKAI Ranting Bekasi 2002-2004
- Anggota English Club SMAN 83 Jakarta 2004-2005
- Anggota PMR SMAN1 Cileungsi Bogor 2005-2006
- Staff BEM DEPLAR UNPAD 2008-2009
- Anggota SSC UNPAD 2008-2009
- Anggota KARAMBA FPIK UNPAD 2008-2009
Yunitawati
NIM. 230110080091
3. Anggota Dua
Nama : Maulana Ridwan
NIM : 230110090080
Tempat/Tanggal lahir : Bogor, 22 September 1991
Jenis Kelamin : Laki – laki
Berat/Tinggi Badan : 60 kg/173 cm
Agama : Islam
Kewarganegaraan : Indonesia
Status Pernikahan : Belum Menikah
Hobi : Bermain Bola
Riwayat Pendidikan
TK : TK Islam Karya Mukti Bogor 1996-1997
SD : SDN Citeureup 6 Bogor 1997-2003
SMP : SMPN 1 Cibinong Bogor 2003-2006
SMA : SMAN 1 Cibinong Bogor 2006-2009
Pengalaman organisasi
- Anggota Futsal SMPN 1 Cibinong Bogor 2003-2004
- Anggota Basket SMPN 1 Cibinong Bogor 2004-2005
- Anggota OSIS SMPN 1 Cibinong Bogor 2004-2006
- Anggota Futsal SMAN 1 Cibinong Bogor 2006-2007
- Anggota Basket SMAN 1 Cibinong Bogor 2006-2007
- Anggota OSIS SMAN 1 Cibinong Bogor 2007-2009
- Anggota KIR SMAN 1 Cibinong Bogor 2008-2009
- Anggota ROHIS SMAN 1 Cibinong Bogor 2008-2009
- Anggota KARAMBA FPIK UNPAD 2010-2011
- Ketua Komisi BPM FPIK UNPAD 2010-2011
- Staff PERMADANI FPIK UNPAD 2010-2011
Maulana Ridwan
NIM. 230110090101
Pembimbing
Nama Lengkap dan Gelar : Kiki Haetami, SPt.,MP
Pangkat / Golongan / NIP : Pembina/IV a/ 196902011994032001
Tempat/Tanggal Lahir : Cianjur, 1 Februari 1969
Alamat Kantor : Jurusan Perikanan
Fakultas PIK – UNPAD
Jalan Raya Bandung Sumedang KM. 21 Jatinangor
Telepon Kantor : (022) 798241-798304
Alamat rumah : Margahayu Raya Blik S2 No. 61
Telepon /HP : (022)75641780/081221652522
E-mail : kiki.haetami@yahoo.co.id
Bidang minat Penelitian : – Nutrisi Ikan
- Teknologi Pakan
Pendidikan Terakhir : S2 Ilmu Nutrisi Ternak UNPAD
Pengalaman Penelitian:
- Pengaruh Jenis Bahan Pengikat dan Cara Pembuatan Terhadap Stabilitas Ransum Ikan Mas (1997).
- Pengaruh Tingkat Penggunaan Eceng Gondok Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (1998).
- Pengaruh Imbangan Energi Protein Ransum Mengandung Silase Ikan Terhadap Pertumbuhan dan Konversi Pakan Ikan Jambal Siam (1999).
- Pengaruh Tingkat Pertambahan Hasil Fermentasi Bungkil Biji Jarak dalam Ransum terhadap Efesiensi Pakan Ikan Gurame (Osphoronemos goramy) (2000).
- Pengaruh Tingkat Azola dalam Ransum terhadap Konsumsi dan Pertumbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum, CUVIER) (2000).
- Evaluasi Daya Cerna Pakan Limbah Azola pada Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum, CUVIER) (2000).
- Penentuan Kecernaan Ransum yang mengandung Azola dengan Metode Indikator (2000).
(Kiki Haetami, SPt., MP)
NIP. 19690201 199403 2 001
PKM-K 2010
SEAWEED CULTURE SEBAGAI PRODUK ANDALAN OCEANPRENEUR
A. Judul Program
SEAWEED CULTURE SEBAGAI PRODUK ANDALAN OCEANPRENEUR
B. Latar Belakang
Ekspor rumput laut Indonesia lebih didominasi oleh jenis Eucheuma dari pada jenis lainnya, seperti Gracilaria, Gelidium, dan Hypnea – walaupun dalam data ekspor tidak terlihat kelompok dan kuantitas jenis tersebut. Untuk jenis Eucheuma, Indonesia merupakan pemasok nomor dua terbesar di dunia setelah Filipina. Permintaan untuk ekspor yang tinggi dan terus meningkat mengakibatkan persaingan harga antara eksportir dengan industri pengolahan di dalam negeri. Dari satu sisi, hal ini dapat memberikan keuntungan bagi petani dan pedagang rumput laut, tetapi dari sisi lain dapat pula mengakibatkan tidak sehatnya pengembangan industri rumput laut, tetapi dari sisi lain dapat pula mengakibatkan tidak sehatnya pengembangan industri rumput laut secara nasional. Ekspor rumput laut dalam 5 tahun terakhir (2000-2004) terus meningkat, yaitu pada tahun 2000 sebesar 17.075.739 kg dengan nilai sebesar US $ 10.002.809 dan pada tahun 2004 menjadi sebesar 50.118.374 kg atau setara dengan US $ 24.322.445. Tabel menunjukkan data ekspor impor rumput laut dalam 5 tahun terakhir.
Tabel 1. Ekspor dan Impor Rumput Laut Indonesia
Sumber: BPS dalam Anggadiredja, Jana et al “rumput laut” 2009
Rumput laut merupakan komoditi yang mendunia baik dalam bentuk bahan baku maupun hasil olahannya. Rumput laut merupakan salah satu komoditi perikanan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan devisa Negara. Demikian juga dengan produk olahannya, baik dalam bentuk bahan dasar, yaitu karaginan, agar, dan alginate, maupun hasil formulasi dari ketiga hidrokoloid tersebut.
Peluang pasar pengembangan usaha rumput laut sangat menjanjikan seiring dengan tingginya permintaan pasar rumput laut dan hasil olahannya, baik di dalam maupun luar negeri. Permintaan dunia akan ketiga hidrokoloid tersebut setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan ketiga jenis hidrokoloid samping terhadap kesehatan bila dikonsumsi dalam bentuk makanan atau obat-obatan. Demikian juga penggunaaannya dalam industri nonpangan dan berbagai industri lainnya semakin meluas seperti tekstil, cat, keramik, kertas.
Kemudahan budidaya rumput laut yang relatif sangat terjangkau dalam proses pembudidayaannya maupun kontruksinya. Disamping terjangkaunya biaya pembudidayaannya rumput laut juga dapat memberikan keuntungan yang cukup tinggi, jika dilihat dari tingkat permintaan pasar yang tidak pernah turun, bahkan terus meningkat dari tiap tahunnya. (BPS dalam Anggadiredja, Jana et al “Rumput Laut” 2009).
Hasil olahan rumput laut di Indonesia di antaranya berupa agar, karaginan, dan alginat yang merupakan hidrokoloid. Dengan beberapa sifat yang dimiliki, olahan rumput laut tersebut dapat berfungsi sebagai gelling agent, thickener, viscosifiying, agent, maupun sebagai emulsifiying agent. Produk olahan ini dapat dimanfaatkan pada berbagai industri, antarai lain; Industri Pangan (Makanan dan Minuman), Farmasi, Industri Komestik, Bioteknologi, Industri Nonpangan.
Oceanpreneur adalah istilah yang dipakai untuk wirausaha dibidang kelautan. Sebutan ini masih cukup asing, bahkan mungkin bagi insan kelautan sendiri. Oceanpreneur terdiri dari berbagai subjek, bisa kearah budidaya ataupun pengolahannya, ataupun hal-hal laninnya yang berhubungan dengan kelautan.
Oceanpreneur muncul akibat dari sumberdaya pesisir dan laut yang belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia terkenal dengan potensi sumberdaya pesisir dan laut yang tinggi dan keanekaragaman yang tinggi pula. Dengan potensi yang ada, maka peluang untuk berkembang dalam bidang ini sangat menjanjikan. Setidaknya ada beberapa faktor yang mendukung, diantaranya ketersediaan lahan untuk budidaya, beberapa ikan komersial sudah ada yang telah berhasil dibudidayakan, penguasaan teknologi dan SDM, dan peningkatan permintaan pasar domestik dan internasional terhadap produk perikanan.
Kepulauan Seribu merupakan salah satu wilayah yang sangat menunjang proses pembudidayaan rumput laut, di karenakan struktur topografinya yang mendukung dan keadaan lingkungan, yang dapat dipastikan rumput laut dapat berkembang baik dan dapat tumbuh dengan sempurna.
Harapan dilaksanakan pembudidayaan rumput laut agar mahasiswa dan masyarakat dapat memiliki pengetahuan lebih tentang rumput laut dan memiliki usaha sendiri yang menunjang massa depan baik itu mahasiswa, masyarakat, dan tidak memungkinkan juga dapat memberikan peningkatan bagi devisa Negara.
C. Perumusan Permasalahan
Komoditas hasil budidaya laut pada umumnya memiliki permasalahan dalam hal pengelolaan saat budidaya dan pasca budidaya. Begitu juga dengan budidaya rumput laut seperti kualitas bahan baku yang sering fluktuatif, teknologi formulasi yang dipakai masih tradisional dan beberapa industri usaha budidaya rumput laut belum mampu memproduksi secara konsisten. Hal ini disebabkan antara lain karena kurangnya pengetahuan tentang kualitas bahan baku, penjagaan dalam proses budidaya serta kurangnya akses jaringan pemasaran.
Untuk meminimalisasi hal-hal tersebut, salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan metode rakit apung dengan disertai jaring protektor untuk menghindari rumput laut dari serangan berbagai predator dan juga untuk menghindarkan rumput laut dari gangguan luar, seperti sampah yang terbawa arus. Hal ini juga dapat meningkatkan kualitas rumput laut yang dibudidayakan.
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, nantrium, zat besi dan yodium. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Di bidang pengobatan tradisional, beragam rumput laut telah banyak digunakan untuk pengobatan berbagai jenis penyakit. Sebagai antipiretik, digunakan jenis Sargassum sliquosum, Ulva lactuca, Enteromorpha compressa, dan Codium sp. Untuk pengobatan bronchitis, asma, dan batuk digunakan jenis Porphyra atropurpurae, Eucheuma gelatinae, Eucheuma cottonii, Enteromorpha campressa, dan Enteromorpha prolifera. Selain jenis-jenis rumput laut di atas, tentunya masih banyak lagi jenis lain di beberapa daerah yang digunakan sebagai obat tradisional yang belum tercatat.
Produktivitas budidaya rumput laut belum mampu memenuhi permintaan pasar usaha, sementara keadaan yang terjadi pada saat ini adalah permintaan pasar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut disebabkan oleh produksi yang rendah sehingga tidak mampu mencukupi permintaan, produksi yang tidak terjamin kontinyu, dan masih sedikitnya yang melakukan budidaya rumput laut, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat akan peluang prospek usaha dan minimnya penguasahaan teknologi.
D. Tujuan Program
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kreativitas wirausaha mahasiswa pembudidaya dan mayarakat setempat dalam bidang budidaya rumput laut sebagai usaha mandiri masyarakat Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
E. Luaran Yang Diharapkan
Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan informasi, memperkenalkan teknologi dan mewujudkan terbentuknya usaha mandiri mahasiswa pembudidaya dan masyarakat setempat di bidang budidaya rumput laut.
F. Kegunaan Program
Memperkenalkan alternatif teknologi budidaya rumput laut dalam rangka diversivikasi budidaya rumput laut yang menjadi potensi perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi mahasiswa pembudidaya dan masyarakat setempat.
G. Tinjauan Pustaka
Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu, Propinsi DKI Jakarta. Seperti pulau-pulau yang lainnya di Kepulauan Seribu, Pulau Semak Daun juga memiliki potensi yang belum banyak diberdayakan oleh masyarakat sekitar. Salah satu komoditasnya yaitu rumput laut yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Rumput laut merupakan sumber daya alam/komoditi perikanan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan devisa negara. Demikian juga dengan produk olahannya, baik dalam bentuk bahan dasar, yaitu karaginan, agar, dan alginate, maupun hasil formulasi dari ketiga hidrokoloid tersebut.
Secara geografis Pulau Semak Daun terletak di antara 150 buah pulau-pulau karang dengan luas wilayah daratan sebesar 8.7 km2. Secara geografis posisinya terletak pada 5°24´ – 5°45´ LS dan 106°25´ – 106°40´ BT dengan luas 1.180,8 hektare (11,8 km²). Temperature sepanjang tahun umumnya berkisar antara 21°C-32°C dengan kelembaban udara rata-rata 80%. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Kepulauan Seribu yang memiliki salinitas berkisar antara 30%-34% pada musim barat maupun pada musim timur dengan kecerahaan 3-5 meter. Pada umumnya keadaan geologi kepulaun seribu terbentuk dari batuan kapur, karang pasir dan sedimen yang berasar dari Pulau Jawa dan Laut Jawa dengan kedalaman antara 0-40 meter. Arus laut dan Pasang Surut pada musim barat berkecepatan maksimum 0.5 m/detik dengan arah ke Timur sampai Tenggara. Pada musim timur kecepatan maksimumnya 0.5 m/detik. Gelombang laut yang terdapat pada musim barat mempunyai ketinggian antara 0.5-1.75 meter dan musim timur 0.5-1.0 meter. Musim hujan di Kepulauan Seribu biasanya terjadi antara bulan Nopember-April dengan hari hujan antara 10-20 hari/bulan. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari. Curah hujan tahunan berjumlah sekitar 1.700 mm. musim kemarau kadang-kadang juga terdapat hujan dengan jumlah hari hujan antar 4-10 hari/bulan. Curah hujan terkecil terjadi pada bulan agustus. Keadaan angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh angin Monsoon yang secara garis besar dapat dibagi menjadi angin musim barat (Desember-Maret) dan angin musim timur (Juni-September). Musim pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Kecepatan angin pada berkisar antara 7-20 knot, biasanya terjadi pada bulan Desember-Pebruari. Pada musim Timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot yang bertiup dari arah Timur Laut sampai Tenggara. (Anggadiredja, Jana et al 2009).
Dari karakteristik Kepulauan Seribu yang telah dijabarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa rumput laut Eucheuma sp, yang pada umumnya memiliki ciri-ciri hidup, yaitu; substrat dasar berupa pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang, kecerahan air antara 2-5 meter, salinitas berkisar 28-33 per mil, suhu air 26-300c, pergerakan air berkisar 0,2-0,4 m/detik, dan bukan merupakan jalur pelayaran (Anggadiredja, Jana et all 2009). Dari cici-ciri tersebut dapat dipastikan bahwa rumput laut jenis Eucheuma sp dapat berkembang dengan baik di daerah perairan Pulau Semak Daun.
Rumput laut merupakan tumbuhan laut jenis alga, masyarakat Eropa mengenalnya dengan sebutan seaweed. Tanaman ini adalah gangang multiseluler golongan divisi thallophyta. Berbeda dengan tanaman sempurna pada umumnya, rumput laut tidak memiliki akar, batang dan daun. Jika kita amati jenis rumput laut sangat beragam, mulai dari yang berbentuk bulat, pipih, tabung atau seperti ranting dahan bercabang-cabang. Rumput laut biasanya hidup di dasar samudera yang dapat tertembus cahaya matahari. Seperti layaknya tanaman darat pada umumnya, rumput laut juga memiliki klorofil atau pigmen warna yang lain. Warna inilah yang menggolongkan jenis rumput laut. Secara umum, rumput laut yang dapat dimakan adalah jenis ganggang biru (cyanophyceae), ganggang hijau (chlorophyceae), ganggang merah (rodophyceae) atau ganggang coklat (phaeophyceae).
Manfaat rumput laut berdasarkan penelitian tercatat 22 jenis telah dimanfaatkan sebagai makanan. Diwilayah perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Pulau Seram, Bali, Lombok, Kepulauan Riau dan Kepulauan Seribu. Diketahui 18 jenis dimanfaatkan sebagai makanan dan 56 jenis makanan dan obat tradisional oleh masyarakat pesisir.
Sebagai sumber gizi, rumput laut memiliki kandungan karbohidrat (gula atau vegetable-gum), protein, sedikit lemak, dan abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Selain itu, rumput laut juga mengandung vitamin-vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, dan C; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, nantrium, zat besi dan yodium.
Peluang pasar pengembangan usaha rumput laut sangat menjanjikan seiring dengan tingginya permintaan pasar rumput laut dan hasil olahannya, baik di dalam maupun luar negeri. Permintaan dunia akan ketiga hidrokoloid tersebut setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan ketiga jenis hidrokoloid samping terhadap kesehatan bila dikonsumsi dalam bentuk makanan atau obat-obatan. Demikian juga penggunaaannya dalam industri non pangan dan berbagai industri lainnya semakin meluas seperti tekstil, cat, keramik, kertas.
Budidaya rumput laut pada umumnya menggunakan beberapa metode, salah satunya metode rakit apung. Namun selama ini belum banyak yang menerapkan metode jaring apung disertai dengan jaring protektor. Keunggulan rumput laut dari metode rakit apung yang disertai dengan jaring protektor adalah terlindung dari gelombang yang besar karena kontur dasar laut perairan yang berbentuk gobah. Keuntungan selanjutnya adalah tanaman lebih banyak menerima intensitas cahaya matahari serta gerakan air yang terus memperbaharui kandungan nutrisi pada air laut dan akan mempermudah penyerapan nutrisi oleh rumput laut sehingga pertumbuhan lebih cepat dan berkualitas. Hal ditambah dengan dipasangnya jaring protektor sebagai pelindung rumput laut dari gangguan predator rumput laut dan mengurangi kontak langsung dengan sampah yang terbawa oleh pergerakan air laut.
Adapun analisis usaha dari kegiatan budidaya rumput laut di perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta disajikan sebagai berikut :
A. B/C Ratio
Perhitungan ini untuk menghitung rasio keuntungan dengan membandingkan pendapatan dengan biaya operasional.
Pendapatan
B/C Ratio = ——————————
Biaya Operasional
Rp. 12.797.000
B/C Ratio = ———————— = 1,32
Rp. 9.703.000
Usaha budidaya rumput laut layak dijalankan karena B/C Ratio > 1, dengan asumsi setiap Rp. 1 modal yang ditanamkan, hasil yang diperoleh sebesar Rp. 1,32.
• Rencana pemasaran
Grafik 2. Rantai perdagangan antar pulau (Anggadiredja,T et al tahun 2008)
Tabel 2. Daftar lokasi dan perusahaan pengolahan rumput laut (Anggadiredja, T et al 2008)
No. Nama Perusahaan/industri Lokasi
1 Karaginan
Sulawesi
PT Bantimurung Indah Kab. Maros
CV Cahaya Cemerlang Makasar
PT Giwang Citra Laut Takalar
Jawa Timur
PT Centram Surabaya
PT Seamatec Surabaya
PT Surya Indo Algas Surabaya
PT Amarta Carrageenan Surabaya
PT Algalindo Surabaya
Jawa Tengah
PT Michelindo Pekalongan
NTB/NTT
PT Phoenix Mas Lombok Barat
Jawa Barat/Banten
PT Galic Artabahari Bekasi
PT Gumindo Perkasa Ind. Banten
2 Agar
Sumatera
PT Indoking Aneka Agar-Agar Medan
Banten
PT Agarindo Bogatama Tangerang
Jawa Timur
PT Sriti Malang
3 Alginat
Jawa Barat
PT Merlindo Rekamatra Bandung
• Strategi awal dengan melakukan bulan promosi sebagai upaya branding.
Dilakukan dengan harga promosi selama waktu tertentu untuk menarik minat konsumen, serta periode analisis pola kebutuhan serta feedback terhadap kualitas maupun harga jual.
H. Metode pelaksanaan program
a. Waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan selama 4 (empat) bulan dari Bulan Januari-April 2011 di perairan Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
b. Prosedur pelaksanaan
- Sosialisasi program dengan Dinas Kelautan Perikanan Kepulauan Seribu dan masyarakat tentang kegiatan budidaya rumput laut menggunakan metode rakit apung disertai jaring protektor.
- Pelaksanaan lapangan budidaya rumput laut
• Penyediaan bahan baku dan alat
Bahan baku utama budidaya rumput laut yaitu thallus rumput laut jenis Euchema cottonii dengan panjang thallus muda 15-25 cm didapat dari pembudidaya rumput laut di Pulau Pari. Alat dan bahan yang lain di dapat dari pasar tradisional setempat. Adapun alat dan bahan terlampir pada lampiran 4.
• Pembuatan rakit apung dan pemasangan thallus rumput laut.
Tahapan-tahapan pembuatan rakit apung serta jaring protektor dan penanaman thallus rumput laut adalah sebagai berikut :
- Persiapkan thallus rumput laut yang telah dipotong-potong
- Ikatkan masing-masing potongan tersebut dengan tali rafia pada tali iris dengan jarak tanam/jarak antar titik 20-25 cm. Jumlah tali iris adalah 12 dengan panjang masing-masing tali ris ± 10m , jumlah titik untuk 1 tali ris diikatkan ±40 bibit rumput laut. Jarak antara ris yang lain sekitar 60-70 cm
- Susun dan ikat bambu sebanyak 10 batang menyerupai bentuk persegi dengan menggunakan tali . satu sisi terdiri dari 2 ikatan bambu yang disatukan.
- Letakkan bambu yang sudah diikatkan tersebut ke perairan yang telah di pilih
- Kaitkan setiap sisi dengan tambang yang telah diikat dengan jangkar berupa batu/jangkar untuk di kaitkan ke dasar perairan
- Mulai pemasangan tali yang telah diisi dengan thallus rumput laut.
• Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk memantau pertumbuhan dan kondisi rumput laut serta konstruksi dari rakit apung setelah beberapa pekan dilaksanakannya kegiatan budidaya.
• Pemanenan rumput laut
Panen Euchema cottonii dengan menggunakan metode rakit apung disertai jaring protektor dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Bersihkan rumput laut dari kotoran
b. Lepaskan tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dari tali utamanya
c. Letakkan gulungan tali ris yang berisi ikatan rumput laut tersebut ke dalam sampan
d. Bawa rumput laut ke darat. Lepaskan rumput laut dari tali ris (panen keseluruhan) dan petik thallus muda untuk dijadikan bibit pada penanaman berikutnya, disebut full harvest.
Adapun keterangan lebih lengkap mengenai proses panen dan pascapanen terlampir pada lampiran 6 dan 7
I. Jadwal Kegiatan Program
No. Kegiatan Bulan Ke-
1 2 3 4
1. Sosialisasi dengan Dinas Kelautan Perikanan dan masyarakat
2. Penyediaan bahan baku dan alat serta fasilitas penunjang
3. Pembuatan rakit apung dan pemasangan thallus rumput laut
4. Pemeliharaan
1. Penyulaman rumput laut
2. Monitoring pertumbuhan rumput laut
3. Perbaikan kerusakan pada konstruksi alat
5 Panen
6 Perlakuan pasca panen
7 Pemasaran Hasil Panen
J. Rancangan Biaya
No Rincian Biaya Harga(Rp) Jumlah Total Harga (Rp)
1. Materi Sosialisasi program PKM-K ke warga masyarakat pulau panggang, Kepulauan Seribu
a. Proposal Kerja Sama 15.000
(per proposal ) 5 75.000
b. Modul Profil Usaha budidaya rumput laut 15.000
(per profil) 5 75.000
c. Banner standing 200.000
(per lembar) 1 200.000
d. Konsumsi Peserta Sosialisasi 6.000
(per orang) 15 90.000
2. Pelaksanaan Budidaya Rumput Laut
a. Biaya Administrasi 1 paket kelengkapan administrasi 63.000
b. Biaya Tetap 1 paket konstruksi alat budidaya dan bibit rumput laut 6.000.000
c. Biaya operasional per masa panen - 3.640.000
4. Pembuatan Laporan dan Media Presentasi
a. Pembuatan Laporan 100.000
(per tim) 3 300.000
b. Pembuatan Poster Presentasi 100.000
(per poster) 1 100.000
c. Publikasi dan Dokumentasi
(Sosialisasi akhir kegiatan) 100.000 1 100.000
JUMLAH TOTAL 10.643.000
Lampiran 1
KONTRAK PERJANJIAN KERJASAMA
Nomor :
Nomor :
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Jabatan :
Perusahaan/Instansi :
Alamat :
Telp/Fax :
Untuk selanjutnya, nama tersebut bertindak atas nama instansi disebut pihak pertama.
Nama :
Jabatan :
Nama Instansi :
Alamat Instansi :
Untuk selanjutnya, nama tersebut bertindak atas nama organisasi disebut pihak kedua.
Kedua belah pihak sepakat dan mengikat mengadakan perjanjian kerja sama, dalam rangka pelaksanaan kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) “Budidaya Rumput Laut Dengan Metode Rakit Apung Disertai Dengan Jaring Protektor Di Perairan Pulau Semak Daun, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.”.
………………………,…………………2010
Pihak Pertama
________________
Pihak Kedua
_________________
Lampiran 2
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1). Ketua Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Furkon
b). NPM : 230210080062
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
2). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Cuncun Hendrayana
b). NPM : 230210080070
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
3). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Julius Mathys Sapija
b). NPM : 230210080034
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
4). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Asep Supriatna
b). NPM : 230110080121
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
5). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Maulana Ridwan
b). NPM : 230110090080
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
Lampiran 3
Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Donny Juliandri Prihadi, S.Pi, MSc.
2. NIP : 19800712 200801 1012
3. Golongan Pangkat : Penata Muda Tk I/ III b,
4. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
5. Jabatan Struktural : Sekretaris Program Studi Ilmu Kelautan
6. Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan
7. Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
8. Bidang keahlian : Kewirausahaan Kelautan
9. Waktu Untuk Kegiatan : 8 jam/minggu
10. Tanda Tangan :
Lampiran 4
Alat dan bahan budidaya rumput laut
No Nama barang Jumlah Satuan
1 Bambu 10 Buah
2 Tali ris 18 Gulung
3 Pisau 3 Buah
4 Timbangan gantung 1 Buah
5 Tali rapia 1 Gulung
6 Tali jangkar 120 Meter
7 Jangkar 12 Buah
8 Karung 100 Buah
9 Bibit rumput laut 200 Kg
10 Sampan 1 Unit
11 Jaring protektor 48 Meter
Laporan Field Trip AKPI 2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Yang melatar belakangi kami mahasiswa ilmu perikanan angkatan 2009 melaksanakan praktikum lapangan yaitu:
• Memenuhi beban 1 SKS dalam praktikum lapangan tetap yang diterima dalam mata kuliah Alat dan Kapal Penangkap Ikan.
• Letak kampus yang jauh dari laut mengharuskan praktikum ini perlu dilaksanakan.
• Belum tersedianya fasilitas yang memadai untuk melakukan praktikum mata kuliah Alat dan Kapal Penangkap Ikan.
Ketiga hal diatas yang melatarbelakangi perlunya melaksanakan kegiatan praktikum lapangan di Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan.
1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
• Menambah wawasan mahasiswa mengenai kegiatan penangkapan ikan.
• Mahasiswa secara langsung dan aktif dapat melihat langsung alat dan kapal penangkap ikan.
• Sebagai tempat untuk bertukar pikiran dan mengimplementasikan ilmu yang sudah didapat secara teori ke dalam praktikum lapangan.
1.3 MANFAAT PRAKTIKUM
• Mahasiswa dapat mengetahui dan menanyakan secara langsung mengenai alat dan kapal penangkap ikan.
• Mahasiswa dapat melihat dan memperagakan serta mengetahui mekanisme kerja dari alat tangkap serta kapal penangkap ikan.
1.4 WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM
Waktu : 09.00 – 15.00 WIB
Tempat : Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan, Tanjung Emas Semarang.
BAB II
Profil Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang
Berdirinya BPPI diawali sebagai Pangkalan Armada Survei dan Eksplorasi Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian RI bertempat di Semarang tahun 1975 dengan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 190/Kpts/Org/5/1975, tanggal 2 Mei 1975.
Pada perkembangan selanjutnya ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang perikanan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 308/Kpts/Org/1978 Tahun 1978. Pada tahun 1999, dan BPPI berada dibawah naungan Departemen Eksplorasi Laut RI setelah mengalami pemisahan dari Departemen Pertanian RI.
Sesuai dengan beban tugas yang diberikan, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 308/Kpts/Org/1978, tanggal 1 April 1978 maka BPPI Semarang ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang perikanan lingkup Direktorat Jenderal Perikanan.
Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : Kep.26G/MEN/2001, tanggal 01 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang. BPPI Semarang mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan penerapan dan pengembangan teknik penangkapan dan pengawasan serta kelestarian sumberdaya hayati perairan.
Setelah berkiprah di dunia perikanan Indonesia hampir selama 28 tahun, BBPPI Semarang menjadi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI). Perubahan tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : Per.03/MEN/2006, tanggal 12 Januari 2006, tentang Susunan Struktur Organisasi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan.
1.1. Tugas Pokok BBPPI
1. Menyiapkan data Sarana Penangkapan Ikan, Pengawakan dan Tenaga Kerja Perikanan Tangkap.
2. Mendukung kegiatan perekayasaan dan pengujian sarana penangkapan ikan.
3. Menyiapkan pengkajian dan pengujian bahan standar sarana penangkapan ikan.
4. Menyiapkan pembahasan rancangan bahan standar yang telah disusun oleh Gugus Kerja.
5. Mensosialisasikan teknologi penangkapan ikan yang telah distandarkan (SNI) sesuai program Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap.
6. Menyiapkan BAHAN RSNI sebagai bahan persyaratan teknis dan paket pengujian teknologi penangkapan ikan untuk sertifikasi sarana penangkapan ikan, pengawakan dan tenaga
2.2. Struktur Organisasi BBPPI BERDASARKAN PERMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER.3/MEN/2006 TANGGAL 12 JANUARI 2006
2.3. Fasi2.3 Fasilitas BBPPI
1. Ruang Simulator Kapal
2. Wisma Minabahari dan Wisma Purse Seine
3. Kapal Latih Perikanan
4. Kapal Riset Perikanan
5. Laboratorium
2.4. Bidang Kajian Riset BBPPI
1. Pengkajian Produktifitas Sarana Penangkapan Ikan
2. Perekayasaan Teknologi Penangkapan Ikan
3. Standardisasi Sarana Penangkapan Ikan
4. Akreditasi dan Sertifikasi Sarana Penangkapan Ikan
5. Pengembangan Jaringan Pengembangan Penangkapan Ikan
6. Penyebarluasan Teknologi Penangkapan Ikan
BAB III
Ringkasan Materi Indoor
3.1. Materi 1 ( Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan )
3.1.1 pemateri : Bpk. Baitussyarif
3.1.2 ringkasan materi
Terdapat 3 komponen dalam penangkapan ikan :
Kapal
Alat tangkap berkaitan dengan sumber daya perikanan
ABK
1. Kapal Perikanan
Kapal, perahu atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan dan penelitian/eksplorasi perikanan.
2. Kapal Penangkap Ikan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
3. Perahu Penangkap Ikan
Sarana apung penangkapan yang tidak mempunyai geladak utama dan bangunan atas/rumah geladak dan hanya memiliki bangunan atas/rumah geladak yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
4. Rakit Penangkap Ikan
Sarana apung penangkapan yang terdiri dari susunan batang bambu, kayu, pipa atau bahan lainnya yang berdaya apung secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
5. Kapal Pukat Hela
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat hela yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi pukat, penggantung, tempat peluncur dan batang rentang.
6. Kapal Pukat Cincin
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat cincin yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa blok daya, derek tali kerut, sekoci kerja dan tempat peluncur.
7. Kapal Penggaruk
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap penggaruk yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggaruk dan batang rentang.
8. Kapal Jaring Angkat
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring angkat yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi jaring angkat, batang rentang depan dan belakang serta lampu pengumpul ikan.
9. Kapal Jaring Insang
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring insang yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggulung jaring.
10. Kapal Pemasang Perangkap
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap perangkap yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penarik tali perangkap
11. Kapal Pancing
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk mengoperasikan pancing yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa penarik/penggulung tali (line hauler), pengatur tali, pelempar tali, bangku umpan, ban berjalan, bak umpan hidup atau mati dan alat penyemprot air.
12. Kapal dengan Pompa
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pompa penyedot untuk menangkap ikan
13. Kapal Serba Guna (multi purpose)
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan lebih dari 1 (satu) alat penangkapan ikan yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan yang sesuai dengan jenis alat penangkapan ikan yang digunakan.
14. Kapal Penangkapan Rekreasi
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk rekreasi dan mengoperasikan penangkapan
dengan alat tangkap ikan yang dilengkapi dengan fasilitas tempat memancing.
15. Kapal Bukan Penangkap Ikan
Kapal yang secara khusus tidak dipergunakan untuk menangkap ikan.
16. Kapal Induk Perikanan
Kapal khusus yang memiliki fasilitas untuk pengolahan ikan hasil tangkapan dan siap dipasarkan atau memiliki fasilitas untuk mengangkut atau menarik kapal-kapal penangkap yang berukuran kecil untuk mendukung operasi penangkapan ikan.
17. Kapal Pengangkut Perikanan
Kapal yang secara khusus dipergunakan untuk mengangkut ikan, termasuk memuat, menampung, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan kapal pengawas perikanan dan perlindungan kapal yang secara khusus memiliki fasilitas pengawasan dan perlindungan untuk
mendukung kegiatan eksplorasi dan perlindungan terhadap kegiatan perikanan.
19. Kapal Riset Perikanan
Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas laboratorium untuk melakukan riset dan penelitian perikanan.
20. Kapal Latih Perikanan
Kapal yang secara khusus memiliki fasilitas pendidikan untuk mendukung pelatihan penangkapan ikan
3.2. Materi 2 (Klasifikasi Alat Penangkap Ikan)
3.2.1. Pemateri : Bpk. Agung
3.2.2. Ringkasan Materi :
1. Jaring Lingkar
Jaring Lingkar merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara melingkari gerombolan ikan sasaran tangkap menggunakan jaring yang dioperasikan dengan perahu/kapal serta didukung sarana alat bantu penangkapan untuk mendukung pengoperasiannya. Desain dan konstruksi jaring lingkar berkembang disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran jaring lingkar serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
Klasifikasi Jaring Lingkar
Berdasarkan penggolongannya jaring lingkar dibedakan berdasarkan bentuk konstruksi, cara operasi dan dimensi ukurannya.
Penggolongan berdasarkan bentuknya meliputi :
1. Berbentuk persegi panjang yang dioperasikan dengan satu kapal.
2. Berbentuk satu lengkungan (trapesium terbalik) yang dioperasikan dengan satu kapal.
3. Berbentuk dua lengkungan simetris yang dioperasikan dengan dua kapal.
Berdasarkan dimensinya pukat cincin diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Pukat cincin mini: panjang kurang dari 300 m, berkembang di laut dangkal (Laut Jawa, Selat Malaka, perairan Timur Aceh) atau di sepanjang perairan pantai pada umumnya (coastal fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan pelagis kecil, seperti :ikan layang, ikan tembang, lemuru dan kembung.
2. Pukat cincin berukuran sedang: panjang dari 300 – 600 m yang dioperasikan di perairan yang lebih jauh atau di perairan lepas pantai (off shore fisheries). Sasaran utamanya adalah ikan tongkol dan kembung.
3. Pukat cincin berukuran besar: panjang lebih dari 600 – 1000 m, yang dioperasikan di perairan laut-dalam di dalam Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Deep sea fisheries). Sasaran utama : ikan cakalang dan ikan tuna.
4. Pukat cincin super: panjang lebih dari 1000 m, berkembang di perairan laut bebas (High sea fisheries).
2. Pukat Tarik
Pukat tarik merupakan alat penangkapan ikan berkantong tanpa alat pembuka mulut jaring, yang pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. Desain dan konstruksi pukat tarik disesuaikan dengan target ikan tangkapan yang dikehendaki, sehingga terdapat berbagai bentuk dan ukuran pukat tarik serta sarana apung maupun alat bantu penangkapan ikan yang digunakan.
3. Pukat Hela
Pukat hela merupakan alat penangkapan ikan berkantong yang dioperasikan dengan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang dihela di belakang kapal yang sedang berjalan, sehingga ikan target tertangkap dengan cara tersapu di pertengahan atau dasar perairan dan masuk ke dalam kantong (cod end).
Klasifikasi Pukat Hela
Menurut International Standard Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok pukat hela, terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode ISSCFG
TRAWL - 03.0.0
Bottom trawls 03.1.0
- Beam trawls TBB 03.1.1
- Otter trawls OTB 03.1.2
- Pair trawls PTB 03.1.3
- Nephrops trawls TBN 03.1.4
- Shrimp trawls TBS 03.1.5
- Bottom trawls (not specified) TB 03.1.6
Midwater Trawls 03.2.0
- Otter trawls OTM 03.2.1
- Pair trawls PTM 03.2.2
- Shrimp trawls TMS 03.2.3
- Midwater trawl (not specified) TM 03.2.4
Otter twin trawls OTT 03.3.0
Otter trawls (not specified) OT 03.4.9
Pair trawls (not specified) PT 03.5.9
Other trawls (not specified) TX 03.9.0
Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI), kelompok pukat hela, terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode KAPI
PUKAT HELA PH 03.0.0
Pukat Hela Pertengahan PHP 03.1.0
- Pukat Hela Pertengahan Berpapan PHP-Pp 03.1.1
- Pukat Hela Pertengahan Dua Kapal PHP-2K 03.1.2
- Pukat Hela Pertengahan Lainnya PHP-L 03.1.9
Pukat Hela Dasar PHD 03.2.0
- Pukat Hela Dasar Berpalang PHD-Pi 03.2.1
- Pukat Hela Dasar Berpapan PHD-Pp 03.2.2
- Pukat Hela Dasar Dua Kapal PHD-2K 03.2.3
- Pukat Hela Dasar Lainnya PHD-L 03.2.9
Pukat Hela Lainnya PHL 03.9.0
4. Pukat Dorong
Pukat dorong merupakan alat penangkapan ikan berkantong yang dioperasikan dengan cara di dorong di depan kapal atau tanpa kapal di lapisan permukaan atau dasar perairan, dimana dalam 1 unitnya bisa terdiri 1 (satu) unit jaring atau lebih yang terdiri dari bagian sayap, badan dan kantong. Untuk membuka bagian mulut kearah horizontal dibentang menggunakan tongkat (batang kayu, bambu) yang dipasang menyudut ke arah laut sehingga posisi pukat berada di depan.
5. Penggaruk
Penggaruk merupakan alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya. Penggaruk dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota lainnya.
6. Jaring Angkat
Jaring Angkat merupakan alat penangkapan ikan terbuat dari bahan jaring yang umumnya berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau bahan lainnya sebagai rangka. Pengoperasiannya dengan menurunkan jaring ke dalam kolom perairan dan mengangkatnya ke atas perairan untuk memperoleh hasil tangkapan
7. Alat yang Dijatuhkan / Ditebarkan
Alat yang dijatuhkan/ditebarkan merupakan alat penangkapan ikan yang pengoperasiannya dilakukan dengan cara ditebarkan / dijatuhkan untuk mengurung ikan dengan atau tanpa kapal.
8. Jaring Insang
Jaring Insang (Gill net) merupakan alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang ukuran mata jaringnya merata dan dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan, sehingga ikan sasaran terjerat mata jaring atau terpuntal pada bagian tubuh jaring
Klasifikasi Jaring Insang
Menurut International Standar Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok jaring insang, terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode ISSCFG
GILLNETS AND ENTANGLING NETS - 07.0.0
Set gillnets (anchored) GNS 07.1.0
Driiftnets GND 07.2.0
Encircling gillnets GNC 07.3.0
Fixed gillnets (on stakes) GNF 07.4.0
Trammel nets GTR 07.5.0
Combined gillnets-trammel nets GTN 07.6.0
Gillnetss and entangling nets (not specified) GEN 07.9.0
Gillnets (not specified) GN 07.9.1
Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI) kelompok jaring insang, terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode KAPI
JARING INSANG JI 08.0.0
Jaring Insang Hanyut JIH 08.1.0
Jaring Insang Tetap JIT 08.2.0
Jaring Insang Lingkar JILR 08.3.0
Jaring Insang Berlapis JIBL 08.4.0
Jaring Insang Lainnya JIL 08.9.0
9. Perangkap
Perangkap merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara memperangkap ikan dengan menggunakan jaring dan atau bahan lainnya yang dioperasikan dengan atau tanpa perahu/kapal.
10. Pancing
Pancing merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan memancing ikan sasaran tangkap sehingga tertangkap dengan mata pancing yang dirangkai dengan tali yang menggunakan atau tanpa umpan.
Klasifikasi Pancing
Menurut International Standar Statistical Classification of Fishing Gear (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO, kelompok Pancing (Hooks and Lines), terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode ISSCFG
HOOKS AND LINES - 09.0.0
Handlines and pole-lines (hand operated) LHP 09.1.0
Handlines and pole-lines (mechanized) LHM 09.2.0
Set longlines LLS 09.3.0
Drifting longlines LLD 09.4.0
Longlines (not specified) LL 09.5.0
Trolling lines LTL 09.6.0
Hook and lines (not specified) LX 09.9.0
Menurut Klasifikasi Alat Penangkap Ikan Indonesia (KAPI) kelompok Pancing / Hooks and Lines, terdiri dari :
PENGGOLONGAN SINGKATAN Kode KAPI
PANCING PC 10.0.0
Pancing Ulur PCU 10.1.0
Pancing Berjoran PCJo 10.2.0
Rawai Tetap PCRT 10.3.0
Rawai Hanyut PCRH 10.4.0
Tonda PCT 10.5.0
Pancing Lainnya PCL 10.9.0
11. Alat Penjepit
Alat Penjepit dan Melukai merupakan alat penangkapan ikan yang mempunyai prinsip penangkapan dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan atau membunuh sasaran tangkap yang dilakukan dari atas kapal atau tanpa menggunakan kapal.
12. Alat Lainnya ( Muro Ami )
Alat – alat lainnya merupakan alat penangkap ikan yang tidak termasuk dalam penggolongan kelompok sebelumnya, dimana prinsip penangkapan tidak dengan cara menjerat, memancing, memerangkap, mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan atau membunuh sasaran tangkap.
BAB IV
Kunjungan Laboratorium
4.1. Laboratorium Fishing Gear Workshop
Nama alat : Trawl
Kegunaan : Alat penangkap ikan.
Prinsip kerja : Saat masuk kedalam air, trawl ditarik oleh perahu sehingga kantong membuka dan ikan terperangkap.
Spesifikasi : Terbuat dari bahan PAP
Cara operasional:Trawl digunakan untuk menangkap ikan di perairan dasar, baik perairan dengan dasar pasir maupun Lumpur. Cara penggunaan ditarik dengan menggunakan satu atau dua kapal. Biasanya panjang groundrope 3-4 kali depth. Pada fishing ground depthnya sekitar 9 m (depth minimum).
Nama alat : Gillnet
Kegunaan : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja : menjerat ikan pada bagian insang
Spesifikasi : terbuat dari bahan PAP
Cara operasional: Jaring diturunkan ke perairan yang merupakan fishing ground. Pada saat ikan berenang dan melewati jaring, bagian insang pada ikan terjerat sehingga ikan tertangkap dan tidak dapat meloloskan diri.
4.2. Laboratorium Miniatur Alat Tangkap
Nama alat : Bubu
Kegunaan : Alat tangkap (jebakan) ikan
Prinsip kerja : Memancing ikan agar masuk dalam perangkap, setelah masuk ikan tidak bias keluar
Spesifikasi : Terbuat dari bambu
Cara operasional: Cara penangkapan, yaitu bubu diletakan di dasar perairan sehingga ikan yang sudah terperangkap tidak dapat lolos. Biasanya di dalam bubu tersebut diletakan umpan-umpan seperti ikan, bau ikan dan ikan-ikan yang warnanya menarik.
Nama alat : Set nett
Kegunaan : Alat penangkap ( menjebak) ikan
Prinsip kerja : Set nett diletakan diperairan dengan karakteristik tertentu dan potensial terhadap ikan-ikan yang nilai ekonominya tinggi, setelah ikan masuk, ikan akan terjebak dan tidak dapat keluar
Spesifikasi : Terbuat dari bahan sintetis (tanpa simpul)
Cara operasional: Set nett yang telah dipasang diperairan dipantau secara berkala untuk melihat ikan yang terjebak dalam set nett.
Nama alat : Pancing rawai
Kegunaan : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja : Menggunakan beberapa tali pancing, sehingga ikan yang dipancing dapat lebih dari satu
Spesifikasi : menggunakan tali pancin dari bahan sintetis serta terdapat joran.
Cara operasional: a. Rawai menetap, rawai yang dilengkapi dengan pemberat dan atau jangkar, dioperasikan secara menetap.
b. Rawai hanyut, rawai yang dioperasikan secara hanyut
c. Rawai senggol, rawai menggunakan mata pancing tanpa kait dan tanpa umpan, dioperasikan secara menetap atau dihanyutkan didasar perairan
Nama alat : Purse seine
Kegunaan : Alat penangkap ikan
Prinsip kerja :Menangkap ikan dengan melingkari gerombolan (schooling) ikan sehingga tidak dapat lolos keluar dengan cara menyelam
Spesifikasi : terbuat dari bahan sintetis
Cara operasional: Menangkap ikan dengan melingkari gerombolan (schooling) ikan sehingga tidak dapat lolos keluar dengan cara menyelam. Alat ini merupakan jaring permukaan dimana tali pelampung didukung oleh sejumlah pelampung.
Komponen Utama, Bagian sayap, Bagian badan, bagian kantong, srampat atas, srampat bawah jaring segi tiga, tali ris atas, tali ris bawah, Tali tegak, Tali cincin, Tali Kerut.
Jaring lingkar dengan tali kerut ( Purse Seine ), Jaring lingkar ini ditandai dengan penggunaan tali kerut (Purse Line) dibagian bawah jaring.
4.3. Laboratorium Brigth Simulator
Nama alat : Radar, Radio VHF, Echosounder, Sonar, Zero Compass, GPS
Kegunaan : Untuk membantu saat pelayaran, untuk mengetahui benda diatas permukaan laut, komunikasi antar kapal, mengetahui kedalam dan dasar laut, mengetahui keadaan laut 3600, dan menentukan arah dan posisi kapal.
Prinsip kerja : Digunakan ketika kapal berlayar atau digunakan ketika simulasi.
Spesifikasi : secara keseluruhan menggunakan peralatan buatan Jepang.
Cara operasional: Digunakan ketika kapal berlayar atau digunakan ketika simulasi.
4.4. Laboratorium Navigasi
Nama alat : Weather facsmile, Fish finder, GPS, Gmoss, ARPA, Sonar, EPIRB, SART dan IMARSAT.
Kegunaan : Untuk membantu navigasi kapal, (diperuntukan ketika keadaan darurat), untuk mengetahui cuaca lingkungan di sekitar perairan serta pendugaan gerombolan ikan.
Prinsip kerja : SART (untuk mencari dan rescue melalui radar Transformer), EPIRB (untuk emergency posisi indikasi melalui radio beacon dan alat untuk meminta bantuan secara internasional saat kapal tenggelam maka alat ini akan segera beroperasi)
Spesifikasi : Furuno, Taiyo Musen, jangkauan radar mencapai 75mill.
Cara operasional: Alat ini bekerja ketika kapal sedang melakukan pelayaran, digunakan ketika akan mengetahui cuaca atau menduga adanya gerombolan ikan.
4.5. Laboratorium Mesin Induk/ Utama Kapal
Nama alat : Gearbox, Silinder head
Kegunaan : Dapat menggerakan kapal, menggerakan mesin bantu,
Prinsip kerja : Menggunakan sistem hidrolisis untuk perputaran mesin
Spesifikasi : Vanmar GhaFiTE Japan, 270Hp/119 Kw
Cara operasional: Bahan bakar dibuka, control air pedingin, buka oli, buka oli gearbox, baterai dinyalakan, lalu mesin dihidupkan. Bahan bakar yang digunakan HSD (High Speed Diesel)
4.6. Laboratorium Mesin Bantu Kapal
Nama alat : Winchdrum, motor penggerak, manometer, palev, pipa serta pompa
Kegunaan : Untuk membantu penangkapan ikan, menekan biaya operasional, meringankan/mempercepat pekerjaan penangkapan
Prinsip kerja : Alat bekerja secara hidrolisasi (sistem hidrolisasi), sentrifugal dan radial. 4x langkah forax, 2x putaran poros engkel, 1x hasil kerja.
Spesifikasi : Yanmar 3TNE Japan 12KVA
Cara operasional: Mesin dihidupkan, saklar masih off tanpa beban, diikuti pemanasan mesin, baru dimasukkan ke panel listrik dan diberikan beban ke listrik. Arus sekitar 220V, 4tak.
4.7. Kapal KM Trevally
Tahun Pembuatan Kapal: 2001
Tempat Pembuatan Kapal: Jepang
Tonnage Kapal: 40 GT
B/L/D Kapal: 4,48/13,8/1,74 m
Peruntukan Utama Kapal: Untuk penelitian dan riset perikanan, serta penangkapan ikan.
Kemampuan Jelajah: Sejauh 800 mill
Alat Tangkap yang dibawa: Purse seine, gillnet, bottom longline, rawai dasar.
Alat Navigasi yang ada: Fish finder, GPS, Radar, radio VHF
Jumlah ABK: 8 orang
Kapasitas Angkut: 14-15 orang
BAB V
KESIMPULAN SARAN
Kesimpulan
Kegiatan penangkapan ikan merupakan salah satu dari bidang ilmu perikanan, yaitu perikanan tangkap. Kegiatan tersebut tidak lepas dari alat tangkap ikan serta kapal penangkapan ikan. Untuk melakukan suatu kegiatan penangkapan ikan dibutuhkan suatu keahlian agar hasil tangkapan dapat maksimal, serta diharapkan dapat mendeteksi suatu fishing ground lewat sistem penginderaan jauh, misalnya echosounder, fish finder, serta alat pendeteksi lain. Alat tersebut hanya bisa diperoleh oleh nelayan modern, sehingga alat tersebut hanya terbatas dan mahal. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi nelayan tradisional, mereka hanya bisa mendeteksi fishing ground lewat gejala alam, misalnya arah angin, arah burung terbang, dan lain-lain.
Dalam kunjungan ke BBPPI ini, para mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang lebih terkait alat tangkap ikan dan kapal penangkapan ikan. Segala bentuk pengoperasian dan spesifikasi dari alat tangkap dan kapal penangkapan ikan tersebut sangat membantu mahasiswa dalam menentukan alat tangkap yang cocok pada suatu perairan. Selain itu, mahasiswa tahu akan pengoperasian suatu alat penginderaan jauh, misalnya GPS, echosounder fish finder, dan lain-lain
Saran
Untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang alat dan kapal penangkap ikan serta pengetahuan lainnya, maka praktikum lapangan ini sangat perlu diadakan, hal ini tidak lain dikarenakan letak kampus yang jauh dari laut serta peralatan dan labolatorium yang memadai dikampus FPIK UNPAD, sehingga prktikum lapangan ini perlu dilaksanakan dan dilanjutkan untuk angkatan berikutnya.
Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2011
Usaha Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang
Sebagai Upaya Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa
Dalam Memajukan Potensi Perikanan di Desa Baginda, Sumedang.
RINGKASAN PRA-PROPOSAL
1. Karakteristik Keunggulan Pembesaran Lele Sangkuriang
Ikan Lele merupakan salah satu yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu terutama benihnya. Hal ini terjadi karena ikan lele tidak memiliki sisik yang merupakan awal untuk dia mempertahankan hidupnya dari segala gangguan dari luar terutama suhu. Maka dari itu untuk meminimalisir hal tersebut kami membudidayakan ikan lele yang fokusnya pada pembesaran karena cukup tahan terhadap perubahan suhu yang terjadi disebabkan sudah adaptasi dengan lingkungan.
Selain itu juga dengan melakukan pembesaran ini mempercepat penjualan dan mengurangi kerja terutama bagi mahasiswa. Disamping itu, dalam pembesaran lele sangkuriang ini relatif mudah, hal terpenting adalah konversi pakan yang jelas agar keuntungn daat diperoleh secara maksimal.
2. Analisis dan Peluang Pasar Pembesaran Lele Sangkuriang
Hingga saat ini kebutuhan ikan lele belum semuanya terpenuhi dengan maksimal. Hal ini terjadi karena permintaan ikan lele banyak akan tetapi pasokan atau asupannya tidak ada. Maka dari itu dengan budidaya ini yang fokus ke pembesaran bisa terpenuhi. Selain itu, sejatinya suatu pasar ikan sangat membutuhkan pasokan ikan lele sangkuriang karena banyak peminat dari ikan lele tersebut. Maka dari itu, diharapkan dari pembesaran lele sangkuriang ini bisa memenuhi permintaan pasar.
Selain itu juga nilai gizi dari ikan lele numayan tinggi maka dari itu konsumen ikan lele ini semakin meningkat karena cukup cocok untuk kebutuhan gizi yang sebagai lauk keluarga.
3. Mekanisme Produksi Pembesaran Lele Sangkuriang
Dalam budidaya ini kami hanya fokus kedalam pembesaran, dengan membeli bibit dari pada petani ikan yang ada di sekitar lokasi budidaya.
4. Rencana Pemasaran / Pasar Produk Pembesaran Lele Sangkuriang
Pemilihan lokasi berjualan yang strategis menjadi faktor penting dalam menjalankan usaha ini. Lokasi-lokasi yang cocok untuk berjualan Lele Sangkuriang ini antara lain di Pasar Sumedang, Pasar Tanjung Sari, dan Pasar Cileunyi. Pedagang ikan dan pembudidaya ikan menjadi konsumen potensial membeli produk ini. Dari data total jumlah penduduk yang ada di Jatinangor dan Sumedang, yaitu sebanyak 121.974 Jiwa. Kami menargetkan 15 % dari jumlah tersebut akan menjadi konsumen kami. Rencananya kami akan menjual ikan lele hasil pembesaran kami seharga Rp. 15.000/ekor
5. Rencana Anggaran, Prediksi Untung-Rugi (dalam kurun waktu 1 tahun)
a. Biaya investasi
Lahan 1th@Rp1.000.000,- Rp 1.000.000,-
Jaring 4 unit @ Rp 165.000,- Rp 660.000,-
Scop net 1 unit @ Rp 6.000,- Rp 6.000,-
Total biaya investasi Rp 1.666.000,-
b. Biaya operasional per bulan
1. Biaya tetap
Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn Rp1.000.000,-
Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn Rp150.000,-
Total biaya tetap Rp1.150.000,-
2. Biaya variable
Pakan 2,5 kwt @ Rp 550.000,/kwt Rp 1.3750.000,-
Benih ukuran 4-6 cm sebanyak 2500 ekor @ Rp200,- Rp 500.000,-
Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- Rp 300.000,-
Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- Rp 200.000,-
Tenaga kerja tetap 3 OB @ Rp 250.000,- Rp3.000.000,-
Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- Rp 1.200.000,-
Total biaya variabel Rp 16.250.000,-
Total biaya operasional Rp. 17.400.000,00,-
(Biaya Tetap + Biaya Variabel)
c. Penerimaan per bulan
(Produksi lele konsumsi 2000 kg x Rp 10.000/kg -,) Rp.20.000.000,00
d. Keuntungan per bulan
Keuntungan = Total penerimaan-Total biaya operasional
= Rp. 20.000.000,00 –Rp. 17.400.00,00
= Rp. 2.600.000,00
e. Revenue Cost Ratio (R/C)
R/C= Total penerimaan : Total biaya operasional
= Rp. 20.000.000,00 : Rp. 17.400.000,00
= 1,14
f. Pay Back Period
Pay back period = (Total investasi : keuntungan) x 1 bulan
= (Rp. 1.666.000,00 : Rp. 2.600.000,00) x 1 bulan
= 0,64 bulan
RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS
1. Nama Lengkap : Maulana Ridwan
2. NPM : 230110090080
3. Tempat, Tgl Lahir : Bogor, 22 September 1991
4. Jenis Kelamin : Laki-Laki
5. Fakultas : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
6. Jurusan/Prog.Studi : Ilmu Perikanan
7. Semester : 4 (empat)
8. Jumlah SKS ditempuh : 81 SKS
9. Alamat Rumah : Perumahan Griya Persada Jln. Cempaka Raya No. 2 Blok K No. 8. RT:005 RW: 004, Bogor 16810
10. Telpon : 085692721359
11. Alamat Orang Tua : Perumahan Griya Persada Jln. Cempaka Raya No. 2 Blok K No. 8. RT:005 RW: 004, Bogor 16810
12. Telpon : 081280015344
Lampiran 1
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENGIKUTI PROGRAM
MAHASISWA WIRAUSAHA
Judul Wirausaha : Usaha Pembesaran Ikan Lele Sangkuriang Sebagai Upaya Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa Dalam Memajukan Potensi Perikanan di Desa Baginda, Sumedang.
Status dalam Program : KETUA
NPM : 230110090080
FAKULTAS : FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN : PERIKANAN
Bersama ini saya menyatakan bahwa saya bersedia mengikuti Program Wirausaha Mahasiswa Universitas Padjadjaran sesuai aturan yang berlaku yaitu :
a. Mengikuti Seleksi
b. Menyusun Rencana Bisnis
c. Mengikuti Pembekalan
d. Mendirikan dan menjalankan usaha
e. Secara aktif berkonsultasi dengan pembimbing/Pendamping
f. Mengembalikan peminjaman modal kerja sesuai aturan yang berlaku
g. Membuat laporan regular mengenai perkembangan usaha dengan tepat waktu.
h. Tidak sebagai ketua/anggota di kelompok usaha lain yang diajukan dalam PMW 2011, maupun PMW 2009 dan 2010.
i. Lokasi usaha terletak di Bandung atau Sumedang
j. Bila dikemudian hari terdapat menyalahi aturan tersebut, bersedia dibatalkan.
Lampiran 2
SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN
MENJADI DOSEN PENDAMPING PMW-2011
Bersama ini saya :
Nama Lengkap : Dr. Ir. Iwang Gumilar, M.Si. (L)
NIP : 19670209 199403 1003
Fakultas : Perikanan dan Ilmu Kelautan
Jabatan : Dosen
Menyatakan bahwa saya bersedia untuk menjadi pendamping PMW-Universitas Padjadjaran 2011 sampai dengan selesainya program (Desember 2011) dari :
Nama ketua usaha : Maulana Ridwan
NPM : 230110090080
Surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya lampirkan Curiculum Vitae sesuai dengan format yang ditentukan Pengelola Mahasiswa Wirausaha Universitas Padjadjaran.
Bandung, 10 April 2011
Dr. Ir. Iwang Gumilar, M.Si.
NIP. 19670209 199403 1003
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN (PKM-K) 2011
INOVASI PENGEMBANGAN KUE “SOELE”
SEBAGAI ALTERNATIF CAMILAN BERPROTEIN
DALAM MENINGKATKAN KONSUMSI IKAN MASYARAKAT
A. Judul Program
Inovasi Pengembangan Kue SoeLe (Soes Lele)
Sebagai Alternatif Camilan Berprotein
Dalam Upaya Meningkatan Konsumsi Ikan
B. Latar Belakang Masalah
Tingkat konsumsi ikan per kapita Indonesia masih terbilang rendah. Berdasarkan data dari DKP tahun 2006 tingkat konsumsi ikan per kapita masyarakat Indonesia pada tahun 2006 sebesar 24.47 kg, lebih rendah dari Thailand sebesar 35 kg per kapita per tahun, Malaysia 45 kg per kapita per tahun dan bahkan tertinggal jauh oleh Jepang sebesar 120 kg per kapita per tahun. Keadaan ini sangat ironis dengan keadaan potensi perikanan Indonesia yang terbilang memiliki potensi sektor perikanan yang cukup besar, contohnya ikan lele dumbo. lkan lele dumbo (Clarias gariepinus Burch.) adalah jenis ikan yang sedang digalakkan pembudidayaannya oleh pemerintah. karena jenis lele tersebut mempunyai keunggulan dibandingkan jenis lele lokal, diantaranya adalah pemeliharaannya yang relatif lebih mudah dan pertumbuhannya cepat. Budidaya ikan lele dari tahun ke tahun selalu meningkat, sehingga produksi ikan lele yang ukurannya tidak sesuai dengan kondisi pasar (oversize) akan semakin meningkat karena adanya kompetisi atau kondisi alam yang kurang mendukung. Ikan lele oversize ini jumlahnya mencapai 10% dalam tiap siklus produksinya. Ikan lele yang ukurannya besar atau tidak sesuai dengan kondisi pasar pemanfaatannya masih kurang. Hal ini disebabkan karena masih banyak masyarakat yang kurang menyukai bentuknya yang besar serta baunya yang khas, padahal ikan lele mempunyai kandungan gizi yang paling baik dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya. Ikan lele memiliki kandungan protein tinggi sebesar 17,7% dan lemak 4,8% (Vaas 1985 dalam Astawan 2008), selain itu juga mengandung asam amino esensial seperti Arginin 6,3%, Leusin 9,5%, dan Lisin 10,5% (Astawan, 2008). Oleh karena itu maka perlu dilakukan suatu upaya pemanfaatan ikan lele seperti pembuatan surimi lele (Ipteknet, 2011).
Pemanfaatan ikan lele tersebut tidak terhenti sampai pada pembuatan surimi. Surimi mempunyai potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai sumber protein yang bermutu dan bergizi dibandingkan dengan makanan dari daging lainnya. Permasalahannya adalah masyarakat Indonesia termasuk bangsa yang sedikit mengkonsumsi ikan atau hasil olahannya. Untuk itu perlu dilakukan penganekaragaman. Penganekaragaman produk sumber protein ini dapat dilakukan dengan mengembangkan sebuah kreasi unik pertama di Indonesia bernama Kue Soele. Kata Soele itu sendiri merupakan kependekan dari kata Soes Lele yaitu modifikasi kue soes basah berbahan dasar ikan lele segar. Kelebihan kue soes ini selain mudah dibuat dan tidak memakan waktu yang lama untuk membuatnya, juga dapat menjadi produk kuliner yang enak, lezat, higienis, bergizi dan pastinya bernilai ekonomis tinggi. Sehingga kami pun optimis bahwa kue soes yang kami beri nama “Kue SoeLe” akan disukai oleh masyarakat.
C. Perumusan Permasalahan
Kue soele merupakan suatu inovasi kuliner yang baru sehingga banyak masyarakat yang belum mengenali produk olahan perikanan ini. Kue soes basah yang sering dijual di toko-toko kue biasanya memiliki isi vla yang yang bertekstur lembut dan manis rasanya, namun dalam produk ini kami menampilkan tekstur vla yang masih memiliki serat daging lele dan memiliki rasa gurih yang lezat, cocok disajikan dengan menggunakan saos sambal.
Mengingat produk ini merupakan suatu inovasi kuliner yang baru maka pesaingnya belum terlalu banyak. Oleh sebab itu untuk memperkenalkan produk ini kepada konsumen dibutuhkan strategi pemasaran jitu berbasis Social Promotion, yaitu memasarkan dengan menggunakan taster yaitu sample yang sengaja digunakan untuk memperkenalkan produk tanpa harus diberikan beban biaya bagi konsumen. Selain itu pula kami pun akan membuka sistem pemesanan baik secara online maupun offline. Target sementara pemasaran produk inipun masih terbatas, yaitu di wilayah kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor, karena di Jatinangor merupakan lokasi strategis yang memiliki potensi konsumen vital dari kalangan mahasiswa dan praktisi pengajar.
D. Tujuan Program
Tujuan dari kegiatan ini, diantaranya :
• Mengenalkan cita rasa kue soele kepada masyarakat.
• Memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
• Menjadi alternatif cemilan sehat dan bergizi.
• Membantu pemerintah dalam menggalakan “Gemar Makan Ikan”.
• Mengembangkan produk olahan perikanan Indonesia.
E. Luaran Yang Diharapkan
Kegiatan ini diharapkan mampu melatih mahasiswa untuk mengembangkan jiwa wirausahanya. Selain itu, mampu mengembangkan produk kue soele sebagai produk unggulan perikanan, dimana kedepannya diharapkan produk ini dapat diterima sebagai cemilan sehat asli perikanan.
F. Kegunaan Program
Memperkenalkan kue soele sebagai salah satu inovasi produk olahan perikanan dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein manusia yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi makanan yang sehat, lezat, higienis dan bernilai gizi tinggi.
G. Gambaran Umum Rencana Usaha
Peluang pasar dari produk kue SoeLe ini sangat baik, karena belum adanya usaha sejenis yang terdapat di kawasan Jatinangor. Kemudian apabila dilihat aspek lokasi daerah Jatinangor sebagai target pemasaran dari produk ini, yang merupakan kawasan pendidikan dan industri, selalu ramai oleh para mahasiswa serta pendatang lainnya. Dimana hal ini dapat menggambarkan target konsumen dari produk usaha kue SoeLe ini. Kami menargetkan 10% dari total jumlah penduduk jatinangor akan menjadi konsumen kami.
Dalam membuat makanan ini, sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang berkualitas dan kondisi yang baik agar produk kue SoeLe yang dihasilkan lezat. Terlebih bahan utama yang digunakan untuk membuat makanan ini adalah fillet ikan lele. Begitu pula dengan proses pembuatannya pun tergolong cukup mudah dilakukan.
Dalam kelompok kami pembagian tugas dalam menjalankan usaha ini akan ditekankan, kami akan membagi dari aspek produksinya dan pemasarannya. Selain itu juga, pemilihan lokasi berjualan yang strategis menjadi faktor penting dalam menjalankan usaha ini. Lokasi-lokasi yang cocok untuk berjualan kue SoeLe ini antara lain di sekitar kampus, sekolah, perumahan, atau perkantoran. Siswa sekolah atau mahasiswa menjadi konsumen potensial membeli makanan ini.
• Rencana pemasaran
Grafik 2. Rantai perdagangan
Produk Ke SoeLe kami pasarkan dengan berbagai macam cara yaitu ,
• Pertama dengan melakukan bulan promosi sebagai upaya branding. Dilakukan dengan harga promosi atau jika perlu mempergunakan produk sebagai tester selama waktu tertentu untuk menarik minat konsumen, serta periode analisis pola kebutuhan serta feedback terhadap kualitas maupun harga jual.
• Kedua, Dengan menitipkannya ke warung-warung, toko-toko kecil kantin kampus dan tempat- tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul.
• Ketiga, Dengan menjualnya langsung pada masyarakat, karena lokasi yang sangat strategis yaitu di areal kampus maka akan sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan untuk berjualan, sehingga tidak mustahil jika Kue SoeLe buatan kami akan laku terjual.
• Keempat, mempergunakan akses yang baik untuk memasukkan produk kami sebagai alternatif konsumsi para dosen yang sedang melakukan kegiatan bimbingan, sidang, maupun kolokium.
a. Analisis Pesaing Usaha Dalam Satu Daerah Pemasaran.
PESAING KEUNGGULAN KELEMAHAN
Kue soes basah rasa original
Burger ikan Mc’donald
1. Harga murah
2. Sudah dikenal masyarakat
1. Tempat strategis
2. Sudah dikenal masyarakat
1. Ukuran per porsi kecil
2. Bukan hasil diversifikasi dari ikan lele
1. Bukan pesaing produk sejenis kue soes
2. Kurang diminati daripada beef burger
3. Harganya cukup mahal
a. Keunggulan bersaing
Keunggulan Kue Soele terletak pada:
- Produknya memiliki nilai gizi yang tinggi karena berbahan dasar ikan lele dumbo.
- Diversifikasi produk sebagai cemilan sehat, lezat, higienis, dengan bahan baku berkualitas dan terjaga kehalalannya.
- Konsep promosi dengan menggunakan taster dapat menarik konsumen lebih efektif.
- Harga per porsi sangat terjangkau.
4. Media Promosi
Promosi Kue Soele dilakukan melalui pamphlet, facebook, twitter, dan blog.
5. Analisis Usaha
Tabel 1. Biaya Pokok Produksi serta Besar Margin Usaha
Komponen Total
Hasil penjualan 4000 x Rp.3000 12000000
Total biaya yang dikeluarkan 7371133,33
Pendapatan (hasil penjualan-biaya total) 4628866,67
Pendapatan per bulan 1157216,67
Pendapatan 1 tahun 13886600,00
Tabel 2. Analisis kelayakan
Komponen Nilai Keterangan
B/C ratio 1,63 Usaha layak untuk dijalankan (Nilai B/C ratio >1)
BEP 596.978,16 Pada penjualan Rp. 596.978,16 pengusaha tidak mendapatkan laba atau rugi
PBP 8,62 Modal akan kembali setelah 8 bulan
H. Metode pelaksanaan
Metode pelaksanaan program kreatifitas ini melalui beberapa prosedur yang dijabarkan sebagai berikut.
1. Konsultasi dengan pembimbing mengenai proposal PKMK.
Konsultasi awal mengenai PKMK yang telah disusun. Konsultasi ini mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan program yang akan dilakukan. Konsultasi ini bertujuan untuk meminimalkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
2. Riset pemasaran.
Hal ini berupa pengamatan pemasaran. Ke mana saja produk Kue Soele tersebut akan dipasarkan. Pengamatan ini juga meliputi analisis minat pasar terhadap produk dan daya saing dari produk ini. Dari pengamatan ini dapat membantu dalam pemasaran produk dan ketahanan produk dalam persaingan dengan produk lain.
3. Pembuatan Surimi.
4.
5.
6.
4. Pembuatan Produk Kue Soele
5. Pengemasan produk.
Salah satu hal terpenting dalam proses produksi adalah pengemasan. Ketika kemasan itu bagus maka nilai jualnya pun akan tinggi. Karena kebersihan dan kerapian kemasan akan membuat produk semakin menarik. Ketika kemasan belum baik maka keunggulan dari produk itu tidak akan terlihat.
6. Perintisan jaringan pemasaran.
Setelah melakukan pengamatan pasar, langkah selanjutnya merintis pemasaran. Pada proses ini dilakukan kontrak dengan para distributor dan pengecer. Kontrak itu akan membicarakan tentang negoisasi harga dan kerjasama dalam pembagian laba.
7. Evaluasi program dengan membuat dan menyusun rencana tindak lanjut.
Setelah berjalan 4 bulan dilakukan evaluasi untuk keberlanjutan usaha ini. Pada proses evaluasi ini juga dilakukan analisis mengenai minat pasar sehingga dapat dilakukan pengembangan mutu produk. Evaluasi ini juga bertujuan untuk menganalisis kelayakan dari keberlanjutan usaha ini.
8. Membuat laporan dan menyusun rencana ke depan.
Proses terakhir adalah menyusun laporan yang berisi analisis dari usaha kerupuk berbahan dasar aneka buah. Analisis ini berupa analisis pasar, untung dan rugi dari usaha ini. Yang diharapkan dari laporan ini dapat dijadikan bahan evaluasi dalam keberlanjutan usaha ini.
I. Jadwal Kegiatan Program
KEGIATAN BULAN
Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3 Bulan ke-4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan :
-Perizinan tempat produksi
-Peyediaan Alat dan bahan
Produksi dan penjualan
Promosi produk
Penyusunan Lap. Pendahuluan
Monitoring dan evaluasi
J. Rancangan Biaya
1. Alat-alat Pembuatan Produk
No Alat Jumlah Harga (Rp.)
1 Sewa Oven 4 bulan 1@1 buah=1.000.000 1.000.000
2 Loyang 4 @1 buah=50.000 200.000
3 Mixer 1 @1 buah=250.000 250.000
4 Pisau filet “Solingen“ 4 @1 buah = 45.000 180.000
5 Sendok pengaduk 2 @1 buah = 10.000 20.000
6 Talenan 3 @1 buah = 35.000 140.000
7 Sewa Food processor 4 bulan 500.000 500.000
8 Cetakan adonan 15 @1 buah = 4.000 60.000
9 Sewa Timbangan digital ”Tanita” 50.000 50.000
10 Saringan tepung 2 @1 buah = 10.000 20.000
11 Baskom 2 @ 1 buah = 20.000 40.000
12 Baki plastik 3 @ 1 buah = 15.000 60.000
13 Alas plastik adonan 2 @ 1 buah = 15.000 30.000
14 Sarung tangan 1 pack @ 1 pack = 100.000 100.000
Total Rp. 2.650.000
2. Bahan-bahan Pembuatan Produk
No Bahan Jumlah Harga (Rp)
1 Ikan lele 75 kg @ 1 kg = 13.000 975.000
2 Tepung terigu 60 kg @ 1 kg = 14.000 840.000
3 Baking powder 10 kg @ 1 kg = 18.000 180.000
4 Bawang putih 4 kg @ 1 kg = 24.000 96.000
5 Bawang bombai 4 kg @ 1 kg = 35.000 140.000
6 Garam halus 10 kg @ 1 kg = 5.000 50.000
7 Margarin 40 kg @ 250g = 6.000 960.000
8 Daun seledri 10 kg @ 10 gr = 500 500.000
9 Kunyit 5 kg @ 10 gr = 500 250.000
10 Gula pasir 18 kg @ 1 kg = 6000 108.000
11 Kuning telur 2000 butir (140 kg) @ 1 kg = 12.000 1.680.000
12 Es batu 10 kg @ 1kg = 5.000 50.000
13 Tepung maizena 10 kg @1kg =10000 100.000
14 Susu tawar 50 L @ 1L=10000 500.000
15 Kemasan 800 @ 1 bks = 400 320.000
Total
Perbulan Rp. 7.028.800
Rp. 1.782.200
3. Biaya Lain-Lain
No Keperluan Harga (Rp)
1 Dokumentasi 50.000
2 Publikasi
- Poster
- Pamphlet 100.000
100.000
3 Transportasi 50.000
Total Rp. 300.000
Total Keseluruhan Rp. 9.978.800
3. Analisis Biaya dan Kelayakan Usaha
3.1 Modal dan Biaya
a. Modal Tetap
Komponen Jumlah (buah/unit) Harga (Rp) Total Biaya (Rp) Masa Pakai (bulan) Penyusutan per bulan (Rp)
Sewa Oven 1 1.000.000 1.000.000 48 31.250,00
Loyang 4 50.000 200.000 60 3.333,33
Mixer 1 250.000 250.000 24 10.416,67
Pisau filet “Solingen“ 4 45.000 180.000 36 5.000,00
Sendok pengaduk 2 10.000 20.000 36 555,56
Talenan 3 35.000 105.000 48 2.187,50
Sewa Food processor 1 500.000 500.000 60 833,33
Cetakan adonan 15 4.000 60.000 60 1.000,00
Sewa Timbangan digital ”Tanita” 1 50.000 50.000 48 1.041,67
Saringan tepung 2 10.000 20.000 36 555,56
Baskom 2 20.000 40.000 72 555,56
Baki plastic 3 15.000 45.000 48 937,50
Alas plastik adonan 2 15.000 30.000 36 833,33
Sarung tangan 1 100.000 100.000 48 2.083,33
Publikasi 200.000
2.800.000 60.583,33
b. Biaya tetap
Komponen Bunga Harga (Rp) Total Biaya (Rp)
Biaya penyusutan 60.583,33
4 bulan 242.333,33
c. Biaya variabel
Komponen Jumlah Satuan Harga (Rp) Total Biaya (Rp)
Ikan lele 75 kg 13.000 975.000
Tepung terigu 60 kg 14.000 840.000
Baking powder 10 kg 18.000 180.000
Bawang putih 4 kg 24.000 96.000
Bawang bombai 4 kg 35.000 140.000
Garam halus 10 kg 5.000 50.000
Margarin 40 kg 24.000 960.000
Daun seledri 10 kg 50.000 500.000
Kunyit 5 kg 50.000 250.000
Gula pasir 18 kg 6.000 108.000
Kuning telur 140 kg 12.000 1.680.000
Es batu 10 kg 5.000 50.000
Tepung maizena 10 kg 10.000 100.000
Susu tawar 50 L 10.000 500.000
Kemasan 800 bungkus 400 599.800
Transportasi & Dokumentasi 100.000
Jumlah
Perbulan 7.128.800
1.782.200
3.2. Penerimaan dan Pendapatan
Komponen Total (Rp.)
Hasil penjualan 4000 x Rp.3000 12.000.000
Total biaya yang dikeluarkan 7.371.133,33
Keuntungan per 4 bulan (hasil penjualan-biaya total) 4.628.866,67
Keuntungan per bulan 1.157.216,67
Keuntungan 1 tahun 13886600,00
3.3. Analisis Kelayakan
Komponen Nilai Keterangan
B/C ratio 1,63 Usaha layak untuk dijalankan (Nilai B/C ratio >1)
BEP 596.978,16 Pada penjualan Rp. 596.978,16 pengusaha tidak mendapatkan laba atau rugi
PBP 8,62 Modal akan kembali setelah 8 bulan
(2 periode produksi)
3.4. Forecasting
Pendugaan (forecasting) penjualan Kue Soele per bulan
Bulan ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Penjualan Kue Soele (piece)* 1 1 1 1 1,01 1,02 1,03 1,04 1,05 1,06 1,07 1,08
Pendapatan x Rp.3.000* 3.000 3.000 3.000 3.000 3.030 3.060 3.090 3.120 3.150 3.180 3.210 3.240
*Keterangan: nominal x 1.000
Lampiran 1 : Gambar Kue SoeLe
Lampiran 2
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1). Ketua Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Maulana Ridwan
b). NPM : 230110090080
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
2). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Fathan Jefriansyah
b). NPM : 230110090129
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
3). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Irni Yulia Sriwidyaningsih
b). NPM : 230110090127
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
4). Anggota Pelaksana Kegiatan
a). Nama Lengkap : Asep Jaenal Abidin
b). NPM : 230110097027
c). Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/ Perikanan
d). Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
e). Waktu untuk Kegiatan PKM : 12 Jam / Minggu
f). Tanda Tangan :
Lampiran 3
Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1. Nama Lengkap : Ir. Evy Liviawaty, MP.
2. NIP : 19630719 198803 2 001
3. Golongan Pangkat : Penata Tk 1/III d
4. Jabatan Fungsional : Lektor
5. Jabatan Struktural : Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
6. Fakultas/Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Perikanan
7. Perguruan Tinggi : Universitas Padjadjaran
8. Bidang keahlian : Teknologi Hasil Perikanan
9. Waktu Untuk Kegiatan : 12 Jam / Minggu
10. Tanda Tangan :
Penerimaan Proposal PKM-KT (PKM-AI dan PKM-GT) tahun 2012
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi memberi kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Karya Tulis (PKM-KT) yaitu : Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang akan didanai tahun 2012.
Pedoman pengajuan usulan proposal dan tata cara pengiriman proposal ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Dit. Litabmas) dapat di download pada website : http://dikti.kemdiknas.go.id, dengan headline : Pedoman PKM 2011.
Persyaratan:
- Setiap usulan proposal dibuat rangkap 2 (dua);
- Softcopy Proposal dimasukan dalam 1 (satu) CD/DVD dibuat per Perguruan Tinggi
- Surat pengantar resmi dari perguruan tinggi dengan dilampirkan print out rekap daftar seluruh proposal dari Perguruan Tinggi Saudara sesuai form terlampir, dan dikirimkan ke alamat :
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Gedung Dikti Lt.4, Jl. Jend. Sudirman Pintu Satu Senayan, Jakarta.
Sedangkan file rekap daftar seluruh proposal (dalam format file Excel) dari Perguruan Tinggi Saudara tersebut mohon dikirim via email ke alamat : pkm.dp2m@dikti.go.id, cc: usulanpkm@gmail.com
Batas waktu pengajuan usulan selambat-lambatnya tanggal 9 Maret 2012 pukul 16.00 WIB.
Apabila pengiriman proposal dan email rekapitulasi data proposal lewat dari batas waktu yang telah ditentukan, maka proposal dari perguruan tinggi Saudara tidak akan diproses.
FormatRekapPKM_KT2012_nama_perguruanTinggi Srt pengajuan Usul PKM-AI dan PKM-GT 2012
Sumber: